DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR

DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR
Bab 112. Penangkapan


__ADS_3

"Kamu yang namanya Chila, kan?" tanya seorang wanita masih dengan tangan yang memegang pergelangan tangan Fazila.


Perlahan Fazila membuka mata kala suara lembut seorang wanita menyentuh gendang telinga.


"Kau siapa?" tanya Fazila dengan memicingkan mata. Mencoba menelisik wajah wanita di hadapannya dan menerka-nerka keinginan orang tersebut.


"Perkenalkan namaku Monica, aku orang suruhan dokter Davin. Dia menyuruhku untuk mengawasimu," ucap orang itu membuat Fazila menghembuskan napas lega.


"Kenapa mengagetkan? Kau tahu aku bisa jantungan," protes Fazila, tidak suka dengan cara wanita itu yang muncul dengan tiba-tiba.


"Maaf kalau tadi aku sempat mengagetkan dirimu. aku terpaksa segera menarik tanganmu ke pinggir jalan karena ada wanita di belakang sana yang mengarahkan pistolnya ke arahmu," jelas wanita tersebut.


"Pistol? Mengarahkan padaku? Di–dia hendak menembak? Siapa?" tanya Fazila gugup dan takut.


"Aku tidak tahu pastinya siapa itu, yang jelas tadi aku melihat beberapa polisi memang sedang mengincar wanita tersebut. Sudahlah yang penting kau selamat, ayo aku temani sampai ke pesantren," ujar wanita tersebut.


Belum selesai rasa kaget akibat tangannya ditarik mendadak, wanita itu justru malah membawa berita yang begitu membuat Fazila syok.


"Apakah benar suster Tantri ada di sekitaran sini? Ya Allah! Semoga wanita jahat itu segera berhasil diringkus oleh polisi," batin Fazila penuh harap.


"Tak usah khawatir, mungkin wanita tadi sebenarnya tidak mengincar dirimu, hanya saja ingin mengalihkan perhatian para polisi jika kau sampai tertembak," ucap wanita tersebut mencoba untuk menenangkan Fazila.


Sementara Fazila sendiri tidak bisa membenarkan perkataan wanita tersebut karena beberapa waktu lalu suster Tanti memang sudah meneror dirinya. Itu berarti, dia memang sudah menjadi incaran suster Tantri, bukan sekedar pengalihan dari kejaran polisi.


"Bagaimana? Teman-temanmu sudah jauh berada di depan, apa kau masih ingin berdiri lama sambil termenung di tempat ini?"


"Ah iya, ayo!" Akhirnya Fazila kembali berlari mengejar teman-temannya yang mungkin saja sudah mencapai garis finish.


Wanita yang bernama Monica itu mengangguk lalu berlari menyusul Fazila. Meskipun kecepatan larinya tinggi, tetapi demi mengimbangi kecepatan Fazila yang sedikit lambat, wanita tersebut berlari santai di samping Fazila.


"Haus," Fazila menghentikan larinya kembali dan berjalan dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Sebentar aku beli minuman di depan," ujar wanita tersebut lalu berlari duluan setelah memastikan keadaan di sekitar aman.


"Ini minum dulu!" seru Monica seraya menyodorkan air mineral ke hadapan Fazila.


"Terima kasih." Fazila mengambil air mineral tersebut dari tangan Monica lalu meneguk hingga isinya tinggal separuh.


"Bagaimana sudah siap berlari lagi?"


"Ya siap," jawab Fazila setelah menstabilkan deru nafasnya. Mereka pun kembali menyusul teman-teman Fazila yang sudah tidak tampak batang hidungnya.

__ADS_1


Sementara di depan pagar pesantren, semua teman-temannya sudah sampai dan hanya menunggu kedatangan Fazila seorang.


"Din, mana Chila, kok belum nongol juga?" tanya Qiana sambil terus menatap ke arah dimana ke 4 teman-teman sekelasnya itu tadi datang.


"Aku juga tidak tahu Qi, aku karena ambisi ingin dapat nilai bagus jadi nggak sempat menoleh ke belakang," jawab Andin.


"Aku juga demikian," tambah Anggita.


"Ckk, kalau ada apa-apa dengan dia bagaimana dong?" Qiana benar-benar khawatir. Perasaan hatinya yang tidak enak sedari tadi membuat gadis itu gelisah. Mau menyalahkan Anggita ataupun Andin yang tidak menunggu Fazila pun tidak mungkin mengingat ini adalah momentum penilaian.


Pak ustadz melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Kalau lima menit Chila tidak nongol juga, biar nanti Ustadz yang menyusul dia. Kita istirahat dulu sebentar sambil menunggu kedatangan Chila. Kalau menurut prediksi Ustadz sih anak itu tidak berlari melainkan berjalan biasa. Jadi, Qiana tidak perlu khawatir. Bukankah ini bukanlah hal yang pertama kali untuk kita?"


"Iya, ustadz." Mulut bisa saja berkata iya tapi dalam hati tidak bisa menerima pernyataan tersebut karena tidak semua situasi dan kondisi akan tetap sama dalam waktu yang berbeda.


