DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR

DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR
Bab 116. Benar Hilang


__ADS_3

"Chila!"


"Chila kau dimana?"


"Chila kami bertiga mencarimu! Jangan bikin khawatir dong!"


Suara mereka bertiga menggema di udara seakan memantul di titik tertentu hingga terdengar seperti berulang dan terdengar di telinga mereka sendiri.


Mereka memang berkemah di sebuah lapangan. Namun, sebenarnya di belakang lapangan tersebut adalah hutan yang jarang terjamah oleh manusia. Kalau dulu orang-orang sekitar masuk ke sana untuk mencari kayu bakar karena masih menanak mengubah tungku, sekarang seiring perkembangan zaman sudah tidak lagi. Hutan tersebut hanya digunakan untuk mahasiswa ketika menjelajah dan beberapa siswa yang berkemah hanya untuk sekedar mencari layu bakar, tetapi tentu saja hanya dalam jarak yang dekat.


Satu jam mereka berpencar, dan kini sudah kelelahan karena tak hentinya berjalan dan berlari tanpa ada jeda untuk beristirahat satu menit pun.


"Ini sudah jauh masuk ke dalam, aku tidak ingat tersesat di sini. Sebaiknya aku kembali saja karena mungkin saja mereka sudah menemukan Fazila," gumam Andin.


Lolongan anjing terdengar begitu jelas di gendang telinga membuat bulu kuduk Andin berdiri semua.


"Aku tak ingin mati sia-sia di sini." Gadis itu menguasai-usap lengannya dimana bulu-bulu di sana seakan merinding disko.


"Nanti Chila selamat aku yang dimakan anjing, hi!" Segera gadis itu berbalik dan lari sekencang-kencangnya dengan arah yang lurus.


Sementara Qiana berjalan sambil menyibakkan setiap semak-semak yang dilaluinya. Otaknya memberikan respon bahwa mungkin saja Fazila pingsan sehingga tidak mendengar teriakannya dari tadi.


"Kenapa tidak ada ya? Kemana tuh anak pergi? Ah lebih baik aku kembali, mungkin saja Chila sudah kembali lebih dulu."


Sementara Anggita, diujung pencariannya ia malah melihat keramaian di depan sebuah gedung. Sepertinya ada demonstrasi atau tawuran di sana yang berakhir dengan kericuhan. Kejadian tersebut tepat berada di depan kampus STKIP. Entah dipicu karena apa, demonstrasi yang awalnya berjalan dengan tenang langsung berubah menjadi anarkis.


"Tak mungkin Chila ke sana kan?" Aku balik saja dan kasih tahu ustadzah," lirih Anggita yang kini sudah tidak bersemangat menjalani hari.


Baru beberapa langkah Anggita mundur, ia merasa menginjak sesuatu di bawah sepatunya.


"Apa ini?" Gadis itu menoleh dan membungkuk, ternyata ia menginjak sebuah ponsel. Segera Anggita memeriksanya.


"Ini kan ponsel pesantren yang dipegang Chila? Apakah benar anak itu ada di sekitar sini?" Anggita membeku.


"Hei Nggit, ngapain melamun di situ?" tanya beberapa santri yang berasal dari tenda lain. Keempat dari mereka langsung berlari ke arah Andin yang terbengong-bengong.


"Itu, kan ponsel yang biasanya dipegang oleh Chila, ke mana orangnya?" tanya salah satu diantara mereka.


"Aku juga tidak tahu Nanny, dari tadi aku, Qiana dan Andin mencarinya kemana-mana, tapi belum ketemu juga. Bantu cariin dong!"

__ADS_1


"Chila hilang?" tanya mereka kaget.


"Sepertinya begitu, tapi semoga saja dia sudah kembali ke tenda lebih dulu," ucap Anggita, penuh harap dalam hati.


"Mungkin salah satu dari kalian sudah ada yang menemukannya Anggit. Tenanglah tak usah panik, kita cari bersama-sama."


"Tak mungkin kalau Andin dan Qia sudah menemukan Chila sementara jejak gadis itu ada di sekitar sini. Andin mencari ke belakang sana dan Qiana ke sana," tunjuk kita ke arah yang berlawanan dari dirinya berdiri saat ini.


"Itu, kan ponsel kau pegang, segera beritahu ustaz atau ustazah biar mereka juga ke sini," saran dari salah satu dari mereka.


Dengan gemetar tangan Anggita memencet kontak yang ada di dalam ponsel tersebut dan menghubungi sembarangan, karena yakin yang tersimpan di kontak tersebut hanyalah nomor para ustad dan ustazah.


"Halo sayang ada apa?"


Anggita kaget saat mendapati suara dokter Davin yang didengarnya. Gadis itu langsung mengecek nomor kontak punya siapa yang ia hubungi saat ini. Ternyata benar di kontak itu tertulis nama 'Mas Davin'.


"Chili, hey, kenapa diam?"


Anggita semakin gemetar hingga tak tahu harus berkata apa pada dokter Davin.


Melihat Andin yang sepertinya tidak bisa berbicara dalam kondisi yang syok, salah satu santri berasal dari tanda lain itu langsung mengambil alih ponsel di tangan Anggita.


