Dosen & Rektor

Dosen & Rektor
Apa Yee? Gak tahu judul


__ADS_3

Kedai es krim tampak kosong mlompong. Hanya segelintir orang yang berdatangan. Mungkin karena saat ini masih jam kerja. Anisa sudah menikmati es krim spesial di hadapannya.


Selama diperjalanan tak ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Dengan santainya Anisa menikmati es krim itu tanpa menggubris sama sekali. Farhan yang dari tadi memulai topik bagai tengah berbicara dengan sebongkah patung antik yang bisa menikmati makanan.


“Kalau gak dijawab Mas pulang nih!” Canda Farhan.


“Sok mangga atuh! Pulang ajah! Aku juga bisa kok pulang sendiri,” Jawab Anisa dengan ngegasnya.


“Nggak Yaang, Mas Cuma bercanda kok,” Jawab Farhan dengan memegang tangan Anisa. Sayangnya ditepis.


“Ayo pulang!” Ajak Anisa berdiri dan meninggalkan Farhan.


“Eh eh! Tunggu Yaang,” Teriak Farhan. Untung saja pembayaran makanan mereka di muka, tak perlu susah payah membayar lagi.


“Pulang ke rumah Abi atau Ayah?” Tanya Farhan setelah memasuki mobil.


“Terserah!” Jawab Anisa.


Farhan POV


Bener-bener dah! Kata “terserah” tu senjatanya cewek kalau lagi ngambek. Nggak bini gua, adek gua, bahkan Bunda juga gitu.


Ntar kalau aku milih kehendak sendiri, salah lagi, berabe lagi. kemana ya? Bentar lagi ada rapat pulak. Kalau mau izin rapat secara daring udah gak enak sama yang lain. Seminggu di pesantren sudah menghabiskan waktu rapat dan ngajar secara daring.


.


.


Alhamdulillah, setelah melewati perjalanan yang teramat panjang dan horor dengan kesepian yang hakiki akhirnya sampai juga di rumah mertua tersayangku. Ya! Akhirnya aku memilih untuk pulang ke rumah Abi dan Umi.


“Sayang?” Panggilku sebelum Anisa masuk ke dalam rumah.


Ia berhenti dan menoleh kepadaku. Tatapannya tak setajam tadi. Kali ini lebih teduh dan menenangkan. Tentunya ekspresi yang nuntut agar aku segera beekspresi yang nuntut agar aku segera berbicara. Seolah ia tengah mengucapkan “Kenapa?”


“Emm, Mas ada rapat seminar. Mas ke kampus dulu ya?” izin Farhan.


“Iya, hati-hati,” Jawabnya dengan lembut. Diraihnya tanganku dan diciumnya.


Tentu saja aku senang. Senang sekali! Aku tersenyum dan mengusap lembut kepalanya.

__ADS_1


“Assalamu’alaikum,” Pamit Farhan.


.


.


Bertolak belakang dengan suasana di rumah tadi. Para mahasiswa terlihat berlalu lalang memenuhi area Universitas. Ya iyalah bertolak belakang! Kalau rumah Abi dirubah menjadi pesantren pasti juga akan seramai ini. Ramai dengan para santri.


Kesendirian saat ini mengingatkanku saat masih bujang beberapa bulan yang lalu. Berangkat sendiri, jalan sendiri, ah! Aku tak ingin mengulang saat – saat itu. Aku sudah sangat bahagia dengan adanya bidadari tak bersayap di sampingku. Tidak saat ini. Hehehe. Tapi nanti, saat tidur.


Jam kulit yang melingkar dengan rapinya di pergelangan tangan masih menunjukkan pukul sepuluh. Kenapa rasanya lama sekali waktunya? Harusnya aku tadi singgah di rumah terlebih dahulu. Toh seminarnya masih jam sebelas. Tumben sekali mereka membuat seminar di jam-jam yang nanggung? Nanti pasti akan ngaret lagi dimulainnya.


Oke! Lebih baik aku ke kantor dulu. Pertemuanku dengan Cipto tertunda. Bagaimana ini?


Sebaiknya aku ajak bertemu nanti malam saja, sekalian makan malam di luar.


Cklek!


“Assalamu’alaikum,” Ucap seseorang sebelum aku benar-benar masuk.


“Wa’alaikumussalam. Ada apa ya?” Tanyaku. Sepertinya itu mahasiswa. Ia membawa nampan berisi seperti makanan. Tak tahu, sebab tertutup oleh tudung makanan.


