
Kamar itu telah disulap dengan begitu indahnya. Kamar pengantin mereka adalah tempat yang penuh dengan sentuhan romantis dan keindahan. Dindingnya dihiasi dengan warna-warna lembut seperti putih, krem, dan merah muda, menciptakan atmosfer yang hangat dan menyenangkan, jauh berbeda dengan suasana kamar Fazila sebelum ditinggalkan ke pesantren.
Tempat tidur besar dengan seprai berbahan sutra adalah fokus utama kamar ini, menciptakan nuansa mewah. Di sekeliling tempat tidur, terdapat lentera-lentera kecil yang menghasilkan cahaya lembut, memberikan tampilan yang sangat romantis di malam hari.
Di sudut kamar, terdapat meja rias yang indah dengan cermin besar, di mana Fazila dapat mempersiapkan dirinya dengan anggun. Berbagai macam bunga segar dihias di beberapa sudut kamar, menambahkan aroma segar dan warna ke ruangan.
Sebuah tirai tipis dengan pita merah menggantung di jendela, memberikan sentuhan keintiman dan privasi. Dalam kamar ini, Fazila dan Dokter Davin dapat berbagi momen-momen pribadi mereka yang pertama sebagai pasangan suami istri, menciptakan kenangan indah yang akan mereka abadikan sepanjang hidup mereka bersama.
Fazila menarik nafas lega begitu masuk ke dalam kamar. Gadis itu mulai membuka atribut dan segala pernak pernik yang melekat ditubuhnya. Dia membersihkan sisa make up yang masih melekat di wajah cantiknya. Setelah itu dia bersiap untuk mandi, Fazila menuju lemari, mengeluarkan baju tidurnya, dia teringat dengan pesan sahabat-sahabatnya tentang kado mereka yang harus dia kenakan ketika malam pertama, yang mereka bisikkan saat hendak turun dari pelaminan tadi siang.
Fazila merasa penasaran, dia mengambil kado dari sahabat-sahabatnya itu dan membukanya. Fazila terkejut setelah membukanya, kado dari mereka adalah sebuah lingerie yang tipis, transparan, pokoknya itu pakaian benar-benar diluar nalar Fazila.
"Astaghfirullah, pakaian haram apa ini yang mereka berikan?" Fazila melempar lingerie tersebut ke belakangnya. Dia membaca surat yang tertulis menemani kado dari sahabat-sahabatnya itu.
[Chila, sayang, selamat menempuh hidup baru, ya. Ini hadiah topcer dari kami. Yakinlah, pasti dokter Davin nggak akan berpaling darimu. Malahan lengket seperti perangko. Jangan lupa berikan kami hadiah balasan berupa testpack garis dua, ya! Kalau bisa hasilkan bayi cowok yang ganteng seperti dokter Davin atau paling tidak seperti Lucas, titik! Siapa tahu jika besar bisa jadi jodoh kami, itu kalau kami belum menemukan pendamping, sih.]
"Dasar teman laknat," gumam Fazila. Gadis itu kembali melanjutkan membaca surat dari sahabatnya itu.
[Kalau kami sudah punya pendamping, siapa tahu anak-anak kita bisa dijodohkan. Oh, iya dalam box masih ada hadiah yang lain yang tak kalah berguna. Tapi, sebenarnya kami nggak perlu ngasih hadiah lingerie juga, sih. Toh, nanti bakal dibuka juga oleh dokter Davin, hahaha.]
Fazila penasaran, dia memeriksa kembali kotak tersebut dan ternyata memang masih ada beberapa lagi di dalamnya. Mata Fazila melotot seolah-olah keluar dari bingkainya ketika gadis itu melihat apa yang diberikan oleh sahabat laknatnya itu.
__ADS_1
Pakaian dalam dengan berbagai jenis variasi, Fazila yang perempuan saja malu melihatnya, apalagi harus memakai di hadapan suaminya. Fazila bergidik ngeri, dia melemparkan pakaian tersebut ke belakang sambil merinding melihat hadiah absurb dari sahabatnya itu.
"Apa ini?" Davin telah berada tepat di belakang Fazila ketika gadis itu melempar segitiga pengaman, dan parahnya benda itu tepat mendarat dengan sempurna di wajah tampan sang suami.
