DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR

DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR
Bab 42. Kecewa


__ADS_3

"Lah mengapa harus bilang begitu sih Bang, berarti Abang tidak yakin mau bantu Chila." Sekali lagi muka anak itu terlihat cemberut mendengar kalimat meragukan dari Tristan.


"Bukan begitu Chila, Abang harus cari tahu dulu tempat tinggal tinggal dokter Davin atau di rumah sakit mana sekarang dia bertugas. Memang kamu tahu dari siapa kalau dokter Davin mau menikah?"


"Dari undangan milik Kyai Miftah beberapa hari yang lalu dokter Davin memberikan langsung pada beliau," jelas Fazila membuat Tristan tepuk jidat dibuatnya.


"Abang suka sekali sih nepuk jidat sendiri, pengen ada hitam-hitamnya ya biar disangka rajin shalat?"


"Ogah, Abang nggak suka kepalsuan. Abang hanya heran sama kamu kenapa nggak samperin dokter Davin dan meralat jawabanmu tempo dulu."


Fazila menggeleng. "Nggak mungkin, Fazila malu," ucapnya dengan suara lirih.


"Gini nih kalau perempuan gengsian, yang ada bakal ngerepotin orang. Engga tahu deh apa maunya," keluh Tristan.


"Maunya dia perjuangin Chila, jangan hanya ditolak sekali malah mencari pelabuhan hati lain," ujarnya sambil menunduk.


"Chila! Chila! Laki-laki itu memang seperti itu. Kalau gadis yang dia lamar tidak mau masa masih harus memaksakan kehendaknya? Kamu pikir di dunia ini hanya ada satu wanita saja? Move on lebih baik biar hidup tenang. Lagipula dokter Davin pasti merasa terhina ditolak di depan banyak orang. Dia dokter, dan sudah dewasa, pasti banyak yang mau sama dia, masa ia harus menunggu kamu yang nggak mau ditunggu?"


Untuk saat ini Fazila merasa yang berdiri di hadapannya bukan Tristan melainkan Nathan yang selalu banyak memberikan nasehat dan mewanti-wanti sekaligus memberikan penilaian terhadap apa yang sudah Fazila lakukan. Istilah lainnya banyak ceramah.


"Sudah Bang jangan diteruskan! Chila paham kok. Lupakan permohonan Chila tadi! Anggap Chila tidak pernah ngomong. Chila permisi," ujar Fazila kemudian berdiri dari duduknya dan berlari ke arah kamar.


"Chila!"


Teriakan Tristan tidak digubris lagi oleh Fazila. Dia sudah kecewa berat dengan abangnya itu.


"Tolong berikan ini pada Chila ya," ujar Tristan sambil menyodorkan bungkusan pada santri yang tidak sengaja melintas di sampingnya.


"Baik Mas," ucap santri itu lalu membawa bungkusan dari Tristan ke dalam kamar yang dihuni Fazila.


"Mana Chila?" tanya Laras tepat saat Tristan hendak duduk kembali.

__ADS_1


"Ngambek Oma, lebih baik kita pulang saja dan bicarakan di rumah, tapi kalau Oma mau bertemu bolehlah samperin saja ke kamarnya dulu."


"Oke sebentar." Laras meninggalkan Tristan yang terlihat bingung dengan keadaan. Untuk kali ini dia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.


Beberapa saat kemudian Laras kembali ke samping Tristan.


"Bagaimana Oma?"


"Dia tidak bicara apa-apa, dia hanya mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja di pondok," jelas Laras sebelum akhirnya mereka berdua pamit pada Bu Nyai dan Pak Kyai.


"Ah entahlah Oma, Chila begitu labil, kadang Tris tidak tahu harus bicara apa sama dia. Sedari tadi emosinya naik turun."


"Biasalah Tris dia kan masih ABG, kata teman-temannya tadi dia juga lagi PMS. Jadi, wajar kalau emosian."


Tristan mengangguk-anggukkan kepala lalu pikirannya melanglang buana ke saat-saat Dilvara datang sambil marah-marah. Sekarang Tristan pikir saat itu Dilvara memang sedang menstruasi juga.


Fazila sendiri sampai di kamar langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Namun, ia sama sekali tidak menangis, pikirannya malah melantur kemana-mana.


