DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR

DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR
Bab 55. Kartu Nama


__ADS_3

"Beberapa hari yang lalu dia kesini sebentar–"


"Berarti sekarang sudah pergi?" potong Tristan akan perkataan nenek Salma, tak sabaran.


"Ya di kembali ke rumah sakit tempatnya bekerja dan ke sini hanya untuk melihat keadaan saya."


"Nenek tidak ikut, dan malah di tinggal sendirian di rumah?" tanya Dilvara tak mengerti mengapa dokter Davin lebih memilih meninggalkan nenek Salma sendirian dibandingkan membawa orang tua itu ikut bersamanya. Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan orang tua ini?


"Nenek yang minta, sebenarnya nenek pernah ikut ke sana sih, tapi entah kenapa nenek enggak betah tinggal di sana. Nenek minta sama Davin daripada ikut tinggal di sana mending pulang ke rumah lama saja di desa, tapi Davin malah lebih setuju nenek tinggal di sini sebab di desa sepi, jauh dari rumah tetangga," jelas nenek Salma membuat Dilvara hanya mengangguk-angguk paham.


"Oh ya Nek, alamatnya?" tanya Tristan takut nenek Salma lupa dengan poin utama kedatangan mereka ke rumah tersebut.


"Oh ya, sebentar aku ambil kartu namanya saja sebab nenek lupa dengan alamat Nak Davin, silahkan kalian duduk dulu!"


Tristan dan Dilvara kompak mengangguk lalu duduk di kursi rotan yang ada di teras rumah sedangkan nenek Salma melangkah masuk ke dalam rumah.


Mereka berdua berdiam diri sampai ada seseorang yang berjalan ke arah pintu.


"Ini dia nenek Salma," gumam Dilvara, lebih ke arah bicara pada diri sendiri dibandingkan memberi tahu Tristan karena suaranya hampir tak terdengar.


Namun, yang datang bukannya nenek Salma, tetapi seorang wanita setengah baya yang membawa nampan berisi dua gelas air minum beserta kue basah.


"Cocok nih, lagi lapar," batin Dilvara menatap kue-kue manis yang terlihat menggugah selera. Air liurnya seakan menetes padahal sebelumnya dia tidak pernah tertarik pada makanan manis yang ia anggap tidak sehat. Ini gara-gara Tristan yang membuatnya urung membeli kentang goreng dan chicken wings kesukaannya. Biasanya hanya dengan dua makanan itu bisa membuat perut Dilvara kenyang meskipun tanpa tersentuh nasi sekalipun.


"Nenek Salma mana Bu?" tanya Tristan pada ibu yang Tristan tebak adalah pembantu di sana. Mungkin dokter Davin mempekerjakan pembantu agar nenek Salma tidak sendirian di rumah, juga kerepotan untuk membenahi pekerjaan rumah.


"Masih ada di dalam, sepertinya beliau belum menemukan apa yang dicari, maklum efek usia yang semakin lanjut, sekarang dia sering lupa. Oh ya Mas, Mbak, silahkan dinikmati hidangannya selagi masih hangat, baru keluar oven ini kue-kuenya," ucap wanita itu sambil tersenyum ramah.

__ADS_1


"Terima kasih Bu, baik kami minum," ujar Tristan sambil melirik Dilvara, memberikan kode agar ia meneguk minuman dingin yang telah dihidangkan.


"Kalau begitu saya permisi, mau melanjutkan menjemur pakaian," ujar pembantu tersebut lalu meraih keranjang pakaian yang nenek Salma letakkan di atas lantai secara sembarang tadi.


Dilvara langsung meneguk minuman sampai tandas kemudian beralih pada kue-kue di hadapannya. Sementara Tristan bangkit dari duduknya dan melihat keadaan sekitar rumah. Sesekali nampak berbicara dengan pembantu yang sedang menjemur pakaian.


"Kok lama banget ya nenek Salma, apa dia baik-baik saja?" tanya Tristan khawatir, takut-takut nenek Salma mendadak pusing karena mencari sesuatu yang tidak kunjung ditemukan.


