
"Astaghfirullah Chila!" seru Andin saat menyadari bahwa yang didengarnya bukan dari alam nyata bahkan dari dalam ponsel di sampingnya. Siapa lagi tertuduhnya kalau bukan Fazila sebagai pemegang ponsel satu-satunya di kamar tersebut, bahkan dari sekian banyak santri di pondok putri.
"Din gelap ini, kamu dimana?" tanya Fazila dengan suara bergetar takut.
Andin malah terkekeh mendengar nada suara Fazila yang tidak seperti biasanya.
"Dasar penakut! Sok-sokan dengerin cerita horor lagi," keluh Andin lalu meraih ponsel disisinya dan menghidupkan senter di sana sebelum mematikan apa yang telah disetel oleh Fazila.
Jari-jemari Andin dengan lincah mengetuk-ngetuk ponsel dan akhirnya suara menyeramkan hilang. Kini hanya suara muratal Al-Qur'an sajalah yang terdengar.
"Haaaah!" Fazila menghembuskan nafas panjang, paling tidak begini lebih nyaman, ternyata Andin pandai juga.
Dalam hati Fazila merutuki diri sendiri karena saat gabut akibat tidak bisa tidur tadi ia sama sekali tidak kepikiran untuk menyetel aplikasi yang memperdengarkan orang mengaji di sana. Padahal andai saja tadi ia melakukannya, saat ini pasti dirinya akan terbuai dalam lantunan merdu ayat-ayat suci Al-Qur'an yang menyejukkan kalbu atau ... mungkin saja dia sudah tertidur mendengar suara dari dalam sana yang mendayu-dayu dan membuat seakan keadaan sekitar menjadi jauh lebih tenang.
"Dah tidur lagi!" perintah Andin seraya menyodorkan ponselnya kembali pada Fazila.
"Terima kasih," ucap Fazila lalu meletakkan ponsel yang masih memperlihatkan cahaya senter dari belakang layarnya dengan posisi terbalik. Dia pun kemudian merebahkan tubuhnya di atas kasur kembali sambil memejamkan mata.
Namun, ayat-ayat suci yang dibacakan malah seakan mengajak Fazila untuk turut menyuarakannya, melepaskan dengan indah. Gadis itu mengikuti nada qari di dalamnya dan melafalkan ayat per ayat sehingga semakin tertarik untuk terus mengaji sebab surat yang dilantunkan adalah surat yang kebetulan Fazila sudah hafal. Hingga akhirnya, ia lelah dan memilih menjadi pendengar saja daripada ikut mengaji bersama qari tersebut. Fazila mematikan lampu senternya dan memejamkan mata.
Terdengar suara jam yang berdentang 3 kali dari masjid. Biasanya jam sekarang Fazila sudah bangun dan mengerjakan shalat tahajud baik di kamar atau ke masjid bersama beberapa santri yang lainnya, tapi kali ini, ia malas beranjak dari kasur akibat bergadang semalaman. Lagipula tak sedetikpun terlelap membuat dirinya tidak dapat melaksanakan shalat tahajjud seperti yang lain karena tak memenuhi syarat.
Jam setengah 4 teman-teman sekamarnya membangunkan Fazila sebab menyangka gadis itu belum bangun karena keadaan yang masih gelap. Entah apa sebabnya hingga lampu pesantren masih saja padam dan belum menyala juga sampai sekarang. Dari PLN ataukah dari pesantren sendiri ada kabel yang terputus, mereka hanya bisa menebak-nebaknya saja.
"Aku sudah bangun dari tadi," ucap Fazila sambil mengeluarkan ponsel tersebut dari aplikasinya.
__ADS_1
"Iya ayo buruan, sudah jam setengah 4, waktunya mepet untuk shalat tahajjud," ujar Qiana.
"Kalian duluan ajalah nanti aku nyusul pas waktu subuh," ujar Fazila.
"Nyusul kemana? Kita shalat di kamar saja, anak-anak nggak akan mungkin ada yang pergi ke masjid di saat gelap begini. Saya pikir Nyai Fatimah juga akan malas pergi ke masjidnya. Paling beliau datang pas adzan subuh nanti."
"Iya sudah sana buruan kalian kalau ingin shalat sunnah, entar waktunya keburu habis malah nyalahin Chila," ujar Fazila.
