
Izzam langsung undur diri dan diganti oleh santriwati yang menghidangkan kue-kue untuk para tamu.
"Izzam sekarang benar ya ujian Matematika sama Fiqih?" tanya Fazila basa-basi untuk menghindari candaan Kyai Miftah yang membuatnya jadi malu. Bahkan sekarang wajah Fazila terlihat bersemu merah mendengar perkataan pria setengah baya itu yang seakan selalu bercanda.
Izzam yang sedang memakai sandal menoleh dan mengangguk.
"Maaf saya duluan ya untuk bersiap-siap, sebentar lagi ujian dimulai," ujar pria itu kemudian mengucapkan salam sebelum akhirnya pergi.
"Chila boleh kembali ke kelas, sekarang saatnya ujian kelas," ujar Nyai Fatimah di sela-sela obrolan santai mereka.
"Baik Nyai." Setelah menyalami tangan Nyai Fatimah dan Kyai Miftah dengan takzim Fazila langsung pamit pada keluarganya untuk masuk ke dalam kelas agar tidak terlambat. Bersamaan dengan itu Andin datang menyerahkan kunci mobil pada Isyana.
"Terima kasih ya semuanya atas bantuan kalian," ujar Isyana kepada Andin dan dua temannya.
"Sama-sama Tante," ucap mereka bertiga.
"Ikut ke kamar yuk!" aja Fazila saat mereka sampai di sisinya.
"Boleh, tapi yang cepat sedikit ganti bajunya ya Chila, Lima menit lagi bel akan berbunyi," ujar Qiana khawatir.
"Tidak apa-apa, saya sudah memberitahukan pada ustadz yang bertugas di ruang ujian kalian agar memberikan toleransi jika kalian telat sebab kalian sudah bantu-bantu di sini," ujar Nyai Fatimah membuat ketiganya menghembuskan nafas lega.
Andin pun langsung merangkul bahu Fazila. "Ayok!"
Fazila mengangguk, menatap wajah dokter Davin lalu memberikan kode dengan gerakannya bahwa dirinya pamit pergi dan dokter Davin pun menjawab dengan anggukan bersama seulas senyuman.
"Aduh klepek-klepek hati adik, Bang!" goda Andin.
"Sayang pas turun dari mobil nggak romantis, coba jangan keburu turun Chila, biarkan dokter Davin yang membukakan pintu mobil seperti di film-film," tambah Anggita.
"Emang aku tuan putri apa? Aku tak selemah itu hingga buka pintu mobil doang harus dibukain. Kebanyakan halu," keluh Fazila.
"Ah kamu kurang jauh mainnya itu bukan perkara bisa nggak bisa Chila, tapi romantis, ngerti nggak romantis itu apa?"
"Tahulah," sambar Fazila.
"Apaan? Jangan bilang rokok makan gratis!"
"Roman-romannya elo pamer betis hahahaha," sahut Fazila sekenanya lalu tertawa renyah seakan lupa dirinya belum beranjak jauh dari tempat Kyai dan Nyai duduk.
"Waduh pamer betis," ujar Qiana lalu terkekeh.
"Kurang pas yang benar itu, rok mini ********** gratis," tambah Anggita.
"Ekhem!" Kyai Miftah pura-pura terbatuk.
"Aish, didengar Pak Kyia," lirih Anggita. Wajahnya langsung redup takut kena hukuman.
"Kalau kalian telat karena bergurau yang tidak jelas seperti itu tidak ada toleransi," ujar Kyai Miftah kemudian.
"Eh iya Pak Kyai maaf," ujar mereka sambil cengengesan. Sebenarnya senyum itu untuk menutupi ekspresi takut.
"Sudah sana! Sampai kapan kalian berdiri di situ terus?" Sekarang Nyai Fatimah yang buka suara.
"Iya Nyai kami pamit. Assalamualaikum!" seru keempatnya serentak.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab semua orang yang ada di tempat itu.
"Dadah dokter Davin!" seru ketiganya sambil melambaikan tangan ke arah dokter Davin dan dokter Davin hanya menggelengkan kepala.
"Awas jangan ganjen sama calon laki gue," protes Fazila karena ketiganya senyum-senyum tidak karuan sambil menatap wajah dokter Davin dengan posisi menoleh.
"Awas kepala terlepas dari badan, serem tahu!" tambah Fazila.
