
"Yuk balik ke sekolah!" Andin menarik pergelangan tangan Fazila.
"Oke ayo!" Ketiganya pun bergegas menuju sekolah.
"Ngantin dulu yuk kayaknya masih lama nih jam istirahatnya."
"Boleh, aku mau nyeblak dulu," tukas Fazila.
"Aku beli gorengan dulu, tahu mercon biar tambah semangat dan melek nanti pas ngerjain tugas," ucap Andin.
"Yasudah yuk buruan, takutnya antri," ujar Qiana mendahului langkah ketiga sahabatnya.
"Izzam kok melamun terus sih?" ujar Fazila sambil duduk di bangku yang bersebelahan dengan pria itu duduk.
"Ah nggak, cuma lihat anak-anak main bulu tangkis tuh di depan," kilah Izzam sambil menunjuk beberapa santri yang memainkan raket beserta kock-nya.
"Mau ini? Kalau mau bisa minta sama mbak Tina biar aku nanti yang bayar," ucap Fazila sambil menunjukkan seblak dalam mangkuk yang dipegangnya.
"Nggak, makasih, aku sudah kenyang," ujar Izzam sambil menyeruput jus alpukat dalam gelas hingga tandas.
"Aku duluan ya," ucapnya seraya bangkit dari duduknya dan melangkah keluar kantin.
"Oke," jawab Fazila sambil mengangguk-angguk meskipun pria di sampingnya telah pergi.
Anggita dan Andin datang dengan pesanan mereka masing-masing dan duduk di samping Fazila.
"Kenapa dia? Aneh banget hari ini."
"Entahlah," jawab Fazila sambil mengangkat kedua bahunya lalu fokus menyeruput seblak dalam mangkok.
"Astaga barbar sekali makannya," protes Anggita lalu mengambilkan sendok untuk Fazila.
"Nih pakai ini aja, kalau pakai garpu emang kuahnya nggak ikut," kata Andin dan langsung menaruh garpu di tangan ke dalam mangkok Fazila.
"Makasih."
"Sama-sama, Chila."
"Ya ampun kau makan tahu mercon sampai bibirnya dower," ujar Qiana lalu menertawakan Andin.
"Biarin saja yang penting aku suka, pedasnya nampol," ucap Andin seraya menunjukan jari jempolnya.
"Terserah kamu deh Din," ujar Anggita acuh tak acuh sambil menyantap sosis goreng du tangan.
Bel tanda masuk kelas berbunyi, mereka bertiga bergegas menghabiskan makanan masing-masing lalu berhamburan masuk ke dalam kelas. Seorang ustadzah masuk ke dalam dan menyebarkan kertas ujian Matematika setelah mengucapkan salam.
Tidak menunggu lama, semua santri pun fokus dengan kertas ujian masing-masing. Jam 11 siang mereka diminta mengumpulkan lembar jawaban masing-masing berdasarkan deretan bangku ke meja ustadzah.
"Karena masih ada waktu, tolong koreksi langsung ya!" Ustadzah tersebut langsung memberikan lembar ujian tersebut secara menyilang agar untuk menghindari kecurangan karena ada kemungkinan dikoreksi sendiri.
"Tolong yang amanah ya, jangan curang! Yang kedapatan main curang nanti ustadzah potong nilainya."
"Baik ustadzah!" seru semua santri serempak.
Ustadzah dan para santri dalam kelas tersebut pun melakukan koreksi bersama.
"Sebelum dikumpulkan Ustadzah ingin tahu adakah yang dapat nilai 100? Tolong angkat tangan!"
"Ustadzah!" Rofik mengacungkan jari tangannya.
"Punya siapa?"
"Aurora Belle Fazila Alberto!" seru Rofik dengan antusias padahal bukan nilainya sendiri.
"Wow!" Beberapa santri tampak terkagum-kagum sebab selama ini ujian Matematika Fazila selalu payah, paling tinggi hanya 75 saja.
Santri yang lainnnya memberikan tepuk tangan yang meriah untuk Fazila.
