
Gegas wanita itu menghentikan aksinya sebelum berhasil menyuntikkan obat pada Chila. Tristan dengan langkah cepat berjalan ke arah perempuan itu.
"Siapa kamu?!"
"Saya perawat yang bekerja di rumah sakit ini dan sekarang hanya menjalankan perintah dokter. Kata dokter tadi obat yang disuntikkan pada pasien masih kurang dari dosisnya. Jadi tidak akan berpengaruh sama sekali kecuali ditambah lagi," sahut perempuan itu dengan suara yang datar, suaranya bahkan terdengar hambar di telinga Tristan.
"Kau pikir aku bodoh ya sehingga kamu ingin bohongi? Kau salah! Siapa kamu sebenarnya?" Tristan berusaha menarik masker di wajah wanita itu. Sayangnya tidak berhasil dan dengan gesit wanita itu langsung berlari keluar.
"Hadang dia Tante!" teriak Tristan terpaksa meminta tolong Tania. Tania pun dengan sikap memeluk wanita yang ingin kabur itu agar tidak kemana-mana.
Brak.
Wanita itu langsung menendang Tania dengan kasar sehingga pegangannya melemah dan akhirnya bisa kabur.
"Auw!" ringis Tania sambil memegang perutnya yang sangat perih karena ditendang tanpa perhitungan.
"Tante tidak ada-ada?" tanya Tristan khawatir dengan mertuanya.
"Jangan pikirkan Tante, kau kejar dia dan cari tahu siapa orang yang ingin berbuat jahat pada Fazila tadi sebab suatu saat dia bisa muncul kembali sebelum berhasil mencelakai adikmu!" perintah Tania.
Tristan pun terpaksa meninggalkan Tania yang terlihat meringis dan mengejar perempuan tadi.
"Tolong ada penjahat yang menyusup menjadi suster di rumah sakit itu!" teriak Tristan sambil terus berlari.
"Dimana?" Orang-orang langsung heboh dan ikut mengejar.
"Itu yang di depan sana!" teriak Tristan hingga terjadi aksi kejar-kejaran di dalam rumah sakit oleh beberapa orang.
"Hei ada apa ini? Jangan membuat kekacauan di rumah sakit!" seru beberapa pengunjung rumah sakit yang tidak tahu menahu akan apa yang mereka kejar.
"Biarkan saja, mungkin rumah sakit ini dipakai untuk syuting film tertentu. Lihat dia Tristan yang artis itu, kan?" Seseorang menganggap Tristan dan orang-orang yang mengejar perawat palsu tadi hanyalah adegan dalam sebuah drama.
"Tidak ini bukan drama tolong bantu saya mengejar penjahatnya!" teriak Tristan sambil terus berlari.
"Semoga sukses Tristan! Maaf kami tidak bisa ikut berpartisipasi dalam film ini karena kami bukan pemainnya!" teriak seseorang membuat Tristan hanya bisa tepuk jidat sambil terus berlari.
"Payah nih orang-orang," gerutu Tristan, masih terus saja berusaha mengejar.
"Kemana dia tadi?" sampai di lorong-lorong rumah sakit dia kehilangan jejak. Tristan celingukan ke sana kemari untuk melihat wanita tadi.
__ADS_1
"Kemana sudah Pak?" tanya Tristan pada bapak-bapak yang ikut mengejar tadi.
"Tidak tahu Mas, kami kehilangan jejak juga. Perempuan tadi begitu lincah dan kami terkecoh dengan aksinya yang mendorong seseorang wanita tadi."
"Barangkali masuk ke dalam kamar rawat ini!" teriak yang lain.
"Baik kita periksa satu persatu," ucap Tristan dan mereka mengangguk.
Beberapa orang tersebut langsung memeriksa satu persatu ruangan yang ada di dalam rumah sakit di sekitar tempat mereka berdiri. Mereka bahkan meminta maaf pada keluarga pasien yang menempati ruang rawat yang mereka masuki. Bertanya dan memeriksa setelah mendapatkan izin.
"Bagaimana?" Beberapa saat kemudian mereka semua keluar dengan tangan hampa.
"Tidak ada, hampir semua ruangan di sini sudah kita periksa, tapi tidak menemukan jejak perempuan tadi."
"Hmm, baiklah. Terima kasih atas kerjasamanya semua meskipun belum mendapatkan hasil juga," ujar Tristan pada semua orang.
"Sebenarnya apa yang wanita tadi lakukan? Aku lihat dia seorang suster?" tanya salah satu diantara mereka penasaran.