"Pelit amet loh Chila, cuma mandangin wajahnya aja nggak bakal berkurang kok kegantengannya," protes Andin.
__ADS_1
"Bagi-bagi dikit kenapa," timpal Anggita.
"Ogah ah, nanti kita dihukum," ujar Fazila lalu berlari ke dalam kamar. Koper dan dua paper bag sudah ada di atas ranjang, siapa lagi yang membawanya kalau bukan tiga sahabat terbaiknya.
"Ah ini titipan Mama untuk Nyai, eh tapi memang pesan mama harus dikasih nanti pas beliau pulang."
Buru-buru Fazila mengambil baju seragam dari dalam koper dan mengenakannya dengan cepat. Setelah itu memakai sepatu yang memang ia tinggal di kamarnya.
"Siapa ini yang nyuciin, kok bersih banget?" tanya Fazila tatkala menyadari sepatunya sudah bersih dan berada dalam kotak.
"Qiana," ujar Andin.
"Terima kasih ya Qiana," ujar Fazila menatap wajah Qiana sebentar dengan penuh sayang.
"Sama-sama, ayo buruan!"
"Sudah yuk!" Fazila langsung berlari keluar diikuti ketiga temannya.
"Chila tunggu kami!" teriak Andin. Di pondok putri sudah sepi karena para santriwati sudah berada di kelas mereka masing-masing.
"Yaelah nih anak, ditungguin malah kami yang ditinggalkan," protes Anggita.
Sampai di kelas ustadz sudah menyebarkan kertas ujian di bangku masing-masing.
"Assalamualaikum Ustadz, maaf telat," ujar Fazila berdiri di ambang pintu.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Tidak apa-apa, ini juga baru dimulai. Silahkan masuk!"
"Terima kasih," ujar keempatnya lalu duduk di kursi yang telah ditentukan dan duduk mereka saat ini memang diacak.
"Kamu duduknya di sana Chila," ujar ustadz tersebut karena tahu Fazila baru masuk sekolah dan belum tahu dimana posisi dia harus duduk.
"Baik ustadz, terima kasih."
"Ya."
"Izzam," sapanya sebelum duduk.
Izzam mengangguk sambil tersenyum. Namun, bagi Chila senyuman pria itu berbeda dari biasanya. Senyuman manis yang biasa ia dapatkan sebelumnya kini seolah berganti dengan senyuman pahit.
"Ada apa dia? Apa dua sakit? Kenapa wajahnya pucat?" batin Fazila lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal sebelum akhirnya duduk.
"Sudah menerima lembar ujian semua, kan?" tanya pak ustadz.
"Sudah Pak!" jawab santri-santri serempak.
"Baiklah, silahkan dikerjakan, waktunya 2 jam dari sekarang," ujar pak ustadz sambil melirik arloji di pergelangan tangannya.
"Baik ustadz."
"Hus-hus Chila!" panggil Andin setengah berbisik.
"Andin kerjakan sendiri! Nanti kalau berisik saya potong nilai kamu."
"Baik Ustadz," sahut Andin padahal dalam hati mengoceh sendiri.
"Ancam terus biar nilaiku jadi nol," ucapnya dalam hati.
"Izzam-Izzam!" lirih Rofik sambil melempar kertas dan menulis pesan di sana, buat apa lagi kalau tidak untuk meminta salinan jawaban.
"Yes!" Rofik kegirangan. Kertasnya jatuh tepat di bangku Izzam.
Sayangnya yang dilempari kertas sedang melamun dan tidak menyadari kalau ada kertas melayang.
Ditunggu-tunggu tidak dapat jawaban akhirnya Rofik menoleh ke belakang.
__ADS_1
"Ya ampun dia memikirkan apa sih? Kok nggak ada respon?" Remaja itu menepuk jidatnya sendiri dengan keras karena kesal pada Izzam.
"Oke harus kejar sampai dapat," pria itu tersenyum antusias lalu melempar penghapus dan tepat mengenai kepala Izzam. Barulah pria itu tersadar dari lamunannya.
Segera Rofik menunjuk kepalan kertas yang tepat berada di hadapan Izzam.
"Apaan ini?" Izzam meraih kertas tersebut lalu membukanya.
"Ya ampun nih anak kebiasaan setiap ujian," keluh Izzam lalu menulis di kertas tersebut. Rofik yang meliriknya tertawa senang dalam hati.
