
"Alamat dokter Davin tinggal, sama dengan alam alamat pondok pesantren tempat Chila belajar," jelas Tristan dan keduanya langsung mengucapkan kata 'oh' bersaman. Awalnya Tristan menebak kalau dokter Davin memang ada kunjungan ke daerah itu sehingga sempat bertemu Fazila. Tak sedikitpun berpikir sebenarnya mereka tinggal dalam satu lingkup kota.
"Tapi kata Davin waktu itu Chila di sekolahkan keluar negeri."
"Itu hanya rencana semata Nek, kenyataannya orang tua kami sepakat membawa Chila ke pesantren."
"Itu lebih bagus, tapi mereka tidak mungkin bertemu mengingat Chila tidak bisa bebas keluar masuk."
Tristan mengangguk karena tsk ingin memperpanjang pembicaraan lagi, dan mempersilahkan Dilvara. Kali ini giliran gadis itu untuk menyalami tangan nenek Salma. Bisa-bisa nggak sampai-sampai ke tempat dokter Davin kalau mereka masih asyik mengobrol dengan wanita tua itu.
"Terima kasih banyak Nek, kuenya lezat banget Nek," ucap Dilvara sambil tersenyum. Tristan hanya geleng-geleng kepala lalu meraih tangan Dilvara dan menggenggamnya. Dilvara menolak, berusaha melepaskan pegangan tangan Tristan tetapi pria itu menggenggam dengan erat.
"Kami pamit Nek, assalamualaikum!" seru Tristan sambil melangkah keluar pagar tanpa mau melepaskan pegangan tangannya pada Dilvara.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Nenek Salma membalas lengkap salam mereka.
Keduanya langsung naik ke atas motor.
"Mau request restoran mana buat makan? Kita mampir ke tempat itu dulu sebelum pergi ke tempat dokter Davin."
"Nggak perlu, aku sudah kenyang," jawab Dilvara.
"Lagipula siapa juga yang mau ikut mencari dokter Davin? Aku mau pulang aja," ungkap Dilvara dan kalau sudah mengatakan kata 'pulang', itu artinya tidak bisa dipaksakan lagi.
"Kenapa sih terburu-buru untuk pulang? Nggak kangen sama Abang? Mumpung kita lagi sama-sama tidak sibuk, kita sekalian jalan-jalan. Soalnya izin orang tua nanti Abang telepon tante Kania atau om Dion dan ngasih tahu mereka kalau kamu jalan sama Abang. Yakin deh mereka nggak akan keberatan."
Dilvara menggeleng.
"Nggak bisa nanti sore aku ada pemotretan," kilahnya padahal hari ini dia tidak ada jadwal apapun.
"Hmm, baiklah kalau begitu Abang antar dulu ke rumah," ujar Tristan dan mulai menstater mogenya. Sesuai permintaan Dilvara, mereka tidak mampir kemana-mana dan langsung ke rumah Dion.
Selesai mengantar Dilvara, Tristan mengebut di jalanan lebih kencang dari sebelumnya melihat arloji di pergelangan tangan sudah menunjukan pukul 9 pagi. Pergi ke tempat dokter Davin bisa menghabiskan waktu banyak jika tidak mengebut.
Beberapa jam kemudian Tristan sampai di kota tempat dokter Davin tinggal. Namun, ia tidak paham dimana posisi rumah sakit tempat dokter Davin bekerja. Tristan berhenti sebentar lagi menyalahkan sebuah aplikasi penunjuk jalan di ponselnya agar tidak salah tujuan. Kali ini Tristan menyetir sangat pelan karena sambil mengecek aplikasi tersebut.
"Sepertinya yang itu, gumam Tristan saat melihat bangunan besar bertuliskan rumah sakit. Segera ia menepikan kuda besinya lalu berbelok ke parkiran.
Setelah memarkirkan motornya Tristan langsung bertanya pada karyawan bagian administrasi tentang dokter Davin. Dia mengaku sebagai sanak saudara yang tinggal jauh darinya.
__ADS_1
"Dokter Davin hari ini memang bertugas. Beliau ada di ruangan sana." Pegawai wanita itu menunjukan ke kanan depan dari tempatnya duduk.
"Yang di sana?"
"Iya, jalan lurus dulu lalu belok kanan, di atas pintu ada tulisan ruang spesial dalam. Di sanalah beliau bertugas."
"Jauh nggak Mbak?"
"Sedikit jauh sih, sebentar!" Wanita tersebut melambaikan tangan ke arah seorang cleaning service yang membawa sebuah ember dan pel. Sepertinya baru menyelesaikan tugasnya du rumah sakit itu.
"Iya Bu, ada apa?"
"Tolong antar Mas Tristan ini ke ruangan Dokter David Sudrajat, Sp.PD!" perintah wanita tersebut.
"Baik Bu, mari Mas!"
