DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR

DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR
Bab 124. Masih di Suasana Pesta


__ADS_3

"Selamat ya Chila, semoga pernikahan kalian langgeng sampai kakek nenek. Pernikahan kalian menjadi pernikahan sakinah mawadah warahmah," ucap Qiana mewakili kedua temannya. Anggita dan Andin hanya manggut-manggut saja dan mengikuti jejak Qiana menyalami kedua mempelai.


Setelah selesai menyalami para tamu dan melakukan sesi foto bersama. Fazila langsung mengajak dokter Davin untuk masuk ke dalam rumah. Kebetulan para tamu sudah ada beberapa yang pulang. Hanya menyisakan para kerabat dekat dan teman-teman, baik teman Fazila sendiri maupun teman-teman dari kedua abangnya yang begitu heboh menyaksikan para artis yang menyanyikan tembang-tembang populer.


"Capek?" tanya dokter Davin saat Fazila mengajak dirinya dengan wajah yang meringis.


"Capek iya, tapi yang paling penting aku mau shalat ashar dulu. Tadi shalat dhuhur nya ketinggalan, masa shalat ashar juga hilang?"


"Capek iya, tapi yang paling penting aku mau shalat ashar dulu. Tadi shalat dhuhur nya ketinggalan, masa shalat ashar juga hilang?"


Dokter Davin melihat jam lalu mengangguk kala menyadari sebentar lagi memang memasuki waktu shalat ashar sedangkan Fazila masih butuh waktu untuk membersihkan make up sebelum mandi dan mengambil wudhu. Pria itu mengangguk lalu menggenggam tangan sang istri.


"Kita juga belum makan," lanjut Fazila.


"Yasudah ayo? Apa pengen aku gendong?" goda dokter Davin, tetapi Fazila menggeleng lemah.


"Aku masih bisa jalan sendiri," ucapnya lalu melangkah mendahului dokter Davin hingga pria itu ikut tertarik karena tangannya bertaut dengan tangan sang istri.


"Mau kemana?" tanya sang mama saat mendapati Fazila turun dari pelaminan.


"Shalat dan makan, Ma," sahut Fazila.


"Iya yah, mama lupa kalian bahkan belum makan siang," ucap Isyana menyadari kelalaiannya. Harusnya wanita itu bisa mengatur keadaan agar Fazila dan dokter Davin ada jeda untuk sekedar melakukan ibadah shalat ataupun makan bukan malah membiarkan semua orang bebas berfoto dengan anak dan menantunya.


"Nggak apa-apa Ma, Chila paham Mama sibuk menemui tamu. Ayo Mas!" Kini Fazila yang menarik tangan dokter Davin dan berjalan dengan tergesa-gesa.


Dokter Davin mendekatkan bibirnya di telinga Fazila dan berbisik, "Pelan-pelan nanti keseleo kayak kemarin-kemarin. Bisa-bisa malam pertama kita gagal, lagi."

__ADS_1


Fazila terbelalak mendengar perkataan dokter. Sejurus kemudian wajahnya memerah karena tersipu malu.


"Jangan bahas itu kenapa Mas?" protesnya dan dokter Davin malah terkekeh melihat ekspresi di wajah Fazila.


Dari arah yang berlawanan dengan pelaminan, di atas panggung seorang MC menggoda keduanya hingga membuat para tamu bersorak-sorai menangapi candaan MC terhadap kedua mempelai karena turun lebih awal. Dokter Davin dan Fazila hanya menanggapi dengan senyuman semata.


"Kamu shalat di kamar dan aku di ruang tamu yang pernah aku tempati dulu!" perintah dokter Davin agar bisa lebih cepat. Fazila mengangguk walau nyatanya dia masuk ke dalam kamar tamu yang satunya, malas untuk naik ke kamarnya sendiri yang masih ada di lantai atas.


Setelah selesai shalat ashar dan makan, mereka berniat untuk kembali ke pelaminan setelah wajahnya dirias tipis-tipis kembali oleh MUA. Fazila bersyukur karena MUA yang dipakai mamanya dalam acara ini benar-benar sabar dan bisa bekerja dengan cepat.


"Chila, sudah Nak? Itu para tamu masih banyak yang berdatangan," ucap Isyana sambil melangkah ke arah anak dan menantunya.


"Sebentar lagi Ma," sahut Fazila.


"Iya Mbak sebentar lagi ini bakal kelar, tinggal lipstiknya saja," tambah MUA yang dipanggil Uus itu.


"Iya, Mbak Syasa."


"Siap, Ma."


Isyana mengangguk lalu beranjak keluar dari rumah. Tidak menunggu lama kedua mempelai pun menyusul dan naik ke atas pelaminan.


Beberapa tamu undangan yang baru datang langsung naik ke pelaminan dan yang sudah lebih dulu datang menghabiskan makanannya sebelum ikut naik dan memberikan ucapan selamat.


"Terima kasih banyak," ucap Fazila sambil terus menunjukkan senyuman manisnya.


"Mas!"

__ADS_1


"Kenapa?"


"Mas, enak ya senyum terus seperti itu? Aku .. kok bibirku kayak kram gitu jika tersenyum begini terus. Ini baru satu hari, kalau tiap hari senyum terus nggak ada batas bisa dower nih bibir," gerutunya.


Dokter Davin tidak menjawab, pria itu malah terlihat menahan tawa melihat kekesalan Fazila.


Pesta pernikahan Fazila dan dokter Davin masih berlangsung meriah dan penuh kebahagiaan, hingga tak terasa bahwa matahari telah terbenam di ufuk barat, mencipta senja yang tak kalah indah dengan suasana di rumah Zidane dan keluarga.


Rasanya waktu cepat berputar dan malam pun tiba, menebar atmosfer yang berbeda dan indah. Taman di belakang rumah Fazila yang dihias dengan lampu-lampu berwarna-warni, menciptakan suasana magis.


Tamu-tamu dari berbagai kalangan satu persatu meninggalkan lokasi acara, menyisakan hanya keluarga saja yang masih disibukan dengan segala tet*k bengek pesta. Fazila sendiri merasa lelah melayani para tamu, meski dia dengan dokter Davin hanya berdiri atau duduk di pelaminan.


Fazila memperhatikan sekelilingnya, para tamu sudah benar-benar pulang. Gadis itu melihat jam juga sudah menunjukan angka dimana tidak akan mungkin ada tamu yang datang lagi.


"Mas, Chila ke kamar duluan, ya!" pamit Fazila kepada dokter Davin. Pria yang baru saja bergelar suami itu menoleh ke arah Fazila. Istrinya itu memang sudah terlihat sangat lelah.


"Ya, sudah kamu duluan, aja. Aku masih mau mengobrol dengan yang lainnya," balas dokter Davin.


Fazila tersenyum, menampilkan deretan giginya yang putih bersih kepada sang suami, kemudian keusilannya muncul.


"Jangan lama-lama, ingat ini malam sakral," bisik Fazila sambil mengusap lengan Davin. Tanpa menunggu respon dokter Davin, gadis itu sudah ngacir duluan. Dia menoleh lagi ke belakang dan melihat wajah Davin yang memerah.


"Kena kau, suruh siapa tadi ngerjain aku." Fazila puas karena melihat wajah dokter Davin tak kalah merah, bahkan mungkin lebih merah dari wajahnya sendiri saat dokter Davin mengungkit perihal malam pertama tadi.


Fazila tersenyum sambil berlalu meninggalkan pelaminan, gadis berjalan cepat menuju kamarnya sendiri.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2