"Nggak perlu capek-capek belajar tapi nilai nggak kalah dengan yang belajar," ucapnya dalam hati.
[Hari ini aku nggak konsentrasi, jadi kerjakan sendiri!]
Setelah menulis di kertas tersebut Izzam melempar kembali pada Rofik.
"Asyik." Rofik bersorak kegirangan dalam hati lalu meraih kepalan kertas tersebut.
"Rofik kamu ngrepek ya?" tanya pak ustadz sambil berdiri dari duduknya dan melangkah ke arah Rofik.
Buru-buru anak itu menyimpan kertas tersebut tetapi kalah cepat dengan pak ustadz yang langsung menariknya.
"Kau pikir aku tidak tahu bahwa kamu melakukan cara licik di ujian kali ini," ujar pak ustadz sambil membuka kepalan kertas tersebut. Namun bukannya murka ustadz tersebut malah terkejut kemudian terkekeh membaca tulisan dalam kertas tersebut.
"Ustad aneh ada yang lucu apa sih sehingga perlu ditertawakan?" protes Rofiq yang sebenarnya kesal dalam hati karena aksinya yang meminta contekan ketangkap basah.
Pak ustadz malah semakin tertawa.
"Ih masih ketawa aja, jangan-jangan hantu kuburan di belakang sekolah mulai berulah, pak ustadz sepertinya perlu diruqy ...."
"Di ruqyah?" tanya pak ustadz memotong gumaman Rofik.
"Kamu tuh yang perlu di ruqyah agar sadar bahwa temanmu sudah tidak ingin membantumu lagi dalam ujian. Belajar sendiri!" seru pak ustadz dengan setengah membentak membuat Rofik langsung terkejut.
"Nih baca!" perintahnya lalu kembali ke depan.
"Hmm." Dengan pelan Rofik mengambil kertas tersebut dan membacanya.
"Izzam! Ada apa dengan tuh anak?" ucapnya dalam hati dengan nada bicara yang geregetan.
"Izzam kerjakan! Kenapa malah melamun?"
"Ah iya Ustadz," ujar Izzam lalu mencoba kembali fokus pada lembar ujiannya.
Baru mengerjakan satu soal, pikirannya ambyar kembali.
"Andai waktu itu aku langsung setuju pas orang tua kami mau menjodohkan. Ah, kenapa aku terlalu malu dan gengsi sih waktu itu? Jadi keduluan orang lain, kan?" kesalnya pada diri sendiri. Karena saking geramnya hingga tidak sadar tangannya menggebrak bangku.
"Izzam kau kenapa? Sakit?" tanya Fazila yang merasa aneh pada pria itu. Fazila tahu Izzam memang orangnya pendiam tapi kali ini diamnya tidak biasa.
Pria itu hanya menggeleng lalu menunduk dan memainkan pulpen di tangannya.
"Katanya dia tidak ingin bertunangan di usia muda. Ini apa? Kenapa dia melanggar ucapannya sendiri?" Masih saja tenggelam dalam pikirannya sendiri.
"Ustadz!" panggil Fazila.
"Iya ada apa Chila? Ada yang tidak kamu pahami?"
"Saya tidak paham semua jawabannya Pak Ustadz," sahut Rofik yang sontak mendapatkan sorakan dari semua santri yang ada di kelas itu.
"Saya tidak melayani santri yang tidak paham dengan jawabannya. Saya hanya melayani santri yang tidak paham dengan pertanyaannya. Paham kamu Rofik? Makanya kalau ustadz atau ustadzah menjelaskan di depan kamu jangan ikutan menjelaskan di belakang, jadinya setelah diberikan pertanyaan seperti ini bingung mau jawab apa."
"Bukan Pak, tetapi sepertinya Izzam tidak enak badan dan tidak bisa fokus. Apa tidak sebaiknya Ustadz dampingi dia Tad, takut-takut dia kenapa-kenapa," saran Fazila dan pak ustadz langsung mengangguk dan berjalan ke arah Izzam lalu duduk di sampingnya.
"Kau kenapa tidak enak badan?" tanya pak ustadz sambil menepuk bahu Izzam.
__ADS_1
"Tidak ustadz hanya sedang kecewa saja," sahut pria itu lalu menutup mulut karena keceplosan.
Bersambung.