DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR

DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR
Bab 72. Botulinum Toxin


__ADS_3

"Halo dokter Davin!"


"Ya Bang, ada apa dengan Chila?" Terdengar suara bernada khawatir dari dokter Davin di seberang sana.


"Nggak ada apa-apa, dia baik-baik saja kok, hanya saja katanya dia–"


Belum selesai Tristan menyelesaikan kalimatnya ia mendapatkan tatapan tidak nyaman dari Fazila.


"Kenapa?"


"Lupakan Dokter, tidak penting juga, tapi aku ada hal penting yang harus ditanyakan pada dokter. Bisakah kemari sebentar?"


"Bisa, kebetulan saya lagi otw ke sana."


"Oh gitu ya? Bagus kalau begitu."


"Iya Bang, sudah dulu ya, soalnya aku lagi nyetir motor ini. Sampai ketemu di rumah sakit."


"Oke siap."


Panggilan telepon berakhir.


"Bagaimana Bang?" tanya Fazila setelah Tristan menutup panggilan telepon.


"Dia sudah dalam perjalanan."


"Sip," ucap Fazila sambil menunjukkannya jari jempolnya dengan senyuman manis dan Tristan hanya menghela nafas panjang.


Beberapa menit kemudian di dalam ruangan terlihat sepi karena baik Fazila maupun Tristan tidak ada yang bicara. Mereka fokus dengan pikiran masing-masing.


Fazila terlihat senyum-senyum sendiri mengingat perjalanan hidupnya dan sebentar lagi akan bertunangan dengan sang pujaan hati sedangkan Tristan tampak khawatir mengingat kejadian tadi siang. Untung saja ia segera kembali ke kamar rawat sang adik, kalau tidak, dia tidak tahu apa yang akan terjadi dengan Fazila hari ini.


"Obat apa ini? Benarkah ini obat tambahan yang disarankan dokter? Kalau ia berarti Tris sudah menghalangi penyembuhan untuk Fazila. Tapi tidak, kalau memang ini obat atas rekomendasi dokter kenapa wanita itu kabur, bukannya datang kembali bersama dokter? Dan kenapa pula warnanya seperti darah? Atau benar wanita itu ingin mencelakai Chila, tapi atas dasar apa?" Banyak berpikir membuat kepala Tristan berdenyut sakit.


"Lebih baik aku rebahan dulu," gumamnya lalu membaringkan diri di atas sofa yang ada dalam ruangan itu.


"Abang kenapa sih?" tanya Fazila yang melihat Tristan tiduran dengan gelisah.


"Nggak apa-apa Chila. Oh ya, Abang boleh menanyakan sesuatu?" tanyanya dengan hati-hati.


"Tanyakan saja Bang! Mau tanya aja pakai minta izin segala."


Tristan mengangguk.


"Kamu punya musuh nggak Chila?" tanya Tristan dengan wajah yang terlihat begitu serius.


"Kenapa bertanya seperti itu, Bang?"


Fazila tak pernah melihat Tristan seserius sekarang. Jadi melihat ekspresi Tristan saat ini ia merasa takut.


"Nggak, cuma tanya aja. Kalau orang bertanya itu dijawab bukannya malah balik tanya," protes Tristan.


"Hehe, iya sih Bang, cuma aneh aja sih, Abang tiba-tiba bertanya seperti itu kayak Chila gimana gitu sampai ditanya punya musuh apa nggak." Fazila balik protes.


"Tinggal jawab aja ada apa nggak!" tegas Tristan.


"Nggak ada," sahut Fazila.


"Nggak tahu kalau orang lain yang menganggap Chila musuh, itu lain lagi," jelas Fazila dengan ekspresi cemberut.


"Yasudahlah," jawab Tristan tak ingin bertanya lebih jauh. Bisa saja orang yang ingin berusaha mencelakai sang adik adalah orang yang tidak suka pada keluarganya. Bisa saja lawan bisnis papanya atau rekan kerja yang tidak suka dengan Tristan, hanya pelampiasannya saja pada Fazila.


"Assalamualaikum, selamat malam!" Terdengar suara dokter Davin dari luar pintu.

__ADS_1


"Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh," sahut Tristan dan Fazila bersamaan.


"Masuk Dokter!" perintah Tristan. Dokter Davin langsung membuka pintu. Ia berdiri diambang pintu dengan setangkai bunga mawar merah di tangan. Fazila menyambutnya dengan senyuman tipis.


"Malam dokter!" sapanya masih dengan bibir yang mengulas senyuman.


Dokter Davin melangkah ke dalam, berjalan menuju ranjang Fazila. Matanya tak lepas dari memandang wajah Fazila hingga kakinya hampir tersandung meja.


