Dosen & Rektor

Dosen & Rektor
Calon Istri


__ADS_3

Hari baru untuk Faisal dan Aisyah. Tiap kali melihat mereka berdua, selalu saja terpancar senyuman.


Berbeda dengan Anisa. Dari tadi tampak cemberut saja. Farhan yang disampingnya tak heran, pasti perihal peresmian khitbah.


"Jangan mencureng gitu ah. Salah saya besar banget yaa? Tadi ceria-ceria aja, kenapa sekarang beda". Ujar Farhan yang ada disamping Anisa sedang mengemudikan mobil.


"Tadi kan ekting".Jawab Anisa singkat.


"Hahaha, kamu bikin saya jadi tambah yakin buat nikahin kamu, hahaha". Ujar Farhan terpingkal.


"Dasar! Aneh!". Umpat Anisa.


"Nanti di kampus gimana maasss?". Rengeknya.


"Gimana gimana maksudnya? Ya sudah, ya di kampus ngajar, kalau sudah pulang". Jawab Farhan.


"Maas, pasti jadi trending topik". Sambung Anisa dengan memelas.


"Matanya biasa ajah, kamu mau goda saya? Gak ngaruh, saya masih bisa nahan". Jawab Farhan mengacuhkan Anisa.


"Hiiish! Siapa yang goda situ?". Anisa membuang mukanya ke jendela. Farhan melihat Anisa sekilas dan tersenyum.


"Sudah sampai". Ujar Farhan ketika sampai di parkiran.


"Maasss". Ntah kenapa Anisa sering banget ngrengek. Hahhaha.


"Sudah, tidak apa-apa, abaikan saja mereka. Besok kalau sudah jadi istri saya lebih parah malahan. Fans saya banyak lho". Ujar Farhan PD. Anisa memutar bola matanya jengah.


"Kak Anisa, Pak Rektor, selamaat yaaa. Semoga lancar sampai hari H. Jangan lupa undangin kita yaa". Ujar beberapa mahasiswa menghampiri mereka.


"Aammiin, terima kasih atas do'anya". Jawab Farhan. Sedangkan Anisa hanya tersenyum sipu.


"Kami permisi dulu ya, ayo Nis". Pamit Farhan.


"Udah mau nikah kok masih panggil nama sih Pak? Sayang gitu kek". Ujar salah satu mahasiswa.


Farhan membalas dengan senyumannya. "Mari, permisi". Ujar Farhan dengan sedikit menarik lengan baju Anisa.


Hampir tiap orang yang mereka temui mengucapkan selamat. Anisa tampak risih tak nyaman. Untung saja Farhan memilih menggunakan lift khusus, jadi tidak ada orang lain.


"Maaass". Ujar Anisa terpotong.


"Apa lagi sayaang". Goda Farhan.


"Hih! Apaan sih! Geli tauu". Anisa memukul-mukul lengan Farhan geram.


"Iy.iyya.iyyaa, maaf! Astagaaa, kuat banget kamu mukulnya". Ujar Farhan dengan menahan tangan Anisa.


"Astaghfirullah, maaf Nis, kamu sih kenceng banget mukulnya". Ujar Farhan setelah menyadari bahwa ia memegang tangan Anisa.


Anisa jadi salah tingkah sendiri. Ia membuang mukanya dari Farhan. "Pasti mukaku udah merah ini, duuuuh". Batinnya.


"Sudah sampai kantor kamu". Ujar Farhan.


"Maass". Lirih Anisa.


"Kenapa?". Tanya Farhan.


"Kalau ditanyain orang kantor gimana?". Tanya balik Anisa.


"Ya dijawab dong". Jawab Farhan lembut.


"Huufft! Ya udah, Anisa ke kantor dulu. Assalamu'alaikum. Anisa menghela napasnya dan pamit.


"Wa'alaikumussalam". Jawab Farhan.


"Assalamu'alaikum". Sapa Anisa memasuki kantor.


"Wa'alaikumussalam".