“Istri saya di kampus?” Tanyaku spontan. Bagaikan mendapat emas satu gepok! Aku senang sekali.


“Tidak Pak, tadi Bu Anisa menelpon saya,” Jawabnya.


Sedih, tentu saja. Tapi tak banyak. Bagaimana dah yang namanya sedih sedikit.


Ternyata Anisa masih memikirkanku! Kira-kira nanti ia menelponku gak ya?


“Pak?” Tegus mahasiswa itu.


“Eh iya, terimakasih ya,” Jawabku sedikit terkaget sebab lamunanku diambyarkan. Kuambil nampan itu dan segera masuk ke kantor. Tak sabar ingin tahu, menu apa yang dipesankan istri tercinta.


“Sup iga!” Gumamku setelah membuka tudung makanannya. Emmm, jadi pengen pulang terus meluk dedek. Kemarin kan aku sempat bilang ke Anisa kalau aku lagi pengen sup iga. Mumpung masih ada waktu mendingan aku makan dulu.


Ting!


Sebuah notifikasi sms muncul di gawaiku.

__ADS_1


“Sudah sampai makan siangnya?”


Tanpa basa-basi membalas, segera kualihkan menjadi sambungan telepon.


“Assalamu’alaikum,” Sapanya. Suara lembut yang selalu membuatku tersepona.


“Wa’alaikumussalam, sudah sampai sayang. Nih Mas lagi makan,” Jawabku to the point.


“Itukan buat makan siang Mas. Ini masih jam sepuluh, atau adek kecepetan ya peseninnya? Makanya dimakan duluan biar gak dingin?” Ujarnya dengan khawatir + merasa bersalah + bingung + + + deh.


“Nggak yaang, Mas memang pengen makan sekarang. Lagian kalau khawatir dingin, bisa di taruh di kulkas,” Jawabku menenangkan.


“Mas kan pengen makan sup iga ini dari kemarin-kemarin. Makanya langsung dimakan saat tahu yang dipesenin putri titisan Allah buat Mas,” Sambungku.


“Hallah gombal! Ya udah, adek mau bantuin Mbah Uti dan Mbah Kakung berkebun dulu. Jangan lupa sholat, ngaji, dan sholawatnya,” Jawab sang empu. Sepertinya ia tersipu. Aku tak tahan rasanya jari ini ingin mengganti sambungan telepon menjadi video call.


“Siap sayangku. Mas pengen lihat wajahnya istri Mas,” Rengekku.


“Hahaha. Nanti aja kalau pulang. assalamu’alaikum,” Jawabnya kemudian mematikan sambungan telepon.


“Wa’alaikumussalam,”


.


.


.


Acara seminar memakan waktu yang cukup lama ternyata. Selepas salat zuhur masih berlanjut pemateri selanjutnya. Tak tanggung-tanggung, pemateri yang diundang ada empat. Huufft, rasanya pengen cepet pulang. Sebenarnya bisa saja aku meninggalkan ruangan ini, tapi lagi-lagi rasanya tak enak pada yang lain. Apalagi pemateri yang diundang merupakan teman Ayah. Di sana juga ada Ayah, tak mungkin dengan seenak hati aku meninggalkan ruangan ini. Bisa-bisanya Ayah menyetujui seminar dengan memakan waktu 4 jam.


Setelah selesai seminar aku juga harus mengajar. Tepat pukul 14.10 aku berpindah haluan ke kelas. Rasanya punggungku mulai encok.


"Han! Gimana jadinya? Kapan gua ketemu bini lho?" Cipto menepuk pundakku.


"Ngagetin aje Lhu! Gua belum ngomong ke Anisa. Nanti gua kabarin deh!" Jawabku.


Segera aku melangkah menuju gedung arah pukul 3. Sering kali aku mengeluh jika diminta berjalan seperti ini. Ruangan yang tuju juga ada di lantai empat. Aku harus mengantri lift juga. Masyaallah, maafkan hambamu yang sering mengeluh ini ya Allah. Coba saja ada Anisa, pasti aku tak akan mengeluh kali ini. Kapan-kapan akan ku buat taxi Universitas agar lebih mudah mengelilingi gedung-gedung ini. Anjaayyy.


Beginilah aslinya seorang Farhan. Banyak kekurangan sebenarnya. Tapi, masih saja banyak yang mengagumi ku. Jujur! Sebenarnya aku risih. Kecuali jika yang mengagumi istriku sendiri. Eeaaakkkk!!!!

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2