DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR

DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR
Bab 127. Unboxing


__ADS_3

"Sudah, ah sudah hampir jam dua malam ini, masih ada waktu kita untuk tidur. Tidur yuk," ajak dokter Davin dan Fazila malah menggeleng.


"Kenapa?"


"Udah nggak ngantuk," sahutnya lalu melanjutkan pekerjaan yang tertunda tadi. Memasukkan baju-baju dokter Davin yang dari koper ke dalam lemari.


"Karena pekerjaan itu? Sudahlah lanjutkan besok!" perintah dokter Davin dan Fazila menggeleng sekali lagi.


"Aku sudah nggak bisa tidur lagi. Mungkin karena sudah terlalu lama tidur jadi rasa kantuknya sudah hilang," jelasnya.


Dokter Davin mengangguk, ia paham, dalam pikirannya, Fazila sudah terbiasa saat di pondok pesantren bangun malam dan tidak tidur lagi. Padahal pada kenyataannya Fazila lebih banyak dibangunkan oleh teman-temannya dan seringkali susah dibangunkan.


"Yasudah kalau begitu aku yang tidur," ucap dokter Davin lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


"Silahkan," ucap Fazila lalu menunduk.


Dokter Davin terlihat menguap beberapa kali sebelum akhirnya memejamkan matanya. Tidak bertahan lama akhirnya pria itu benar-benar terbuai di alam mimpi.


Fazila menggeleng.


"Kenapa tidak kembali lebih awal kalau memang sudah mengantuk?" gumamnya lalu ikut merebahkannya tubuhnya di samping sang suami dengan hati-hati agar tidak membangunkan pria karena pekerjaannya menata baju sang suami sudah kelar dan jam masih terlalu dini untuk keluar dari kamar.


Adzan subuh berkumandang, dokter Davin membuka mata dan mendapati Fazila sedang duduk sambil tersenyum padanya.


"Pagi!" sapa sang istri yang sudah siap dengan mukenanya.


"Pagi juga? Jam berapa sekarang?" tanya dokter Davin sambil melirik jam weker di atas sandaran dipan.


"Jam empat lewat, aku menunggumu untuk shalat berjamaah," ucap Fazila dan dokter Davin segera bangkit dari posisi berbaring lalu segera duduk. Pria itu mengusap wajahnya sebelum berkata, "Bentar ya aku mandi dulu!"


"Iya," Sahut Fazila sambil melihat pergerakan dokter Davin yang berjalan begitu lambat. Tangan kirinya tampak mengucek mata. Sepertinya pria itu masih mengantuk berat. Berbeda dengan Fazila yang sudah nampak segar dan siap menghadapi hari.


"Tolang ambilkan handuk Sayang!" seru dokter Davin dari dalam kamar mandi. Saking masih mengantuknya ia malah tidak fokus hingga masuk kamar mandi tanpa membawa handuk.


"Handuk?" Fazila membayangkan jika tidak ada dirinya di kamar tersebut. Pasti dokter Davin akan keluar dari dalam kamar mandi tanpa mengunakan pakaian.


"Astaghfirullahal adzim! Kenapa otakku jadi mesum begini? Ini pasti gara-gara semalam orang-orang berpikir macam-macam tentang kami, kan jadinya pikiranku ngelantur, ikutan mesum kayak mereka." Fazila beberapa kali menggelengkan kepala, mencoba menyingkirkan bayangan dokter Davin tanpa busana yang menguasai pikirannya. Bisa-bisa wudhu nya akan batal jika terus-terusan seperti ini.


"Sayang kamu dengar tidak? Tolong ambilkan handuk! Aku lupa tadi," pinta dokter sekali lagi.


"Ah, iya sebentar," ucap Fazila lalu turun dari ranjang dan mengambil handuk yang sebelumnya sudah ia tata rapi ke dalam lemari beberapa jam yang lalu.


"Ini Mas!" seru Fazila, sedikit membuka pintu kamar mandi dan mengulurkan handuk ke dalamnya.


Dokter Davin meraihnya dan mengucapkan terima kasih.


"Sama-sama," ucap Fazila lalu kembali ke sisi lemari dan menggeluarkan baju koko dan sarung beserta kopiah agar dokter Davin bisa langsung memakai tanpa harus mencari-cari terlebih dahulu.


