
Sore hari, Chexil dan rombongan keluarga tiba di rumah. Zidane langsung menanyakan keberadaan Fazila pada Tristan yang tampak duduk sendiri sambil memainkan ponsel.
"Ada di kamar Pa, sepertinya sedang sedih, tadi dia nggak mau makan siang," jelas Tristan membuat Zidane yang khawatir langsung naik ke lantai atas.
Zidane mengetuk pintu, tapi Fazila di dalam kamar tidak mendengar karena sudah tertidur. Dengan pelan Zidane menguak daun pintu dan masuk ke dalam kamar. Dia berjalan menuju ranjang dan duduk si samping Fazila.
"Chila, hei!" Zidane mengguncang bahu putrinya agar terbangun, tapi gadis itu nampak tidur dengan pulas.
Pria itu akhirnya membiarkan Fazila dalam tidurnya. Ia bangkit dari duduknya dan melangkah pergi. Sebelum menutup pintu Zidane melihat tubuh Fazila berbalik. Terlihat matanya sembab membuat Zidane teringat akan perkataan Tristan tadi bahwa Fazila dalam keadaan bersedih.
Zidane kembali menutup pintu dan berjalan kembali ke arah putrinya.
"Chila, ada yang salah dengan dirimu?" tanya Zidane sambil membelai kepala putrinya. Sesekali mengecup kening Fazila karena benar-benar merindukan gadis yang jarang terlihat di matanya beberapa bulan ini.
Fazila mengerjapkan mata.
"Papa?"
"Kau, kenapa? Ada yang ingin disampaikan pada Papa?"
Gadis itu menggeleng lemah.
"Tidak ada," jawabnya singkat.
"Terus kenapa matamu sembab? Ada yang kamu pikirkan?" tanya Zidane dengan suara lembut.
"Nggak Pa, Chila hanya sakit kepala, rasanya sangat sakit tadi dan seperti ingin meledak," jelasnya.
"Kenapa tidak minta antar Bang Tris untuk periksa?"
"Tidak perlu Pa, kasihan Bang Tristan dari rumah sakit masa diminta balik lagi? Lagipula sekarang sudah enakan kok, setelah minum obat yang Bik Ina beli dari warung."
__ADS_1
"Baiklah, sekarang turun ke bawah, temani Papa makan!"
Fazila mengangguk sambil tersenyum. Zidane mengulurkan tangannya disambut Fazila. Keduanya turun ke lantai bawah dengan bergandengan tangan.
Setelah makan Fazila langsung pergi ke kamar Nathan untuk melihat Chexil dan bayinya. Di rumah sakit dia belum puas karena ada gangguan dari dokter Davin.
"Berapa hari di sini?" tanya Chexil saat Fazila beranjak ke box bayi.
"Bagaimana pilihan kami, Kak?" tanyanya tanpa menghiraukan pertanyaan Chexil.
"Bagus, cocok semua. Kamu sama Tristan memang pandai memilih perlengkapan bayi," puji Chexil membuat Fazila tersenyum manis.
Melihat bayi Chexil tidur, akhirnya Fazila beranjak ke ranjang dan duduk di samping kakak iparnya itu.
"Berapa lama di sini, lama nggak?" Chexil mengulang pertanyaan yang belum terjawab.
"Nyai memberikan izin satu hari, tapi Oma meminta 3 hari. Meskipun Nyai menyetujui, tapi sepertinya Chila balik besok aja deh."
Fazila tersenyum kecut, sebenarnya ia ingin berlama-lama bersama keluarga, tapi moodnya tidak akan kembali membaik jika tidak segera berinteraksi dengan ketiga sahabat sekamarnya. Sahabat yang bisa berbagi keluh kesah dan kompak dalam segala hal. Paling tidak, dia bisa melupakan kesedihannya.
"Ada Bang Tris, suruh dia selalu bawa kak Dilvara ke sini. Kalau Kak Chexil kangen bisa langsung ajak Bang Nathan ke pesantren, jangan lupa bawa baby-nya!"
Chexil mengangguk. Dia memang berencana suatu hari akan menjenguk Fazila di pesantren. Fazila memejamkan mata lalu menghembuskan nafas berat.
