
Keduanya mendadak kaget mendengar teriakan beberapa orang di sana. Sungguh permintaan yang membuat mereka semakin tidak nyaman. Bagaimana mungkin mereka harus berciuman di depan banyak orang? Berciuman saat mereka berdua saja bisa dibilang tidak pernah. Mendadak wajah Fazila jadi merah mendengar permintaan semua orang. Baginya itu adalah permintaan yang gila mengingat Nyai Fatimah dan Kita Miftah juga ada di sana.
"Cium tangan suamimu," bisik Isyana di telinga Fazila dan gadis itu langsung mengangguk. Wajahnya semakin memerah tatkala menyadari dirinya salah paham dengan permintaan orang-orang walaupun sebenarnya dia tidak salah memahami.
Dengan pelan Fazila menyentuh tangan dokter Davin mencium tangannya suaminya.
"Dia, kan sudah jadi istriku," batin dokter Davin lalu dengan bersemangat dia langsung mencium kening istrinya, turun ke pipi kemudian bibir mereka saling bersentuhan.
Fazila membeku nafas hangat dokter Davin menerpa wajahnya. Hatinya langsung berdetak-detak tidak karuan. Bagi Fazila itu adalah ciuman pertamanya.
Andin dan teman-teman Fazila berteriak heboh seakan melupakan lagi keadaan Kyai Miftah dan Nyai Fatimah yang juga ada di sana.
"Anggita kecilkan suaramu! Jangan berteriak-teriak di depan banyak orang, tak sopan," tegur Nyai Fatimah membuat bukan hanya Anggita saja yang langsung diam, tetapi juga kedua temannya.
Suster Dinda meremas tangan Dimas saat melihat bibir dokter Davin bersentuhan dengan bibir istrinya. Fazila yang dicium dia yang baper.
"Kenapa? Pengen juga?" goda Dimas sambil mengerlingkan matanya.
"Berani berciuman di depanku, jangan salahkan ada batu yang melayang," ancam Tristan.
"Tuh cewekmu digandeng Tris, malah iri dengan orang," protes Dimas lalu membawa suster Dinda menjauh dari Tristan.
"Cih pergi dia," ujar Tristan dengan gelengan kepala.
Sementara Fazila dan dokter Davin menyalami satu persatu anggota keluarganya. Termasuk juga pada Kyai Miftah dan Nyai Fatimah yang selama ini menjadi orang tuanya selama di pesantren.
"Wah keluargamu banyak juga ya Chila," ujar dokter Davin saat menyadari sudah banyak yang ia salami sedari tadi dan belum selesai-selesai juga.
"Mereka bukan keluarga semua, tapi teman-teman papa juga," jelas Fazila.
Dokter Davin mengangguk dan Dengan menggandeng tangan Fazila ia membawa istrinya menuju pelaminan melewati meja-meja prasmanan yang tertata rapi di kanan dan kiri mereka berjalan.
Beberapa keluarga dan kerabat terdekat langsung naik ke atas pelaminan untuk memberikan selamat sekaligus berfoto-foto.
"Kakek apa kabar? Sudah lama ya kita tidak bertemu," sapa Fazila saat menyadari Atmaja dan keluarga mamanya juga ada di sana. Beberapa tahun terakhir pria itu diboyong Lusy dan suami ke Paris.
"Baik Nak, semoga bahagia ya," ucap Atmaja lalu memeluk cucu perempuan satu-satunya karena kedua anak Lusy semuanya laki-laki.
"Sebaiknya kakek tidak ikut aunty Lusy lagi. Tinggal sama kami saja di sini," ujar Fazila dan Atmaja mengangguk karena tidak ingin berlama-lama sebab yang lain sudah mengantri untuk memberikan ucapan selamat.
__ADS_1
"Sehat-sehat ya Kek," ucap Fazila saat Atmaja turun dari pelaminan. Sementara teman-teman Fazila memilih menikmati hidangan prasmanan bersama tamu-tamu yang lain daripada mengucapkan selamat sebab melihat antrian mengular di bawah pelaminan.
"Kita sahabat apaan ya? Bukannya mengucapkan selamat malah menikmati hidangannya lebih dulu," ujar Andin lalu terkekeh.
"Biarkan saja aku sudah sangat lapar," sahut Qiana sambil terus mengunyah makanan di mulutnya.
"Ngapain repot-repot ngantri hanya untuk salaman? Ngantri untuk dapat sembako mendingan karena takut nggak kebagian. Ini malah ngantri buat salaman dan ngucapin selamat. Kan, bisa nanti? Nggak perlu berdesak-desakan guys! Nikmati saja makanan yang ada di sini dulu karena mengantri hanya untuk bersalaman itu juga butuh energi," tambah Anggita.