"Apa kabar?" tanya dokter Davin basa-basi saat dirinya berdiri di depan Fazila.


"Baik," jawab Fazila singkat.


Mereka berdua saling tatap dalam waktu yang lama. Sama-sama merasa canggung sebelum akhirnya terkekeh bersama.


"Ya ampun, mereka kayak nggak pernah ketemu setahun aja," keluh Tristan lalu berdiri.


"Abang keluar dulu!" pamit Tristan, untuk memberikan ruang bagi keduanya agar bebas mengobrol hal pribadi.


"Katanya ada yang mau ditanyakan?" tanya dokter Davin ketika melihat Tristan hendak beranjak keluar.


"Nanti saja deh kalau urusan kalian sudah kelar. Nanti ada yang kangen lagi karena pertemuannya diganggu," ucap Tristan membuat dokter Davin mengerutkan kening sedangkan Fazila langsung menunduk dengan wajah yang mulai memerah.


Fazila Malu jika sampai Tristan mengatakan kalau dirinya yang meminta dokter Davin kembali ke rumah sakit, walaupun sebenarnya dokter Davin sudah berjanji akan kembali malam ini.


"Baiklah," ujar dokter Davin dan mendapatkan anggukan dari Tristan. Pria itu melanjutkan langkahnya.


"Jangan pergi, Bang!" cegah Fazila dan Tristan langsung menghentikan langkah.


"Ada apa lagi, Chila? Kan sudah ada dokter Davin."


"Temani kami, kata Nyai kalau seorang laki-laki dan seorang perempuan berada hanya berdua saja dalam ruangan, ketiganya adalah setan. Chila nggak mau ada setan diantara kami." Sepertinya Fazila melupakan suatu hal bahwa tadi pagi sempat ditinggal hanya berdua saja dengan dokter Davin saat mamanya mencari makan di luar.


Tristan menggaruk kepalanya.


"Jadi menurutmu aku harus jadi obat nyamuk kalian? Yang benar saja Chila!"


"Hmm, baiklah," ucap Tristan pasrah lalu melangkah kembali ke arah sofa dan duduk. Ia mengambil ponsel dan memainkan game di dalamnya untuk mengusir rasa bosan.


"Ini untukmu," ucap dokter Davin sambil menyodorkan setangkai bunga mawar merah ke hadapan Fazila.


"Terima kasih," ucap Fazila. Dengan malu-malu ia mengambil bunga pemberian dokter Davin dan menciumnya.


"Harum," ucapnya cengengesan.


"Sama-sama," ujar dokter Davin lalu duduk di samping Fazila. Fazila beringsut agak menjauh.


"Kenapa? Takut aku menyentuhmu?" tanya dokter Davin dan Tristan hanya melirik keduanya yang terlihat kaku dibandingkan sebelumnya.


"Bukan muhrim ya!" goda dokter Davin, tetapi dari suaranya pria itu jelas terlihat gugup.


"Mau aku halalin secepatnya?" Dokter Davin terus menggoda Fazila untuk menghilangkan nervous yang melanda.


Tristan tepuk jidat melihat tingkah keduanya seperti orang yang baru pendekatan, padahal sebelumnya mereka biasa-biasa aja bahkan terlihat akrab.


"Nggak bukan begitu," ucap Fazila lalu memalingkan muka karena tidak mau melihat wajahnya yang merah seperti kepiting rebus. Ia bahkan kini tidak berani menatap wajah dokter Davin padahal tadinya begitu merindukan pria ini walaupun hanya di tinggal sebentar saja.


"Terus apa?"


"Aku takut ada masalah dengan jantungku jika berdetak lebih kencang terus," sahut Fazila lalu menutup wajah dengan kedua tangan.


"Ekhem!" Tristan pura-pura terbatuk.


"Apa sih Bang?" protes Fazila.

__ADS_1


"Gombal," ucap Tristan lalu bangkit dari duduknya dan keluar dari ruangan tersebut, tak perduli Fazila suka atau tidak. Ia geli melihat pemandangan di hadapannya tadi.


Tristan duduk di kursi kayu yang berada di depan ruang rawat Fazila meninggalkan sang adik dan calon tunangannya yang sedang berbicara ringan sambil sesekali tertawa.


"Dasar mereka! Pasti tadi canggung hanya Karena keberadaan ku di sana," gumamnya.


Melihat pasangan romantis di dalam Tristan jadi teringat pada tunangannya sendiri. Ia langsung mengirim chat pada Dilvara. Sayangnya tidak ada balasan meskipun sudah centang biru dua.


"Kenapa lagi sih dia? Apa ngambek lagi sama aku? Ah, kadang aku lelah dengan sikap dia."


