
Mendengar suara Andin yang melengking membuat hampir semua santriwati yang ada di Masjid segera berlari ke arah mereka. Tidak perduli dengan teriakan Nyai Fatimah yang meminta mereka untuk tetap tenang.
"Ada apa?" tanya beberapa santriwati dengan nafas yang tersengal-sengal setelah berlari.
"Ada maling," lirih Qiana masih kaget melihat kejadian yang terpampang di depan mata. Kejadian yang tidak ia prediksi sebelumnya, makanya dia lengah untuk mengunci pintu tadi.
"Ada maling! Ada maling!" teriak santri yang bertanya tadi hingga makin menambah heboh suasana.
"Ada, apa sih?" tanya Nyai Fatimah lalu bangkit dari duduknya dan berjalan turun dari masjid masih dengan mukena yang membungkus tubuhnya.
"Ada apa?" tanya ustadzah Ana yang langsung bergerak cepat tatkala mendengar teriakan dari salah satu santrinya.
"Itu ustadzah, ustadzah lihat sendiri Heni ingin mencuri uang Fazila.
Heni syok mendapati ustadzah Ana juga ada di sana, sampai tangannya gemetar, tetapi anehnya dompet milik Fazila masih erat dalam genggaman.
"Heni, apa yang kau lakukan?" Tenyata yang paling syok diantara orang-orang yang berdiri di depan kamar Fazila dan teman-temannya adalah ustadzah Ana. Wanita itu tidak menyangka gadis yang dipilih untuk menjadi pengurus di kalangan para santriwati malah justru menciptakan ketidakamanan dalam lingkungan pesantren sendiri, khususnya dalam pondok putri.
"Ustadzah, ini tidak seperti yang Ustadzah lihat," bantah Gadis itu akan tuduhan semua orang.
"Jangan berkilah, sebenarnya aksi pencurian seperti ini bukan yang pertama kali kamu lakukan, kan? Ada seorang santri yang melihatmu mengambil camilan mereka, tetapi tidak berani menegur karena kamu adalah salah satu pengurus di pondok putri ini, selain dia juga tidak ada bukti yang bisa dibawa jika melapor pada ustadzah," ucap Andin.
"Tidak, ini tidak benar," ucap Heni dengan suara bergetar.
"Saya hanya melakukan pemeriksaan di kamar teman-teman dan kebetulan menemukan dompet ini di dekat pintu. Saya membuka untuk mengecek di dalamnya untuk mengetahui siapa pemilik dompet ini. Barangkali ada kartu pelajar di dalamnya," jelas Heni masih berusaha untuk menyelematkan diri.
"Kalau memang demikian kenapa kamu malah menarik uang di dalamnya?" sergah Anggita sambil menyambar tangan kiri Heni.
"Ini teman-teman, lihat sendiri kan apa yang dipegang oleh anak ini? Uang! Kalau dia tidak bermaksud mencuri pasti uang ini tidak akan keluar dari dompet!" tegas Andin.
"Ya Andin benar," ucap beberapa santri yang memang sudah lama tidak menyukai Heni yang sering memonopoli mereka. Mentang-mentang jadi pengurus, gadis itu memang terkadang seenaknya.
"Itu tidak benar, uang ini aku temukan tercecer di lantai tadi." Heni masih saja berkilah.
"Dia berbohong, tidak mungkin kau uang itu lompat sendiri dari dalam dompet?" tegas Andin lagi. Fazila hanya terdiam. Di tempat itu sudah ada ustadzah Ana, jadi dia berharap pada wanita itu untuk memberikan putusan yang adil untuk semua orang.
"Ada apa ustadzah?"
Beberapa santri membelah diri untuk memberikan akses bagi Nyai Fatimah untuk masuk.
"Ini Nyai, Heni kedapatan memegang dompet Fazila di kamarnya," jawab ustadzah Ana.
"Bawa dia ke ruangan khusus!" perintah Nyai Fatimah. Ruangan yang dimaksud adalah salah satu ruangan di pondok putri yang berfungsi sebagai tempat untuk memberikan penyuluhan seperti ruangan BK jika di sekolah.
"Baik Nyai," sahut ustadzah Ana dengan hormat lalu mencekal tangan Heni.
"Mari ikut aku untuk mengetahui hukuman apa yang pantas kamu terima."
Dengan pelan Heni mengangguk dan dengan langkah gontai mengikuti langkah ustadzah Ana.
"Kasian deh antum, nggak berkutik, kan sekarang? Dasar santri edan, orang pinter tapi minim akhlak itu payah, kau tak pantas tinggal dan sekolah di sini!" Andin masih geram sebab ingat kata-kata Heni yang selalu menyakiti dirinya terutama tentang kemampuan dia dalam pelajaran yang selalu berada di bawah.
