DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR

DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR
Bab 64. Ancaman


__ADS_3

Dokter Davin terlihat mengetikan sesuatu pada ponselnya. Wajahnya merah padam menahan amarah dan terlihat begitu serius.


"Kenapa? Kelabakan, kan? Hmm, kau pikir aku tidak tahu kebohonganmu. Ingat!Sepandai-pandainya orang menyembunyikan bangkai, pasti baunya akan tercium juga."


"Kenapa tidak online sih?" Dokter Davin kesal karena chat-nya hanya centang abu. Ia bahkan tidak mendengar ocehan Nathan yang baginya tidak terlalu penting. Satu hal yang pasti dia harus menyakinkan Fazila bahwa dirinya tidak bersalah dan mungkin setega itu. Dia hanya ingin namanya bersih dari kejelekan yang dilakukan oleh orang lain.


"Kau menghubungi siapa sih Dok?" tanya Fazila melihat dokter Davin begitu serius hingga tidak perduli dengan keadaan.


"Bentar Chila, aku ada urusan sebentar." Dokter Davin beranjak ke pintu lalu menelpon seseorang.


"Halo! Kau ke rumah sakit sekarang juga!"


"Rumah sakit mana Dok, bukankah hari ini kita libur?" Dari balik telepon Terdengar suara seorang wanita yang nampak kebingungan mendapatkan perintah yang tidak biasa dari dokter Davin.


"Rumah sakit Jakarta tempat kita bekerja dulu," sahut dokter Davin tidak suka berbasa-basi.


"Apa! Kenapa bisa? Apakah kita akan pindah ke sana lagi?"


"Jangan banyak tanya kalau tidak ingin saya pecat!" tegas dokter Davin membuat wanita itu terperangah lalu spontan menutup panggilan telepon.


"Gila, kenapa bisa begini? Apa dokter Davin mengambil pekerjaan di sana lagi? Wah gawat kalau begini, aku juga bakal bolak-balik capek," keluh suster Tantri.


"Tapi apa mungkin dokter Davin hanya bertugas sementara mengantikan dokter lain dan hanya kembali bekerja seorang diri di sana tanpa aku? Tapi kenapa dia malah menyuruhku datang ke sana juga?" Suster Tantri berpikir keras.


Saat wanita itu berpikir ponselnya bergetar kembali.


"Halo Suster, sekarang juga harus ke sini. Kau harus sampai sebelum jam 9 pagi ini!"


"Apa?!" Suster Tantri benar-benar kelabakan mendapatkan perintah seperti itu. Tak biasanya dokter Davin memberikan perintah secara mendadak dan sebagai asistennya ia tahu bagaimana watak dokter Davin.


"Kesini sekarang juga!" tekan dokter Davin pada kata-katanya.


"Tapi–"

__ADS_1


"Tak ada tapi-tapian, kau harus ke sini sekarang atau pekerjaanmu yang jadi taruhan!"


.


"Ba–baik," sahut suster Tantri lalu berlari ke dalam kamar dan bergegas berganti pakaian.


"Sial! Padahal hari ini aku ingin bersantai," gerutu suster Tantri sambil memoles make up. Mau dalam keadaan bagaimanapun dia harus berpenampilan cantik dengan harapan suatu saat ada waktunya dokter Davin melirik dirinya dan menyadari bahwa selama ini sudah mengabaikan ada bidadari di samping dirinya.


Selepas berdandan, suster Tantri langsung meraih tas dan berlari keluar kostan tempat ia tinggal selama bertugas di daerah ini.


Gegas ia mengeluarkan sepeda motornya dan mengendarai dengan kecepatan tinggi karena tidak ingin dokter Davin benar-benar memecat dirinya. Bukan hanya takut kehilangan pekerjaan, tetapi wanita itu juga takut tidak bisa bebas melihat wajah tampan yang selalu menghiasi hari-harinya.


Tit-tit-tiiit!


Suara klakson mengagetkan suster Tantri yang fokus dengan jalanan.


"Pelan-pelan dong! Kau kira ini sirkuit apa?!" bentak seorang pengendara karena kesal melihat suster Tantri masih saja mengebut saat jalanan terlihat macet.


Suster Tantri tidak perduli, dia menulikan telinganya.


"Lihat dokter Davin?" tanyanya pada seorang cleaning service.


"Tidak Bu," sahutnya dan suster Tantri hanya mengangguk.


Segera suster Tantri menuju poliklinik. Berjalan ke arah ruangan dimana ia dan dokter Davin bekerja sama menanganinya pasien sebelumnya.


Namun, saat tiba di sana tidak melihat batang hidung pria itu.


"Bukankah dokter Davin dan suster Tantri sudah tidak bekerja di sini? Jadi suster Tantri salah kalau mencari dokter Davin ke ruangan ini," jelas seorang dokter yang bertugas di ruangan tersebut.


Suster Tantri menggaruk kepalanya, bingung. Lalu dia berinisiatif untuk menelpon dokter Davin lebih dulu.


"Dokter ada dimana? Saya sudah berada di ruangan penyakit dalam di poliklinik."

__ADS_1


"Aku ada di ruangan pasien. Ruangan Anggrek nomor 99," sahut dokter Davin lalu menutup telponnya kembali. Ia geram dengan suster Tantri, tetapi tidak mungkin marah dalam panggilan telepon kalau tidak ingin wanita itu pergi tanpa bertemu dirinya terlebih dahulu.


"Apa ada pasien yang gawat? Ah, sudah ditutup!" kesal suster Tantri tatkala menyadari dokter Davin memutuskan sambungan teleponnya.


Mau tidak mau ia berjalan ke ruangan yang disebutkan oleh dokter Davin. Wanita itu melangkah dengan terburu-buru.


Suster Tantri tersenyum lebar melihat dokter Davin menunggu dirinya di depan pintu.


Ia berhenti sebentar dan menatap dokter Davin yang menunggu dirinya dengan gelisah.


"Tumben-tumbenan, semoga saja ia ingin menyampaikan kabar baik," gumamnya lalu melangkah lebih cepat lagi.


"Ada apa, Dok?" tanyanya dengan senyum yang merekah.


"Masuk!"


Suara dan tatapan dokter Davin yang tidak bersahabat membuat perasaan suster Tantri mendadak tidak enak. Namun, ia tetap masuk ke dalam.


"Suster Tantri?" kaget Fazila saat melihat wanita itu masuk ke dalam.


"Kau–?" Suster Tantri tidak kalah kaget melihat keberadaan Fazila di dalam sana. Apalagi didampingi para anggota keluarganya. Tangannya menutupi mulut yang terbuka.


"Ada apa ini?" tanya suster Tantri dan Fazila secara bersamaan.


Keduanya saling tatap dengan tatapan tajam.


"Jangan bilang kau mengadu yang tidak-tidak. Jangan sampai kau memfitnahku! Jangan macam-macam ya, Chila!" Suster Tantri terlihat khawatir.


"Kalau kau tidak merasa bersalah, tidak perlu tegang begitu suster! Saya tidak mungkin mengadu perkara pertemuan kita waktu itu. Tenang saja, aku bukan anak papa," ucap Fazila dengan senyum mengejek.


"Suster Tantri, apa ini kau yang membalas chat Chila?" tanya dokter Davin langsung sambil menunjukkan chat beberapa waktu yang lalu.


Suster Tantri terbelalak kembali.

__ADS_1


"Itu ... Itu–"


Bersambung.


__ADS_2