"Bang tadi katanya ada yang mau diomongin tadi, tentang apa?" tanya dokter Davin lalu duduk di kursi berdampingan dengan Tristan.


"Sudah mengobrol nya dengan Chila?"


"Sudah, nanti saya ke sana lagi setelah Abang selesai urusannya dengan saya."


"Hmm, baiklah, saya hanya ingin bertanya tentang ini. Ini obat apa?" tanya Tristan sambil mengeluarkan jarum suntikkan yang berisi cairan kental berwarna merah dari dalam plastik.


"Obat?" tanya dokter Davin kaget sambil meraih benda yang disodorkan Tristan.


"Entahlah, ini obat atau apa aku tidak paham. Makanya aku bertanya padamu."


"Dapat dari mana?" tanya dokter Davin sambil matanya fokus menatap cairan di dalam jarum suntik itu.


"Tadi ada seorang suster yang datang ke ruangan ini, dan berusaha memasukkan cairan itu ke dalam labu infus yang tergantung di ranjang Chila," ucap Tristan. Ia menjeda ucapannya untuk mengambil nafas.


"Karena suster itu gerak-geriknya terlihat mencurigakan, aku langsung menghentikan aksinya dengan berteriak, dan dia mengatakan akan memberikan obat tambahan atas perintah dokter. Melihatku yang tidak percaya dia langsung kabur. Sepertinya hanya suster gadungan dan aku menemukan benda ini tergeletak di lantai. Mungkin jatuh saat dia berlari," jelas Tristan panjang lebar dan dokter Davin terlihat kaget.


"Kalau tidak salah ini cairan ... sebaiknya aku periksa dulu sebentar biar jelas dan tidak hanya menerka-nerka."


"Baik," ucap Tristan dan dokter Davin langsung berdiri lalu berjalan ke arah laboratorium rumah sakit.


Tristan menghela nafas berat sebelum akhirnya bangkit dari duduknya dan kembali duduk di sofa yang berada di dalam ruang rawat Fazila.


"Tidurlah kalau kau mengantuk! Dokter Davin masih ada urusan sebentar," ujar Tristan ketika melihat Fazila beberapa kali menguap.


"Urusan apa Bang?"


"Kepala rumah sakit ingin bicara katanya. Mungkin dokter Davin akan diminta bekerja di sini lagi," bohong Tristan tidak ingin Fazila tahu yang sebenarnya sehingga membuat adiknya itu menjadi ketakutan sehingga menghambat jalan kesembuhan Fazila.


Fazila hanya mengangguk.


"Nanti kalau dia mau pulang Abang bangunin," lanjutnya.


"Iya Bang." Fazila kembali membaringkan tubuhnya dan mencoba memejamkan mata. Entah kenapa akhir-akhir ini dia menjadi sering mengantuk selain lapar juga.


Saat Fazila memejamkan mata di depan pintu kamarnya terdengar berisik. Ternyata mamanya yang datang membawa pasukan keluarga. Bahkan Chexil dan baby Nazel pun kali ini ikut serta menjenguk dirinya.


"Bang sini!"


Sementara yang lain sedang mengobrol, Tristan menemui dokter Davin dan mengikuti langkah pria itu menuju ruang laboratorium. Di sana sudah ada petugas yang menunggu.


"Benar ternyata dugaanku, cairan yang berada di dalam jarum suntik itu adalah Botulinum Toxin. Racun bukannya obat," jelas dokter Davin membuat Tristan menganga karena saking kagetnya.


"Racun? Apa itu Botulinum Toxin?"


"Racun yang menyebabkan botulisme, yaitu keracunan langka yang disebabkan oleh racun dari bakteri clostridium. Dimana bisa menyebabkan korban mengalami kelumpuhan otot dan gangguan sistem pernafasan yang bisa menyebabkan seseorang berakhir pada kematian."


"Betul kata dokter Davin," ucap petugas laboratorium membenarkan penjelasan dokter Davin.


"Sebenarnya Botulinum toxin itu ada manfaatnya juga. Ia bisa digunakan di dalam industri kosmetik ataupun kesehatan sendiri. Namun dosisnya sangat dibatasi. Lebih sedikit saja bisa menyebabkan hal yang fatal bagi kesehatan, apalagi sampai sebanyak di dalam jarum suntik ini masuk semua ke dalam tubuh. Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi pada diri korban," lanjut petugas laboratorium lagi.


Mendengar penjelasan dokter Davin Tristan menjadi syok.

__ADS_1


"Jadi, Chila ingin dibuat lumpuh atau bahkan ingin dibunuh?" Tristan menggeleng tidak percaya.


Bersambung.


__ADS_2