"Biasa aja kali, mentang-mentang aku nggak pandai, disoraki," protes Fazila lalu menunduk sambil tersenyum sendiri.
"Jangan tersinggung Chila, itu adalah apresiasi kami pada santri yang keren pokoknya," ujar seorang santriwati.
"Alah biasa aja kali teman-teman, baru juga dapat nilai 100 di satu pelajaran aja. Bisa saja esok di pelajaran lainnya malah remedi," ujar Heni tak suka.
"Ih sirik Lo, iri tanda tak mampu," balas Andin sambil memalingkan muka.
"Masyaalah, bagus perkembangannya Chila, terus tingkatkan!" ujar ustadzah.
"Ada lagi?"
"Saya ustadzah!" seru seorang santriwati sambil mengangkat tangan.
__ADS_1
"Punyamu sendiri atau–"
"Bukan ustadzah, tapi punya Qiana Naraya Siddiqah," ujar santri tersebut.
"Oh." Ustadzah menunjukan jari jempolnya.
"Pertahankan terus!"
"Terima kasih ustadzah, insyaallah. Teman-teman mana tepuk tangannya?" ujar Qiana merasa aneh karena saat namanya disebut malah sepi tidak seperti pada saat nama Fazila yang disebut.
"Sudah biasa," jawab beberapa santri membuat Qiana langsung menepuk jidat.
"Ada lagi?" tanya ustadzah kembali.
"Tidak ada ustadzah!"
"Loh, tidak ada?"
"Ya."
"Izzam ... Izzam dapat berapa? Biasa saingan sama Qiana."
"Punya Izzam dapat 50 ustadzah," ujar seorang santriwati yang kebetulan menegang kertas ujian Izzam.
Sontak semua santri tercengang mendengarnya termasuk ustadzah sendiri.
"Coba bawa sini!" perintah ustadzah seolah tidak percaya, takut-takut santriwati tersebut salah dalam mengoreksi.
"Baik Ustadzah." Gadis itu pun maju ke depan dan memberikan kertas di tangannya.
"Ustadzah bisa memeriksa sendiri barangkali saya yang salah," ucapnya sebelum menyerahkan lembaran tersebut dan melangkah ke bangkunya kembali.
"Ya terima kasih," sahut ustadzah dengan wajah yang menunduk dan serius mengoreksi.
"Dia benar," gumam wanita setengah baya tersebut.
"Ternyata tidak ada yang salah dengan koreksian Norma, Izzam ada masalah denganmu?" tanya ustadzah itu kemudian.
"Hmm, ti–dak Ustadzah," sahut Izzam dengan suara gugup sambil menunduk.
"Hah, baiklah. Kalau begitu Persiapkan dirimu untuk mengikuti ujian remedial minggu depan!"
"Baik Ustadzah."
"Baik Ustadzah."
Mereka semua pun maju ke depan dan menumpuk kertas tersebut menjadi satu di atas meja guru atau ustadzah.
Setelahnya ustadzah mengabsen satu persatu santri yang harus mengikuti ulangan remedi bersama Izzam ninggu depan.
"Untuk yang saya tidak sebutkan namanya tadi berarti nilainya aman, di atas 65. Oke kalau begitu siap-siap untuk pulang ke asrama masing-masing!"
"Baik Ustadzah!" seru mereka serempak lalu memasukkan peralatan menulis ke dalam tas masing-masing.
"Sekarang kalian boleh pulang, assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," ucap ustadzah dan,
"Wa'alaikumasalam warahmatullahi wabarakatuh!" jawab semua penghuni kelas dan satu persatu berhamburan keluar kelas.
"Heh, sok-sokan bilang orang iri dan sirik, nggak tahunya dirinya sendiri yang remedi," ujar Heni menyindir Andin yang berdiri di pintu ruang kelas, menunggu Fazila yang baru keluar dari dalam kelas dengan langkah yang santai.
"Kamu ya, bisa nggak, nggak usah ikut campur urusan orang!" Andin yang geregetan hendak mencakar Heni kalau tidak langsung tangannya dihentikan oleh Fazila.
