DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR

DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR
Bab 39. Ikhlas


__ADS_3

"Dokter lihat apa?" tanya Pak Kyai melihat dokter Davin senyum-senyum sendiri ke arah Fazila.


"Oh, tidak Pak Kyai saya hanya senang akhirnya dokter Danisa bisa membuka hati setelah beberapa tahun yang lalu trauma akan kegagalan pernikahannya. Alhamdulillah ya, Pak Kyai."


Kyai Miftah mengangguk.


"Kupikir kamu lihat dia tadi, dia namanya Fazila biasa dipanggil Chila, orang tuanya menitipkan dia di sini. Katanya dia sering berbohong dan keluyuran tanpa izin dulu pas belum mondok, tapi alhamdulillah setelah sekolah di sini sepertinya dia jadi penurut sama orang tua.


Rencananya kami ingin menjodohkan dengan salah satu santri pria di sini yang bernama Izzam dan kedua orang tua Fazila sepertinya setuju karena selain Izzam pandai juga berakhlak mulia.


Jadi Pak Zidane berharap dengan Izzam dijodohkan dengan Chila bisa membimbing Chila ke depannya. Cuma, mereka sama-sama belum siap. Mungkin nanti bisa dijodohkan pas lulus sekolah sebelum melanjutkan ke jenjang perkuliahan."


Wajah dokter Davin pias mendengar penjelasan Kyai Miftah, tanpa ia minta. Dalam hati dia mengatakan pantas saja Isyana, mama dari Chila tidak setuju dengannya karena sudah ada pria lain yang sepadan dengan Fazila.


Dokter Davin bukan tidak tahu yang mana Izzam. Izzam masih muda, seumuran dengan Fazila sedangkan dirinya bahkan lebih tua dibandingkan abang-abang Fazila sendiri. Memantaskan diri untuk Fazila pun rasanya tidak mungkin mengingat gadis itu tidak mau terikat dengannya.


"Danisa? Apa yang menikah itu bukan dokter Davin?" gumam Fazila dengan hati penuh harap. Ia bahkan tidak fokus dengan hal yang dibicarakan kyai Miftah selanjutnya tentang dirinya.


"Dokter sama dokter cocok. Namanya juga hampir mirip sama-sama berawalan D," ujar Kyai Miftah membuat Fazila termenung kembali dan akhirnya memutuskan pergi dari tempat itu dengan berlari. Hatinya sangat perih meski tanpa tersentuh senjata tajam.


"Oh iya Pak Kyai," ujar dokter Davin segera, tak ingin Kyai Miftah tahu bahwa dirinya sempat melamun tadi.


"Kenapa Danisa tidak datang sendiri ke sini?" tanya Kyai Miftah selanjutnya dan dokter Davin menjelaskan bahwa dokter Danisa hari ini masih berada di luar kota. Kemungkinan besok baru akan kembali karena mendengar kabar duka dari pesantren tempatnya dulu mengenyam pendidikan.


"Chila, kamu kenapa?" tanya Anggita melihat Fazila datang dengan berlari kencang tak perduli tubuhnya menabrak santriwati lain. Untung yang ditabrak bukan Heni, kalau tidak, akan panjang urusannya.


"Teman-teman, maafkan temanku Chila ya, sepertinya mood-nya sedang memburuk hari ini," ujar Qiana mewakilkan Fazila yang enggan bersuara.


"Tidak apa-apa Qi, mungkin Chila sedih karena merasa kehilangan akan kepergian Nyai sepuh. Wajar karena Nyai sepuh kan selama ini baik sama kita," ujar seorang santriwati memaklumi.

__ADS_1


Yang lainnya pun mengangguk setuju. Mereka tidak tahu saja bahwa Fazila sudah tidak sempat memikirkan kehilangan salah satu warga di pesantren tempat ia mengenyam pendidikan karena saat ini dia merasakan kehilangan belahan hatinya dan harus merelakan orang yang dia cintai untuk orang lain. Ini lebih sakit ketimbang kehilangan seseorang oleh karena kematian.


"Terima kasih atas pengertiannya," ucap Qiana sambil berlalu masuk dan melangkah ke arah Fazila yang baru menghempaskan tubuhnya di atas kasur dengan kasar.


"Ada apa Chila? Ceritakanlah!" pinta Qiana, barangkali dirinya bisa membantu permasalahan gadis itu. Paling tidak bisa menghibur agar sedikit menghilangkan kesedihan di hati temannya yang satu itu.


Fazila tidak menjawab, dia menelungkupkan kepalanya di atas bantal, hanya suara isakan tangis yang terdengar.


"Kenapa lagi dia?" tanya Anggita lalu duduk di tepi kasur berjajar dengan Qiana dan memandang Fazila dengan perasaan heran.


Qiana mengangkat bahu sambil menggeleng pertanda dia juga tidak mengerti.