Fazila terkejut dan refleks melihat ke belakang. Davin tengah memegang benda keramat itu di depannya, meneliti dengan seksama benda apakah itu? Tipis, lembut, halus dan menerawang. Namun anehnya hanya berupa tali di bagian belakang. Buat yang nggak tahu itu G-string, ya.
"Jangan dilihat!" teriak Fazila, dia dengan cepat berlari ke arah dokter Davin untuk merebut benda keramat itu. Namun, dokter Davin meninggikan benda keramat itu dari jangkauan Fazila. Gadis itu berusaha meraih segitiga pengaman itu dari tangan Davin.
"Mas, balikin, itu nggak pantas," bujuk Fazila, hilang sudah gadis yang tadi menggodanya. Fazila memang hanya berani menggoda dokter Davin. Namun, jika dihadapkan betul, nyalinya juga akan menciut.
"Emang ini apa?" Davin berjalan mendekat ke arah ranjang. Matanya melihat barang-barang yang berserakan karena habis dibongkar oleh Fazila.
Dokter tampan itu memungut lingerie dan memperhatikannya, meneliti, pakaian dalam tersebut, dari dalam pakaian itu terjatuh rumah gunung kembar.
Dokter Davin semakin iseng mengerjai Fazila, apalagi wajah memerah gadis itu membuat Davin geram dan semakin bersemangat.
Dia berlari menghindari Fazila. Gadis itu tidak mau kalah, dia harus berhasil mendapatkan kado laknat dari sahabat tak ada akhlaknya itu. Fazila seakan tak percaya teman-temannya berasal dari pesantren, seandainya tidak mondok bersama jika melihat hadiah yang mereka berikan.
"Dasar Andin dan Anggita!" umpatnya dalam hati. Fazila tahu ini pekerjaan kedua temannya itu karena Qiana datang bersama dirinya dan tidak sempat membeli kado.
"Emang ini apa, bentuknya kok aneh semua?" Dokter Davin hanya tahu satu bentuk yaitu rumah gunung kembar. Sisanya pria tampan itu dibuat bingung karena yang dia tahu, tidak pernah melihat barang seperti itu di koper Fazila saat ia mengambilkan pakaian ganti di rumah Danisa tempo dulu.
__ADS_1
"Nggak usah tanya, Mas! Balikin aja," sahut Fazila yang masih mencoba meraih benda-benda aneh bin ajaib itu dari tangan dokter Davin. Pria itu memindahkan posisi benda-benda tersebut dari tangan kanan ke kiri dan sebaliknya. Seolah-olah mereka tengah bermain basket ball.
Dokter Davin memutar tubuhnya menghindari Fazila. Namun, naas, keseimbangan pria tersebut tidak pas, membuat dia terjatuh dan menarik tangan Fazila.
Mereka terjatuh ke atas ranjang dengan posisi tubuh Fazila di atas tubuh dokter Davin. Mata mereka saling menatap, pakaian dalam yang mereka perebutkan itu jatuh di atas kepala Fazila. Namun, gadis itu hanya membiarkannya saja. Detak jantung mereka berdebar begitu cepat, saling sahut menyahut dalam irama drum yang keras.
Davin menarik kepala Fazila agar semakin mendekat padanya. Fazila membiarkan begitu saja apa yang dilakukan oleh dokter Davin padanya, dia tidak menolak karena mereka sudah sah menjadi suami istri. Gadis itu benar-benar pasrah. Hanya beberapa senti saja bibir mereka akan menyatu.
"Tante! Tante sama Om dokter sedang apa? Main perang-perangan atau kuda-kudaan ya?" Suara cempreng menggema dalam kamar.
Dokter Davin dan Fazila langsung melihat keluar.
"Astaga!"
Mereka berdua langsung gelagapan melihat Nazelio menatap mereka dengan bingung di ambang pintu.
"Mas itu Nazel–"
"Mommy! Daddy! Lihat tuh Tante Chila sedang apa!" teriak Nazel sambil berlari menjauh dari kamar mereka.
"Sial!" kesal Fazila lalu bangkit dari tubuh dokter Davin.
__ADS_1
Bersambung.