
Setelah kepergian Tristan Fazila kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Ia menghela nafas panjang lalu menatap plafon kamarnya dengan pikiran yang berkecamuk. Suara suster Tantri beberapa waktu lalu masih terngiang di telinga.
Kala itu wanita yang berperawakan judes menurut Fazila itu datang ke pesantren ditugaskan untuk mengecek keadaan Fazila menggantikan perawat Aisyah untuk mengontrol keadaan dirinya.
"Hmm, ternyata kau yang sakit gadis manja, cemen," ujar suster Tantri sambil tersenyum sinis. Suaranya berdengung serupa lebah di telinga Fazila yang masih dalam keadaan lemah dan tidak fokus dengan keadaan sekitar, bahkan keberadaan suster Tantri di sana ia abaikan.
Gadis itu enggan bersuara, dan tidak perduli apa yang suster Tantri katakan. Namun, dari sorot mata tajam dan senyum suster Tantri yang sangat sinis Fazila dapat menangkap wanita itu sedang mengejek dirinya.
"Apa kata-kataku waktu itu menyakitimu hingga membuatmu kepikiran dan sakit seperti ini? Hem, padahal aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Agar kamu paham dan kau tak perlu mencari dokter Davin lagi."
Fazila masih diam membisu mencoba menulikan telinga agar tidak sakit hati dengan perkataan wanita tersebut, bahkan ia pura-pura tidak melihat keberadaan suster Tantri di sana. Walaupun sebenarnya dia mendengar dan melihatnya.
"Apa kau tunarungu?!" Suster Tantri menekan suaranya, begitu kesal karena Fazila bagai patung yang terus saja diam.
"Apa dia menganggap aku makhluk tak kasat mata?" batin suster Tantri, benar-benar geram melihat Fazila hanya cuek-cuek saja.
"Aku akan mengganti infusmu, semoga setelah ini kau tidak merepotkanku lagi, kau kira aku pembantumu apa?!" Dengan ekspresi kesal suster Tantri menganganti labu infus yang kosong dengan yang baru, dan Fazila masih diam membisu.
"Ckk, gadis yang nggak banget, yang begini yang punya cita-cita jadi istri dari seorang dokter Davin? Tidak ada sopan santun sama sekali, diajak bicara malah bungkam." Suster Tantri menatap Fazila dengan tatapan meremehkan.
"Kau perawat, kenapa tidak ada perikemanusiaan sama sekali? Kau sedang menangani pasien yang sakit bukan musuh yang harus kau serang hatinya, dan ... kau sedari tadi malah mengoceh yang tidak jelas? Apa kau menginginkanku mati? Silahkan suntik infusku dengan racun, biar kau puas." Fazila tak tahan lagi dengan perkataan suster Tantri. Telinganya sakit mendengar ocehan wanita itu yang seakan tak mau berhenti.
"Aku tak suka melihat orang mati instan, mati secara perlahan lebih seru sepertinya."
Ucapan suster Tantri sontak membuat Fazila terbelalak.
"Gangguan jiwa nih orang," batin Fazila.
"Aku tekankan padamu ya suster jahat, aku begini bukan karena ucapanmu dan apapun yang kau ucapkan tidak penting bagiku. Oh ... atau jangan-jangan kau naksir dokter Davin sehingga selalu membahas dia saat berjumpa denganku? Apa dia sering bercerita tentang aku di hadapanmu sehingga kau sakit hati padaku?" Fazila tersenyum menyeringai.
Suster Tantri mengepalkan tangan kuat-kuat, tidak suka dengan perkataan Fazila walaupun begitu kenyataannya. Dokter Davin sering menceritakan tentang Fazila meskipun suster Tantri tidak berniat untuk tahu banyak tentang gadis itu.
"Kau memang beruntung karena pekerjaanmu kau bisa dekat dengan dia, ingat hanya karena pekerjaan," tekan Fazila seolah ingin menyadarkan suster Tantri seperti apa kondisinya.
"Mungkin raga dokter Davin selalu dekat denganmu, tetapi sayangnya meskipun jarak kita berbeda kau dan aku bernasib sama. Sama-sama bukan wanita pilihannya. Lebih baik kau move on saja daripada harus sakit hati karena dokter Davin sudah menikah!" tegas Fazila. Hatinya terasa ngilu mengingat kalimat terakhir yang terucap dari bibirnya lebih cocok untuk diri sendiri dibandingkan diperuntukkan pada suster Tantri.
"Menikah? Hahaha."
Bukannya merenungkan perkataan Fazila, suster Tantri malah tertawa renyah dengan terpingkal-pingkal. Fazila bergidik ngeri, tawa suster Tantri seperti tawa orang stress dibandingkan orang normal. Apa sebenarnya suster Tantri juga kecewa dengan pilihan dokter David, tetapi merefleksikan dengan cara berbeda dengan dirinya? Entahlah Fazila tak mampu menebak. Asumsinya bisa saja salah.
__ADS_1
"Kenapa Anda tertawa suster?" tanya ustadzah Ana sambil memasuki kamar Fazila setelah menyelesaikan waktu mengajar di jam pergantian pertama. Ketiga teman Fazila pun mengikuti langkah ustadzah Ana karena sekarang waktunya istirahat sekolah.
"Oh tidak ada ustadzah, saya hanya berbicara yang lucu-lucu saja dengan gadis ini agar tidak stres dan bisa tertawa lagi. Nyatanya hanya saya sendiri yang ketawa karena mungkin baginya tidak lucu," jelas suster Tantri yang langsung menghentikan tawa mendapat pertanyaan dari ustadzah Ana.