"Jangan dengar bisikan setan agar kita tidak tersesat," ujar Fazila, menggandeng tangan Andin dan membawanya segera pergi dari sana.
"Apa! Sial kau Chila, kau samakan aku dengan setan," geram Heni.
"Mau kemana lagi?" tanya Anggita saat Fazila meraih paper bag di atas tempat tidur dan membawanya keluar.
"Mau nganterin ini untuk Nyai Fatimah, ini titipan dan amanah dari mama agar disampaikan pada belum setelah mama pergi," jelas Fazila.
"Oh, tak kirain buat kami," goda Anggita lalu terkekeh.
"Tenang untuk kalian juga ada kok, Mama tak lupa, tapi kalau nggak cocok ukurannya kalian bisa kecilin sendiri ya, ke tukang jahit."
Mendengar perkataan Fazila tentu saja mereka bertiga paham apa isi dalam paper bag tersebut.
"Insyaallah pasti muat, tante Isyana kan sudah tahu ukuran kami. Apakah yang itu?" tanya Andin sambil menunjuk paper bag yang satunya di atas tempat tidur dan Fazila hanya menjawab dengan anggukan.
"Sontak keduanya pun sambil berebutan paper bag tersebut sementara Qiana sedang fokus memotong-motong kue sebelum diberikan pada teman-temannya sekitar kamar.
"Aku pergi dulu," ujar Fazila kemudian berlalu pergi.
__ADS_1
"Iya," jawab Qiana sementara 2 sahabatnya yang lain sedang berebutan gamis yang mereka keluarkan dari dalam paper bag.
"Ya kenapa ukurannya nggak muat sih padahal ini yang paling bagus modelnya." Sepertinya Andin harus menelan kekecewaan saat gamis yang ia coba kekecilan.
"Ya jangan salahkan bajunya toh, tapi salahkan dirimu yang doyan makan. Tinggal di pesantren bukan belajar ngurangin makan, eh, malah tambah porsi di kantin karena merasa porsi dari dapur pesantren sedikit."
"Iyalah Anggit, jatah makan dari pesantren tuh hanya sampai leher doang kalau bagi aku, nggak bakal masuk perut kalau nggak disodok sama makanan kantin," ujar Andin membuat Qiana yang duduk di lantai hanya bisa menggeleng mendengar perkataan Andin.
"Hmm, emang dasar dirimu!" ujar Anggita lalu meraih baju di tangan Andin dan gantian mencobanya.
"Aduh kok nggak muat juga ya?" keluh Anggita. Andi langsung tertawa.
"Makanya jangan ngatain orang kalau dirinya sendiri nggak jauh berbeda. Ngatain orang lain gemukan, nggak tahunya dirinya sendiri gendut," ujar Andin sambil tertawa guling-guling di atas kasur.
"Sepertinya gamis ini memang diperuntukkan untuk Qiana deh oleh tante Isyana."
Andin pun menghentikan aksi tawanya dan mengangguk setuju. "Sepertinya iya," ucapnya setuju.
"Menang kamu Qi, nggak pakai rebutan dapat yang bagus," lanjutnya.
Qiana mengentikan aktivitasnya memotong kue lalu menatap kedua sahabatnya.
"Aku mah terserah mau dikasih yang mana saja. Toh itu gratis," ucap Qiana santai lalu melanjutkan kembali pekerjaannya.
"Benar juga sih," kata keduanya serentak lalu mencoba gamis yang lainnya.
Di tempat lain Fazila sudah hampir sampai di kediaman Nyai Fatimah dan Kyai Miftah. Baru hendak mengucapkan salam gadis itu tahan saat melihat Rofiq dan Izzam tampak mengobrol serius tanpa melihat keberadaan Fazila.
"Gimana bisa kalah sama Chila sih?" protes Rofik pada Izzam.
"Itu sudah takdir," jawab Izzam sekenanya padahal dia sudah belajar lebih sebelumnya, sayangnya hanya karena tidak bisa fokus jadi totalan dalam soal sering salah.