"Aneh," gumam Andin melihat Fazila yang tadinya cemberut penuh kilatan amarah sekarang malah senyum-senyum sendiri.


"Dia tidak kesambet jin bunglon kan?" Andin menyenggol bahu Qiana.


"Mana ada jin itu," protes Qiana mendengar Andin bicara seenaknya tanpa riset.


"Adalah, buktinya mood Chila berubah-ubah," ucapnya dengan setengah berbisik.


"Dahlah biarkan saja," ujar Qiana tak ingin Fazila kembali bersedih.


Melihat Fazila tersenyum Qiana mengambil kesimpulan bahwa itu adalah tanda suasana hati temannya yang mulai membaik.


"Hei kalian enak-enakan di sini! Tuh pelajaran akidah akhlak akan dimulai. Ustadz bisa murka nanti kalau sebagian besar santrinya tidak ada di dalam kelas," jelas Anggita dengan suara menggebu-gebu dan dengan nafas ngos-ngosan karena berlari. Pelajaran Akidah Akhlak adalah pelajaran terakhir hari ini.

__ADS_1


"Katanya ustadz Kifli tidak mau mengajar hari ini? Jadi selesai pelajaran Bahasa Arab kami langsung out," ujar Qiana.


"Nggak percaya ya udah, yang penting aku udah memberi tahu takutnya kalian protes. Tadi saya lihat ustadz Kifli keluar dari kantor dengan setumpuk buku di tangan," ujar Anggita lalu berlari lagi. Andin dan Qiana ikut berlari, menyusul di belakang mereka.


"Aku juga harus kembali ke sekolah," gumam Fazila.


Tak seperti teman-temannya yang berlari cepat, Fazila malah santai-santai saja sebab jika ada tamu sudah tentu dirinya mendapatkan izin untuk bisa tidak ikut pelajaran hari itu dengan catatan harus menyusul.


Fazila kembali ke sekolah saja tujuannya bukan bersemangat untuk mengikuti pelajaran, tetapi karena semangat bertemu Izzam. Ada misi yang ingin ia sampaikan pada anak itu. Semoga saja Izzam bisa membantu.


Di sepanjang pelajaran Fazila menatap ke arah ustadz, tetapi pikirannya tidak fokus. Ilmu yang diserap lewat telinga kiri langsung keluar dari telinga kanan. Mungkin inilah yang namanya ilmu tidak berkah.


"Izzam! Izzam!" bisik Fazila saat ustadz Kifli menyudahi pelajaran.


"Ada apa?" tanya Izzam dengan gerakan mulutnya.


Buru-buru Fazila menulis sesuatu pada kertas lalu melemparkan pada Izzam.


"Cie-cie ada skandal apa nih ye?" goda teman-temannya.


"Nggak ada skandal, emang kalian pikir kami apaan? Aku hanya ada bisnis sedikit dengan Izzam, titik!" tegas Fazila.


"Alah bisnis apaan mah kalau di sini, bisnis hati?" kelakar teman-temannya lagi membuat pipi Izzam memerah sebab dia memang diam-diam menyukai Fazila. Berbeda dengan Fazila sendiri yang menganggap anak itu hanyalah teman sama seperti yang lain. Namun, Fazila akui Izzam memang berbeda. Selain punya kepandaian di atas rata-rata, dari semua teman sekelasnya, selain Angita, Andin dan Qiana, Izzam yang paling baik padanya.


"Aku harus mencari undangan pernikahan di tempat Pak Kyai," gumam Izzam setelah membaca coretan kertas dari Fazila lalu menatap Fazila yang tersenyum padanya sambil mengangguk.


"Baiklah," ujar anak itu, meskipun terasa berat, dia tidak mungkin menolak permintaan Fazila. Toh Izzam bisa dikatakan bisa bebas keluar masuk di tempat Pak Kyai. Hanya meminjam undangan pasti Kyai Miftah tidak akan keberatan.


"Besok aku tunggu! Jangan lupa nama mempelai pria dan wanitanya yang berawalan D!" teriak Fazila memperingatkan dan teman-teman yang mendengar suara Fazila hanya terbengong-bengong.


Apa istimewanya undangan pernikahan seperti itu?

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2