Dosen & Rektor

Dosen & Rektor
Sick (2)


__ADS_3

*Hati-hati banyak kebucinan betebaran disini 🙊🙊🙊


Seharian full Anisa mengajar secara daring. Bahkan ia juga harus menggantikan kelas Farhan juga. Sepertinya esok hari akan seperti ini pula jika Farhan belum sembuh. Bahkan suhu tubuh panasnya masih terasa sampai kulit Anisa.


"Adek ke dapur dulu Mas," Lirih Anisa setelah menutup kelasnya. Farhan dengan malasnya pindah berbaring di bantal yang sesungguhnya.


Anisa mencari makanan yang bisa ia makan saat ini. Bahkan Anisa tidak sempat sarapan gara-gara mengajar kelasnya ditambah kelas Farhan. Gudeg! Ternyata Mbah Uti memasak gudeg. Anisa mengambil di piring kecil untuk dibawa ke kamar. Sekaligus ia membuatkan jus strawbery untuk Farhan. Ini sudah jus ke 3.Semata-mata agar Farhan lekas sembuh.


.


.


"Jus lagi Yaang?" Tanya Farhan ketika melihat Anisa membawa nampan berisi jus.


"Iyaa, katanya Mbah Uti kalau sakit harus banyak makan buah. Tenang aja Mas, Adek kan buatnya macam-macam buah," Jawab Anisa.


Anisa kembali ke depan laptopnya tadi. Kali ini ia akan menghabiskan makanannya terlebih dahulu. Farhan tak membiarkan begitu saja, dengan senang hati ia mengganggu Anisa dengan ikut menyomot gudeg yang dibawa.


"Mas mau? Biar Adek ambilin," Tawar Anisa.


"Boleh," Jawab Farhan.


"Okee, Mas habisin jusnya dulu. Adek sampai sini udah habis yaa jusnya! Habis makan kita sholat zuhur," Ujar Anisa sembari berlalu.


.


.


Jika biasanya Anisa dan Farhan makan bersama yang lainnya, kini Anisa membawa makanan mereka ke kamar. Anisa benar-benar meminta Farhan agar istirahat total hari ini.


"Husna biar Mas antar pulang dulu dek," Ujar Farhan setelah selesai makan.


"Ndak usah, biar diantar Kak Ical kalau nggak Mang Darma ajah, Anisa cuci piring dulu sekalian bilang ke Kak Ical," Jawab Anisa sembari meninggalkan Farhan.


Dilihatnya Husna tengah menonton dengan Mbah Uti dan Mbah Kakung. Anisa menghampiri mereka.


" Husna?" Panggil Anisa.


"Iya Kak?" Jawabnya.


"Piringnya bawa ke dapur dulu nduk," Ujar Mbah Kakung.


"Iya Mbah, bentaran aja, hehehe," Jawab Anisa.


"Husna jadi pulang hari ini?" Tanya Anisa.


"Iya Kak, tapi mau di antar sama Faiz kok," Jawab Husna.

__ADS_1


"Oalah, sama Faiz to? Ya udah kalau gitu. Mau ke kamar Kakak?" Tanya Anisa lagi. Mengingat tadi pagi ia tampak ingin bertemu sang Kakak.


"Boleh kak? Kak Farhan gak marah?" Tanyanya dengan ekspresi sumringahnya.


"Iyaa boleh, Kak Farhan malah nanyain Husna tadi," Jawab Anisa.


"Nanti Husna ke sana," Jawabnya.


"Oke! Kakak ke dapur dulu," Ujar Anisa kemudian beranjak ke dapur.


Anisa membersihkan piringnya ditemani Si Mbok yang tengah berberes meja makan. Awalnya Si Mbok meminta nampan Anisa tapi ditolak mentah-mentah. Anisa memang tak mau merepotkan si Mbok.


