
"Ya benar, kalian berhak mendapatkannya. Maafkan Papa jika hanya bisa memberikan kado ini untuk pernikahan kalian. Maaf pula kalau Papa hanya menyiapkan tiket bulan madu di dalam negeri. Namun, kalau misalnya kalian ingin mengubah tujuan kalian ke luar negeri tidak apa-apa, nanti Papa akan fasilitasi, yang penting kalian beritahukan kapan kalian bisa pergi ke sana. Terutama Nak Davin yang punya pekerjaan yang harus ditinggalkan," jelas Zidane panjang lebar.
"Tidak apa-apa Pa, apapun pemberian Papa kami sangat menghormati dan menghargainya. Papa benar, kalau untuk keluar negeri sepertinya butuh waktu dan persiapan yang lebih lama. Ke Bali adalah pilihan tepat untuk kami, terutama saya yang sebenernya jadwalnya padat," ucap dokter Davin dan Fazila mengangguk membenarkan.
"Dengan persiapan pernikahannya saja Chila sudah sangat berterima kasih. Kalian semua hebat, semua yang ada di pernikahan kami tidak ada satupun yang tidak Chila sukai. Dari dekorasi, pelaminan, pakaian wedding dan semuanya tanpa melibatkan dan merepotkan Chila, tapi semuanya sangat terkesan untuk Chila," tambah Fazila.
"Alhamdulillah kalau kamu suka, tapi kalau tentang semua itu berterima kasihlah pada mamamu beserta pria yang ada di sampingmu saat ini karena mereka berdualah yang mengatur semuanya sehingga menjadi sedemikian rupa. Mereka adalah mertua dan menantu yang sangat kompak yang pernah saya temui," jelas Zidane lalu terkekeh.
"Benaran Mas?" tanya Fazila pada sang suami dengan mata yang berbinar-binar.
"Benar Sayang, karena kami berdua yang paling tahu tentang seleramu," sahut dokter Davin dan Fazila mengangguk sambil tersenyum.
"Terima kasih banyak ya, Mas," ucap Fazila kemudian.
"Sama-sama," ujar dokter Davin.
"Oh ya, papa sudah menyiapkan semuanya di sana, termasuk sudah memesan hotel dan akomodasi di sana. Jadi, kalian bisa berangkat besok sore."
"Oke Pa," Jawab keduanya serentak.
"Baiklah, kalian persiapkan saja ya, kalau begitu papa pamit."
Keduanya mengangguk dan Zidane pun berlalu pergi. Fazila langsung bersiap-siap dari sekarang.Ia bergegas mengambil koper dan memasukkan apa saja yang ingin dibangun besok.
Jam sembilan malam teman-teman Fazila belum datang juga dan Fazila dan dokter Davin yang menunggu mereka sambil minum teh akhirnya menutup untuk masuk ke kamar dan tidur sebab perjalanan besok pasti akan sangat melelahkan.
Jam 15.00 WIB. mereka sudah bersiap-siap ditemani satu koper berisi pakaian dan peralatan mandi serta makeup. Dokter Davin tidak mengizinkan Fazila membawa barang banyak dan mengatakan lebih baik mereka membeli kebutuhan yang lainnya di sana saja.
"Bagaimana sudah siap?" tanya Zidane pada keduanya, reflek anak dan menantunya itu mengangguk mantap dengan bibir yang melengkung membentuk senyuman.
"Ya sudah ayo kita ke mobil! Kopernya biar pak sopir yang mengangkatnya!" perintah Zidane lalu berjalan mendahului Fazila dan dokter Davin.
Pak sopir yang tadinya sudah diperintah oleh Zidane langsung menarik koper mereka menuju mobil.
"Eh kalian, mohon maaf ya Chila tinggal," ucap Fazila dengan perasaan yang tidak enak harus meninggalkan semua teman-temannya juga teman-teman dokter Davin.
"Nggak apa-apa Chila, kami juga sudah mau balik kok," ujar Qiana mewakili semua orang.
"Tenang kami akan ikut mengantar kalian ke bandara sebelum pulang," ujar Damian.
"Terima kasih," ucap Fazila dan dokter Davin hampir bersamaan.