"Dia hendak menyuntik adik saya dengan cairan tertentu dan saya yakin itu bukan obat melainkan racun mengingat adik saya baru ditangani oleh dokter dan suster tadi," jelas Tristan.
"Benar-benar meresahkan," ucap mereka.
"Maksudnya?" tanya Tristan dengan alis berkerut, gagal paham.
"Maksud kami belum diperiksa karena kami takut," ucap seorang pria sambil menunjuk salah satu ruangan yang berada di paling pojok.
"Kenapa?" tanya Tristan sambil berjalan mendekat ke arah yang ditunjuk oleh mereka.
"Karena tidak berani saja, Mas Tris bisa periksa sendiri kalau berani sebab ada kemungkinan suster palsu tadi bersembunyi di sana."
"Baiklah terima kasih atas saran kalian, biar saya periksa sendiri. Saya harus tahu siapa orang yang telah berani ingin mencelakai adik saya agar suatu saat bisa mengantisipasi hal ini terulang lagi," ujar Tristan dengan begitu mantap.
"Semangat Mas, kami hanya bisa bantu doa saja," ujar salah satu dari mereka mewakili yang lain.
Tristan mengangguk dan semakin mempercepat langkah. Namun, setelah sampai di depan pintu ruangan itu wajahnya mendadak berubah pucat hanya karena membaca nama ruangan tersebut.
"Kamar Mayat," ucap Tristan kaku dan tertegun.
"Masuk Mas, saya yakin wanita tadi bersembunyi di dalam!" teriak orang-orang dari jarak jauh.
__ADS_1
Tristan mengangguk dan tersenyum kaku, sekaku kakinya untuk melanjutkan langkah. Rasanya ada yang menahan tubuhnya untuk tetap berada di tempat itu meskipun sebenarnya Tristan ingin mengurungkan niatnya.
Beberapa orang memperlihatkan otak lengan mereka menandakan ingin menyemangati Tristan agar masuk dan memeriksa ke dalam.
"Apapun yang terjadi aku harus tetap menemukan wanita tadi. Jangankan hanya masuk ke dalam kamar mayat, jadi mayat pun wanita tadi aku akan tetap menemuinya. Lagipula ada mereka di sana," ujar Tristan lalu tangannya terulur membuka pintu.
Membuka pintu kamar tersebut Tristan merasakan seperti membuka lemari es. Dingin menyerang tubuh.
"Pak! Pak!" panggil Tristan pada penjaga kamar tersebut. Sayangnya tidak ada yang menyahut.
"Lanjut, keluar, lanjut, keluar, lanjut." Tristan menghitung kancing bajunya persis bocah yang ikut ulangan dan tidak tahu harus menyilang option yang mana. A, B, atau C.
"Kok nggak ada yang jaga sih, bagaimana kalau ada orang yang masuk dan berniat jahat lalu mencuri organ dalam mereka?"
Tristan terkesiap melihat banyak mayat yang terbaring di atas brankar. Tubuhnya semakin terasa menggigil seolah berada di daerah kutub tanpa jaket tebal.
"Aku tidak boleh takut. Mereka sudah tidak berdaya, tidak mungkin bisa menyerang manusia yang masih hidup." Salah satu cara menyemangati diri sendiri.
Dia tetap melangkah maju, mengedarkan pandangan ke segala arah.
"Keluar kau suster palsu! Aku tahu kau bersembunyi di dalam sini!" teriak Tristan, suaranya terdengar menggema dalam ruangan.
Sepi, tak ada suara dalam ruangan tersebut bahkan suara detak jarum jam dinding pun tidak terdengar. Tristan merasa seperti berada di ruangan lain.
Ia melihat jarum suntik berisi cairan yang dipegang oleh wanita tadi tergeletak di lantai. Ia mengambil tisu di kantong celananya dan menggunakannya sebagai alas tangan untuk mengambil jarum suntik tadi.
"Aneh kenapa auranya lain ya?" Tristan mengusap tengkuknya yang merinding saat tangannya tak sengaja menyentuh tubuh mayat di atas brankar. Bersamaan dengan itu suaranya cicak pun memenuhi ruangan.
"Mama Tris takutnya," gumamnya.
"Allah lindungi hamba," doanya dalam hati.
Tiba-tiba salah satu brankar di depannya berdiri, bergetar bertahap. Dari pelan sekali, pelan, hingga berubah kencang.
"Ada apa ini?" tanya Tristan semakin takut, tapi semakin yakin pula wanita yang dikejarnya ada di dalam ruangan itu.
Ia jadi dilema.
Bersambung.
__ADS_1