"Iya deh iya, kita nikmati saja makannya mumpung dapat yang gratis dan banyak pilihan yang enak-enak. Nggak kayak di pesantren yang menunya itu-itu aja," ucap Andin.
"Ekhem-ekhem." Nyai Fatimah pura-pura terbatuk-batuk di belakang mereka.
Ketiganya langsung menoleh dan kaget saat mendapati Nyai Fatimah masih saja mengawasi mereka.
"Kayak penampakan aja nih Nyai, ada dimana-mana," batin Andin yang heran dengan manusia setengah baya itu.
"Nah Nyai Fatimah menghantui terus padahal masih hidup, gimana kalau beliau sudah meninggal nanti," batin Anggita.
"Aduh memalukan," ujar Qiana sambil melirik beberapa lauk yang ia letakkan di piringnya.
"Nyai hanya ingin meminta agar kalian jaga sikap ya! Di manapun kalian berada kalian akan membawa nama pesantren," ucap Nyai Fatimah sebelum akhirnya masuk ke barisan orang-orang yang ingin memberikan ucapan selamat.
"Belum selesai, acara foto-fotonya belum," ucap dokter Davin membuat Fazila mendadak lemas.
"Bisa aku minta pingsan saja nggak sih?"
"Nggak Chila," ucap dokter Davin lalu tertawa kecil.
"Aku benar-benar capek, udah dari pagi-pagi buta harus melakukan perjalanan panjang ditambah dengan acara salam-salaman ini yang semakin membuat pinggangku sakit. Bisa nggak sih habis acara ijab langsung tidur." Celotehan Fazila panjang lebar.
"Maaf ini salahku seharusnya kamu dijemput kemarin saja. Aku lupa bahwa perjalanan dari pesantren ke rumahmu begitu jauh. Hanya karena ingin memberikan surprise jadi harus membuatmu tersiksa," ucap dokter Davin, benar-benar kasihan melihat Fazila.
"Sudah lupakan aku tidak apa-apa," ucap Fazila kala melihat ketiga teman-temannya naik ke atas pelamin.
"Darimana saja kalian semua? Kenapa sedari tadi baru nongol?" cecar Fazila dengan tatapan tajam ke arah mereka bertiga.
"Waduh ada yang lebih galak dari Nyai Fatimah ini," gumam Andin membuat Fazila langsung meledakkan tawanya.
"Memang beliau ngapain saja sama kalian?"
__ADS_1
"Entahlah kami diawasi terus dari tadi. Kayak penjahat saja. Semua yang kami lakukan salah di matanya," lapor Andin.
Namun, gadis itu menghentikan bicaranya kala melihat seorang pria naik ke atas pelaminan.
"Maaf Chila, Abang telat. Tadi macet di perjalanan," ucapnya sambil mengulurkan tangan ke arah Fazila dan dokter Davin.
"Tak apa Bang, terima kasih sudah menyempatkan untuk datang."
Pria itu mengangguk sambil tersenyum manis.
"Selamat berbahagia ya. Semoga Tuhan merestui kalian. Abang mau temui Nathan dulu."
"Terima kasih Bang atas doanya dan silahkan, Bang Nathan ada di sana," tunjuk Fazila pada Nathan yang sedang berbicara dengan beberapa rekan bisnis papanya.
"Oke."
"Wow ganteng banget," ucap Andin dan Anggita sambil terus mengawasi pergerakan Lucas yang turun dari pelaminan. Qiana pun ikut-ikutan memandang tak berkedip.
"Dia sudah ada pasangan belum Chila? Perasaan kamu banyak abangnya," ucap Andin.
"Kayaknya belum deh kalau memang ada mungkin dia tidak akan datang sendiri."
"Wah boleh nih ditaksir," ujar Anggita
"Jangan itu jatahku," ujar Andin.
"Ngalah napa Din," protes Anggita.
"Sudah-sudah apa sih yang kalian perebutkan? Dia itu yang namanya Lucas," jelas Fazila.
"Apa!" Ketiganya langsung kaget dan seperti orang tak bergairah.
"Ya cinta kami layu sebelum berkembang," ucap Qiana lalu menepuk jidatnya sendiri.
Dokter Davin mengerutkan kening lalu mencoba meminta penjelasan dari Fazila melalui kode gerakan matanya.
"Dia non muslim," jawab Fazila yang langsung bisa dipahami oleh dokter Davin kenapa ketiganya langsung lemas dan tidak bersemangat.
Bersambung.
__ADS_1