DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR

DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR
Bab 61. Perhatian


__ADS_3

Kini Fazila terbaring lemas di rumah sakit dan semua keluarga yang ikut tidak ada satupun yang pulang. Menunggui gadis itu dengan cemas meskipun kata dokter tidak ada penyakit parah yang dideritanya.


Zidane terlihat bersandar di sebuah sofa. Matanya terpejam, tidak kuat menahan kantuk. Tak jauh berbeda dengan Tristan yang tampak menguap beberapa kali di samping sang papa. Namun, pria itu masih terus berusaha agar matanya terus terbuka.


"Tris kau pulang saja dengan papa dan istirahat di rumah! Jangan sampai kesehatanmu drob dan sakit juga karena terlalu banyak bergadang," saran Isyana.


"Bentar Ma, aku telepon pak sopir saja, Tris takut nggak konsen menyetir kalau dalam keadaan mengantuk, takut nabrak orang karena kekuatan mata Tris tinggal lima watt doang," ujar Tristan sambil merogoh ponselnya, hendak menelpon sopir pribadi keluarga yang mungkin sudah kembali ke rumah dengan oma dan opanya.


"Nggak Usah Tris biar aku aja yang nyetir, Nathan pulang dulu ya Ma, mau melihat keadaan Chexil dan baby kami, setelah itu Nathan langsung kembali lagi ke sini," pamit Nathan dan Tristan hanya mengangguk saja.


"Ya, pulanglah biar Mama aja yang jaga Chila. Kalian pasti capek semua setelah seharian bekerja keras. Istirahatlah dan jangan memikirkan Mama di sini. Nanti kalau ada apa-apa kalian akan langsung Mama telepon," ujar Isyana.


"Tapi apa Mama nggak capek dan mengantuk? Mama, kan juga seharian bekerja. Kalau iya biar nanti Nathan akan meminta oma yang menggantikan Mama di sini."


"Nggak usah Nath, kalau Oma ke sini siapa yang akan menemani opa kamu di rumah? Bagaimanapun oma kamu seharian ini juga sibuk bantu-bantu di rumah tante Lana."


"Tapi Mama sendirian di sini, apa tak mengapa?" tanya Nathan ragu.


"Tidak apa-apa, ini sudah biasa buat Mama. Ini masih mending pulang kerja cuma jagain Chila doang. Ingat nggak waktu kamu masih belum dewasa, Mama sering ngurusin kalian berdua yang sakitnya bersamaan padahal Mama sibuk di butik dan juga tidak enak badan waktu itu. Nyatanya Mama kuat, kan?"


"Iya sih Ma, Nathan memang tidak pernah ragu dengan kemampuan ibu-ibu yang bisa melakukan banyak hal dalam satu waktu," ujar Nathan ikut merasa bangga tatkala mengingat Chexil yang tidak pernah merasa repot menyiapkan segala kebutuhannya padahal sambil mengendong putranya.


"Nathan masih ingat, Ma."


"Yasudah sana pulang, kasihan Nak Chexil sama anak kamu!"


"Baik Ma, ayo Tris! Bangunin papa juga!"


"Siap."


Setelah membangunkan Zidane mereka bertiga langsung berjalan beriringan menuju tempat parkir. Setelah Zidane dan Tristan masuk lalu Nathan mengemudikan mobilnya pulang ke rumah.


Isyana membasahi kain kompres lalu meletakan di kening Fazila dan sedikit menekannya.


"Tidurlah Chila! Ini sudah larut malam kau harus beristirahat agar cepat sembuh," ucap Isyana saat melihat Fazila membuka mata.

__ADS_1


"Papa mana?" tanya Fazila sambil mengedarkan pandangan mencari keberadaan Zidane.


"Pulang, besok pagi pasti papa kembali ke sini lagi sebelum berangkat ke kantor. Sekarang papamu kelelahan dan mengantuk. Kamu kalau butuh sesuatu bisa katakan pada Mama."


"Iya Ma." Fazila menatap langit-langit kamar lalu memejamkan mata.


Isyana mengecek kain kompres yang sudah kering dan panas. Wanita itu membasahi kain tersebut lalu meletakkan kembali di kening Fazila.


"Kau masih panas sekali Nak," gumam Isyana.


