
"Aku yang membawanya Bang!" seru Tristan dengan langkah besar menghampiri Nathan yang kini sudah berdiri di ambang pintu dan menatap tajam ke arah wajah Fazila.
Gadis itu menunduk sambil meremas kedua tangannya. Tubuhnya menegang seketika.
"Chila, lihat Abang! Jawab pertanyaan Abang!" kesal Nathan tak memperdulikan perkataan Tristan. Namun, Fazila terus menunduk dan diam dengan bibir yang bergetar, takut.
"Bang, biarkan mereka bicara sebentar!" Mohon Tristan dengan tatapan memelas.
"Siapa yang menyuruhmu memberikan izin pada dia?!" Kali ini tatapan Nathan beralih pada Tristan. Tatapan membunuh yang membuat Tristan bergidik ngeri. Nyali Tristan ciut melihat Nathan murka.
"A–ku, aku ha–nya ingin melihat Chila ceria seperti dulu lagi Bang. Aku yakin hanya dokter Davin yang bisa membuat adik kita sembuh," jelas Tristan berharap Nathan bisa mengerti.
Nathan melihat ke arah dokter Davin dengan tatapan menusuk dan senyum mengejek.
"Emang dia dokter hebat begitu? Sehingga hanya dia yang bisa menyembuhkan Chila? Bisa saja sih dia memang dokter ajaib, tapi sayang tak punya sopan santun masuk kamar anak gadis orang sembarangan tanpa izin apalagi ini malam hari," ucap Nathan masih dengan ekspresi dan suara mengejek.
"Saya akan keluar," ucap dokter Davin lalu melangkah ke arah pintu. Namun, langkanya dicegat oleh Nathan.
"Apa yang kamu lakukan pada adikku di kamar?" tanya Nathan penuh selidik.
"Saya tidak melakukan apapun," sahut dokter Davin dengan ekspresi begitu tenang karena memang ia hanya bicara saja, tidak melakukan hal lebih pada Fazila.
"Apa maumu sebenarnya? Setelah menganggu Chexil, sekarang apa yang ingin kamu lakukan pada adikku? Kau ingin balas dendam padaku karena Chexil lebih memilih kembali padaku dan meninggalkanmu?" ketus Nathan membuat dokter Davin menautkan kedua alisnya lalu melirik ke arah Fazila, dan Fazila sendiri menatap nanar ke depan.
"Maksudnya?"
"Tidak usah berpura-pura Dokter! Kau ingin menghancurkan diriku lewat Chila, bukan? Kau mendekati dia dan ingin menghancurkan masa depannya melalui adikku yang gampang kamu bodohi ini?"
Fazila cemberut mendengar Nathan mengatakan dirinya gampang dibodohi.
"Chila! Kau tahu kan apa konsekuensinya jika mama tahu kamu memasukkan laki-laki ke dalam kamar? Kau akan dipindahkan ke negara asing dan hanya akan dikirim setahun sekali. Apa gunanya kamu disekolahkan di pondok pesantren jika kelakuanmu masih seperti ini?"
Fazila hanya menggeleng-geleng dengan wajah tampak memelas. Dari raut wajahnya tersirat memohon agar Nathan tidak melaporkan pada Isyana, tetapi suaranya enggan keluar. Dia seperti orang bisu yang tidak tahu harus menyampaikan kata.
"Oh! Atau kamu sengaja ingin masuk ke dalam keluarga ini agar bisa ketemu setiap hari dengan Chexil? Rupanya kau belum kapok juga ya menganggu rumah tangga orang?"
Dokter Davin mendesah kasar sedangkan Tristan tampak menggelengkan kepala. Fazila sendiri menyandarkan bahu pada badan ranjang lalu menatap ke depan dengan tatapan datar. Lelah, dia sangat lelah menjalani kehidupannya yang penuh drama itu.
__ADS_1
Apakah benar yang dikatakan Nathan? Ingin sekali ia tidak mempercayai itu dan percaya seutuhnya pada dokter Davin, tetapi mengingat dokter Davin pernah menjebak dirinya dulu ia merasa dilema.
"Bang, saya tidak ada maksud seperti itu. Saya mencintai dan menyayangi Chila dengan tulus, tak ada niat terselubung di dalamnya. Aku sudah melupakan Chexil di hati ini," jelas dokter Davin tidak terima dengan tuduhan Nathan.
"Jangan panggil aku Abang! Aku bukan Abangmu!" tegas Nathan.
"Lagipula mana ada penjahat mau mengaku? Yang tertangkap saja belum tentu mau mengaku kecuali sudah babak belur. Kau ingin seperti itu?" Nathan memperlihat bogeman ke arah dokter Davin.
"Pukul kalau itu bisa membuatmu puas dan bisa memaafkan diriku, tapi setelah itu saya mohon restui hubungan kami," ucap dokter Davin dengan tatapan memelas. Ia juga pasrah jika tubuhnya harus babak belur demi mendapatkan restu dari semua keluarga Fazila.
"Oh, kau menantang ternyata?" kesal Nathan, tangannya mengambil ancang-ancang untuk melakukan pukulan kemudian digerakkan dengan begitu cepat ke arah dokter Davin.
"Hentikan!" teriak Fazila sebelum tangan Nathan menyentuh tubih dokter Davin dengan suara yang begitu kencang dan lantang hingga membuat seisi rumah mendengarnya.
