
"Halo Chila, apa kabar?" tanya suster Dinda berbasa-basi.
"Buruk," sahut Fazila membuat suster Dinda yang kaget langsung menjauhkan ponsel dari telinga. Wanita itu tampak menggeleng.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya lagi saat ponsel sudah ia dekatkan lagi di bibir dan telinga.
"Katakan sejujurnya, ada hubungan apa kamu dengan dokter Davin?"
"Hubungan kerjasama antara dokter dan asisten, tidak ada yang lain."
"Kalian berbohong kan, kalau tidak kok bisa berpelukan sangat intim begitu?" cecar Fazila.
"Ah Fazila, kau terlalu baper, apa kau tidak mendengar tadi tentang pembicaraanku pada dokter Davin? Ayolah, jangan terlalu berlebihan. Jangan sampai rasa cemburumu itu bisa membuat orang lain kehilangan pekerjaan. Mungkin bagimu yang terlahir dari keluarga orang kaya pekerjaan menjadi asisten dokter Davin tidak seberapa gajinya, tapi bagiku itu sangat berharga Chila. Kau perlu tahu, aku tidak pernah ada niat untuk menjadi pelakor dalam hubungan orang lain. Aku tahu kok, bagaimana rasanya dikhianati oleh pria."
Fazila tidak merespon ucapan suster Dinda.
"Pagi itu, sebenarnya aku dan dokter Davin sedang bertugas. Saat pasien keluar, aku mendekati dokter Davin dengan berkas di tangan. Maksud hati ingin menanyakan sesuatu. Namun, bersamaan dengan itu ada wanita masuk ke dalam ruangan. Aku pikir itu pasien sehingga aku langsung menegurnya karena masuk tanpa dipanggil. Eh, dia bilang katanya mau ambil data-data dia yang ada di ruangan itu, katanya dia mantan asisten dokter Davin. Jadi, aku persilahkan saja dan aku sendiri terus melangkah mendekati dokter Davin untuk bertanya. Wanita itu mengambil sesuatu dari dalam laci meja lalu beranjak ke dekat kami berdua. Mengulurkan tangan dan memperkenalkan diri padaku sekaligus memberikan selamat karena dokter Davin telah memilihku sebagai pengganti dirinya." Suster Dinda menjeda ucapannya untuk menghirup oksigen terlebih dahulu. Dia baru bangun dan bangunnya secara mendadak. Jadi sedikit agak pusing dan sesak di dada.
Dokter Davin sendiri sudah terlihat berbaring di atas ranjang, menatap wajah Fazila yang nampak serius mendengarkan penjelasan suster Dinda. Pria itu tersenyum dan beberapa kali terlihat menggeleng.
"Kamu tahu? Saat ia berpamitan, kakinya tersandung pada kakiku dan aku hampir terjatuh. Saat itu dokter Davin yang sibuk menatap komputer langsung reflek menangkap aku yang hampir menabrak layar USG. Entah sebenarnya apa yang ingin dokter Davin selamatkan, mesin itu atau diriku." Terdengar helaan nafas panjang dari balik telepon kemudian diiringi tawa.
"Setelah kutanyakan, dokter Davin bilang tidak ingin ada alat yang rusak dalam ruangannya," lanjut suster Dinda sambil menepuk jidatnya sendiri.
"Ternyata tubuhku tidak lebih berharga daripada mesin yang tidak bernyawa itu, benar-benar miris," keluh suster Dinda lalu cekikikan. Fazila pun ikut tertawa mendengar cerita suster Dinda.
"Ya ampun mudah banget dia berubah ketawa gitu, padahal dari tadi cemberut doang," gumam dokter Davin.
"Apa?" cibir Fazila.
"Nggak ada," jawab dokter Davin pura-pura cuek.
Di dalam telepon, suster Dinda masih belum berhenti tertawa.
"Sudah-sudah mana ponselku!" pinta dokter Davin sambil memberikan kode dengan tangan agar Fazila mendekat.
Fazila langsung mengulurkan ponsel milik dokter Davin kepada si empunya.
"Sudah ngelawaknya? Sekarang aku akan menutup telpon karena sekarang saatnya menghabiskan waktu bermesraan berdua dengan Chila," ucap dokter Davin sambil mengedipkan sebelah matanya membulat Fazila bergidik ngeri.
"Bengek Lo Dok, giliran butuh bantuan maksa-maksa buat angkat telepon setelah nggak butuh aku serasa diusir dengan tidak berperasaan," ucap suster Dinda lalu tertawa renyah.
"Ingat janjinya, jangan lupa bantu deketin aku sama cowok fotografer itu!" seru suster Dinda sebelum akhirnya benar-benar menutup panggilan telepon.
__ADS_1
"Bagaimana sudah percaya bahwa kekasihmu ini setia?" tanya dokter Davin dengan senyuman manis dan Fazila hanya mengangguk lemah.
