
Kalau bukan berada di dalam mobil pasti saat ini Dimas sedang jingkrak-jingkrak kegirangan. Sayangnya tempat dirinya berada kini membatasi ruang gerak mereka.
"Suster Dinda!" panggil Dimas.
"Iya."
"Boleh angkat wajahmu nggak? Atau mataku ada beleknya hingga engkau tidak mau melihat wajahku?"
Mendengar ucapan Dimas kali ini, barulah suster Dinda mengangkat wajah dan memukul bahu Dimas dengan manja.
"Malu tahu," ucapnya masih memukul bahu Dimas dan pria itu langsung menangkap dan menggenggam tangan suster Dinda.
"Suster Dinda, jual mahal dikit! Jangan mau disentuh-sentuh dulu oleh Bang Dimas," saran Fazila.
"Boleh kalau mau jual mahal dikit asal jangan jual diri aja," ujar Dimas membuat suster Dinda memukul bahu Dimas dengan tangan yang lainnya. Sontak Dimas pun menangkap tangan suster Dinda dan menggenggam kedua tangannya. Lalu memposisikan kepala suster Dinda agar bersandar pada bahu bidang pria itu.
"Kok aku jengah ya," gumam Fazila membuat kedua alis dokter Davin bertaut.
"Akang Davin!" panggilnya dengan nada suara seperti Upin dan Ipin saat memanggil Kak Ros.
Dokter Davin menahan tawa mendengar panggilan Fazila yang meniru Dimas.
"Kenapa?" tanya pria itu.
"Bisa nggak AC-nya dibesarin? Kok rasanya di dalam mobil ini auranya panas sekali," sindir Fazila dan dokter Davin malah terkekeh.
"Kalau iri ngomong Chila, kayak nggak suka aja lihat orang lain senang. Lagian pasanganmu juga ada di sisimu kenapa repot-repot iri sama orang lain," ujar Dimas dan Fazila hanya merespon dengan cebikan.
"Eh, tapi kalau anak santri nggak boleh begini sebelum sah nanti menghancurkan nama baik pondok pesantren," ujar Dimas kemudian.
"Dih," ujar Fazila.
"Nggak apa-apa ya, Chila. Kita pacaran yang sebenarnya setelah halal saja biar lebih nikmat dan tidak berbahaya," ujar dokter Davin dan dijawab anggukan antusias dari Fazila.
"Terima kasih ya sudah menerima cintaku. Nanti aku ajak kamu ke Bandung untuk diperkenalkan pada orang tuaku," ujar Dimas dan suster Dinda hanya mengangguk.
"Nanti kita ke laut ....," ujar Dimas, tetapi ucapannya segera dipotong oleh Fazila.
"Sejak kapan di Bandung ada laut atau pantainya?" protes gadis itu.
"Laut hatiku maksudnya Chila," ujar Dimas dan Fazila langsung tepuk jidat. Dia ingat pada sosok artis pria yang omongannya persis seperti Dimas kali ini. Viki bla bla bla, namanya.
"Aku mengantuk," rengek suster Dinda. Wanita itu terlihat menguap beberapa kali. Berada di dada Dimas seperti menyentuh kasur dan membuatnya terbuai. Apalagi suasana malam hari memang mendukung untuk tidur cantik.
"Tidurlah," ujar Dimas sambil membelai rambut suster Dinda membuat wanita itu semakin terlelap saja.
Sepanjang perjalanan selanjutnya susana terasa sepi karena sudah tidak ada yang bicara. Dimas dan suster Dinda yang tadi memonopoli keramaian di dalam mobil sudah sama-sama terlelap.
__ADS_1
"Ngantuk?" tanya dokter Davin setelah beberapa jam hanya diam. Pria itu menyodorkan bantal leher ke pangkuan Fazila.
Fazila menggeleng, tetapi walaupun demikian tetep menerima pemberian dokter Davin dan menggunakannya.
"Mau nyemil? Kita berhenti di toko dulu?"
"Nggak usah kita sudah ketinggalan jauh mobil papa. Masa iya yang mengantar sudah sampai sedangkan yang ingin diantar ke pondok masih ada di belakang?"
"Hmm, baiklah."
"Mau aku atur kursinya biar lebih nyaman?"
"Boleh."
Dokter Davin mengangguk lalu memposisikan sofa yang diduduki Fazila agar sedikit condong ke belakang supaya gadis itu nyaman rebahan.
"Tidurlah mumpung belum sampai, besok kamu mau ujian, kan? Jangan sampai ngantuk di dalam kelas!"
"Maunya tidur tapi nggak ngantuk, Chila takut juga Dokter nanti ikutan ngantuk kalau nggak ada yang ngajak ngobrol."
"Ya sudah aku setel musik saja," ujar dokter Davin lalu tanpa persetujuan Fazila langsung menyetel musik pop.
