
Esok hari Fazila lebih awal datang ke sekolah, buat apa lagi kalau bukan ingin segera menemui Izzam dan menjemput kabar baik dari bujang itu. Ia bersenandung shalawat sambil berjalan menuju sekolahnya. Wajahnya sudah tampak lebih ceria, berseri dengan rambut yang membasahi kerudungnya sehabis mandi wajib selepas menstruasi.
Ketiga temannya berjalan di belakang dengan saling senggol, bingung dengan tingkah Fazila yang berubah-ubah. Kadang murung kadang senyum-senyum sendiri seperti orang yang sedang kasmaran.
"Yakin kamu dia nggak kesambet jin?" tanya Andin pada Anggita dan kedua temannya mengangkat bahu.
"Mungkin dia jatuh cinta sama Izzam kali, sepertinya mereka semakin dekat," tebak Anggita.
"Biarin saja yang penting dia senang," ujar Qiana tak ingin terlalu ikut campur dengan perasaan Fazila. Selama anak itu tidak mau bicara pada mereka, Qiana merasa tak perlu memaksa Fazila untuk bercerita. Fazila punya privasi yang mungkin harus ia simpan sendiri.
Fazila mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Ia mendesah kasar saat tidak mendapati Izzam di sana.
"Tumben tuh anak belum datang, biasanya rajin banget datang pagi-pagi," gumam Fazila lalu dengan malas meletakkan tas di atas bangku.
Ketiga temannya duduk di bangku masing-masing lalu membuka buku pelajaran. Akting agar Fazila tidak curiga mereka sedang memata-matai gadis itu. Tingkah Fazila membuat ketiganya penasaran.
Gabut, Fazila meraih gagang sapu lalu membersihkan kelas padahal hari ini bukan jadwal piket kebersihannya.
"Tumben tuh anak rajin, biasanya piketnya sendiri malah bayar teman-teman untuk membersihkan kelas," bisik-bisik ketiganya dan kembali kepada posisi semula saat Fazila menatap ke arah mereka.
Tak lama kemudian Izzam datang dengan setumpuk undangan pernikahan di tangan.
"Masyaallah tuh anak benar-benar ngelakuin apa yang diperintahkan Fazila," ujar Andin kaget bercampur syok melihat Izzam benar-benar mewujudkan permintaan konyol Fazila.
__ADS_1
"Chila nih benar-benar ya, apa dia gabut benar sampai ngerjain Izzam sebegitu nya," ujar Andin lagi dan kedua temannya hanya melongo menatap Fazila yang menyambut Izzam dengan senyum manisnya.
"Assalamualaikum!" Dari luar pintu kelas Izzam mengucapkan salam lalu melirik ke dalam kelas. Beruntung di dalam kelas tidak hanya ada Fazila, tetapi ada teman-teman Fazila yang lain sehingga Izzam langsung masuk tanpa merasa takut ada yang salah paham. Cukup kejadian waktu itu sampai dirinya dan Fazila harus disidang jangan sampai terulang kedua kalinya.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," sahut keempat gadis yang ada dalam kelas.
"Ini Chila yang kamu minta," ucap Izzam sambil meletakan undangan di atas meja Fazila lalu beranjak ke bangkunya sendiri untuk menaruh tas.
"Terima kasih," ujar Fazila lalu memeriksa satu persatu kertas undangan yang dibawa oleh Izzam.
"Ternyata banyak ya manusia yang namanya berawalan D," gumam Fazila, tangannya dengan cekatan terus saja memeriksa.
Tak ada seorangpun yang menanggapi gumaman Fazila karena sadar gadis itu berbicara sendiri. Keempatnya hanya menjadi penonton setia dan menebak-nebak sendiri dalam hati.
"Belum, kok nggak ada yang namanya Da ...," Fazila menghentikan ucapannya tatkala melihat teman-temannya melongo ke arahnya.
"Da, siapa? Kalau kamu bilang kemarin nama yang kamu cari aku nggak akan bawa tuh semua undangan, kupikir kau ingin membuat kliping dari kertas undangan itu," ujar Izzam sambil tersenyum.