Setelah pamit dan menyalami para orang tua mereka pun pamit karena akan langsung diantar Zidane dan pak sopir menuju bandara Soekarno Hatta.
Damian dan yang lainnya juga ikut pamit karena akan langsung pulang ke kota mereka setelah selesai mengantar Fazila dan dokter Davin.
Mobil yang ditumpangi oleh dokter Davin dan Fazila melaju mulus di jalanan. Di dalam mobil itu hanya ada Pak sopir dan sang papa.
Damian menyusul dengan mobilnya sendiri. Di dalam
tampak Danisa bersama teman-teman Fazila sedangkan Tristan satu mobil bersama Nathan dan Chexil serta Dimas dan suster Dinda. Tidak ada yang orang tua yang ikut dalam perjalanan tersebut kecuali hanya Zidane seorang diri.
Satu jam dalam perjalanan akhirnya mereka sampai di bandara Soekarno Hatta. Jam penerbangan masih jam 17. 00 WIB. Jadi mereka masih ada waktu untuk berpamitan. Fazila dan ketiga teman-temannya berpelukan erat seolah akan pergi dalam jangka waktu yang lama. Dokter Davin hanya melihat aksi ketiganya tanpa bicara dan sesekali tampak bergurau dengan Damian tanpa melepaskan pandangannya dari sang istri.
Jam keberangkatan tiba-tiba. Mereka pamit kembali sebelum akhirnya melambaikan tangan sebelum naik ke atas pesawat.
Hampir dua jam mereka berada dalam pesawat dan kini sudah sampai di Bandara Ngurah Rai.
"Hai kamu Non Chila, kan?" tanya seorang pria sambil melambaikan tangan dan melangkahkan cepat menuju mereka.
"Iya Benar, Tuan siapa?" tanya Fazila sambil menilik penampilan orang yang berdiri di hadapannya itu.
__ADS_1
"Perkenalkan nama saya Abi, salah satu anak buah papamu Zidane," ujar orang tersebut memperkenalkan diri.
Fazila menangkukan tangan di depan dada dan ikut memperkenalkan diri.
"Saya Chila, putri ketiga dari Papa Zidane," ujar Fazila.
"Dan saya Davin menantu beliau, lanjut dokter Davin sambil mengulurkan tangan ke hadapan pria itu. Mereka terlihat berjabatan tangan.
"Mari ke mobil! Saya akan mengantar kalian ke hotel yang sudah dipesan oleh Tuan Zidane," ujar pria itu seraya mengambil alih oper dari tangan dokter Davin.
"Baiklah, ayo Sayang!" Dokter Davin menggenggam tangan Fazila dan membawanya mengikuti pria tadi.
"Silahkan masuk!" perintah pria tersebut setelah menaruh koper dan membukakan pintu mobil untuk mereka.
"Terima kasih ucap," ucap dokter Davin dengan tersenyum ramah.
"Sama-sama," jawab pria itu lalu menutup pintu mobil kembali setelah keduanya masuk. Pria itu memutar langkah, kemudian masuk ke dalam kursi kemudi lalu melajukan mobilnya keluar dari bandara dengan kecepatan pelan.
Sampai di luar bandara, sopir itu mengubah kecepatan mobil menjadi kecepatan sedang. Fazila menatap jalanan tanpa bicara sepatah katapun dengan tangan yang masih bertautan dengan sang suami.
Sekitar 10 menit dalam perjalanan akhirnya mobil mereka memasuki area sebuah penginapan yang terlihat begitu mewah. Ayana Resort and Spa adalah pilihan sang papa untuk tempat menginap mereka.
"Bagus banget pemandangan di sini," ucap Fazila terkagum-kagum.
"Ayo Nona papa kamu sudah memesan Villa di Ayana Resort Bali ini," ujar pak sopir tadi sambil membawa koper milik Fazila masuk ke villa yang sudah dipesan sebelumnya.
Fazila mengangguk dan masih menatap sekitar dengan kagum. Bagaimana tidak kagum, tempat itu adalah salah satu akomodasi mewah di Bali yang berkelas dunia. Letaknya yang berada di atas tebing seluas 90 hektar dan menghadap teluk Jimbaran semakin membuat tempat itu terkesan.
