DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR

DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR
Bab 122. Hari Pernikahan


__ADS_3

Anggita dan Andin ikut masuk, mengekor di belakang mereka.


"Ayo sini!" Chexil menghampiri mereka dan mengomando agar teman-teman Fazila membawa gadis itu ke kamar tamu karena MUA sedang menunggu di sana.


Putranya sendiri sekarang berada dalam pangkuan Nathan yang kini mengikuti Laras ke kamar Fazila untuk meletakan baju-baju dalam koper yang dibawanya dari pesantren ke dalam lemari milik cucunya itu.


"Kenapa membawaku ke sini Kak? Chila rindu kamar Chila," protes Fazila.


"Biar kamarmu masih rapi sampai kamu selesai ijab qobul," jawab Chexil dan Fazila hanya mengangguk pasrah lalu duduk di tepian ranjang.


"Jangan bicara dulu ya, biar make up-nya cepat kelar, semua orang sudah lama menunggumu. Jangan biarkan mereka menunggu lagi," ucap perias dengan senyuman ramah.


"Iya, Mbak."


Fazila benar-benar tidak bersuara meskipun kadang mulut terasa gatal untuk menimpali candaan teman-temannya yang sedari tadi mengoceh terus. Bahkan Qiana yang tadinya enggan bicara banyak akibat mabuk perjalanan kini malah tak kalah heboh dengan keduanya.


Terkadang Fazila heran dengan teman-temannya, siapa yang akan menikah, siapa yang tegang, dan siapa yang heboh, bukan dirinya melainkan ketiga temannya itu.


"Kamu kebayang nggak Nggit apa yang akan dilakukan dokter Davin pada Chila nanti malam? Kok aku ikut merinding ya?"


Wajah Fazila memerah, tersipu malu mendengar pertanyaan yang diajukan Andin pada Anggita. Pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu ditanyakan.


"Nggak tahu ah, aku kan belum nikah," sahut Anggita sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.


"Emang dokter Davin hantu hingga bikin Chila merinding?"


Hampir saja Fazila ingin menunjukan jari jempolnya pada Qiana kalau saja gadis itu tidak berucap lagi.


"Aku malah ngeri membayangkan perut Chila gendut akibat kehamilan," ujar Qiana.


"Astaghfirullah nih anak, nikah aja belum malah ngebayangin yang tidak-tidak," batin Fazila. Sungguh dia merasa temannya tidak ada yang beres.


"Dan aku malas dipanggil Tante," ujar Andin lagi.


Tristan datang untuk membisikkan sesuatu di telinga Fazila.


"Bagaimana Chila?" tanyanya kemudian.


"Jangan Bang! Tunggu aku dulu! Ini adalah momen yang tidak akan terulang lagi," sahut Fazila membuat Tristan manggut-manggut dan akhirnya keluar dari kamar tamu.


Di pintu Tristan berpapasan dengan Isyana.


"Bagaimana Tris?"


"Belum kelar Ma make-upannya. Chila minta ijab diucapkan saat dia berada di samping dokter Davin."


"Ya sudah, kau sampaikan permintaan maaf pada pak kyai, pak penghulu, dan semua orang di sana!"


"Siap Ma."


"Bagaimana Mbak Uus?" tanya Isyana sambil melangkah ke arah ranjang dengan gaun di tangan. Gaun pengantin yang warnanya senada dengan jas yang dipakai oleh dokter Davin.


"Sebentar lagi kelar, Mbak."


Isyana mengangguk lalu turut duduk di sana. Ketiga teman-teman Fazila mendadak bungkam. Tak lagi bicara, justru lebih fokus menatap wajah Fazila yang kini jauh lebih cantik dari yang sebelumnya.

__ADS_1


Suasana hening di dalam kamar membuat mereka mendengar suara seorang qori yang mengaji melalui mikrofon di luar sana.


"Suara siapa itu? Sepertinya pernah dengar," gumam Andin.


"Iya ya kayak pernah tahu, atau mungkin memang suaranya mirip dengan yang pernah kita dengar," sambung Qiana.


"Entahlah," ujar Fazila, malas untuk berpikir.


"Itu suara Nak Izzam," jawab Isyana agar tidak membuat semua orang di sana penasaran.


"Sudah kuduga," gumam Anggita.


Fazila termenung, ingat akan kata-kata Izzam waktu itu. Bagaimana perasaan pria itu sekarang? Fazila berharap Izzam sudah move on dari perasaan yang tidak bisa dia balas.


Beberapa menit kemudian make up sudah kelar dan Isyana meminta putrinya untuk memakai gaun yang sengaja dirancang sendiri untuk pernikahan Fazila dengan dokter Davin.


"Wow! Kau seperti Cinderella. Pasti dokter Davin pangling melihatmu," ucap Andin terkagum-kagum.


"Nggak usah, lebay Din!" protes Fazila.


"Ayo!"


Isyana mengandeng putrinya keluar dari kamar. Sampai di luar rumah wanita itu meminta teman-teman Fazila yang menggandeng tangan Fazila agar putrinya tidak terlalu tegang sebab sepanjang jalan menuju pintu rumah tangan Fazila tampak dingin dan gemetar. Mungkin jika teman-temannya yang menuntun, Fazila akan jauh lebih tenang.


"Shadaqallahul adzim," ucap Izzam mengakhiri bacaan surah dalam Alquran kala melihat calon mempelai wanita sudah memasuki area pernikahan.