"Da ... maksudku Danisa. Kok nggak ada ya di sini?" tanya Fazila bingung. Tak mungkin ia menyebut nama dokter Davin bisa-bisa teman-temannya tahu apa yang Fazila inginkan. Jadi amannya menyebutkan nama calon pengantin perempuan yang ternyata lulusan pesantren tempatnya mengenyam pendidikan ini. Mengingat hal ini Fazila menjadi sedih karena ternyata wanita itu lebih baik dari dirinya. Dokter Danisa lebih sepadan dengan Dokter Davin dibandingkan dirinya yang hanya memiliki ilmu yang masih cetek.
"Mana aku tahu, itu sudah semua undangan dikasih sama Kyai Miftah. Aku sampai bohong kalau butuh itu untuk contoh undangan bagi sepupu yang ingin menikah," jelas Izzam.
"Dah nggak ada yang aku cari, nih aku kembalikan," ujar Fazila lalu menaruh semua undangan di atas bangku Izzam kemudian pergi dari kelas dengan ekspresi kesal.
__ADS_1
"Astaghfirullah, kenapa tuh anak, sabar ya Izzam," ujar Qiana kasihan pada bujang itu. Sudah susah-susah usaha membantu malah nggak dihargai sama sekali oleh Fazila.
"Tidak apa-apa, kalau begitu saya permisi ingin mengembalikan ini semua," ujar Izzam lalu membawa keluar semua undangan itu sebelum teman-temannya banyak yang melihat.
"Chila kau kenapa sih sebenarnya? Kenapa nggak mau ngomong sama kami kalau ada masalah?" tanya Andin setelah Fazila kembali ke dalam kelas. Andin mencoba memberanikan diri bertanya setelah sekian hari gadis itu seolah cuek dengan teman-temannya. Entah apa yang mereka perbuat sehingga Fazila seolah marah pada mereka.
"Nggak ada, aku nggak kenapa-kenapa," ujar Fazila dengan ekspresi datar tanpa melihat ke arah Andin hingga Andin hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Ya udah deh kalau kamu nggak nganggap kita teman lagi ya, emang nggak perlu cerita." Andin sudah pasrah dengan sikap Fazila terhadap mereka.
Fazila hanya menatap wajah Andin lekat tapi tanpa ekspresi.
Malam hari tiba, hujan di luar hanya menyisakan rintik yang terus membasahi bumi. Semua insan sudah bergelung dengan selimut karena kedinginan. Berbeda dengan Fazila, karena tak bisa tidur, Fazila beranjak ke kamar mandi lalu mengambil wudhu kemudian menunaikan shalat sunnah dan membaca Alquran di dalam kamar seorang diri sementara teman-temannya sudah bertualang di alam mimpi.
Selesai mengaji dia keluar kamar dan duduk di luar. Rintik hujan sudah sirna membuat langit kembali cerah. Fazila menatap bintang gemintang yang begitu indah dan tenang tak seperti hatinya yang gundah gulana.
Ia berandai-andai, kembali ke waktu itu, andai dia mempunyai keberanian menerima lamaran dokter Davin saat itu, pasti kisahnya akan menjadi kisah manis yang tak terlupakan bukan pahit seperti sekarang, yang bahkan mencari alamat dokter Davin pun sangat sulit bagi Fazila. Bagaimana dia bisa mencegah pernikahan itu jika Fazila tidak tahu harus menemui dokter Davin dimana? Bahkan tempat dimana pernikahan itu akan dilangsungkan ia tak tahu alamatnya.
Tiba-tiba Fazila tersenyum sendiri, ia mengkhayal datang ke acara pernikahan dokter Davin dan menyamar menjadi pengantin wanitanya.
"Emang siapa yang akan membantuku menculik yang namanya Danisa?" Fazila menggeleng-gelengkan kepala. Sungguh ia tak suka dengan otaknya sangat licik sekarang.
"Tapi masa iya aku harus menghentikan pernikahan di hari H? Bagaimana kalau dokter Davin malah mengusirku? Ah itu sangat memalukan sekali," keluh Fazila sambil menutup wajah dengan kedua tangannya. Dia benar-benar bingung sekarang.
__ADS_1
Bersambung.