Kini ia pun mulai menguap. Rasa letih dan kantuk mulai menyerang, berbaur menjadi satu hingga rasanya tak tertahankan lagi. Namun, susah payah Isyana tekan.


"Aku tidak boleh tidur, kata dokter Chila harus terus dikompres," ujar Isyana sambil melihat wajah dan bibir Fazila yang tampak pucat. Tak tega meninggalkan putrinya tidur tanpa ada yang menjaga.


Isyana menghela nafas panjang. Dalam hati bertanya-tanya mengapa ada demam sepanjang itu. Demam pada putrinya benar-benar aneh.


Hanya setengah jam Isyana bertahan untuk tetap membuka mata. Namun, jam setengah satu malam wanita itu tidak tahan lagi dengan rasa kantuknya sehingga tanpa sadar terlelap sendiri.


Kain kompres di tangan bahkan terjatuh sebelum menyentuh tubuh Fazila.


Ia duduk di tepi ranjang yang berseberangan dengan Isyana dan menggantikan tugas wanita itu untuk mengompres Fazila.


"Ma, di sini panas juga," lirih Fazila dengan mata yang masih terpejam. Tangannya terulur menyentuh tangan dokter Davin yang ada di dahinya dan memindahkan hingga menyentuh leher. Nafasnya yang begitu kencang dan hangat menerpa pipi dokter Davin.


Tanpa berkata apapun dokter Davin pun membasahi kain kompres lainnya dan menaruhnya di leher Fazila.


"Cepat sembuh dong Chila, kalau keadaanmu begini aku tidak konsentrasi bekerja nanti," keluhnya sambil terus membasahi kain kompres yang cepat mengering akibat suhu tubuh yang terlalu panas.


Fazila membuka mata tatkala mendengar suara yang terdengar bukan suara Isyana.


"Dokter!" pekiknya tatkala matanya menangkap sosok dokter Davin duduk di samping brankar dan telaten merawat dirinya.


"Stt!" Dokter Davin menaruh jari telunjuk di depan mulut sambil melirik Isyana.


Fazila yang paham langsung mengangguk sambil tersenyum.

__ADS_1


"Dokter masih di sini?" tanya Fazila dengan suara seperti orang berbisik.


"Ya," jawab dokter Davin singkat.


"Kenapa tidak kembali ke kota tempatmu bekerja? Apa nutut masuk kerja jika pulang besok?"


"Aku tidak ada jadwal praktek besok. Baik di rumah sakit atau di klinik sama-sama libur. Jadi mau jaga kamu saja," sahut dokter Davin.


"Makasih," ucap Fazila dan dokter Davin hanya mengangguk.


"Ma!" panggil Fazila lalu segera menutup mulut saat melihat dokter Davin terbelalak.


"Maaf lupa, habisnya Chila lapar pengen makan," rengek gadis itu sambil mengusap perutnya yang keroncongan.


"Tak apa. Kalau ada sesuatu katakan padaku saja, kasihan mama kamu lagi tidur. Mungkin siang hari ia sibuk jadi nggak bisa seratus persen jagain kamu. Oh ya, mau dibeliin makanan apa?"


"Nggak usahlah Dok, Chila tidak mau merepotkan," ujar Fazila tidak enak.


"Aku nggak repot Chila," ujar dokter Davin sambil membalik kain kompres.


"Katakan mau makan apa!"


"Apa saja deh yang penting bisa bikin perut kenyang," sahut Fazila.


"Ya udah aku keluar dulu sebentar."


Dokter Davin keluar dan mencari warung makan yang buka 24 jam di dalam area rumah sakit. Setelah mendapatkan nasi dengan lauk-pauk serta beberapa bungkus biskuit ia kembali ke sisi Fazila.


"Makan ya!" Dokter Davin menyuapi Fazila dan Fazila yang memang lapar terlihat lahap.


"Isyana membuka mata tatkala mendengar seseorang mengunyah makanan. Ia pikir Fazila sedang mengigau mengingat suhu tubuhnya yang tinggi.


Namun, saat melihat aktivitas dokter Davin dan Fazila, ia kembali memejamkan mata dan pura-pura tertidur. Isyana tidak mau mengganggu makan Fazila yang lahap, yang akhir-akhir ini sudah tidak pernah terlihat lagi olehnya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2