Pria itu menatap Fazila yang dituntun oleh teman-temannya.


"Masyaallah, dia sangat cantik sekarang," lirih Izzam lalu menunduk kala menyadari bahwa sebentar lagi Fazila benar-benar tidak akan bisa terjamah olehnya.


"Astaghfirullah," ucapnya dalam hati.


"Apa sudah biasa dimulai?" tanya pak penghulu. Namun yang ditanya malah termenung dengan posisi badan yang menoleh ke belakang.


"Nak Davin!" panggil Kyai Miftah.


Dokter Davin tersentak kaget lalu membenarkan posisi duduknya.


"Iya Pak Kyai?"


"Sudah bisa dimulai? Nak Davin sudah siap?"


"Sudah tapi masih nunggu Chila sebentar," ucap dokter Davin dengan ekspresi gugup.


"Lah itu dia Chila sudah ada di sampingmu," ucap pak kyai membuat dokter Davin merasa malu saat mendapati Fazila sudah ada di sampingnya dengan wajah yang menunduk.


"Ah maaf Pak Kyai saya tidak sadar, harap maklum, lagi tegang," ucapnya lalu tersenyum kaku.


"Iya tidak apa-apa. Tenangkan diri dulu, saya akan membacakan khutbah sebentar," ucap Pak kyai dijawab anggukan oleh dokter Davin.


"Silahkan Pak penghulu!" ucap pak kyai agar acara ijab kabul segera dimulai.


"Pak Zidane, sudah siap?" tanya pak penghulu sebelum akhirnya memberikan sedikit arahan dan memimpin acara ijab.


Zidane mengangguk lalu mengulurkan tangan ke hadapan dokter Davin dan pria itu langsung menyambut uluran tangan mertuanya.

__ADS_1


"Bismillahirrahmanirrahim. Saya nikah dan kawinkan engkau, Davin Sudrajat dengan putri saya Aurora Belle Fazila Alberto dengan mas kawin seperangkat alat shalat, uang tunai sebesar 20 juta 23 ribu, dan emas sebesar 19 gram dibayar tunai!"


"Waduh mas kawinnya ribet amat," bisik Anggita di telinga Andin.


"Yup, kenapa juga nggak digenapkan juga menjadi 20 gram, nanggung amat," balas Andin.


"Itu mending, jumlah uangnya tuh bikin geregetan," tambah Anggita.


"Sst!" ucap Qiana agar mereka tidak berisik.


"Saya terima nikah dan kawinnya Aurora Belle Fazila Alberto dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!" Dengan sekali hentakan dokter Davin langsung mengucapkan kalimat qabul.


"Bagaimana para saksi, sah?"


"Sah!"


"Sah!"


"Sah!"


"Alhamdulillah," ucap pak kyai, pak penghulu beserta para keluarga dan teman-teman dari kedua mempelai.


Pak penghulu lalu meminta Kyai Miftah untuk memimpin doa.


Fazila dan dokter Davin hanya saling pandang dengan senyuman malu-malu. Entah kenapa mereka merasa canggung setelah sah menjadi suami istri.


"Akhirnya cucu nenek menikah juga," ucap nenek Salma lalu memeluk dokter Davin erat. Keduanya berpelukan dengan rinai air mata yang jatuh tanpa disadari.


Begitu juga dengan Fazila yang langsung memeluk erat tubuh Zidane.


"Papa," lirihnya dengan tangis haru yang tak bisa dibendung lagi.


"Akhirnya papa sudah lepas tanggung jawab. Entah kenapa papa merasa begitu cepat waktu berlalu padahal rasanya baru kemarin kau belajar berjalan. Sekarang kamu sudah dewasa dan menjadi tanggung jawab orang lain, tanggung jawab Nak Davin. Berbaktilah pada suamimu karena sejatinya surgamu sekarang berada pada suamimu," ucap Zidane sambil mengelus pundak Fazila.


"Baik Pak," ucap Fazila dengan tangan yang hendak mengusap air mata di pipi. Namun, Isyana segera mencegah dengan memberikan tisu pada putrinya.


"Sudah jangan menangis lagi, nanti make up nya luntur," ujar Isyana lalu memeluk putrinya setelah lepas dari dekapan Zidane.


"Chila!" panggil dokter Davin setelah puas berbagi kebahagiaan dengan nenek Salma.


Fazila menoleh dan dokter Davin menunjukkan kotak cincin di tangan.


Fazila yang paham langsung mengangguk dan duduk memposisikan dirinya berhadapan dengan dokter Davin.


"Sebentar," ucap dokter Davin lalu mengeluarkan cincin di dalamnya. Setelah itu baru menyematkan di jari manis istrinya.


Semua orang yang hadir bertepuk tangan.


"Giliranmu!" perintah dokter Davin dan mengulurkan cincin kawin yang tertinggal di kotak pada Fazila. Fazila pun mengambil dan menyematkan di jari manis dokter Davin.


"Sudah," ucap Fazila.


"Cium!"


"Cium!" seru beberapa orang di sana. Siapa lagi kalau bukan teman-teman Tristan dan teman-teman Fazila yang nampak heboh.

__ADS_1


Andin langsung diam tatkala Kyai Miftah dan Nyai. Fatimah melihat ke arahnya. Gadis itu langsung menunduk.


Bersambung.


__ADS_2