"Oh begitu, ya Chila sekarang sudah jarang tertawa, seolah tawa itu sulit baginya," jelas ustadzah Ana dan suster Tantri hanya mengangguk lalu mengeluarkan obat dari dalam tasnya.
"Oh iya ustadzah, ini obatnya. Tolong diberikan 3 kali dalam sehari sesudah makan dan yang ini sebelum makan, dikunyah saja. Yang terakhir ini vitamin, cukup diminum sekali dalam sehari." Suster Tantri menyodorkan tiga macam obat ke tangan ustadzah Ana.
"Terima kasih Sus."
"Sama-sama ustadzah."
Keduanya tampak mengobral dan Fazila memperhatikan betapa begitu manisnya bicara suster Tantri pada ustadzah Ana, sangat jauh berbeda ketika bicara padanya.
"Dasar bunglon," batin Fazila lalu mencebik dan memalingkan muka, rasanya mau muntah melihat wajah palsu suster Tantri.
"Mari saya antar keluar," ujar ustadzah Ana setelah beberapa saat berbincang dengan suster Tranti dan terlihat sesekali tertawa.
Suster Tantri mengiyakan dan keduanya keluar dari kamar.
"Hei bagaimana sekarang, sudah baikan?" tanya Andin sambil meraba dahi Fazila dan gadis itu menggeleng lemah.
"Masih panas, sepertinya sakitmu kayak karena rindu seseorang deh," lanjut Andin.
"Ada lah Qiana, sakit hati dan cemburu karena lama ditinggal membuat panas hati," jelas Andin lalu terkekeh membuat gadis itu langsung didorong dahinya oleh Qiana dan Anggita secara bersamaan.
"Dasar! Kita udah kadung serius dengernya," protes Qiana.
"Chila jangan lupa minum obatnya ya!" Ustadzah Ana kembali masuk dan memberikan obat tadi ke tangan Fazila.
"Baik ustadzah."
"Yasudah kalau begitu saya pamit. Assalamualaikum!"
"Iya ustadzah terima kasih dan wassalamualaikum warahmatullahi," ujar Fazila dan teman-temannya.
Sepeninggal ustadzah Ana, Fazila memberikan obat ke tangan Andin dan gadis itu langsung mengerutkan kening.
"Ini maksudnya apa, mau aku bantu minum obatnya atau ingin aku ambilkan air?" tanya Andin bingung.
__ADS_1
"Buang ke tempat sampah!" perintah Fazila tegas.
"Apa?" Andin terbelalak tidak percaya.
"Buang kataku!"
"Chila kau becanda ya? Kau mau main-main denganku?"
"Tidak Andin, buanglah! Ini bukan obat bagiku tapi racun, dan ini harus dilepas karena bisa saja infusnya tercampur dengan racun," ujar Fazila lalu menarik infus dari tangannya. Entah kenapa saat menerima infus itu rasanya badan Fazila tidak enak. Berbeda saat menerima tetes demi tetes infus yang sebelumnya.
Ketiga temannya hanya menganga, setelah beberapa detik langsung tersadar dan berlari untuk memberi tahu tentang tingkah Fazila. Pengasuh pesantren dan semua pengurus di pesantren langsung berinisiatif untuk menelepon keluarga Fazila dan menyarankan untuk dirawat di rumah saja.
"Chila, apakah kamu tahu dimana rumah yang ditempatinya Nenek Salma?" Tiba-tiba terdengar suara Chexil dari balik pintu. Sepertinya gadis itu tidak langsung menurut pada Nathan. Buktinya saat Nathan dan bayinya tidur dia malah bangun dan berjalan ke kamar Fazila. Rasa kantuk yang tadi menderanya mendadak hilang.
"Rumah yang mana ya, Kak?"
"Rumah yang dia tempati waktu kamu masih sekolah SMP di sini," jelas Chexil.
"Sebentar aku ingat-ingat dulu," ujar Fazila lalu terdiam untuk mengingat-ingat.
"Emang kakak mau ngapain sama Nenek Salma?" Fazila menatap penuh curiga.
"Dia dulu pernah punya resep gimana supaya asi terus mengalir deras. Kau tahu sendiri kan keponakanmu bagaimana kalau menyusu? Kasihan dia jika dibantu terus sama susu formula."
Alasan Chexil tidak membuat Fazila yakin, alasan klise yang tidak bisa diterima oleh akal Fazila. Dia yakin pasti ada sesuatu dibalik keinginan Chexil itu.
"Hmm, sepertinya aku lupa, lebih baik kakak minum obat pelancar ASI saja. Lagipula Bang Nathan pasti akan marah kalau melihat kakak datang ke sana."
Chexil menelan ludah mendengar ucapan Fazila yang memang benar adanya.
[ Tris, kau tanya sendirilah adikmu! Aku hanya bisa bantu doa.]
Chexil mengirim chat pada Tristan dan menyerahkan semuanya pada pria itu. Ia tidak ingin terlalu dalam membantu, jika rumah tangganya sendiri yang akan jadi taruhannya.
"Yasudah nanti kakak konsultasi sama dokter saja, kakak permisi ya!"
"Iya Kak."
Chexil berlalu dari hadapan Fazila.
__ADS_1
"Oh ya kenapa dulu aku lupa dengan Nenek Salma? Ah, mungkin ini sudah jalannya takdir," gumam Fazila.
Bersambung.