Isyana dan Zidane yang baru datang dan mendengar teriakan dari kamar Fazila langsung berlari ke lantai atas untuk melihat keadaan putrinya.
"Ada apa dengan putri kita?" tanya Zidane lalu mendahului langkah sang istri.
"Lebih baik aku keluar dari rumah ini!" kesal Fazila, matanya sudah nampak berkaca-kaca lagi. Sedikit lagi bulir bening pasti jatuh dari pelupuk matanya.
Ketiga pria yang berada di dalam kamar Fazila kini berdiri mematung.
"Chila!" Tristan berjalan ke arah Fazila lalu mengusap punggung adiknya untuk memberikan ketenangan.
"Aku akan pergi Bang, aku akan buktikan kalau Chila yang bodoh ini bisa hidup tanpa kalian semua, Chila juga bisa hidup tanpamu Dokter." Fazila menatap dokter Davin lalu tersenyum pahit.
"Aku bukan jodohmu Dokter, ternyata kita salah. Mulai hari ini aku tidak akan merepotkan kalian semua," ujar Fazila lalu berlari keluar kamar, melewati Tristan yang lengah.
"Chila!" seru Tristan dengan wajah yang kusut.
"Terima kasih atas semuanya Bang, tapi Chila harus pergi demi ketenangan hati," ucapnya
"Chila!" teriak Nathan sambil menangkap tangan Fazila. Namun, seolah mendapatkan kekuatan besar, Fazila menghempaskan cekalan tangan Nathan dengan kasar.
"Chila, jangan pergi!" mohon dokter Davin sambil meraih tangan Fazila dan menggenggamnya. Gadis itu diam, darahnya seketika berdesir. Ia memandang wajah dokter Davin lekat lalu mencoba tersenyum manis.
"Aku tidak apa-apa Dokter. Aku akan sehat-sehat selalu di luaran sana. Bukankah rahmat Allah selalu ada untuk manusia dimana pun kita berpijak? Maaf, aku tidak bisa memilihmu ataupun keluargaku. Lebih baik aku akan hidup sendiri selamanya." Fazila melepaskan genggaman tangannya dari tangan dokter Davin.
__ADS_1
"Chila! Apa kau ingin hidup dengan dia, Nak?" tanya Zidane saat melihat tatapan Fazila pada dokter Davin yang penuh cinta. Lelaki itu baru sampai di samping mereka semua, saat dokter Davin menggenggam tangan Fazila.
Fazila tidak menjawab, seperti biasa ia menunduk saat bingung harus menyampaikan bagaimana.
Isyana baru sampai dan berdiri di samping Zidane.
"Ada apa ini?" tanyanya lalu menatap penuh selidik ke arah dokter Davin, seakan ingin bertanya mengapa ada dokter Davin di tempat itu?
"Apakah dia memeriksa keadaan Fazila? Tapi kenapa seolah-olah ada keributan di sini?"
"Tante sekali lagi saya ingin meminta restu kepada Tante dan Om Zidane. Tolong restui kami," ujar dokter Davin dengan mantap, tak perduli mendapatkan respon seperti apa dari kedua orang tua Fazila. Dia ingin membuktikan bahwa dirinya sungguh-sungguh, tidak seperti yang Nathan tuduhkan.
Fazila membeku, tubuhnya kembali melemah. Tidak bisa menahan keseimbangan akhirnya oleng ke samping. Untung saja dokter Davin segera menangkap dan menggendong serta membawa ke atas ranjang lalu membaringkannya.
Semua orang langsung mendekat ke arah ranjang. Zidane lalu menyentuh tubuh Fazila.
"Kau panas sekali Chila," ujar Zidane dan Fazila hanya memandang wajah Zidane dengan tatapan melemah tanpa berbicara sepatah katapun.
"Chila! Jika dia adalah pilihanmu, maka papa merestui kalian Nak. Kau tidak perlu meminta persetujuan pada siapapun selain papa karena sebagai walimu papa yang berhak untuk menentukan masa depanmu. Semuanya harus tunduk pada papa!" tegas Zidane membuat Isyana dan Nathan terbelalak tidak percaya.
Tristan dan dokter Davin menghela nafas panjang lalu saling pandang dan tersenyum.
"Om kita harus membawa Chila ke rumah sakit sekarang," ujar dokter Davin yang sangat khawatir dengan keadaan gadis itu.
"Baiklah, ayo Tris angkat adikmu!" perintah Zidane.
Tanpa banyak bertanya lagi Tristan pun langsung menggendong tubuh adik gadisnya menuju mobil. Setelah memastikan semua orang masuk ke dalam mobil, Zidane pun langsung mengemudikan mobilnya itu ke rumah sakit terdekat.
"Dia harus diopname," ujar seorang dokter pada Zidane dan yang lainnya.
"Pa, aku tak mau tinggal di rumah sakit," lirih Fazila.
"Chila kau harus dirawat di sini ya biar dokter mudah untuk memantau keadaanmu," ujar dokter Davin.
Fazila hanya menatap dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Please, aku ingin melihatmu sembuh," ujar dokter Davin lagi dan kali ini Fazila mengangguk lemah.
__ADS_1
"Bagus, kau harus nurut jika ingin lekas sembuh, katanya kau tidak ingin merepotkan siapapun. Buktikan pada kami semua kalau kamu adalah gadis yang kuat," ujar dokter Davin dan Fazila mengangguk sambil tersenyum tipis.
Bersambung.