"Lain kali jangan mudah terpengaruh dengan apapun sebelum tahu kejelasannya seperti apa. Setiap hubungan pasti ada cobaannya, begitupun diantara kita berdua. Kita harus bisa menanam fondasi kepercayaan satu sama lainnya karena kita berjauhan dan yang terpenting saling setia. Bukan cuma kamu yang cemburu padaku, aku pun sering cemburu melihat kamu akrab dengan Izzam, tapi aku mencoba untuk percaya bahwa kamu akan slalu setia padaku."
"Izzam? Kau kenal dia?"
"Ya, cowok yang ingin orang tuamu jodohkan denganmu, kan?"
"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Fazila tak percaya dokter Davin mengetahui akan hal itu.
"Dari Kyai Miftah dan dari beberapa santri di sana mengatakan kalian dekat."
"Oh."
"Sudahlah tidak perlu dipikirkan, aku percaya padamu. Aku tidak ingin membatasimu bergaul dengan siapapun yang penting harus bisa jaga diri dan kehormatan."
"Insyaallah."
"Bagaimana hatimu sekarang, sudah plong?"
Fazila mengangguk dengan wajah malu-malu.
"Yasudah duduk sini! Nggak pegel ya berdiri terus?"
"Mau aku pijitin?"
"Nggak."
"Duduklah!"
Fazila kembali duduk di samping dokter Davin dengan pelan.
"Mana ponselmu?"
Fazila memberikan ponselnya miliknya pada dokter Davin. Dokter Davin membuka foto tadi dan langsung menghapusnya.
"Biar kamu nggak badmood lihat gambar ini," ucapnya lalu mengembalikan ponsel Fazila.
Pria itu pun melakukan hal yang sama pada ponselnya sendiri. Menghapus gambar itu tanpa jejak.
"Lain kali kalau nomor ini menelpon atau mengirim chat ladeni saja. Pancing ia sampai kau tahu identitas dan apa maunya. Kalau perlu rekam sekalian omongan dia biar bisa jadi bukti kalau terjadi sesuatu yang tidak baik diantara kita. Kau juga bisa meminta bantuan Bang Nathan kalau perlu. Ya, walaupun perasaanku mengarah pada suster Tantri sih, tapi kita butuh bukti. Aku harus mengumpulkan bukti dulu termasuk menyelidiki apakah orang yang ingin membunuhmu di rumah sakit adalah orang yang sama atau bukan. Kalau benar itu juga adalah suster Tantri berarti orang itu sudah gila jadi tidak bisa dibiarkan begitu saja. Kau harus berhati-hati, jangan pernah keluar dari pesantren kalau tidak ada temannya, takut-takut ia mengincar dirimu lagi."
Fazila meringis mendengar ucapan dokter Davin.
__ADS_1
"Tidak usah terlalu takut, yakinlah kalau Allah SWT selalu bersama kita, yang terpenting hati-hati saja."
Fazila mengangguk.
"Mulai nanti malam kita tidak akan bisa bebas bertemu lagi," ujar dokter Davin kemudian menghela nafas berat.
"Kita foto-foto dulu yuk biar bisa aku pandangi setelah kamu tidak lagi di sampingku."
"Boleh."
Dokter Davin merapatkan duduknya dan merangkul bahu Fazila.
"Apaan sih Dok?" protes Fazila sambil melepaskan tangan dokter Davin.
"Sebentar aja Chila, aku janji nggak bakal ngapa-ngapain kamu, hanya untuk keperluan foto saja, biar ada foto romantis diantara kita, please!"
"Emang penting?"
"Penting bagiku, buat wallpaper ponsel biar berasa ditemani dirimu setiap hari."
"Oke, awas kalau macam-macam!" ancam Fazila.
"Iya, aku janji."
Fazila mengangguk pasrah.
Dokter Davin kembali merangkul Fazila dan menaruh dagunya di ceruk leher gadis itu sambil mengarahkan kamera ponsel pada wajah mereka. Walaupun dalam kondisi memakai hijab, Fazila merasa lehernya geli dan jantungnya berdegup tidak karuan karena berada dalam posisi intim seperti itu.
"Cepetan Dokter, geli tahu! Dokter modus ini!"
Dokter Davin langsung mengambil gambar kemudian terkekeh.
Tok tok tok
Terdengar pintu diketuk dari luar membuat keduanya langsung kaget dan menoleh.
"Nak Davin sudah selesai ngomongnya? Kok pintunya dikunci?" Suara Isyana terdengar sangat khawatir. Takut keduanya melakukan hal terlarang.
"Iya Tante, sebentar!" seru dokter Davin lalu bangkit dari duduknya dengan kunci di tangan.
"Hah, kita ngomong di luar saja biar nggak digerebek polisi," bisik dokter Davin di telinga Fazila sebelum beranjak ke arah pintu.
Gadis itu langsung menutup mulut untuk menahan tawa yang hampir meledak karena dokter Davin menganggap Isyana adalah polisi.
__ADS_1
Bersambung.