"Enak ya Bang Tris sama Kak Dilvara. Sepertinya hubungan mereka selalu baik-baik saja, beda sama Kak Chexil dan Bang Nathan dulu. Sepertinya hidup Chila juga tidak akan semulus mereka."
Chexil menggenggam tangan Fazila dan menatap lekat kedua mata adik ipar yang sudah dia anggap seperti adik sendiri.
"Chila, semua manusia pasti memiliki ujian masing-masing. Tidak semua yang terlihat baik-baik saja di depan mata kita itulah kenyataannya, pun sebaliknya.
Walaupun kita memang berharap semoga saja Tristan dan Dilvara baik-baik saja. Kau tahu? Setiap ujian yang kita dapatkan insyaallah akan membawa kebaikan bagi diri kita, akan menaikkan derajat kita. Yang terpenting agar kita bisa mengambil hikmah dari semua kejadian yang terjadi di kehidupan kita. Kak Chexil dan Bang Nathan sekarang bisa saling terbuka setelah apa yang menimpa kami. Tidak ada rahasia lagi diantara kami."
__ADS_1
Fazila hanya manggut-manggut saja. Seharian itu Chexil memberikan nasehat dan semangat untuk Fazila membuat keduanya semakin akrab. Fazila meminta untuk tidur di kamar bersama Chexil malam itu dan Nathan tidak keberatan. Dia memilih tidur di ruang tamu.
Esok hari Fazila benar-benar bertekad untuk kembali. Sebenarnya Chexil kecewa, tapi siapa yang akan mencegah Fazila? Toh kembali ke pesantren adalah hal yang baik.
"Hati-hati ya Chila, ingat pesan kakak semalam!"
Fazila mengangguk sambil tersenyum sebelum akhirnya naik ke atas mobil. Gadis itu melambaikan tangan ke arah semua keluarga. Kali ini yang membawa mobil adalah Nathan ditemani Isyana karena Tristan pagi-pagi sekali telah berangkat ke tempat kerja, begitupun dengan Zidane.
Sampai di pesantren, Fazila langsung disambut oleh ketiga temannya. Melihat mereka berempat begitu asyik bercerita sambil tertawa-tawa, Isyana akhirnya pamit pulang.
"Ya biang kerok datang lagi," sindir Heni melihat kedatangan Fazila.
"Ya, aku memang biangnya, mau aku kerokin?" tanya Fazila lalu tertawa lepas membuat Heni langsung memalingkan muka dan melenggang pergi.
Ketiga temannya membawa Fazila masuk ke dalam kamar mereka. Setelahnya mereka mengobrol karena jam pelajaran di sekolah telah usai.
Fazila menceritakan keluh kesahnya dan Andin menyayangkan Fazila karena tidak mengatakan yang sebenarnya padahal waktu itu adalah waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya terhadap dokter Davin di tengah-tengah keluarga.
"Mana berani aku sama mama dari sorot matanya saja aku tahu beliau sangat membenci dokter Davin, lagipula benar kata Kak Chexil kalau sudah berjodoh pasti nanti akan bersatu. Hanya tinggal menunggu waktu saja, tapi kenapa ya, cinta pertama susah dilupakan? Padahal aku sudah lama tinggal di sini tanpa bayang-bayangnya".
"Entahlah, aku tak pernah merasakannya kecuali hanya cinta monyet yang gampang berubah," ujar Anggita.
"Benar sih kalau jodoh pasti bersatu, tapi bagaimana jika waktu bersatunya setelah dia nikah dengan wanita lain dulu?" ujar Andin.
"Andin!" Fazila nampak cemberut dengan wajah yang terlihat sendu, moodnya kembali memburuk.
Andin langsung mendapatkan tatapan tajam dari kedua temannya yang lain dan gadis itu cengengesan dengan rasa bersalahnya. Dia tidak menyangka ucapannya akan berpengaruh terhadap suasana hati Fazila padahal Andin hanya ingin bercanda saja.
"Aku hanya bergurau Chila. Semoga dokter Davin setia menunggumu sampai benar-benar dewasa," ucap Andin mencoba menebus kesalahan yang baru ia perbuat.
"Tidak apa-apa Din, tapi apa yang kau ucapkan itu benar." Chila masih kepikiran membuat Andin hanya bisa menelan ludah.
__ADS_1
Bersambung.