DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR

DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR
Bab 24. Dokter Davin dan Chila 24


__ADS_3

"Chila! Lihat tuh di luar, ada hantu," ucap Andin saat melihat Fazila sudah melakukan gerakan dan bacaan terakhir shalat yaitu salam.


"Mana ada hantu siang-siang begini?" tanya Fazila lalu duduk bersimpuh dan menadahkan tangan untuk melanjutkan membaca doa.


"Chila aku takut. Ini bukan siang lagi. Ini sudah mau Maghrib, dan kata orang tua dulu di waktu seperti ini para hantu keluar untuk menculik anak kecil," rengek Andin sambil bergelayut di lengan Fazila yang masih terangkat ke depan dada.


"Ya, meskipun aku juga bukan anak kecil sih, tapi kalau dia tidak menemukan anak kecil bisa juga yang dewasa di bawanya."


"Aamiin," ucap Fazila lalu mencium kedua tangannya. Setelahnya dia membalikkan badan.


"Kenapa sih Din, manja amat jadi anak," protes Fazila sambil berusaha melepaskan tangan Andin yang masih kuat memegang lengannya.


"Ada hantu, aku takut Chila." Andin menutup wajah dengan satu tangannya.


"Sudah kubilang tidak akan ada hantu di jam seperti ini. Apalagi ini pondok pesantren."


"Siapa bilang? Kata orang-orang, menjelang Maghrib itu waktunya hantu-hantu bangkit dari dalam kubur," ucap Andin lalu mengusap bulu kuduknya yang merinding seketika.


"Ckk, percaya aja sama dongeng dan mitos," ucap Fazila acuh tak acuh.


"Masalahnya aku sudah melihat dengan mata kepalaku sendiri Chila! Kalau tidak percaya kamu bisa lihat sendiri keluar!" kesal Andin karena Fazila sama sekali tidak mempercayai perkataannya.


"Baiklah aku lihat sendiri. Awas kalau berbohong," ancam Fazila lalu buru-buru membuka mukena dan berjalan ke arah kaca jendela.


Setelah sampai di depan jendela dia langsung duduk dan mengawasi ke luar, sedangkan Andin tidak mau mendekat ke arah Fazila. Dia takut tidak akan bisa tidur setiap malam jika melihat wajah hantu dari dekat.


Fazila nampak terbelalak, sesaat kemudian tersenyum sebab yang Andin lihat ternyata adalah Heni.


"Dasar penakut, tidak bisa membedakan apa antara manusia dan setan," keluh Fazila dalam hati akan sikap Andin.


"Andin sini!" panggil Fazila sambil melambaikan tangan ke arah Andin.


"Nggak aku nggak akan ke situ, aku nggak berani melihat keluar."


"Beneran gak mau lihat keluar? nanti nyesel loh!" goda Fazila.

__ADS_1


"Biarin, seumur hidup pun aku nggak akan nyesel kalau tidak bisa melihat hantu."


"Ini bukan masalah hantu Andin!" kesal Fazila. Itu ada yang lucu." Fazila menahan tawa.


"Nggak, kamu bohong, bukan lucu tapi serem. Sudah Chila jangan ngerjain aku ah, kamu nggak akan tanggung jawab 'kan kalau aku nggak bisa tidur nanti?"


"Yaelah ini anak dibilangin malah ngotot. Entar nyesel loh kalau nggak lihat! Tuh ada Gus Firdaus lewat."


"Beneran? Ah paling bo'ong agar aku mau ke sana!" Andin masih tidak percaya.


"Yasudah biar aku lihat sendiri. Wah ganteng banget memang Gus Firdaus," ucap Fazila, menopang dagu dengan kedua tangannya sambil senyum-senyum sendiri.


"Benar nggak yang Chila ucapkan? Ah mana mungkin Gus masuk ke dalam pondok putri," batin Andin.


"Hahaha ...."


Fazila tertawa renyah membuat Andin jadi penasaran.


"Kenapa Chila tertawa?" Sedikit demi sedikit Andin menggeser tubuhnya hingga dekat dengan tubuh Fazila.


"Hahaha ...." Andin pun ikut tertawa. Menyesal tadi dia tidak mengikuti perintah Fazila.


"Eh tapi Gus Firdaus mana? Kau bohong ya?" tanya Andin setelah tawa mereka reda.


"Tuh!" Fazila menunjuk ke arah seorang pria yang sedang berjalan mendekati Heni.


"Hmmp, hmmp." Heni berusaha berbicara melihat ada seorang pria yang melintas di sana.


"Kasihan dia, siapa yang telah tega melakukan hal itu pada Heni?" gumam Andin melihat Heni mulutnya ditutup dengan kain dan seakan susah untuk dilepaskan sendiri.


Fazila sama sekali tidak merespon ucapan Andin.


Sebisa mungkin Fazila bersikap biasa agar jangan sampai ada yang tahu bahwa yang melakukan hal demikian pada Heni adalah Fazila sendiri meskipun yang bertanya adalah Andin. Hal ini untuk menghindari apabila temannya itu keceplosan berbicara di depan orang lain apalagi di depan ustadzah ataupun Nyai Fatimah.


"Kenapa sih kamu Hen?" protes Gus Firdaus pada Heni. Lalu tangannya sigap melepas tangan Heni yang terikat ke belakang tubuhnya.

__ADS_1


Setelah tangan Heni lepas, gadis itu langsung menarik kain yang menyumpal mulutnya, sedangkan Gus Firdaus mencoba melepaskan kain yang mengikat betis Heni.


"Hah! Hah! Hah!" Heni mencoba menstabilkan nafasnya sehabis melompat-lompat dengan mulut tertutup.


"Awas ya kamu Chila!" seru Heni sambil mengepalkan tangan.


"Kamu tahu keberadaan Chila dimana? Apa dia diculik seperti kamu?"


"Ah tidak Gus, maksud saya yang terjadi pada saya ini akibat ingin menyelamatkan Chila."


"Lah kenapa aku ngomong begitu?" Heni bingung sendiri mendengar kalimat yang diucapkan mulutnya tanpa bisa dikontrol.


"Jadi benar Chila ada yang mau menculik dan kamu mencoba untuk menyelamatkannya? Dimana Chila sekarang?"


"Aku tidak tahu Gus."


"Loh?"


"Sudah ah pergi sana! Nanti kamu bisa dihukum oleh Kyai dan Bu Nyai kalau berkeliaran di pondok Putri."


"Tidak akan, aku sudah mendapatkan izin dari umi dan abi untuk mencari Chila di sekitar tempat ini."


"Hmm, baiklah kalau begitu. Coba kau lihat saja ke kamarnya barangkali dia bukan hilang tapi sengaja menghilang dan bersembunyi."


"Baik yang mana kamarnya?"


"Tuh yang lurus di depanku."


"Baik terima kasih." Gus Firdaus melangkah ke arah kamar Fazila dan teman-temannya.


"Gawat! Gus Firdaus menuju ke sini Din!" Fazila terlihat khawatir sedangkan Andin malah tersenyum senang.


"Kenapa malah takut? Bukannya bagus kalau kita bisa melihat wajah Gus Firdaus dari jarak yang begitu dekat," ucap Andin sambil senyum-senyum sendiri.


"Dasar Andin!"

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2