"Di sani ada sebabnya 78 villa yang di lengkapi dengan layanan butler bersertifikasi International. Kamu dan suamimu dapat menikmati makan malam dengan cahaya lilin romantis di taman villa, brunch sampnge yang di hidangkan di sebuah nampan mengambang di kolam," jelas sang sopir sedikit banyak memberikan gambar di tempat itu.
"Wow!" membayangkan saja sudah bisa membuat Fazia senang alang kepalang. Apalagi sampai melakukanya. Dokter Davin hanya tersenyum melihat tingkah sang istri yang seperti tidak sabaran ingin menikmati layanan tersebut.
"Ini tempat renang pribadi, pijat pribadi juga ada di kamar villa. Di sini juga tersedia layanan antar jemput gratis untuk mengakses seluruh restoran dan fasilitas aktifitas lainnya," lanjut sopir itu dan yang membuat Fazila tertarik adalah pijat pribadi yang wajib akan ia coba sebelum kembali ke Jakarta.
"Baiklah, ini kamar kalian. Selamat menikmati!"
"Terima kasih ya Pak atas semuanya," ujar dokter Davin dan pria itu mengangguk.
"Kalau ada apa-apa atau membutuhkan sesuatu, kalian bisa menghubungi saya," ujar pria tersebut sambil memberikan kartu nama ke tangan dokter Davin.
"Baik Pak terima kasih atas waktunya dan maaf sudah merepotkan," ujar dokter Davin lagi lalu menyimpan kartu nama tersebut.
"Sama-sama dan tidak perlu meminta maaf karena ini sudah menjadi tugas saya. Permisi dan selamat malam!"
"Malam juga Pak," ujar dokter Davin lalu menatap ke arah sang istri yang berdiri di dekat jendela sambil termenung.
"Apa yang kamu lihat hah?" tanya dokter Davin sambil memeluk sang istri dari belakang dan seperti sebelumnya menempelkan dagu di leher sang istri. Sepertinya itu akan menjadi kebiasaan dokter Davin ke depannya. Bagi pria itu posisi tersebut sangatlah nyaman.
"Lautnya indah Mas, sayang kita kelewatan senja hari ini. Kamar kita pas untuk bisa melihatnya karena menghadap ke arah barat," ujar Fazila tak henti-hentinya mengagumi tempat itu.
"Senja memang indah tapi, bagiku lebih indah dirimu," ujar dokter Davin lalu mencium pipi sang istri.
"Ih gombal," ucap Fazila lalu mencebik.
"Kau suka sekali ya bereaksi seperti itu," ucap dokter Davin lalu mencumbu bibir sang istri.
Melihat Fazila yang seperti menikmatinya membuat dokter Davin semakin berani untuk melakukan hal lebih dan lebih.
"Ah, Mas!" desah Fazila semakin membuat Dokter Davin bersemangat. Tatapan pria itu sudah terlihat sayu.
"Kita lakukan sekarang," bisiknya di telinga sang istri dan Fazila yang sudah terpancing gairah hanya mengangguk setuju.
__ADS_1
Dokter Davin tersenyum lalu menggendong tubuh sang istri dan membaringkan di atas kasur.
"Malam ini akan menjadi malam terindah yang tidak pernah bisa kita lupakan seumur hidup," ucap pria itu sambil menatap wajah sang istri yang sudah nampak malu-malu. Fazila memejamkan mata saat dokter Davin mendekatkan wajah pada wajahnya. Lalu sejurus kemudian mereka menuntaskan malam pertama mereka yang tertunda gara-gara keponakannya itu.
"Alhamdulillah," ucap dokter Davin kala melihat percikan darah di atas seprai setelah mereka menyudahi adegan percintaan mereka. Sebagai seorang dokter dia tahu tidak semua wanita akan mengeluarkan darah di malam pertamanya meskipun sama-sama masih dalam keadaan perawan. Hanya saja, melihat percikan darah tersebut menimbulkan kepuasan tersendiri di dalam hatinya.
"Terima kasih ya Sayang, sudah menjaga diri dengan baik.Tidak sia-sia aku menjaga diriku karena bisa mendapatkan dirimu yang sempurna," ucap dokter Davin sambil mengecup kening sang istri beberapa kali lalu memeluk tubuh Fazila dengan erat seakan takut kehilangan.