"Nah itu dia Chila!" seru seorang santri sambil melambaikan tangan ke arah Fazila.


Qiana dan beberapa santri lainnya langsung melongo dan menatap senang ke arah Fazila. Namun, ada juga yang dongkol karena gara-gara Fazila waktu terbuang sia-sia.


"Lama amat sih," ujar seorang santri.


"Kami sampai lumutan nungguin kamu," tambah yang lainnya lagi.


"Buang-buang waktu aja."


Fazila hanya menanggapi dengan senyuman karena seyogianya ucapan mereka semua benar. Marah kepada mereka sama halnya seperti menyebarkan aura permusuhan. Fazila tidak ingin menambah musuh, satu saja seperti suster Tantri sudah sangat merisaukan. Bisa gila Fazila jika mempunyai musuh banyak.


"Maaf saya tadi sakit perut di jalan, jadi tidak bisa lari seperti yang lainnya. Saya pikir Pak ustadz tidak akan menunggu saya sampai ke tempat ini untuk melanjutkan putaran kedua," jelas Fazila sambil menangkupkan kedua tangan di depan dada membuat semua teman-teman sekelasnya tidak bisa membantah lagi karena gadis itu sudah mengakui kesalahannya.


"Pak Ustadz saya ingin bicara sesuatu," ujar Fazila sambil memberikan kode pada Monica untuk mendekat.


"Ada apa Chila? Dari tatapan matamu kok sepertinya ada yang serius?"


"Memang serius Ustadz. Boleh kita ke sana sebentar?" Fazila mengajak pak ustadz untuk menjauh dari teman-temannya sebentar. Tidak ingin mereka mendengar pembicaraan serius tersebut karena takut menganggu ketenangan para santri.


"Boleh." Pak ustadz melangkah menuju tempat yang ditunjuk oleh Fazila. Fazila dan Monica mendekati pria itu dan menjelaskan bahwa keamanan di luar pesantren saat ini sedang tidak baik untuk para santri jika dibiarkan berkeliaran di luar, meskipun hari ini adalah momen untuk mengambil penilaian pelajaran penjaskes.


"Baik, terima kasih untuk informasi kalian," ujar pak ustadz lalu melangkah ke arah santri yang masih berkumpul di luar pagar dan menanti dirinya.


"Kita lanjutkan pengambilan nilai di lapangan saja ya!"

__ADS_1


"Huuu!" Para santri bersorak kecewa.


"Di luar pesantren sedang tidak aman, Fazila tadi hampir saja celaka kalau bukan karena Mbak ini yang menolong," jelas pak ustadz.


Sontak semua santri langsung menatap ke arah Fazila.


"Kau serius Chila?" tanya Qiana begitu penasaran.


"Nanti aku ceritain saat di kamar," ujar Fazila dan mendapatkan anggukan dari Qiana.


"Kalau begitu kita ambil penilaian di lapangan sepakbola saja, bagaimana setuju? Eh, setuju tidak setuju, itu sudah menjadi keputusan Ustadz," ujar pak ustadz membuat para santrinya menggeleng bingung.


"Ustadz sudah kebiasaan begitu, minta pendapat, tapi tetap saja pendapatnya sendiri yang diambil," keluh seorang santri.


"Yuk kita ke lapangan!" seru pak ustadz dan semua santri beranjak dengan malas dari tempatnya semula.


"Lepaskan! Saya tidak bersalah!" teriak seorang wanita.


"Eh, ada apa itu?" Seorang santri langsung menoleh ke belakang tatkala mendengar suara ribut-ribut. Santri tersebut kaget melihat beberapa polisi menggiring seorang wanita yang sudah terborgol dan tampak memberontak. Sepertinya wanita yang ditangkap tersebut memiliki kekuatan besar sehingga beberapa polisi tesebut terlihat kewalahan menghadapi wanita itu.


"Hei ada polisi! Ada polisi!" seru santri yang lain membuat santri yang lainnya sontak menghentikan langkah dan menoleh ke belakang.


Aksi wanita yang terus memberontak tersebut menjadi perhatian para santri.


"Hei penjahatnya wanita!" seru yang lain tampak heboh.


Fazila pun akhirnya penasaran dengan apa yang dibicarakan teman-temannya di belakang. Ia menoleh dan langsung menarik tangan Qiana tatkala melihat para santri sudah berbaris seperti menonton pertunjukan di dalam pagar pesantren.


"kita kesana!" seru Fazila dan Qiana ikut berlari mengimbangi langkah Fazila yang cepat.


Fazila membeku di balik teralis pagar.


"Jadi yang ditangkap adalah ... ya, Allah! Terima kasih akhirnya suster itu gila itu berhasil diringkus juga oleh polisi."


Fazila langsung melakukan sujud syukur sehingga mencuri perhatian teman-temannya yang kebingungan dengan sikapnya itu.


Di pinggir jalan, suster Tantri menatap Fazila dengan aura kebencian.


"Aku tidak akan pernah menyerah gadis ingusan, sampai kau menderita," batin suster Tantri sambil mengepalkan kedua tangannya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2