Beberapa saat kemudian dokter Davin keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang melilit pinggang. Buru-buru Fazila memalingkan wajah. Malu jika harus melihat tubuh dokter Davin lebih terbuka seperti sekarang meskipun pria itu sudah berstatus seorang suami. Fazila masih tidak biasa.


"Itu pakaiannya sudah aku siapkan di atas ranjang." Fazila berkata sambil membelakangi dokter Davin.


"Kenapa kau tidak ingin melihatku sih?" protes dokter Davin. Dirinya belum mengerti jika Fazila masih malu walau hanya melihat tubuhnya yang sedikit terbuka.


"Nggak apa-apa. Cepatlah pakai dan kita segera shalat!" perintah Fazila.


"Baiklah," ucap dokter Davin lalu memasang baju yang sudah disiapkan Fazila. Beberapa saat kemudian dia pun sudah berpakaian lengkap.

__ADS_1


"Ayo!" ajak dokter Davin dan Fazila mengangguk. Mereka pun melakukan shalat berjamaah berdua untuk yang pertama kalinya.


"Akhirnya aku punya imam sendiri," batin Fazila setelah mengucapkan salam. Wanita itu langsung berbalik dan menyalami tangan suami.


Selepas shalat mereka tidak langsung keluar. Hanya duduk di atas ranjang dengan saling berpandangan.


"Keluar yuk!" ajak dokter Davin.


"Nggak ah, aku masih malu," tolak Fazila.


"Sejak kapan kau jadi pemalu?" kelakar dokter Davin.


"Biasanya malu-maluin ya Mas," ujar Fazila.


"Ah nggak juga," sahut dokter Davin.


"Oh ya, kalau boleh tahu lingerie dan pakaian tak berbentuk semalam kau dapatkan darimana? Setahuku kau tidak pernah memiliki yang begituan."


Sontak pertanyaan dokter Davin membuat Fazila malu kembali. Wajahnya memerah lagi.


"Kerjaan sih Andin dan Anggita tuh. Nggak niat kali mereka ngasih kado, malah ngasih begituan. Menyebalkan sekali!" Fazila geram membayangkan wajah keduanya yang tanpa dosa semalam setelah menyebabkan kekacauan.


"Oh."


"Bicara tentang kado, bagaimana kalau kita buka kado yang lainnya saja?" tanya dokter Davin kala tatapannya tak sengaja tertuju pada kado yang bertumpuk di sudut ruangan.


"Hmm, ide bagus. Jadi Chila punya alasan nanti sama mama kalau bertanya kenapa nggak turun-turun." Wanita itu tersenyum senang.


"Terserah kamu saja," ucap dokter Davin. Tak nyaman jika harus memaksa Fazila turun ke lantai bawah, sementara istrinya itu masih merasa sungkan untuk bergabung dengan semua orang karena kejadian semalam.


"Oke yuk ke sana!" Fazila menarik tangan dokter Davin menuju kado-kado dan dokter Davin menurut saja. Mereka duduk berselonjor di lantai lalu mulai membuka satu persatu kado yang ada.


"Handuk Mas, eh ada nama kita," ujar Fazila sambil menunjukkan handuk tersebut ke hadapan dokter Davin.


"Iya, bagus banget, bisa kita pakai bareng," ujar dokter Davin sambil tersenyum dan Fazila malah gagal paham.


"Dipakai bareng gimana maksudnya, Mas?"


"Di pakai kita berdua gitu Chila. Habis aku pakai bisa juga kamu pakai, begitu sebaliknya. Masa gitu aja nggak ngerti," ujar dokter Davin.


"Oh."


"Ini sepertinya menarik," ujar dokter Davin sambil menarik kado yang berwarna merah menyala.


"Buka aja," ucap Fazila sambil melipat kembali handuk di tangan.


"Oke." Dokter Davin pun segera membuka kado tersebut


"Berat banget, ini jam dinding kali," tebak dokter Davin sambil merobek kertas kado yang membungkusnya.


"Wah lucu," ucap Fazila saat melihat isinya adalah sepasang gelas keramik bergambarkan foto mereka berdua di tengah-tengah gambar kartun yang mengapit.


"Dari siapa, kok punya foto kita?" tanya Fazila sambil menatap tak berkedip gambar pada gelas tersebut. Foto tersebut persis dengan wallpaper di ponsel dokter Davin.