Fazila hanya menanggapi ucapan dokter Davin dengan senyuman. Baginya dokter Davin sudah sangat berlebihan telah mengatakan dirinya sempurna padahal tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini selain para nabi dan rasul.
Dia sungguh tidak paham kalau sebenarnya yang dimaksud dokter Davin adalah kesuciannya sebagai seorang wanita.
"Aku mau ke kamar mandi dulu Mas," ucap Fazila seraya menyingkirkan tangan dokter Davin dari atas perutnya. Sungguh tubuhnya merasa lengket dan tidak nyaman dan wanita itu justru merasa aneh karena dokter Davin malah tertidur begitu saja tanpa membersikan diri terlebih dulu.
"Auw!" ringis Fazia saat merasakan seluruh tubuhnya terasa sakit terutama bagian intinya itu.
"Jangan-jangan luka," gumamnya lalu berteriak kala melihat percikan darah di atas seprai.
"Ada apa Sayang? Kenapa berteriak?" tanya dokter Davin. Dia yang kaget mendengar teriakan sang istri langsung duduk.
"Darah! Kau tidak membuat kesalahan, kan?" tanya Fazila sambil menatap wajah dokter Davin dengan curiga.
Namun, yang ditatapnya malah terkekeh melihat wajah sang istri yang terlihat pucat.
"Kesalahan apa?" tanya dokter Davin pura-pura tidak paham.
"Salah masuk, mungkin," ujar Fazila membuat sang suami malah tertawa lepas.
"Ih, ditanyain malah ketawa-ketawa!" kesal Fazila.
"Salah masuk ke mana? Sudah benar aku bikin lubangnya nggak ada yang salah."
"Iya, tapi kenapa sakit?" tanya Fazila polos.
"Dan kenapa sampai keluar darah?" cecarnya.
"Iya, karena baru pertama kali Chila, aku pun belum berpengalaman jadi sakit deh. Kalau masalah darah itu adalah darah perawan jadi sudah biasa keluar saat seorang wanita baru pertama kali melakukan hubungan intim," jelas dokter Davin panjang lebar membuat Fazila langsung
manggut-manggut paham.
"Emang saat pelajaran Biologi kamu ke mana? Kok nggak tahu tentang itu?" goda dokter Davin.
"Tidur," jawab Fazila ketus membuat dokter Davin kembali terkekeh.
"Sudah ah, aku mau ke kamar mandi, lengket nih badan," ucap wanita itu lalu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya kemudian berjalan pelan karena masih terasa sangat sakit.
Dokter Davin yang kasihan melihat Fazila langsung berdiri dan menggendong tubuh istrinya lalu membawanya ke kamar mandi.
"Ah ngagetin aja sih Mas," protes Fazila karena dokter Davin memang mengangkat tubuhnya secara mendadak hingga selimut terlepas begitu saja ke lantai.
"Turunkan aku! Aku bukan anak kecil!" teriak Fazila dan dokter Davin mempercepat langkah lalu menurunkan sang istri di dalam kamar mandi.
Sampai di dalam kamar mandi, pria itu tidak keluar membuat Fazila langsung menatap curiga sang suami akan mengulangi hal yang sama seperti sebelumnya. Apalagi mengingat tubuh mereka yang sama-sama tidak ada penghalang.
"Mas mau apa?" tanyanya saat melihat dokter Davin tersenyum ke arahnya. Fazila yang tiba-tiba malu langsung menutup aset berharganya dengan kedua tangan.
"Aku tidak ingin ngapain-ngapain lagi malam ini, kita mandi bareng aja ya Sayang biar cepat kelar. Sungguh aku benar-benar masih mengantuk sekarang," ujar dokter Davin membuat Faxila menggelengkan kepala.
"Boleh asal Mas Davin ngadap sana!" Fazila memutar tubuh dokter Davin agar membelakangi dirinya begitupun sebaliknya. Ia juga berdiri membelakangi sang suami dan mereka melakukan aktivitas mandi sendiri-sendiri.
Bersambung.
__ADS_1