"Tidak mungkin Mas, tunggu saja sebentar, kalau tidak keluar juga nanti saya susul ke dalam kamar beliau," ujar pembantu nenek Salma sambil tangannya cekatan menjemur pakaian. Secepat kilat wanita ini menyelesaikan tugasnya. Tristan sampai pusing melihat gerakan tangan wanita itu yang bergerak lincah dan terlalu cepat.


Ia berbalik, berjalan kembali ke arah Dilvara dan mengulurkan tangan untuk meraih kue di atas piring. Namun, tangannya terhenti mendadak dan ia membelalakkan mata tatkala tak melihat satu pun kue di atas piring. Ternyata kecepatan Dilvara tak kalah dengan kecepatan pembantu nenek Salma tadi, meskipun beda haluan. Yang satu tangkas dalam bekerja dan yang satunya menghabiskan makanan.


"Oh my God! Kau habiskan semua kuenya Dil? Apa tidak enek?" Tristan terheran-heran melihat perubahan sikap Dilvara yang biasanya anti pada makanan yang terlalu manis dan sekarang malah terlihat rakus, bahkan jatah kue untuk Tristan pun Dilvara embat juga.


"Nggak, aku kelaparan gara-gara Abang," ucap Dilvara dengan sorot mata yang tajam. Kesal dengan Tristan yang seakan amnesia telah menggagalkan sarapannya.


"Yasudah nikmati saja, aku ikhlas kok," ujar Tristan lalu duduk kembali.


"Sudah habis," ujar Dilvara lalu bersandar pada sandaran kursi. Nenek Salma berjalan cepat ke arah mereka.


"Ini dia alamatnya, maaf baru ketemu," ucap nenek Salma sambil menyodorkan kartu nama dokter Davin ke hadapan Tristan.


"Tidak apa-apa Nek, terima kasih dan maaf merepotkan," ujar. Tristan sebenarnya tak enak menganggu waktu wanita tua itu, tetapi terpaksa karena tidak tahu kemana lagi harus bertanya.


"Tidak ada-ada Nak, sampaikan salam nenek pada Nak Chila. Nenek juga akan berdoa untuk kesembuhan dia. Lain kali bolehkah Nenek bertandang ke rumahmu? Nenek ingin menjenguk Nak Chila, kangen sudah lama tidak bertemu."


"Boleh saja Nek, nanti saya jemput nenek ya, atau bisa pergi bareng dokter Davin kalau sudah pulang ke rumah ini."

__ADS_1


"Baiklah, lebih baik kalian pergi sekarang biar cepat ketemu Nak Davin! Maaf bukan maksud nenek mau mengusir kalian. Kalau Chila memang membutuhkan Nak Davin alangkah baiknya kalian cepat menenui cucuku itu."


"Baik Nek kalau begitu kami berdua pamit," ujar Tristan sambil menyalami tanah nenek Salma.


"Sebentar! Kamu itu suaminya Nak Chexil ya?" Nenek Salma menatap lekat wajah Tristan.


"Bukan Nek saya Tristan adiknya," jelas Tristan.


"Owalah, iya ya tadi dia sempat memperkenalkan dirimu dengan nama Tristan, aku pikir aku yang salah dengar." Nenek Salma menunjuk Dilvara.


Tristan mengangguk sambil tersenyum.


"Kami kembar jadi wajah mirip gitu Nek," jelasnya dan nenek Salma manggut-manggut.


"Apa kabar Nak Chexil?"


"Alhamdulillah baik, Nek."


"Yasudah kalian bisa pergi sekarang, lain kali jangan lupa mampir ke rumahku lagi ya! Oh ya, biasanya jam segini Nak Davin ada di rumah sakit jam dua belas baru istirahat. Kalau sore ada di klinik, di situ alamatnya lengkap. Jadi kalian bisa menemui Davin dimana sesuai waktu kalian sampai di sana."


Tristan langsung mengecek alamat yang diberikan nenek Salma dan ternyata komplit, mulai alamat rumah, rumah sakit sampai klinik. Tristan terpaku melihat alamat yang tertulis di sana.


"Ya Tuhan, jadi selama ini mereka tinggal di kota yang sama. Aku pikir mereka tinggal di belahan bumi yang berbeda." Tristan menepuk jidatnya membuat nenek Salma dan Dilvara melihat pria itu dengan alis tertaut.


"Maksudnya?"


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2