
"Cuma minta waktu sebentar doang Tris," protes Dimas sambil mengedipkan mata kepada suster Dinda dan wanita itu hanya senyum-senyum saja.
Selesai berfoto dan makan bersama semua keluarga berbincang-bincang hingga larut malam.
Saat keluarga dokter Davin pamit, nenek Salma meminta Fazila untuk turut serta, Isyana juga Nyonya?" tanya nenek Salma saat mengutarakan keinginannya.
"Bagaimana maksudnya Nek, Chila akan ikut dengan kalian?" tanya Zidane memastikan pendengarannya tidak salah.
"Iya Nak Zidane, cuma sehari aja kok, tapi kalau boleh lebih saya akan sangat berterima kasih dengan kalian. Sebenarnya ini sudah biasa kalau di desa tempat saya tinggal. Tunangan wanitanya ikut keluarga laki-laki barang semalam. Namun, kalau keluarga di sini tidak mengizinkan kami tidak masalah."
"Bagaimana Mas? Ma, Pa?" tanya Isyana meminta pendapat suami dan mertuanya.
"Boleh saja," sahut Laras disambut anggukan dari Zidane dan Alberto.
"Asal nenek Salma benar-benar menjaga Chila agar jangan sampai dia dan dokter Davin melakukan hal yang tidak diinginkan. Mereka masih bertunangan bukan menikah, jadi harus tahu batasan," ujar Isyana menindak lanjuti persetujuan keduanya.
"Tentu saja Nak, kalian tenang saja cucuku tahu kok apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dan kalau sampai dia berbuat macam-macam saya pasti akan memarahinya. Lagipula di rumah saat ini masih ramai. Nak Danisa dan Nak Damian akan menginap di sana, juga suster Dinda, iya kan, Nak?"
"Iya Nek," jawab ketiganya serempak.
"Kalau begitu boleh saja. Silahkan bawa Chila bersama kalian," ujar Isyana dan nenek Salma mengangguk.
"Chila, kau bersiap-siaplah!"
"Baik Ma," ucap Fazila lalu naik ke atas untuk mengambil baju ganti sebelum ikut ke rumah nenek Salma.
"Jaga diri baik-baik ya!" Zidane menepuk bahu putrinya.
"Iya Pa."
"Bermalamnya sekali saja ya Chila, lusa kamu harus kembali ke pesantren dan besok malam kamu harus menyiapkan apa-apa yang harus kamu bawa!"
"Baik Ma."
"Jangan manja di rumah orang," lanjut Laras.
__ADS_1
Fazila menggeleng sambil tersenyum. "Banyak banget pesannya," ujarnya lalu terkekeh.
"Itu tandanya kamu banyak yang perhatiin," bisik dokter Davin dan Fazila hanya mengangguk lalu menghela nafas panjang.
"Yasudah Chila berangkat semuanya! Kak Chexil terima kasih ya atas semua bantuannya. Bang Tris dan Bang Nath juga!" serunya.
"Oke adikku ya manis, bersenang-senanglah di sana," ucap Tristan dan Nathan serta Chexil hanya mengangguk dengan bibir mengulas senyum.
"Eh ada yang kelupaan, Bang Dimas! Makasih juga sudah membantu mengabadikan momen malam ini."
"Sama-sama Chila, eh tapi kalau boleh Bang Dimas ingin meminta sesuatu padamu, boleh, kan?"
"Tidak boleh!" tegas Tristan sebelum Fazila menjawab.
Fazila mengerucutkan kening.
"Ada apa sih dengan kalia berdua?" tanyanya bingung.
"Boleh bantu aku dekatkan dengan dia?" bisik Dimas di telinga Fazila hingga dokter Davin yang melihatnya menautkan kedua alisnya. Penasaran apa yang dikatakan Dimas. Dia tidak suka ada pria lain yang dekat-dekat dengan Fazila kecuali Nathan dan Tristan sebagai kakak kandung Fazila, pun dengan Zidane dan juga Alberto.
"Kalau itu mah sepertinya Bang Dimas tidak butuh bantuan Chila. Ini kan posisi sudah dekat dengannya, ngomong langsung sana apa yang pengen Bang Dimas omongin. Sudah dulu ya! Chila pamit, assalamualaikum!"
***
Kini Fazila dan semua orang sudah sampa di rumah dokter Davin.
"Nek Chila ngantuk." Baru saja menginjak lantai rumah dokter Davin Fazila sudah menguap beberapa kali. Wajar saja karena waktunya memang sudah larut malam.
"Davin antar Nak Chila ke kamarnya!" perintah nenek Salma pada cucunya.
"Baik Nek."
Nenek Salma mengangguk.
"Ayo Chila!"
__ADS_1
"Oke."
Dokter Davin langsung mengantar Fazila ke kamar yang sudah mereka siapkan sebelumnya. Pria itu membuka pintu dan berdiri di sana.
"Ini kamarmu, maaf jika tak senyaman si rumahmu. Doakan ya biar aku bisa ngumpulin banyak uang biar bisa kebeli rumah yang besar kayak rumahmu, ya walaupun tak sebesar ini paling tidak separuhnya aja," ucap dokter Davin dengan sungguh-sungguh. Sudah ada dalam pikirannya nanti saat sudah menikah dia akan membawa Fazila keluar dari rumah orang tuanya dan dia tidak ingin Fazila merasa tidak nyaman.
Fazila menatap dokter Davin lalu terkekeh.
"Kenapa ketawa? Ada yang lucu? Atau kamu meremehkanku?"
"Tidak Dokter, ya ampun! Mana mungkin? Profesi dokter menurutku sudah sangat wow sekali, otakku yang tumpul belum tentu nyampe ke sana." Kali ini Fazila tertawa renyah.
"Nggak kok siapa bilang otakmu tumpul? Kau sebenarnya pinter kok Chila."
"Pinter apa?"
"Pinter cari calon suami," sahut dokter Davin lalu tertawa. Puas menggoda tunangannya.
"Sudah ah, aku ngantuk banget ini. Lagian rumah yang kamu omongin, besar kecil sama saja. Kalau sudah tidur nggak akan kerasa," ucap Fazila lalu masuk ke dalam kamar.
Dokter Davin hanya menggaruk kepala lalu berkata," Selamat tidur, jangan lupa mimpi indah!"
"Makasih," kata Fazila lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Dokter Davin menutupi pintu.
"Jangan lupa pintunya dikunci dulu Chila!" seru dokter Davin dari luar.
"Iya, hah harus gerak lagi ini," keluh Fazila lalu bangkit kembali dan berjalan ke arah pintu. Setelah mengunci dia kembali merebahkan tubuhnya. Baru saja berbaring ponselnya berbunyi seolah ada notifikasi masuk.
"Apalagi sih Dok," keluhnya, tetapi bibirnya tersenyum manis.
Namun, senyum di bibir memucat tatkala melihat chat tersebut bukanlah dari dokter Davin dan menunjukkan gambar dokter Davin yang sedang memeluk suster Dinda.
"Kalian–"
__ADS_1
Fazila cemberut lalu melempar ponselnya ke atas ranjang kemudian menghempaskan tubuhnya begitu saja. Rasa mengantuk hilang seketika dan keceriaannya malam ini berganti mood yang jelek.
Bersambung.