
“Emm, kakak ke asrama dulu ya?”. Izin Anisa.
“Aku?”. Tanya Husna.
“Kamu disini dulu ajah gak papa, kalau masih mau ngobrol sama kakak kamu”. Jawab Anisa.
“Aku iku kakak ajah”. Ujar Husna.
“Oke deh, kirain masih mau ngobrol”. Jawab Anisa.
“Kakak Ica”, Panggil Faiz dari pagar perbatasan santriwan.
“Sebentar ya, kamu disini dulu”. Ujar Anisa. Husna mengangguk.
“Faiz kok kenal kak Ica sih?”. Gumam Husna.
“Iyalah kenal, Faiz tu adiknya”. Jawab Fahri.
“Ha? Iya?”. Tanya Husna memastikan. Farhan hanya mengangguk.
“Kak, aku bantuin kakak biar bisa mengambil hatinya kak Ica”. Celetuk Husna kepada kakaknya.
“Kak Ica?”. Tanya Farhan.
“Iya, kak Anisa”. Jawab Husna.
“Gak usah ngawur. Mati nanti dia kalau hatinya diambil”. Jawab Farhan.
“Helleh! Wajah kakak tuh nampak kalau kakak sebenernya suka sama kak Ica”. Ucap Husna.
Farhan langsung menatap mata adiknya.
“Masak iya? Seriuz?”. Tanya Farhan.
“hahaha, kakak masuk perangkapku... hahaha, kaan, berarti bener kakak suka sama kak Ica”. Tawa Husna pecah.
“Hish kamu ini. Nggak kok! Kakak gak suka sama kak Ica kamu itu”. Jawab Farhan.
“Gak usah ngeles kak”. Ucap Husna.
“Ngeles kenapa?”. Ujar Anisa yang sudah kembali.
“Eh, udah ya kak.. Yuk ke asrama”. Ajak Wardah sekalian menghindari pertanyaan Anisa. Husnapun merangkul lengan Anisa dan menuntunnya ke jalan.
“Eh. Eh, bentar Husna. kami pamit dulu mas, Assalamu’alaikum”. Ujar Anisa sedikit berteriak kepada Farhan karena telah ditarik Husna.
__ADS_1
“Wa’alaikumussalam”. Jawab Farhan sambil tersenyum memandangi sang adik yang terlihat dekat dengan Anisa.
“Kak, boleh gak aku panggilnya kak Ica?”. Tanya Husna.
“Hemm? Boleh dong. Terserah kamu mau manggil kakak nama yang bagian mananya”. Jawab Anisa.
“hehehe, okee”. Jawab Husna senang.
“Kak, kakak risih gak sih aku gandeng kayak gini?”. Tanya Husna sedikit menglepaskan rangkulannya.
Anisa tersenyum dan melepaskan tangan Husna lalu merangkul pundak Husna. “Kakak gak papa kok. Malahan kakak seneng. Kakak merasa punya adik perempuan. Dari dulu kakak pengen punya adik perempuan, tapi dapetnya cowok, hihihi”. Ujar Anisa.
Husna yang mendengar itupun merasa sangat senang. Hingga tak terasa jika mereka telah sampai di asrama.
“Yaudah, Husna mau ke asrama Husna dulu”. Ucap Husna.
“Siap boss”. Jawab Anisa. Setelah Husna pergi, Anisa masuk ke asrama.
“Dari mana aja lu? Main ngilang ajah”. Serka Wardah.
“Emm, Cuma dari kantin sama Husna. Tadi tuh gua laper, terus aku ngajak Husna deh. Hehehe. Maaf yaa”. Jelas Anisa.
“Makanya, kalau disuruh makan tuh makan, bukan langsung nyelonong pergi ajah. Mereka biasanya juga nunggu kok. Kan kamu tau biasanya Ibuk juga makan dulu”. Tutur Wardah panjang lebar.
“Iya-iya ibu keamanan, saya minta maaf”. Ucap Anisa.
Anisa dan Wardah tengah berjalan-jalan menyusuri kelas. Kali ini mereka berdua tidak mengajar. Jadi mereka bisa jalan-jalan mengelilingi pesantren. Meskipun sudah malam, tidak ada kesan menyeramkan disini. Sebab cahaya lampu ada dimana-mana dan santripun banyak yang berpencar diluar ruang kelas untuk sekedar melancarkan atau mengahafal kitab dan Al-Qur’an.