"Bentar." Dokter Davin segera memeriksa dan menemukan nama pengirimnya adalah Danisa.


"Dari Danisa dan Damian," ucap dokter Davin.

__ADS_1


"Sepertinya mereka mengambil diam-diam dari galeri ponselku," tambah pria itu.


"Bisa saja Mas."


Sementara di luar sana matahari sudah mulai menampakkan sinar merah di ufuk timur.


"Qi tolong panggilkan Chila di kamarnya. Jangan-jangan jam segini masih tidur, lagi. Nanti shalat subuhnya ketinggalan!" perintah Laras pada Qiana.


"Oke Oma." Yang disuruh Qiana, tetapi yang menjawab dan antusias adalah Andin.


"Ayo Qi kita panggil Chila. Sudah punya suami bukannya bangun lebih pagi malah tambah siang," gerutu Andin sambil berjalan menaiki anak tangga dengan menyeret tangan Qiana.


"Kamu sama Anggita aja deh, aku nggak enak sama dokter Davin. Chila 'kan sekarang sudah punya suami. Nggak kayak dulu yang bisa seenaknya kita bangunin kapan saja," kata Qiana setelah Laras berlalu dari sisi mereka.


"Ya udah deh aku sendiri aja," ujar Andin lalu mempercepat langkah. Sampai di depan pintu kamar Fazila, bukannya memanggil, gadis itu malah diam mendengar suara Fazila.


"Tebak yuk ini isinya apa?" tanya Fazila sambil menimang-nimang sebuah kado berwarna orange di tangan.


Dokter Davin langsung mengambil kado tersebut dari tangan Fazila dan meraba-raba.


"Apa ayo, jangan diraba-raba aja," ujar Fazila karena dokter Davin lama sekali berpikirnya.


"Ini lembut sekali, sepertinya–"


Dokter Davin menggantung ucapannya lalu berbisik di telinga Fazila.


"Jangan-jangan pakaian da*lam kayak semalam," tebaknya.


Fazila menggeleng, "Sepertinya bukan," lirih wanita itu.


"Apa dong?"


"Penasaran?"


Dokter Davin mengangguk.


"Kalau begitu kita unboxing lagi!" seru Fazila dengan heboh karena senang sekali membuka kado dari para tamu yang beragam itu.


"Apa? Unboxing lagi? Bukankah unboxing itu artinya ehem-ehem ya untuk pengantin baru? Gila si Chila, tuh anak kuat banget sampai nantangin dokter Davin segala," gumamnya dengan mata membelalak. Tak percaya sahabatnya seagresif itu.


"Ayo dong Mas, cepat dibuka! Lelet amat sih," protes Fazila karena dokter Davin masih terus menimang-nimang sambil berpikir benda apakah yang ada di dalam kado orange tersebut, sementara Fazila masih penasaran dan ingin cepat membuka kado lainnya, yang belum tersentuh, di depan mereka.


Andin menganga mendengar perkataan Fazila.


"Waw mantap," ucap Fazila sambil menunjukkan jari jempolnya ke hadapan dokter Davin kala tangan pria itu menunjukkan baju tidur couple berwarna biru langit.


"Mantap?! Benar-benar gila nih anak, sudah pagi juga masih mau begituan," batinnya. Gadis itu langsung menutupi mulut dengan kedua tangan.


Sang pengantin terlihat santai di dalam kamar, tetapi Andin yang panas dingin di luar mendengar celotehan kedua pengantin baru di dalam kamar mereka.


"Turun aja deh daripada otakku tercemar gara-gara mereka," ucapnya lalu bergegas menuruni anak tangga dengan terburu-buru.


Padahal, sebelum mendatangi pesta pernikahan Fazila, otaknya sudah tercemar lebih dulu akibat iseng-iseng menonton drama romantis yang sedikit vulgar hingga membuatnya terngiang-ngiang.


"Mana Chila, Din? Apa kamu sudah menyampaikan pesan Oma Laras? kenapa malah turun seorang diri? Apa Chila masih menunggu suaminya?" cecar Qiana saat Andin sudah sampai di sisinya.


Gadis itu menggeleng lalu berkata," Jangan deh! Mereka

__ADS_1


Jangan diganggu dulu. Aku dengar mereka sedang unboxing," terang Andin membuat Qiana langsung terkejut dan tak percaya.


Bersambung.


__ADS_2