"Udah nggak usah ngajak Chila untuk shalat sunnah tahajjud karena percuma semalaman dia nggak tidur jagain nenek kunti," terang Andin lalu cekikikan mengingat Fazila ketakutan sendiri dengan apa yang disetelnya.
"Ya udah deh percuma kalau begitu, mau diajak shalat witir juga nggak bakal mau kan, karena semalam sudah. Ya udah Din ayo kamu saja!" ajak Qiana.
"Ogah aku malas berjalan ke kamar mandi dalam keadaan gelap, aku izin untuk saat ini," tolak Andin lalu menguap beberapa lali dan memejamkan mata kembali.
"Anggita yuk!" Kini Qiana beralih kepada Anggita.
Qiana berdecak kesal sebelum akhirnya meraba-raba laci dan mengambil senter dari dalamnya. Ia berjalan pelan dan tak mendapati seseorang pun di deretan kamar mandi. Ternyata tidak hanya teman sekamarnya yang malas, tetapi para santri di kamar lainnya tidak jauh berbeda.
Jam 4 pagi listrik kembali hidup, bersamaan dengan itu terdengar suara adzan dari masjid. Semua santri pun bersiap-siap untuk shalat jamaah subuh ke masjid. Tak terkecuali Fazila yang melangkah dengan malas karena saat ini kantuk tiba-tiba menyerang. Entah mengapa kali ini sentuhan air wudhu tak membuatnya bisa menghilangkan kantuk, tak seperti sebelum-sebelumnya.
"Nyai aku izin tidak ikut kajian pagi ini karena sedang tak enak badan," pamitnya setelah selesai shalat subuh.
"Ya, silahkan."
Sebenarnya Nyai Fatimah tidak segalak yang para santri pikirkan asal cara mereka benar jika tidak ingin mengikuti suatu aktivitas di pondok putri. Beliau tidak akan serta merta menghukum begitu saja apabila sebelumnya mereka meminta izin seperti Fazila saat ini. Apalagi sekarang sudah tidak ada Heni yang suka mendramatisir keadaan. Heni yang sekarang beda dengan Heni yang dulu. Heni sekarang tidak suka mengurusi hidup teman-temannya lagi tapi fokus pada diri sendiri.
__ADS_1
"Chila!" panggil Nyai saat Fazila hendak melangkah setelah mengucapkan salam.
Fazila menoleh dan berkata. "Iya Nyai, ada apa?"
"Kalau bisa nanti usahakan shalat Dhuha bersama nanti ya, di masjid pondok putra. Kita shalat jamaah bersama mereka di sana."
"Insyaallah Nyai. Yasudah pergi dan istirahatlah!"
Fazila mengangguk sebelum akhirnya melangkah menjauh. Sampai di kamar ia langsung merebahkan tubuhnya dan terlelap.
Rasanya begitu sebentar saat tangan dingin Qiana menyentuh dahi Fazila.
"Kau baik-baik saja kan?" tanyanya saat tak mendapati panas di dahi Fazila. Sebelumnya, dia khawatir takut Fazila sakit lagi.
Fazila mengerjapkan mata. Saat tertangkap gambar Qiana di retina matanya ia menggeleng.
"Nggak apa-apa hanya ngantuk saja."
"Makanya jangan bergadang, apa sih yang kamu lakukan semalam? Ayo bersiap, sekarang semua orang sudah bersiap untuk shalat dhuha berjamaah untuk menyambut hari santri."
"Oke."
Fazila mengulurkan tangannya agar ditarik oleh Qiana. Mereka berdua pun menyusul Anggita dan Andin yang sudah menunggu di sana.
"Asyik kalau kompak begini," ucap Fazila saat melihat semua orang di sana memakai pakaian serba putih bahkan tak ada mukena satupun yang berwarna selain berwarna putih di sana. Tidak seperti hari biasa yang penuh warna-warni seperti halnya pelangi.
__ADS_1
Tak lama kemudian Kyai Miftah pun memimpin shalat dhuha tersebut, menjadi imam semua jamaah. Setelah shalat selesai beliau memberikan tausiyah sebentar, memberikan wejangan bagaimana seharusnya santri bersikap baik saat berada dilingkungan pesantren sampai ketika mereka terjun ke lingkungan masyarakat.
Bersambung.