"Aku jadi beneran ngantuk kalau dengar musik ini," ujar Fazila dan kali ini terlihat menguap beberapa kali.
"Maaf, aku ubah ke musik shalawatan?"
Hening kembali menyapa. Baik dokter Davin maupun Fazila kembali tidak ada yang bicara karena tentu saja Fazila sudah berlabuh di alam mimpi sedangkan dokter Davin sendiri semakin menajamkan penglihatannya sebab hari sudah semakin malam dan gelap.
Beberapa jam kemudian dokter Davin melihat mobil Zidane dan Damian tepat berhenti di depan mobilnya. Tak ayal pun dokter Davin ikut menghentikan mobilnya dan berhenti.
Dokter Davin pun turun dari mobil dan berjalan ke arah Zidane yang juga turun dari mobilnya
"Ada apa Om?" tanyanya dengan raut wajah khawatir.
"Om salah perkiraan, kita sampai di sini sebelum pagi," ujarnya terlihat risau.
"Memangnya kenapa Om kalau sampai jam segini, pondok pesantren pasti tetap akan buka kok, biasanya meskipun malam hari ada yang masih bangun atau santri biasa shalat tahajud."
"Bukan itu masalahnya Nak Davin, hanya saja Om rasa tidak etis jika mereka membangunkan pak kyai di jam seperti ini yang mungkin saja beliau sudah beristirahat kembali hanya gara-gara kedatangan kita."
"Iya juga Om, bagaimana kalau kita ke rumah Davin dulu?"
"Tadi Damian mengajak kita ke rumah istrinya dulu dan menunggu pagi di sana, kalau rumah Nak Davin katanya masih jauh dari daerah ini."
"Iya benar, Om."
"Apa kita menginap di hotel saja? Ada rekomendasi hotel yang dekat dari tempat ini?"
__ADS_1
"Mending ke rumah Davin kalau harus ke hotel jaraknya hampir sama."
"Oh."
"Yasudah Om ikut ajakan Damian saja, orang tua Danisa baik dan ramah kok."
"Hmm, baiklah kalau begitu. Kamu yang ngomong sama dia ya, saya tidak enak soalnya tadi sempat menolak."
"Siap Om," ujar dokter Davin lalu melangkah ke arah Damian yang berdiri di samping mobilnya.
"Nak Davin!" teriak Laras membuat dokter Davin menghentikan langkah dan kembali ke mobil mereka.
"Ya, Oma?"
"Panggil Zidane Papa saja biar nggak terlalu kaku, toh dia kan mertuamu," saran Laras.
"Baik Oma, Davin ke sana dulu."
"Iya."
Dokter Davin kembali melanjutkan langkahnya. Setelah beberapa saat mereka berbicara akhirnya kembali ke dalam mobil masing-masing dan melanjutkan mobilnya menuju rumah Danisa.
Tidak menunggu lama akhirnya ketiga mobil mereka terparkir di depan rumah Danisa. Damian dan Danisa turun terlebih dahulu dan meminta mereka semua untuk turun dan masuk ke dalam rumahnya.
"Chila mana?" tanya Laras saat semua sudah masuk ke dalam rumah dan duduk.
"Tidur Oma, sebentar Davin bangunkan dulu," ujar dokter Davin lalu kembali ke mobil setelah membantu Danisa dan orang tuanya membentangkan karpet sebelum memberikan mereka semua bantal agar tiduran.
"Iya, sana!"
"Maaf cuma begini keadaan rumah kami," ujar orang tua perempuan Danisa.
"Kamarnya hanya ada beberapa saja, jadi kalau untuk dipersilahkan tidur di sana tidak akan cukup," ujar wanita tua itu lagi.
"Tidak apa-apa, ini sudah cukup Bu. Sudah diterima di sini saja kami sudah senang. Maaf sekali karena sudah merepotkan," ujar Laras mewakili semua orang.
"Chila, bangun!" Dokter Davin mengguncang tubuh Fazila dan gadis itu langsung mengerjapkan mata.
"Ada apa?" tanya Fazila sambil mengucek kedua matanya yang sudah lengket.
"Sudah pagi?" tanyanya lagi karena bukannya menjawab dokter Davin malah menatap dirinya tak berkedip.
"Aaaah, jangan lihatin aku begitu! Aku memang jelek kalau bangun tidur," ucap Fazila sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.
"Kau memang jelek, kau hanya beruntung saja bisa memiliki hati dokter Davin," ucap seorang wanita yang mengawasi mereka dari balik pagar masjid, tepat di depan rumah Danisa dan agak menyamping sebab rumah Danisa dan masjid berhadapan.
"Namun, jangan senang dulu, kau tidak boleh bahagia setelah berhasil menjauhkan diriku dari dokter Davin," lanjutnya dengan tangan mengepal begitu kuat dan senyuman licik yang menghiasi pipi merah penuh amarah.
__ADS_1
Bersambung.