
"Aku tidak bisa ... maaf," ucap Fazila dengan nada suara yang gugup lalu menunduk.
Chexil membelalakkan mata, dia paham adik iparnya itu menyukai dokter Davin tetapi kenapa malah menolak? Sedangkan Isyana dan Nathan menghela nafas lega karena tanpa mereka ikut campur pun Fazila sudah memutuskan dengan baik sesuai dengan harapan mereka.
Tristan hanya memandang Fazila sebentar lalu beralih bicara dengan kedua mertua Nathan. Tristan sama sekali tidak ingin ikut campur sebab yakin Fazila sudah memutuskan mengikuti suara hatinya.
"Kau jangan bercanda Chila, aku serius!" tekan dokter Davin agar Fazila tidak bermain-main dengan keputusannya.
Fazila mendongak, melirik ke arah mama dan abangnya, lalu menghembuskan nafas berat.
"Aku serius Dokter," pungkasnya lalu menunduk lagi seolah takut untuk menatap wajah dokter Davin.
Dokter Davin terlihat menghela nafas panjang. Raut kekecewaan tergambar jelas di wajahnya. Ternyata asumsinya selama ini salah. Fazila tidak punya perasaan sama seperti dirinya.
"Seharunya aku tahu diri," batin dokter Davin saat menyadari usia mereka terpaut jauh. Fazila berhak mendapatkan pasangan yang seumuran dengannya.
"Baiklah kalau itu sudah menjadi keputusanmu. Seperti apa yang sudah aku janjikan pada papamu tadi. Jika kamu menolakku, maka aku tidak akan pernah menganggu dan muncul di hadapanmu lagi.
Mungkin ini adalah pertemuan terakhir kita Chila. Maafkan, jika selama ini ada kekhilafan yang aku perbuat padamu. Asal kamu tahu, saat kamu menghilang aku selalu memikirkan dirimu, memikirkan apa salahku padamu walaupun pada akhirnya tak jua menemukan jawabannya. Aku akan selalu berdoa untuk kebahagiaanmu, agar kamu mendapatkan jodoh yang baik dan sepadan denganmu. Selamat tinggal!"
__ADS_1
Dokter Davin balik badan, sedikit membungkuk dengan senyum yang dipaksakan pada semua orang, lalu bergegas keluar dari kamar rawat Chexil. Sampai di luar kamar dia menghembuskan nafas kasar lalu melangkah dengan cepat tanpa sedikitpun menoleh ke belakang.
Fazila membeku, syok, tak tahu harus berkata dan berbuat apa. Chexil mendekatinya. Menanyakan sesuatu yang menjadi keraguan di hatinya.
"Apa kau yakin dengan keputusanmu, Chila?"
Fazila mengangguk lemah walaupun dalam hati sangat bertolak belakang dengan apa yang ia katakan.
"Baiklah, aku hargai keputusanmu, kamu memang masih belum dewasa, belum saatnya memikirkan tentang cinta dan pasangan. Kakak hanya tidak ingin kamu menyesal, makanya bertanya seperti tadi. Namum, jika kau berubah pikiran, Kak Chexil akan memanggil dokter Davin kembali."
"Nak Chexil, tidak perlu menawarkan sesuatu yang tidak penting! Chila pasti tahu apa yang terbaik untuk dirinya sendiri," protes Isyana membuat Chexil merasa canggung dengan mertua perempuannya itu.
"Baik Ma, maaf." Isyana mengangguk lalu mendekati Fazila dan mengelus punggung putrinya.
Zidane memejamkan mata mendengar nasehat Isyana untuk putri satu-satunya. Dia tahu bagaimana kerasnya hati Isyana. Perjuangannya untuk mendapatkan wanita itu pun dulu membutuhkan waktu yang lama karena sikap perempuan itu yang seolah susah untuk melupakan kesalahan orang lain.
"Iya Ma, kalau begitu Chila izin pulang." Fazila bangkit dari duduknya dan menjauh dari sang mama.
"Kak Chila pulang ya, kepala Chila mendadak sakit," ujarnya pada Chexil dan wanita itu hanya mengangguk.
__ADS_1
"Tris!"
Zidane memberi kode pada putranya agar menyusul Chila dan menemani di rumah. Tristan yang peka pun langsung berpamitan pada semua orang dan berlari mengejar adiknya.
Di dalam mobil yang dikendarai Tristan Fazila tampak diam. Tak ada satu kalimat yang Tristan lontarkan ia tanggapi walaupun Tristan melucu sekalipun. Fazila yang begitu akrab dengan Tristan dan selalu ceria kini wajahnya seperti awan mendung di langit.
"Apa sikapmu ini ada kaitannya dengan kejadian tadi?" tanya Tristan, seakan mendesak agar Fazila mau berbagi dengannya. Namun, gadis itu enggan bersuara, bahkan ia pura-pura tidak mendengar pertanyaan Tristan.
Tristan mendesah kasar, bicara dengan Fazila saat ini sama halnya bicara dengan patung. Pria itu memutuskan untuk membiarkan Fazila dalam diamnya dan lebih memilih menyetel musik. Sesekali ia terlihat menelepon Dilvara, tunangannya untuk menyingkirkan rasa sepi selama perjalanan pulang.
Perjalanan yang biasa ditempuh dalam waktu singkat terasa sangat lama sekali. Fazila terlihat gelisah di dalam mobil karena tidak sabar ingin merebahkan tubuhnya di atas kasur, tetapi Tristan tidak bertanya hanya sesekali melirik, menunggu adiknya bicara.
Beberapa saat kemudian, waktu yang ditunggu Fazila pun tiba. Kini mobil yang dikendarai Tristan sudah masuk pekarangan rumah. Segera Fazila turun dan berlari menuju kamarnya lalu menghempaskan tubuhnya di atas ranjang dengan kasar. Di dalam kamar dia menangis sejadi-jadinya. Menumpahkan air mata yang sudah tidak bisa tertampung lagi di kelopak matanya.
Tristan menggeleng mendengar suara tangisan Fazila dari dalam kamar.
"Cewek memang aneh, kalau dia masih suka sama dokter Davin kenapa tidak jujur saja tadi? Chila, Chila!"
Tak ingin menganggu momen kesendirian sang adik, Tristan kembali turun ke lantai bawah dan berjalan menuju kamar sang opa untuk melihat keadaannya. Tristan tidak ingin menganggu Fazila agar gadis itu menuntaskan kesedihannya. Dia tahu ketika sang mama ada di rumah, Fazila tidak akan berani menangis seperti sekarang.
__ADS_1
"Dokter, maafkan Chila yang tidak bisa menerima dirimu, Chila takut sama mama, tapi Chila masih ingin melihat dokter lagi. Tolong jangan menghilang dari hidup Chila!"
Bersambung.