__ADS_1


"Wah! Nisa? Apa kabar? kok waktu lamaran gak undang kami sih". Ujar Mbak Izza salah satu dosen.


"Maaf mbak, yang nyusun acaranya mas Faridz, saya gak tau apa-apa". Jawab Anisa sekenanya.


"Assalamu'alaikum, bolehkan saya meminta waktunya sebentar? Anisa?". Ucap Bu Anggun memasuki ruang dosen Agama Islam.


"Boleh Bu, monggo. Mau dimana?". Tanya Anisa.


"Mari ikuti saya". Jawab Bu Anggun. Mereka berjalan menuju lorong paling ujung, sekiranya tak ada lalu lalang orang.


"Ada apa ya bu? Apakah sangat penting, sampai berbicara ditempat sepi seperti ini". Ujar Anisa memulai percakapan.


"Saya sudah pernah memperingatkan kamu untuk menjauhi Mas Rektor. Tapi kenapa kamu masih tetap saja? Bahkan kamu malah bertunangan". Ujar Bu Anggun.


"Hallah! Jangan sok polos deh An. Kamu sengajakan deketin Mas Rektor, sok sok deket sama orang tuanya. Atau jangan-jangan kamu pakai pelet yaa? Wah! Hari gini masih pakek kayak itu". Sambungnya tak memberi kesempatan Anisa untuk menjawab.


"Anda kalau berbicara tolong diperbaiki. Jangan berbicara yang belum tentu benar. Saya tidak menyangka ternyata masih ada dosen yang tidak mengerti tatakrama. Lima tahun yang lalu, terakhir saya dengar. Ketika Ayah saya masih menjabat sebagai rektor". Ujar Farhan.


Ternyata Farhan tak meninggalkan Anisa. Ia ingin mengajak Anisa ke ruangannya. Ternyata ia malah melihat Anisa mengikuti Bu Anggun pergi.


"Emm.em. it.itt.ittu, ttidak seperti yyaang mas dengarkan". Ujar Bu Anggun gagu.


"Sudah. Ayo Anisa, ikut saya". Ujar Farhan.


"Saya permisi dulu bu, Assalamu'alaikum". Pamit Anisa dan mengikuti Farhan.


*Ruangan Farhan


Farhan duduk di sofa ruangannya.


"Duduk". Ujar Farhan.


"Jangan serem-serem mas, Aku takut". Lirih Anisa dengan mengikuti perintah Farhan duduk disampingnya.


"Buat apa saya marah sama kamu? Kamu kan gak salah. Sepertinya, saya tidak bisa marah sama kamu. Apalagi melihat wajah kamu seperti itu. Hahaha". Jawab Farhan.


"Lain kali? Aku bakalan ngadepin hal kayak tadi lagi?". Tanya Anisa polos.


"Yaaa, semoga saja tidak". Jawab Farhan.


"Harus mempersiapkan diri lahir dan batin kalau jadi bagian hidupnya mas, banyak fans yang mentalnya kuat buat nglabrak". Ujar Anisa.


"Hahahaha, sudah-sudah. Ayo kita ngajar". Ujar Farhan.


"Kita? Emangnya jam kita ngajar sama?". Tanya Anisa heran.


"Iyaa, semua jadwal kita sama jamnya. Jadi, kalau kamu keluar kelas, saya juga keluar kelas. Jadi, kita bakalan sama-sama terus". Jelas Farhan.


"Belum nikah aja udah seposesiv itu". Jawab Anisa mengambil tas meninggalkan Farhan.


"Tunggu doong, kamukan calon istri saya. Jadi harus sering sama-sama". Ujar Farhan mengejar Anisa kedalam lift.


"Apa hubungan antara calon istri sama harus sering berdua? Toh kita nikahnya masih bulan depan". Ujar Anisa.


"Ya iyalah. Sayakan mau pamer sama orang-orang kalau calon istri saya cantik". Jawab Farhan.


"Dasar gombal". Balas Anisa.