Heni tak menjawab, gadis itu menunduk ketika melewati barisan para santriwati yang menatap dirinya dengan jengah. Seolah dirinya adalah mahluk paling hina di pondok itu.
__ADS_1
Esok Hari.
"Chila kau dipanggil ustadzah Ana!" seru seseorang sambil berlari ke arah Fazila yang sedang memasang kerudung.
"Ada apa? Apa ini masih ada sangkut pautnya dengan kejadian yang melibatkan Heni semalam?"
"Aku tak tahu, hanya saja beliau menyampaikan agar sekarang kamu datang ke kamarnya. Beliau sudah menunggu di sana, katanya penting."
"Baik terima kasih. Aku akan segera menemui beliau."
Gadis tadi mengangguk lalu pamit pergi sedangkan Fazila lekas-lekas memasang bros di kerudungnya.
"Aku duluan ya teman-teman, kita bertemu nanti di sekolah," ujar Fazila dengan langkah yang terburu-buru.
"Oke," sahut Andin mewakili kedua teman yang lainnnya.
"Ada apa ustadzah?" tanya Fazila saat sampai di depan pintu kanan ustadzah Ana.
"Assalamualaikum," ucap ustadzah Ana karena Fazila tidak memanggil salam terlebih dahulu.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Maaf ustadzah, lupa."
"Biasakan, karena ucapan salam itu dalam maknanya, ada doa di dalamnya."
"Insyaallah ustadzah. Maaf apa benar ustadzah memanggil saya?"
"Ya, silahkan masuk!"
"Apakah benar kamu yang membayar tagihan untuk Qiana?"
"Iya, ustadzah."
"Kenapa?"
"Karena dia butuh."
"Bukan karena dia sahabatmu?"
"Itu juga salah satu alasannya."
"Bagaimana kalau yang kesusahan adalah orang lain? Maksudku bukan sahabat dekat."
"Sama saja Ustadzah, saya akan tetap membantu sesuai kadar kemampuan saya."
"Hmm." Ustadzah Ana terlihat berpikir sebentar.
"Kau tahu kenapa Heni ingin mencuri uangmu semalam?"
Fazila menggaruk kepalanya lalu menggeleng lemah.
"Karena dia tahu kamu yang membantu Qiana dan dia juga butuh uang."
"Maksudnya ustadzah?"
__ADS_1
"Lupakan, aku memanggilmu untuk meminta persetujuan darimu. Apakah kamu mau menjadi pengurus menggantikan Heni?"
"Tapi Ustadzah?
"Hampir semua santriwati yang ada di pondok putri ini mengajukan dirimu dan saya pikir kamu memang berhak."
"Bagaimana dengan Heni? Dia bisa marah kalau tahu–"
"Tidak usah kau pedulikan, soal itu biar ustadzah yang urus."
"Baiklah ustadzah saya bersedia."
"Baik kalau begitu ini ponselnya aku serahkan padamu. Kalau ada santriwati yang ingin menelpon keluarganya tolong dilayani!"
"Baik, Ustadzah. Insyaallah saya akan memegang amanah ustadzah dengan baik."
"Bagus, sekarang kamu boleh pergi ke sekolah," ucap ustadzah Ana sambil menepuk bahu Fazila.
"Baik ustadzah."
Setelah mengucapkan salam Fazila berlalu pergi ke sekolah untuk menyambut ujian hari kedua.
Dua hari kemudian Fazila dipanggil oleh seorang santri.
"Ada, apa?"
"Kak, kata pak satpam ada kiriman untuk Kak Chila! Buruan diambil sebelum masuk ke ruangan Nyai.
"Kiriman? Dari siapa?"
"Nggak tahu Kak."
"Ciee! Pasti dari tunangan tersayang," goda Anggita membuat Fazila langsung tersenyum senang mengingat wajah dokter Davin.
"Baik terima kasih ya Dik," ucap Fazila pada adik kelasnya itu.
"Sama-sama Kak, kalau begitu saya pamit."
"Ya."
Setelah santri tadi pergi, Fazila langsung berlari ke posko pak satpam.
"Waw kado. Memang Kamu ulang tahun?" tanya Anggita dan Fazila menggeleng.
"Buruan buka!" suruh Andin yang sangat penasaran dari isi dalam kotak tersebut.
"Baiklah." Fazila langsung membuka di tempat kado tersebut.
Alangkah kagetnya saat melihat dalam kado tersebut ada tulang tengkorak yang dibubuhi darah segar."
"Aaaah!" Keempat gadis itu langsung berteriak histeris.
Bersambung.
__ADS_1