"Takdir-takdir! Ya, semua orang juga bakal tahu kalau sesuatu yang sudah terjadi itu adalah takdir. Aku hanya butuh alasan!" desak Rofik. Pria itu tak terima masa dirinya tidak remedial sementara Izzam yang jelas-jelas jauh lebih pandai darinya malah harus mengulang. Kalau bukan karena santri langsung yang mengoreksi nungguin Rofik bisa curiga bahwa ustadzah curang dan tak adil untuk Izzam.
"Biasanya nilaimu di atas Chila," ungkit Rofik lagi.
"Ya mungkin hari ini dia bersemangat karena sudah bertunangan dengan dokter itu sementara aku sendiri lemas dengan kabar tersebut," jawab Izzam dengan suara lirih namun tentu saja masih didengar oleh telinga Fazila
"Apa! Kau serius Izzam?" tanya Rofik tak percaya.
"Apa aku pernah tidak serius Rofiq, kau tahu hari ini aku benar-benar patah hati."
Deg.
Perasaan Fazila mendadak tidak enak. Dalam hati menebak-nebak apakah perkataan dokter Davin waktu itu benar bahwa Izzam naksir dirinya.
"Sudah berapa kali aku katakan, kau tembak saja Chila dan ajak jadi pacar kamu, tapi kamu malah nggak mau. Jadinya seperti ini, kan? Udah keduluan orang lain dan kamu malah menyesal." Rofik terlihat geram. Dalam hati mengumpat Izzam.
"Makanya jadi cowok tuh jangan sok suci." Tentu saja hanya bisa mengucapkan kalimat ini dalam hati. Mana berani Rofik mengatakan langsung pada Izzam.
"Mana boleh Rofik? Memang di agama kita diperbolehkan pacaran? Nggak, kan? Aku sudah dari dulu naksir dia tapi sepertinya dia nggak mau dengan perjodohan dini. Aku ingin menunggu, eh tahu-menahu begitu."
"Ya nggak sih tapi daripada galau sendiri seperti sekarang."
"Ah sudahlah, sebentar lagi masuk adzan dhuhur, aku mau bersiap-siap untuk adzan." Izzam bangkit dari duduknya dan pergi tanpa menoleh ke belakang disusul Rofik di belakangnya.
"Jadi benar dia menyukai aku? Maaf Izzam, aku tidak bisa menerima perasaanmu karena hatiku sudah terikat dengan hati orang lain. Padahal menurutku kau adalah pria yang sempurna, tapi selama ini tak pernah bisa ada rasa lebih untukmu," batin Fazila dan tubuhnya terpaku di tempat.
"Assalamualaikum Chila. Kenapa berdiri di situ?" tegur Nyai Fatimah yang melihat Fazila diam mematung.
Fazila langsung kaget dan tersadar dari lamunannya.
"Eh Nyai, wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Saya hanya ingin memberikan titipan dari mama, tadi ketinggalan di kamar," ujar Fazila sambil memberikan paper bag ke hadapan Nyai Fatimah.
"Wah terima kasih ya, Chila." Nyai Fatimah mengulurkan tangannya untuk meraih benda yang Fazila sodorkan.
"Sama-sama Nyai."
"Yasudah sekarang kamu bersiap-siap sebentar lagi kita shalat dhuhur berjamaah."
"Baik Nyai, kalau begitu saya permisi kembali ke kamar dulu."
"Silahkan, jangan sampai telat ya?"
"Insyaallah Nyai. Assalamualaikum!"
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."
Fazila pun berbalik dan melangkah menuju kamar dengan perasan yang berkecamuk, tidak enak pada Izzam. Andai saja dia boleh memilih, gadis itu tidak ingin mendengar pembicaraan kedua teman sekelasnya tadi agar tidak merasa bersalah pada Izzam sebab gara-gara dirinya yang sering meminta tolong, Izzam jadi baper padanya.
Bersambung.
__ADS_1