Cklek! Anisa mencari suaminya tapi tak didapati di atas ranjang. Dimana dia? Anisa mencari di seluruh penjuru kamar tak didapatinya. Hanya gelas jus dan air putih di atas nakas yang telah tandas isinya.


Anisa melangkah ke ruang kerja suaminya.


Cklek!


Tepat. Farhan sudah mengenakan baju kokonya. Padahal tadi ia masih memakai kaos putih kebanggaannya. Laptop pun sudah bertengger di depannya. Apa Farhan akan mengajar?


Anisa menghampiri suaminya dan mengalungkan tangannya di leher. Cup! Satu kecupan mendarat ke pipi Farhan.


"Mau ngapain? Biar Adek yang gantikan kelas Mas," Ujar Anisa yang masih memeluk leher Farhan kemudian memandang wajah suaminya dari samping.


"Mas gak ngajar, kan jadwalnya udah habis sama Adek tadi. Nih masih ada rapat," Jawab Farhan dengan santainya sambil menunjuk ke layar laptopnya.


Plak! Satu pukulan mendarat di lengan Farhan. Anisa meninggalkannya dengan muka masam + malu. Anisa jelas saja tak tahu jika laptop Farhan sudah menyala. Tak ada suara apapun dari laptop itu.


Farhan hanya menggaruk rambutnya yang tak gatal itu. Ia juga tak tahu ternyata zoom-nya sudah terkoneksi. Seingatnya, signalnya tadi masih conecting. Mana ia harus menerima ejekan para bapak-bapak seniornya. Bukan hanya itu! Jangan lupakan pukulan yang mendarat di lengannya tadi. Yaaaa, walaupun tak sakit sebenarnya.


"Saya mohon maaf Bapak-bapak, saya izin sebentar," Ujar Farhan. Dimatikannya kameranya dan suaranya.


Farhan menghampiri Anisa yang ada di kamar dengan menutup mukanya dengan tadybearnya. Tak lupa ia membawa serta laptopnya. Tak ingin jika ketinggalan rapat. Diletakkannya pada nakas.


"Apa! Mau nunjukin ke Bapak-bapak itu lagi!" Ujar Anisa judes.


Farhan memeluk Anisa dari belakang.


"Maaf Yaank, Mas juga gak tahu kalau ternyata udah terkoneksi ke zoom. Tadi signal wifinya lemot, beneran deh!" Farhan mencoba menjelaskan.


"Aku malu maaas! Kek mana besok kalau ke kampus? Gak berani Anisa ngeluarin muka," Sanggah Anisa.


Huufft! Farhan menghembuskan napas beratnya. Akhirnya ia melepaskan pelukannya dan melanjutkan rapatnya. Kali ini kameranya tak diaktifkan. Trauma rasanya. Hahaha.


Anisa POV


Kalian tahu rasanya? Malu tingkat dewa cuy! Malu banget rasanya. Ditambah sebel banget saat Mas Faridz tak memelukku lagi. Apa! Dia gak bujuk aku lagi! Hiish!

__ADS_1


Perlahan kubalikkan badanku untuk melihat orang itu di belakangku. Dia tengah memberikan sambutan untuk rapatnya. Uhh! Salah ya aku? Kok rasanya aku marah atas kesalahan yang aku buat sendiri? Kenapa aku tadi tak melihat kayar laptop Mas Faridz dahulu? Asal nyosor aja! Mana dengan seenaknya mukul lengan dia lagi!


Haduuuuhhh! Kek mana iniii? Sesekali aku meliriknya. Panjang sekali kata sambutannya! Oke! Aku harus minta maaf!


Aku tiba-tiba duduk. Tentu saja itu mengejutkan suamiku. Ekspresinya! Hahahha, demi apa! Rasanya pengen ngakak! Tapi kutahan. Bahkan kata sambutannya terjeda cukup lama karena melihatku.


"Pak Farhan? Anda di sana?" Tanya seseorang dari balik zoom itu. Ternyata Mas Faridz tak menghidupkan kameranya. Apa dia juga malu?


"Eh! I-iyya, saya di sini. Kemudian,.... " Mas Faridz melanjutkan kata sambutannya dengan masih memandangiku.


Aku memeluk Mas Faridz, dan membisikinya.


"Maafin Adek!" Ia tersenyum dan mengangguk, tentunya masih dengan kata - kata sambutan.


"Baik, sepertinya sekarang giliran Bapak Direktur Universitas yang menyampaikan sambutannya," Ujar moderator rapat mereka setelah Mas Faridz menutup kata sambutannya.


Mas Faridz menarikku hingga terduduk di pangkuannya. Tentu saja aku tak menolak. Kusenderkan kepalaku di dada bidangnya dengan jemari yang menari di atasnya pula. Aku yakin ini akan mengganggu konsentrasinya. Ku yakin wajah seriusnya itu hanya ditahan. Hahaha. Kita lihat sampai kapan pertahanannya akan bertahan.


" Pak Farhan? Mungkin lebih baik kamu on-kan kameranya! Tenang saja, kami tak akan menyinggung kemesraan tempo lalu," Ku yakin itu suara Ayah! Di tambah gelak tawa orang-orang pula.


Blussh, tentu saja malu. Kuyakin mukaku sudah merah. Kulihat Mas Faridz terdiam. Tunggu! Pipinya merah juga! Bapak-bapak itu terus saja mendesak agar Mas Faridz membuka kameranya. Akhirnya aku berinisiatif turun dari pangkuannya dan merubah posisi sama seperti Mas Faridz pagi tadi. Tentunya agar tak terlihat dari kamera.


"Nah! Gitu dong! Kan jadi lebih afdhol rapatnya," Ku yakin itu suara Ayah lagi. Itu berarti Mas Faridz sudah meng-Onkan kameranya. Kenapa Ayah bikin gemes siiiih? Rasanya aku ingin mengibarkan bendera perang tapi tak berani. Xixixixi.


Untung saja aku tadi sempat membawa salad buah dan jus buah naga. Jadi aku bisa mengemil juga deh. Tak lupa ju suapi Mas Faridz. Masabodo dengan orang-orang rapat itu. Masak iya mereka rapat di depannya ada cemilan, Tapi mas Faridz gak ada. Ya kasihan lah. Maafkan hambamu ya Allah, hamba makan dengan berbaring. Kalau duduk pasti nanti nampak di kamera. Alasan saja ko ini Anisa!


Rapat itu memang menggunakan apk zoom. Taoi hanya untuk Mas Faridz, karena ia tengah izin sakit. Dan yang lainnya tetap tatap muka.


Oh iya! Jangan lupakan. jika di kamera itu terlihat sesendok garpu dengan potongan buah ataupun sedotan dengan jus, berarti itu ulahku. Hahahaha. Toh ini rapat santai, jadi aku tak khawatir.


Bersambung....


*Para pembaca tahu apk zoom kan?


Alhamdulillah kalau tahu, jadi Lhu-Lhu tak perlu menjelaskan lagi. Hehehe.


Jika ada yang tak tahu, silahkan tanya pada yang tahu. Ingat, malu bertanya tersesat di embong.


Tahu embong ndak? Hahaha, Tanya Mbah Google deh!


Tapi Lhu-Lhu gak yakin juga kalau Mbah Google tahu, Lhu-Lhu gak pernah tanya juga soalnya. Hehehe.


Maafkan atas keterlambatan Up Lhu-Lhu 🙏🙏🙏


Tadi malam Lhu-Lhu ada acara yasinan Bapak-bapak tiap malam jum'at. Jadi sedikit repit. Hehehe.


Maafkan curhatan tak berfaedah-nya Lhu-Lhu juga 🙊🙊🙊

__ADS_1


Sayang kaliaan!


__ADS_2