"Andin datang dengan menenteng tentengan piring yang berisi nasi lengkap dengan semur daging dan potongan kentang goreng. Dia membagikan pada teman-temannya karena mereka belum makan siang. Qiana mengambil bagiannya begitu pun dengan Anggita.


"Chila ini punyamu," ujar Andin sambil menyodorkan piring ke hadapannya, tetapi Fazila tidak beraksi sama sekali.


Qiana menyenggol bahu Andin dan memberi kode dengan matanya agar Andin tidak memaksa dan menaruh piring di atas nakas saja.


"Ada apa dengan Chila?" Pertanyaan berulang yang belum mendapatkan jawaban karena si empunya masalah masih bungkam.


"Diam aku tidak mau bicara!" bentak Chila.


"Nah itu bicara," ujar Andin bermaksud bergurau. Dia pikir kesedihan Fazila bukan perkara yang serius.


Fazila mengangkat wajah di mana matanya terlihat membengkak karena menangis. Bibirnya mengerucut kesal dengan Andin, tetapi tak ada sepatah katapun yang terucap.


"Daripada nangis mikirin Nyai sepuh yang telah tiada mending kamu temuin dokter Davin sana sebelum pergi! Jangan sampai menyia-nyiakan kesempatan ini dan kau akan menyesal. Katakan kau juga menyukai dia dan tunggu sampai kamu lulus!" titah Andin membuat Fazila semakin terisak kencang.


"Dikasih saran malah nangis." Andin yang bingung malah menggaruk kepalanya. Tak tahu akan berkata apa lagi.

__ADS_1


"Apaan sih kamu Din? Tunggu sampai lulus sampai lulus! Emangnya mau ngapain?!" protes Anggita geram karena Andin tak peka.


"Diam!" sentak Fazila membuat keduanya kaget sedangkan Qiana tampak menahan kekehannya karena kedua temannya mendapat kemarahan dari Fazila. Ingin rasanya Qiana berteriak dan mengatakan 'Syukur, suruh siapa kalian banyak omong!' tetapi dia takut ikut jadi pelampiasan kemarahan Fazila. Untuk itu dia memilih diam sebentar.


"Kalian berisik membuatku semakin sakit kepala!" kesal Fazila.


"Oh, ternyata kamu sakit kepala toh, yasudah aku mintakan obat pada dokter Davin," ujar Andin dan langsung mendapatkan serangan beberapa bantal terbang dari Fazila karena Andin terlihat sangat menyebalkan.


"Hentikan Chila! Kau bisa mengenai piring-piring ini! Aku bisa dihukum oleh Nyai nanti karena dianggap gagal dalam menjalankan tugas," ujar Andin sambil menghalangi wajahnya dari lemparan bantal lalu bergegas pergi dengan langkah setengah berlari.


"Dasar Andin yang dikhawatirkan piring-piring berisi makanan, tetapi yang dilindungi malah mukanya sendiri." Anggita cekikikan lalu segera menutup mulut melihat kilatan amarah di mata Fazila. Perlahan tapi pasti, Anggita bergeser ke belakang lalu kabur menyusul Andin.


"Chila, kalau ada masalah ngomong sama kita-kita. Barangkali kita bisa membantu, kami akan membantu sebisa mungkin," ujar Qiana dengan suara lembut.


Fazila memandang datar wajah Qiana lalu menggeleng.


Qiana menghela nafas panjang.


"Yasudah, kalau kamu tidak ingin bercerita, tidak apa-apa. Aku akan pergi sebentar agar kamu bisa puas menangis sendirian. Setelah kamu siap berbagi maka panggillah aku! Aku siap menjadi teman curhatmu, tapi kalau kamu tidak percaya maka aku pun tidak akan memaksa. Mengadulah pada Allah tentang kesedihanmu dan minta yang terbaik untukmu hanya padanya. Tak baik berlarut-larut dalam kesedihan karena itu akan membuatmu mengabaikan kebaikan yang Allah karuniakan untukmu."


Setelah mengatakan kalimat panjang lebar itu Qiana meninggalkan Fazila sendirian. Memberikan ruang untuk Fazila menumpahkan segala kesedihan lewat air mata agar sesak yang menghimpit dada luruh bersama tetesan bening di kelopak mata.


Fazila mengangguk lemah lalu memejamkan mata. Di dalam hati terucap kalimat istighfar beberapa kali. Lalu dia meminta pada Tuhan agar diberikan kelapangan dada dan keikhlasan menerima segala takdir yang sudah tertulis di lauful Mahfudz.


"Ya Allah jika dokter Davin adalah jodohku maka kembalikanlah padaku dengan jalan yang kau ridhai, tetapi jika tidak, bantulah hamba melepaskan namanya yang tersemat di sini." Fazila mengusap dadanya seiring air mata yang semakin menetes.


Kenapa begitu mudah kata ikhlas itu terucap, tetapi begitu sulit dirasakan?


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2