
Untuk orang yang menganggur, mungkiin kegiatan berkebun bisa menjadi alternatif pilihan untuk mengisi waktu luang. Seperti Anisa saat ini. Di temani Mbah Uti dan Mbak kakung, Anisa menanam bunga yang kemarin ia beli dengan Farhan.
Sedangkan di tempat lain, seorang wanita tengah memencet bel sebuah rumah dengan sesekali mengucapkan salam. Lama sekali ia menunggu untuk dibukakan pintu. Hingga datanglah ibu-ibu paruh baya membukakan pintu dari dalam.
“Ini Neng Wardahkan?” Tanya ibu-ibu itu. Wardah tersenyum menanggapi Mbok Imah.
Wardah mencium punggung tangan Mbok Imah dengan sopan. Di peluknya wanita itu. Tak dapat dipungkiri, ia juga kangen. Dulu ia sering menginap di rumah ini dan berangsur-angsur juga dekat dengan penghuni rumah ini.
Ya! Kini Wardah sudah berada di depan rumh sahabatnya Bunda terus membujuk Wardah untuk mengunjungi Anisa. Hingga dua malam kemarin Mbah Uti Anisa menelepon, meyakinkan Wardah agar mau memaafkann Anisa. Sebenarnya Wardah tak marah. Justru ia yang salah telah menuduh Anisa membocorkan hubungan yang sebenarnya dengan Cak Ibil.
“Siapa Mbok?” Tanya seorang wanita dar dalam.
“Wardah? Ya Allah... Sudah lama banget gak ketemu kamu. Masuk dulu yuk!” Teriak Kak Aiys sembari memeluk Wardah dengan eratnya. Kak Aisy menggandeng Wardah memasuki rumah. Dipersillahkannya Wardah duduk di ruang keluarga. Kemudian Kak Aisy tampak memasuki sebuah kamar.
Wardah kini terbengong memandangi rumah sahabatnya itu. Kenapa gerangan sepi sekali? tak ada suara Umi ataupun Abi. Anisa dan Mas Farhan juga tak ada. Atau mungkin mereka sedang keluar? Tak lama kemudian, keluarlah Kak Ical dengan menggendong baby girl yang sangat imut.
“Apa kabar Wardah? Udah lama sekali kita tidak berjumpa, hahaha,” Sapa Kak Ical kemudian duduk di sofa samping Wardah.
“Iya kak, baru pulang dari 3 hari kemarin. Baru sempat main sekarang deh,” Jawab Wardah. Ocehan baby itu membuat suasana tak semenegangkan ruang sidang.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Kak Aisy datang membawa minuman.Hilya sudah berpindah tempat di pangkuan Wardah setelah dari tadi merengek mengacungkan tangan meminta digendong Wardah. Bahaya ini anak, sama orang baru main tempel-tempel saja. Kalau bertemu orang asing bisa berabe ini mah.
"Kesini sama siapa tadi?" Tanya Kak Ical.
"Sendiri, pakai ojol tadi kak," Jawab Wardah.
"Anisa-nya di rumah Farhan Wardah, mau langsung ke sana ta?" Tanya Kak Aisy.
"Kakak anterin deh, sekalian kakak mau main juga," Sambung Kak Aisy.
"Umi sama Abi?"
Wardah manggut-manggut mendengar jawaban Kak Aisy. Pantas saja sepi.
"Diminum dulu, habis itu kita berangkat," Ujar Kak Ical.
.
.
__ADS_1
.
Wardah membantu Kak Aisy menyiapkan perlengkapan Hilya mungil di gendongannya. Anak itu tak mau sama sekali melepaskan Wardah. Ia terus merangkul leher Wardah.
"Kamu gak papaka Dah, gendong Hilya terus?" Tanya Kak Aisy sembari memasukkan perlengkapan Hilya dalam tas.
"It's okee... Aku seneng kok ngajak anak kecil kayak gini. Apalagi yang cantiknya kayak mamanya ini," Jawab Wardah.
"Kamu mah, bisa aja... Ayo! Kita berangkat," Ajak Kak Aisy yang berjalan dahulu diikuti Wardah.
Sepasang kucing lucu menghampiri Wardah yang tengah menunggu Kak Ical.
"Ini Jacy sama... Siapa itu, lupa dah," Celetuk Wardah sembari jongkok mengelus kucing itu diikuti Hilya yang ikut-ikutan.
"Ntah, lupa kakak jugaan. Yang ngurusin Mbok Imah." Ujar Kak Aisy.
Mereka berangkat bersama ke rumah mertua Anisa dengan Kak Ical dan Kak Aisy di jok depan dan Wardah di jok belakang bersama nak kecik di pangkuannya.
......Bersambung ......
__ADS_1