*Farhan Pov


Alhamdulillah, akhirnya kelar juga kelasnya. Anisa udah selesai belum ya? Aku jemput di kelasnya aja deh.


Oh oh oh, pucuk dicinta ulam pun tiba.


"Memang benar-benar jodoh. Aku gak harus nungguin lama kamu udah muncul". Ujarku.


"Emang udah jamnya keluar kelez". Jawabnya. Ekspresinya itu lho. Ya Allaaah, cepatkan proses pernikahan kami. Udah gak sabar mau nyubit pipi chuby nya.


"Ayo kita pulang". Ajakku. Anisa mengangguk dan kami langsung ke arah parkiran.

__ADS_1


"Mas?". Panggilnya ketika kami sudah mengemudi dengan tenang.


"Hmm?". Kubalas dengan deheman.


"Bu Anggun gak di pecat kan?". Tanyanya.


Kenapa sih kamu bahas Anggun lagi Nis? Aku udah males.


"Kita lihat saja keputusan Ayah". Jawabku akhirnya.


Huufft.


***Rumah Anisa


Masih Pov Farhan yee**


Ini ni yang aku suka. Makan malam bareng calon mertua. Yang gak aku suka! Melihat Ical mesra-mesraan sama istrinya. Sengaja kali mereka. Pasti mau manas-manasin aku.


Kok Anisa biasa aja sih? Apa gara-gara udah sering lihat kali yaa, makanya kebal.


"Minggu depan kalian fiting gaun pengantin ya". Ujar Umi.


"Kok cepet banget? Kan masih dua bulan lagi". Sanggah Anisa.


"Kita harus persiapkan semuanya dengan matang sayang. Harus perfect". Sambung Umi.


"Aku mau yang kayak Mbak Aisy aja". Jawab Anisa.


"Gak bisa sayang, kamu anak perempuan Umi satu-satunya. Mbak Aiys kemarin juga mau Umi perlakukan kayak kamu. Eh! Aiys nya malah ngancam Umi gak mau nikah kalau gak sederhana. Ya umi takut lah. Untung aja masih bisa Umi bujuk dengan konsep kemarin". Ujar Umi.


"Gimana menurut kamu Han?". Tanya Umi padaku


"Farhan ngikut aja Mi". Jawabku.


"Lhaa, ini yang Umi suka. Kamu nurut aja Neng". Ujar Umi.


Setelah menyelesaikan makan malam, kami berkumpul di ruang keluarga.


"Maaf ya Han, kamu gak bisa aku ajak nyelonong masuk kedalam kamarku lagi". Ujar Ical.


"I know". Jawabku jengah. Aku paham kali, mana mungkin aku mau masuk kamar pengantin baru.


"Beneran deh. Nikah itu enak banget. Bisa ibadah kapanpun. Ada yang ngurus lagi". Godanya dengan berbisik.


"Apa lagi kalau malam hari. Duuuuhh. Mantaabbb". Lirihnya. Astaga. Gua merinding dengerin lirihannya.


"Udah deh Cal. Gak usah mancing. 2 bulan lagi gua nyusul". Jawabku geram.


"Jangan panggil nama woi! Lu bentar lagi jadi adek ipar gua. Awas aja lu. Mau apa gua gak testuin lu pada". Ancamnya.


"Jangan gitu dong bro. Ampun suhuu". Jawabku. Gak asik nih anak. Ngancemnya bahaya.


"Abi, Umi, saya pamit dulu, sudah malam". Pamitku sudah tak tahan dengan ucapan Ical.


"Oalah, iya nak. Hati-hati. Jangan lupa yaa, minggu depan fiting baju". Ujar Umi.


"Siap Mi". Kusalami Umi dan Abi.


"Lu gak salim sama kakak ipar?". Tanya Ical.


Ku langkahkan kaki ke arah Ical dan kusalami tak lupaencium tangannya.


"Ampun suhu". Jawabku. Disertai gelak tawa Umi dan Abi melihat tingkah kami.


"Assalamu'alaikum". Pamitku.


"Wa'alaikumussalam".


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2