DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR

DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR
Bab 84. Hari Pertunangan (2)


__ADS_3

"Ah nggak," ujar dokter Davin.


"Dokter," lirih Fazila sambil tersenyum ke arah dokter Davin.


"Chila, jujur aku pangling padamu," ujar pria itu lalu mengeluarkan sebuah kotak cincin dari dalam saku celananya.


"Sebelum kita pasang cincin aku ingin ngomong sesuatu," ucap Fazila dengan nada suara rendah seperti orang yang berbisik.


"Apa itu?"


"Aku minta agar–"


Fazila tidak langsung mengatakan, tetapi mendekatkan bibirnya terlebih dahulu ke telinga dokter Davin lalu membisikkan sesuatu.


Dokter Davin membeku, aroma buah Cherry dari parfum Fazila menusuk Indra penciumannya.


"Oke," sahutnya setelah Fazila mengatakan sesuatu.


"Hmm, baiklah. Bang Tris tolong dibantu!" pinta Fazila pada Tristan dan pria itu langsung mengangguk dan membawa dokter Davin ke kamarnya lalu memberikan pakaian yang dibuat dadakan oleh Isyana.


Setelah berganti pakaian yang berwarna senada dengan Fazila, dokter Davin pun menuruni anak tangga dan menghampiri semua orang yang mengobrol dengan serius di lantai bawah.


"Nah kalau begini tambah serasi ini," ujar Dimas sambil menunjukkan jari jempolnya.


"Sudah jangan banyak ngomong! Elo gue undang ke sini buat jadi cameraman yang bakal mengabadikan momen Chila dan dokter Davin. Siap-siap sana ambil kamera!" perintah Tristan.


"Oke Tris, oke baru juga gue duduk," keluh Dimas lalu bangkit berdiri dan menyiapkan kamera.


"Bagaimana sudah siap?" tanya Zidane pada Chila dan calon menantunya.

__ADS_1


Keduanya hanya menjawab dengan anggukan dan tersenyum tipis.


Dokter Davin terlihat menghela nafas panjang sebelum akhirnya berkata, "Kau sudah siap Chila?"


"Siap Dok," jawab Fazila tak pernah lepas dari senyuman.


Dokter Davin menatap lekat wajah Fazila begitupun sebaliknya. Mereka saling tatap dan tatapan itu terkunci untuk beberapa saat. Saling mengagumi satu sama lain dalam diam.


Cekrek.


Keduanya langsung tersadar tatkala sinar foto menganggu pandangan mereka.


"Tolong lebih geser ke kanan sedikit sebab riasan dindingnya ada di sebelah kanan dari tempat kalian berdiri!" Dimas memberi instruksi.


"Dasar Dimas, tidak lihat apa aksimu membuat mereka kaget," protes Tristan.


"Lah katanya tugasku sebagai tukang foto sekarang, ya apapun yang menarik harus aku ambil gambarnya," balas Dimas.


"Tugasmu hanya mengambil gambar tidak untuk menilai, jadi jangan banyak protes!" tegas Tristan.


Dokter Davin dan Fazila pun bergeser sesuai arahan Dimas.


"Chila mulai hari ini, menit ini, detik ini aku ingin mengikatmu, dengan hati, cinta dan cincin ini. Aku harap setelah kamu menjadi tunanganku kamu bisa menjaga hati sampai kita bisa saling memiliki seutuhnya. Apa kau bersedia menjadi tunanganku?" Dokter Davin membungkuk dengan kedua tangan ke depan, memegang kotak cincin yang terbuka dan memperlihatkan satu pasang cincin di dalamnya.


"Apakah kamu juga akan begitu? Bisa menjaga hati untukku setelah kita ... mungkin berpisah dalam jangka waktu tertentu?" tanya balik Fazila.


"Insyaallah aku akan setia meskipun hubungan kita terpisah jarak."


Tristan menggaruk kepala mendengar jawaban dari dokter Davin.

__ADS_1


"Lebay banget sih mereka. Terpisah jarak apa coba! Orang dari rumah dokter Davin ke pesantren tidak begitu jauh masih berada dalam satu kota. Lebih jauh ke sini," gerutu Tristan. Dalam hati ia merasa pertunangan sang adik adalah pertunangan paling lebay sedunia.


"Insyaallah Chila juga," ucap Fazila.


Tangan dokter Davin terulur ke depan.


"Maaf," ucap pria itu sebelum menyentuh tangan Fazila dan menyematkan cincin di jari manis gadis itu.


Semua yang hadir bersorak-sorai kecuali Dimas yang tangannya repot dengan kamera.


"Sekarang giliran Chila-nya!" seru Damian.


Fazila mengangguk, mengangkat tangannya dengan sedikit gemetar karena rasa grogi yang kembali mendera. Memegang tangan dokter Davin dengan malu-malu kemudian balas menyematkan cincin di jari manis pria itu.


Tepuk tangan kembali terdengar dalam ruangan. Kembali Dimas mengambil foto keduanya.


"Alhamdulillah kalian sudah resmi bertunangan, tinggal menunggu waktu nikahnya saja," ujar nenek Salma, bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati keduanya.


"Nenek, Chila kangen!" seru Fazil lalu mendekap erat tubuh nenek sama dengan mata yang berkaca-kaca.


"Apa kabar Nak Chila? Kau terlihat jauh dewasa sekarang," ucap nenek Salma sambil mengusap punggung Fazila. Ia sangat mengingat bagaimana tubuh Fazila yang masih pendek dulu dan sekarang sudah tinggi meskipun masih saja terlihat imut seperti dulu.


"Baik Nek," ucap Fazila lalu menyeka air yang menggenang di pelupuk mata.


"Ah sudahlah Chila, tak perlu bersedih. Mari kita berfoto bersama," kata Zidane dan anggota keluarga langsung berkumpul di samping Fazila dan dokter Davin.


"Mana Dimas Tris?" tanya Isyana yang tak kunjung difoto saat keluarga sudah berdiri semua dan siap untuk diambil gambarnya.


"Astaghfirullah bukannya fotoin kami malah fotoin suster Dinda!" protes Tristan yang heran dengan kelakuan sahabatnya yang satu itu.

__ADS_1


Chexil hanya cekikikan melihat Tristan dibuat kesel oleh Dimas.


Bersambung.


__ADS_2