"Halo Ustadz! Chila hilang ini Ustadz, dan jejak ponselnya ditemukan di sekitar kampus."


"Di sebelah timur kampus STKIP tapi jaraknya masih jauh sih, tepatnya di sebelah barat tempat kita berkemah."


"Aku akan segera ke sana!" Dokter Davin langsung menutup telpon dan menyambar kunci mobilnya.


"Dokter mau kemana?" tanya suster Dinda yang melihat dokter Davin seperti terburu-buru dengan wajah yang terlihat panik.


"Tutup bagian klinik penyakit dalam untuk sementara. Chila hilang, aku harus melakukan sesuatu. Sampaikan permohonan maaf saya kepada pasien yang masih tersisa di luar," ucap dokter Davin lalu dengan langkah besar meninggalkan ruangannya. Tak perduli dengan tatapan bingung orang-orang yang melihatnya.


Sampai di jalan ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata.


Sementara Qiana langsung memberitahukan pada para ustad dan ustadzah tentang Fazila yang hilang dan mereka semua langsung mencari gadis itu bersama-sama.


"Bagaimana Bu Ustadzah, ketemu?"


"Tak ada. Bagaimana kalian bisa kehilangan jejak Chila? Seharusnya kalian satu kamar itu tidak berpencar dan paham kalau itu bahaya buat kalian semua. Kalau sudah begini bagaimana?" Bu ustadzah terlihat marah kepada ketiga teman sekamar Fazila. Padahal sebelum melepas mereka, ustadz sudah mengingatkan agar jangan sampai berpisah satu sama lain jika keluar dari area lapangan.

__ADS_1


Ketiganya tidak menjawab, bibirnya seolah kelu walau hanya untuk sekedar berkata. Mereka bertiga menunduk dengan tubuh yang gemetar. Gemetar takut, bukan takut karena terkena amarah dari ustadzah, tapi lebih takut jika benar-benar sahabat terbaikku hilang dan tidak ditemukan.


"Bagaimana ustadz?" Ustadzah langsung bertanya kepada para ustadz yang mengecek ke tempat demonstrasi terjadi, barangkali Fazila terjebak di sana.


"Tak ada, kami sudah menyusup ke tengah-tengah mereka. Tak ada Chila di sana," sahut seorang ustadz mewakili yang lainnya.


"Ya Rabb! Harus ke mana lagi kita mencari? Bagaimana kita mempertanggung jawabkan semua ini kepada kyai, nyai dan keluarga Chila sendiri?" Para ustadzah terlihat syok.


Beberapa santri terlihat menangis pilu.


"Kalian semua tidak becus! Kalau ujungnya begini, saya tidak akan pernah mengizinkan Chila untuk ikut acara kemah ini!" sambar dokter Davin sambil melangkah ke arah mereka semua. Wajannya memerah karena amarah yang menggebu.


Beberapa ustadz dan ustadzah menoleh ke arah dokter Davin dan bertanya siapa dia.


"Dokter Davin," jawab ustadzah Ana dan ustadz yang lainnya.


"Saya tahu Dia seorang dokter, dari pakaiannya saja kita sudah dapat menebak, maksud saya apa hubungannya dia dengan Chila?"


"Sepertinya dia tunangan Chila Ustadz."


"Ya Allah, kalau tunangannya saja sampai murka seperti itu, bagaimana respon keluarga Chila sendiri nanti?" Ustadz mengacak rambutnya frustrasi.


"Andin, Qiana, Anggita! Sahabat macam apa kalian? Kalau kalian tidak meninggalkan Chila seorang diri, tidak mungkin dia akan hilang begini!"


"Maafkan kami Dok." Mereka menjawab masih dengan posisi wajah menunduk, tak berani menatap wajah dokter Davin yang sudah dipastikan merah padam karena dari nada suaranya memang terdengar murka.


"Sabar Dokter, kita cari lagi ya," ucap seorang ustadz sambil menepuk bahu dokter Davin.


"Dimana pun Chila berada, insyaallah dalam keadaan baik-baik saja. Kami minta maaf atas kelalaian kami, tapi kamu janji akan mencari Chila sampai ketemu. Mari kita cari bersama-sama. Mungkin kehadiran dokter di sini akan mempermudah pencarian untuk menemukan kembali Chila," ucap seorang ustadz dengan suara merendah.


"Maafkan saya," ucap dokter Davin yang kini menyadari sikapnya tadi sangat berlebihan pada para ustad dan ustadzah di sana, bahkan kini ia menyadari ketiga teman Fazila seperti tertekan. Menangis tanpa suara dengan tubuh yang bergetar hebat.


"Sudahlah tak usah menangis, Chila lebih butuh doa kalian daripada air mata." Kini suara dokter Davin terdengar lembut hingga ketiganya langsung mendongak.


"Kami juga takut kehilangan Chila, kami juga menyayanginya," ujar Andin mewakili kedua sahabatnya.


"Aku tahu, maafkan aku. Mari kita cari lagi bersama-sama!"


Ketiganya mengangguk mantap.

__ADS_1


Pencarian kali ini benar-benar terarah. Pak ustadz benar-benar mengatur sedemikian rupa agar pencarian menjadi efektif.


Bersambung.


__ADS_2