“Kita ke kelas sebelah sana yuk!” Ajak Wardah.
“Itukan tempatnya santriwan”. Jawab Anisa.
“Gak papa, aku pengen lihat kakak kamu ngajar”. Ucap Wardah. Sebenarnya Wardah memang menyukai kak Ical. Anisapun sudah mengetahuinya. Sebab, Wardah memang sering curhat kepada Anisa.
“Huft... Sudah kuduga. Pasti mau mata-matain kak Ical”. Jawab Anisa.
“Udah ayuuuk”. Ajak Wardah dengan menarik tangan Anisa.
....
“Masyaallah... tampan banget sih kak Ical tuu”. Ucap Wardah. Sedangkan Anisa tengah memandangi Farhan yang tengan melantunkan sholawat disamping kakaknya dan didepan santriwan.
Kali ini Farhan dan Faisal tengah mengajarkan banjari kepada santriwan. Suara Farhan dan Faisal memang terkenal bagus dan mereka dulunya juga salah-satu anggota banjari pesantren. Anisa dan Wardah kini tengah melihat 2 laki-laki tampan itu dari jendela yang mana jendelanya tidak terlalu tinggi.
“kalian lagi lihatin apa?”. Tanya Cak Ibil yang tiba-tiba muncul.
__ADS_1
“Eh! Kok Cak Ibil ndak ngajar?”. Tanya Anisa.
“Ngajar kok. Kelas kakak disebah sana. Gak terlalu jauh. Kebetulan tadi lihat kalian, ya udah cacak keluar dulu. Kirain ada yang penting”. Jelas Cak Ibil.
“ndak kok. Gak ada yang penting. Aku sama Anisa Cuma mau lihat santri latihan banjari”. Jawab Wardah.
“Eh, kayaknya itu Husna deh. Aku panggil kesini ya?”. Tanya Anisa.
“Ngapain dipanggil kesini?”. Tanya Cak Ibil. Tampaknya tidak begitu senang jika Anisa dekat dengan adik Farhan.
“Gak boleh ya? Padahal aku Cuma pengen sama dia ajah”. Ucap Anisa sedikit kecewa.
“Emang Husna kenapa sih?”. Tanya Wardah.
“Yaa, gak papa.. enak ajah gitu ngobrol sama
dia”. Jawab Anisa.
“Sama aku gak enak berarti?”. Tanya Wardah.
“Bukan gituu, kan kalau sama-sama lebih enak, lebih rame”. Jawab Anisa.
“Ajak kesini gih. Gak papa. Ajak juga temennya 3 itu, biar kita gak malu kalau mau lihat banjari. Kan bareng-bareng”. Ucap Wardah.
“Boleh? Oke, aku samperin ya?”. Jawab Anisa dan langsung mengejar Husna.
“Kamu kenapa sih ngajak santri kesini?”. Tanya cak Ibil tak suka.
“Hallah. Cacak ini, merekakan udah aliyah. Sedangkan yang diajarin sama mas Faisal dan mas Farhan masi MTS, jadi gak papa. Lagian lihatnya di satir kok. Lihatnya gak langsung berhadapan”. Ucap Wardah.
Anisa, Husna dan teman-temannyapun sudah datang.
“Yuk, masuk“. Ajak Wardah.
“Gak boleh masuk. Nanti kalian ganggu konsentrasi mereka”. Ucap Cak Ibil. Iapun langsung meninggalkan Anisa dan yang lainnya.
“ Cak Ibil kenapa sih? Gak kayak biasanya”. Ucap Wardah.
“Yaudah, gak papa”. Ucap Anisa.
“Yaah, maaf yaa. Kakak gak jadi ajak kalian masuk”. Ucap Anisa kecewa.
“Gak papa kok kak, kita lihat dari jendela ajah”. Jawab Husna dan teman-temannya mengangguk.
Akhirnya mereka hanya melihat latihan banjari lewat jendela. Tak sengaja mata Farhan menatap Anisa. Begitupun sebaliknya. Husna yang menyadari hal itu langsung menyenggol lengan Anisa. Anisapun salah tingkah dibuatnya. Farhan menahan tawanya melihat Anisa salah tingkah.
__ADS_1
TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA :")