Dosen & Rektor

Dosen & Rektor
Phobia


__ADS_3

Hembusan angin malam begitu menusuk tulang belulang Anisa saat ini. Tapi, ia tetap bertahan di pinggir kolam untuk lalaran Al-Qu'an bersama Husna.


Para orang tua sudah berada dikamar masing-masing. Alasannya karena masih merasa capek akibat perjalanan jauh tadi siang. Padahal jam masih menunjukkan pukul 20.00.


Ketika sedang asik lalaran, tiba-tiba lampu villa mati seluruhnya.


"Astaghfirullaaah! Husnaa? Kamu dimana?". Panggil Anisa dengan meraba Husna disebelahnya.


"Iya kak? Husna disini kok". Jawab Husna mendekat pada Anisa.


Anisa memang phobia dengan kegelapan. Kini Anisa tengah menggenggam erat-erat tangan Husna.


"Deek, kakak takuut". Ujar Anisa. Ia tak berani membuka matanya.


"Gak papa kak, ada Husna kok. Bentar lagi juga hidup lampunya". Husna menenangkan.


*kamar Farhan & Faisal.


"Kok mati lampu sih!". Singgung Farhan.


"Astaga! Anisa!". Ujar Faisal, ia ingat jika Anisa phobia dengan gelap. Faisal melesat ke kamar Anisa. Tapi, ia tak menemukan Anisa di kamarnya.


"Aku tadi lihat Anisa lagi lalaran di pinggir kolam". Ujar Farhan.


Tanpa pikir panjang, Faisal berlari menuruni tangga menyusul Anisa dan Husna. Membutuhkan waktu sedikit lama memang, sebab kamar mereka ada di lantai tiga. Apalagi saat ini hanya bermodalkan cahaya gawai. Sesampainya di kolam renang,


"Deek?". Panggil Faisal pada Anisa.


"Kak? Kak Icaal?". Anisa mencoba berdiri dan di sambut Faisal.


Faisal membawa Anisa di pelukannya.


"Udah, gak papa. Ada kakak". Faisal menenangkan.


"Kak Ica gak papa?". Tanya Faiz yang tiba-tiba sudah berada di tempat.


"Kamu dari mana Iz?". Tanya Farhan.


"Dari kamar. Aku inget kalau kak Ica takut gelap. Makanya cepet-cepet kesini. Eh, udah rame ternyata disininya". Jawab Faiz.


"Kamu ke kamar aja gak papa dek, biar kak Ica kakak yang anterin". Ujar Faisal.

__ADS_1


"Oke deh. Aku ke kamar yaa kak Ica?". Pamit Faiz.


Anisa membalas dengan anggukan kepala. Husna juga pamit untuk ke kamarnya. Sedangkan Faiz menuntun Anisa kembali ke kamarnya dengan Farhan yang mengekor di belakang kakak beradik itu.


"Keren si Ical! Perhatian, penyayang, cekatan lagi". Batin Farhan.


Sesampainya di kamar, Anisa duduk bersandarkan kepala ranjang dengan mengapit lengan Faisal. Sedangkan Farhan masih setia berdiri bak pelayan yang siap diperintah di samping Faisal.


"Berapa lama lagi mau mati kek gini lampunya?". Tanya Faisal.


"Masih dibenerin sama mang Supri. Bentar lagi mungkin". Jawab Farhan.


Setelah beberapa saat, akhirnya listik menyala.


"Udah? Kakak ke kamar ya?". Tanya Faisal pada Anisa.


"He'em, tapi kalau nanti mati lagi, kakak langsung kesini yaa?". Pinta Anisa.


"Iya, lampu utamanya kakak matiin ya?". Tanya Faisal lagi. Anisa mengangguk. Faisal mematikan lampu utama dan menyisakan lampu tidur di samping Anisa.


Farhan pergi ke kamarnya dulu. Sedangkan Faisal menunggu Anisa untuk bersih-bersih dan berbaring di ranjangnya. Setelah mencium kening Anisa, Faisal kembali ke kamarnya dan Farhan.


"Udah tidur?". Tanya Farhan.


"Kenapa kok takut banget ama gelap?". Tanya Farhan.


"Males ah cerita. Ngantuk". Jawab Faisal, kemudian berbaring dan tidur.


"Dasar". Celetuk Farhan. Farhan mematikan lampu utama dan menyisakan lampu tidur.


Farhan melangkah ke balkon untuk menghirup udara segar. Ia pandangi gemerlap bintang di angkasa.


"Kok kamu bisa takut gelap sih Nis? Padahal cantik lho langitnya kalau malam gini". Monolog Farhan.


Setelah merasa puas menghirup udara segar, Farhan masuk kedalam mengambil sebuah buku dan mulai membacanya dengan bersandar dikepala ranjang.


Mungkin karena siang tadi terlalu lama tidur, makanya kini ia sulit memejamkan mata. Tiba-tiba listrik pun kembali turun dan mati.


"Cal? Ical? Icaaal? Bangun Cal! Anisa gimana Cal?". Farhan mencoba membangunkan Ical. Berkali-kali, tapi hasilnya nihil.


Farhan pergi ke kamar sebelah untuk mengecek Anisa. Ia putar ganggang pintu, ternyata tak dikunci.

__ADS_1


"Nis? Anisa?". Panggil Farhan. Ia mulai mendekat ke ranjang Anisa.


"Kak? Kak Ical?". Panggil Anisa. Ternyata ia belum tidur. Anisa bersembunyi dibalik selimut.


"Ini saya Farhan Nis". Ujar Farhan.


"Mas, Anisa takuut". Cicit Anisa.


"Kamu pakai jilbab?". Tanya Farhan. Farhan tak berani menyoroti Anisa dengan cahaya, takut jika sedang tak berjilbab.


"Iyaa, Anisa udah pakai jilbab". Jawab Anisa.


Barulah Farhan sedikit menyoroti Anisa.


"Saya antar ke kamar Husna yaa? Sepertinya sakelar listriknya sedang bermasalah. Dari tadi turun terus". Tawar Farhan.


Anisa mengangguk dan merangkul lengan Farhan. Tapi tidak menyentuh langsung. Melainkan dengan lapisan selimut.


"Gak papa kan mas? Anisa takut banget". Izin Anisa. Farhan terpaksa mengangguk.


Dengan perlahan Farhan dan Anisa menuruni tangga demi tangga. Sesampainya dikamar Husna,


"Husna?". Panggil Farhan.


"Iya kak? Tumben nyamperin Husna". Jawab Husna.


"Kak Anisa tidur sama kamu ya?". Pinta Farhan.


"Oalaaah, pantesaan. Kirain murni mau nyamperin Husna. Ternyata ada maksud lain". Jawab Husna.


"Mau gak?". Tanya Farhan.


"Ya mau doong. Ayo kak, gak usah takut. Ada Husna yang siap jagain kakak". Jawab Husna dengan menarik Anisa ke ranjangnya.


"Makasih ya Husna". Ujar Anisa.


"Iyaa kak, Husna malah seneng bisa tidur sama kakak". Jawab Husna.


Anisa tak melepaskan pelukannya pada lengan Husna. Meskipun telah berbaring sekalipun. Husnapun hanya pasrah menerima. Wkwkwkwk.


Setelah mengantarkan Anisa, Farhan kembali ke kamarnya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2