Tristan mengangguk sambil tersenyum ramah. Begini rasanya dikenal orang banyak, mereka jadi tidak menolak untuk membantu.
"Terima kasih ya Mbak," ujar Tristan dan wanita itu baik mengangguk dan tersenyum.
"Mari!" ujar pria itu lagi dan Tristan langsung mengikuti langkah pria cleaning service tersebut.
"Itu dia ruangannya." Pria cleaning service menunjuk ruangan dimana di depannya banyak pasien mengantri.
"Ramai banget dah hari ini, apakah aku harus mengantri juga seperti mereka untuk bertemu si dokter Davin?" gumam Tristan.
"Langsung aja Mas ke depan pintu dan bicara dengan suster yang menjadi asisten beliau. Kalau Mas ikut ngantri mah kelamaan," jelas cleaning service tersebut.
"Oh iya Mas terima kasih sarannya dan tunggu dulu!"
"Ada yang bisa saya bantu lagi Mas?" tanya pria itu sopan.
"Tidak, tapi ... ini untukmu." Tristan memberikan beberapa lembar uang ke tangan pria itu sebagai imbalan karena telah meluangkan waktu mengantar dirinya menyusuri lorong-lorong yang panjang dan berliku, sepanjang jalan kenangan. Padahal pria itu punya tugas lain.
"Tidak perlu Mas, saya–"
"Ikhlas?" potong Tristan sebelum pria itu meneruskan kalimatnya.
"Aku juga ikhlas," ujar Tristan sambil terus menyodorkan uang kertas tersebut, seolah ragu-ragu antara mau menerima atau tidak.
__ADS_1
"Ayo ambillah, ini rezeki anak istri di rumah. Jadi tega kah Mas ini menolak menyampaikan amanat ini?"
Pria itu terpaksa mengangguk dan mengambil uang kertas yang disodorkan oleh Tristan. Sebenarnya pria itu bukannya tidak butuh uang. Melainkan tidak enak hati, hanya karena mengantar saja mendapatkan imbalan.
"Terima kasih," ucapnya dengan senyum yang mengembang seolah melihat anak dan istri yang tersenyum manis di pelupuk mata.
"Sama-sama," ucap Tristan lalu meninggalkan pria yang mematung itu mendekat ke arah ruangan dokter Davin.
"Mana berkasnya? Setorkan dulu baru antri di sana!" perintah suster Tantri saat melihat Tristan berdiri di ambang pintu sedangkan dokter Davin tampak sibuk menangani pasien.
"Saya hanya ingin bertemu dokter Davin," jelas Tristan.
"Kalau tidak penting lebih baik Anda tidak perlu menganggu beliau. Lihat sendiri bagaimana sibuknya kami hari ini," ujar suster Tantri seakan mengingatkan Tristan dengan keadaan sekitar.
"Kalau tidak penting saya tidak akan ke sini jauh-jauh," ucap Tristan, tak suka dengan suster Tantri yang sok. Bagaimana jika ada orang yang menyampaikan tentang keadaan nenek Salma yang sakit misalnya. Apakah orang tersebut harus keluar sebelum memberikan kabar?"
Seorang pasien pria keluar dari ruangan tersebut. Tristan menyisih ke pinggir untuk memberikan jalan.
"Pasien selanjutnya Sus!" perintah dokter Davin lalu dia kaget saat melihat Tristan berdiri di depan pintu. Pria itu bangkit dari duduknya dan melangkah keluar.
"Nathan ada apa? Apa kau ingin memeriksa salah satu keluargamu?"
"Aih, Nathan lagi," keluh Tristan, seharusnya dia yang lebih terkenal dibandingkan kakaknya itu.
Dokter Davin mengerutkan kening.
"Tristan," jelas Tristan.
"Oh pantes saja," ujar Davin sambil melihat sekitar dan ternyata Tristan datang seorang diri. Tak ada satupun keluarga yang ia bawa. Kalau Nathan tidak mungkin datang ke sana khusus untuk bertemu dengannya.
"Ini tentang Chila," jelas Tristan tak ingin berbasa-basi karena melihat sendiri dokter Davin tidak punya waktu banyak.
"Ada apa dengan dia?" tanya dokter Davin dengan ekspresi khawatir. Kalau tidak mendesak tidak mungkin Tristan sampai bela-belain menemui dirinya.
"Dia sakit yang tak berkesudahan barangkali dokter bisa membantunya."
Wajah dokter mendadak pucat.
"Bisa tunggu di sana dulu? Saya harus menangani pasien dulu," ujar dokter Davin dan Tristan mengangguk. Pergi dari ruangan dokter Davin dan memilih duduk di ruang tunggu bersama barisan pasien yang sedang mengantri sedangkan dokter Davin kembali sibuk dengan dunianya. Menangani setiap pasien yang memiliki keluhan yang berbeda.
__ADS_1
Bersambung.