
Semenjak tahu bahwa yang mengaku Lukas sebenarnya adalah dokter Davin, Fazila tidak mau lagi menerima pemberian pria itu, bahkan gadis itu berpesan pada penjaga agar dia menolak pemberian dokter Davin untuknya.
Untuk jangka waktu yang lama mereka tidak bertemu lagi.
Dokter Davin tidak tahu harus berbuat apa sebab Fazila berada di dalam lingkungan pesantren dimana ingin bertemu saja rasanya sulit jika dia tidak bersama keluarga Fazila sendiri, sedangkan mereka semua malah merahasiakan keberadaan gadis itu.
"Entah apa salahku pada mereka," ujar dokter Davin.
Pria itu sampai saat ini tidak tahu alasan apa yang membuat mereka membatasi Fazila bahkan menyuruh agar menghindar darinya. Namun, bagaimanapun dokter Davin masih bisa tenang karena dia tahu keberadaan Fazila sekarang.
Hingga suatu hari Laras dan Tristan datang untuk menjemput Fazila karena keluarga besar merasa sangat rindu dengan Fazila dan kebetulan saat itu juga Chexil habis melahirkan, namun belum sadarkan diri juga.
"Wah, Bang Tris sepertinya Chila harus beli kado nih buat keponakan kita sebelum menemui Kak Chexil."
Fazila begitu antusias tatkala mereka sudah ada di luar pesantren dan duduk di dalam mobil. Sengaja Laras dan Tristan tidak memberitahu Fazila tentang keadaan Chexil agar gadis itu tidak bersedih.
"Oke, kita berhenti di toko perlengkapan bayi dekat rumah sakit saja. Mau pulang ke rumah dulu, apa mau langsung ke rumah sakit?"
"Langsung aja Bang, boleh, kan Oma?"
Laras mengangguk, dia juga tidak sabar ingin melihat cicitnya lagi sebelum dibawa pulang ke rumah, pun dengan keadaan cucu menantunya.
"Oke, lets go!" ucap Tristan begitu antusias menyetir mobil.
Seperti yang mereka rencanakan, mobil Tristan berhenti terlebih dahulu di sebuah toko yang menjual aksesoris dan pernak-pernik perlengkapan bayi. Fazila dengan riang menjelajah di setiap sudut toko sambil bersholawat dengan nada suara yang hampir tak terdengar.
Gadis itu memilah-milah baju bayi yang begitu lucu.
__ADS_1
"Bang Tris! Anak Bang Nath cewek apa cowok?" seru Fazila pada Tristan yang sedang asyik melihat-lihat aksesoris gelang yang sengaja ingin ia beli untuk tunangannya.
"Cowok!" seru Tristan tanpa menoleh ke arah Fazila. Matanya masih fokus dengan aksesoris di tangan.
"Hmm, sayang, padahal ini imut-imut." Fazila meletakkan kembali baju bayi perempuan yang lengkap dengan bandonya. Fazila lalu meraih sleepsuit berwarna orange dan memeriksanya.
"Ini lebih cocok untuk bayi laki-laki dan mudah jika nanti mau ganti popok. Kalau yang itu agak sulit karena tidak ada bukaannya di bawah," ucap seseorang sambil menyodorkan jumpsuit berwarna navy ke hadapan Fazila.
Fazila termangu mengenali suara pria itu. Beberapa detik kemudian gadis itu berusaha mendongak meskipun terlihat gugup.
"Kau–" Fazila tidak meneruskan ucapannya tatkala melihat pria dengan keranjang berisi perlengkapan bayi di tangan tersenyum padanya.
"Buat apa dia beli perlengkapan bayi juga?" Gadis itu bertanya-tanya dalam hati.
Fazila meletakkan kembali Sleepsuit di tangan pada tempatnya, ia lalu bersiap untuk pergi.
Ya, pria itu adalah dokter Davin yang tidak sengaja bertemu dengan Fazila karena berbelanja barang yang sama. Ketika mendengar Chexil melahirkan, dokter Davin menyempatkan diri untuk membawa hadiah sebelum menjenguk. Tak disangka, di tempat itu ia bertemu dengan gadis pujaannya.
"Lepaskan! Kita bukan muhrim, jangan sentuh aku!" Fazila berusaha melepaskan tangan dokter Davin yang memegang pergelangan tangannya.
"Tenang saja, ada batas pakaian. Aku tidak menyentuhmu langsung, kan?" Dokter Davin tak ingin Fazila kabur lagi dari hadapannya.
"Dokter, tolong jangan ganggu aku lagi! Aku sudah tidak ada urusan denganmu lagi. Bukankah aku sudah tidak mengganggumu?"
"Justru aku ingin kau ganggu aku lagi seperti dulu," ucap dokter Davin dengan wajah yang begitu serius.
Fazila terbelalak, hatinya sejenak menghangat. Apakah itu tandanya dokter Davin merindukan hari-hari bersama dirinya dahulu? Ah, tidak, dia tidak ingin berpikiran begitu jauh. Bagaimana pun dokter Davin pernah ada niat untuk menghancurkan dirinya karena selalu menganggu hari-harinya.
__ADS_1
"Chila, katakan padaku apa yang membuatmu dan keluarga seolah membenci diriku?" Dokter Davin menatap mata Fazila lekat-lekat dan Fazila langsung memalingkan muka.
"Chila, sudah apa belum?" tanya Tristan sambil berjalan ke arah kasir tanpa melihat sang adik bersama siapa saat ini.
"Pikir saja sendiri!" ketus Fazila sedikit kesal karena dokter Davin seolah merasa tidak bersalah setelah apa yang ia lakukan.
"Aku sudah berpikir, tapi tetap tidak menemukan jawabannya."
Jawaban dokter Davin hanya bisa membuat Fazila menggeleng.
"Apa dokter sekarang sudah menjadi orang bodoh?" cibir Fazila dan jawaban dokter Davin tak terduga.
"Ya, aku memang bodoh."
Fazila mengerutkan kening. Sikap dokter Davin membuat dirinya merasa pria itu berbeda dengan yang dulu.
"Kau yang membuatku bodoh," lanjut dokter Davin membuat Fazila terbelalak untuk yang kesekian kali.
"Aku tidak mengerti, lepas! Aku ingin pergi! Aku tidak ada urusan denganmu lagi." Fazila menggoyang-goyangkan tangannya agar bisa terlepas dari pegangan pria di hadapannya.
"Siapa bilang kau tidak ada urusan denganku? Enak saja setelah menghilang dan mengacaukan hatiku kau bilang tidak ada urusan denganku?" Dokter Davin terlihat tersenyum sedangkan Fazila tampak meringis.
"Bang Tr–!"
Dokter Davin langsung menutup mulut Fazila dengan tangannya tatkala paham gadis itu akan berteriak meminta tolong pada Tristan.
"Diam atau aku peluk!" ancam dokter Davin membuat Fazila langsung melotot.
__ADS_1
Bersambung.