
Tiga jam merupakan waktu yang sangat cukup untuk istirahat. Farhan menghabiskan waktu itu untuk mengobrol ngalor-ngidul dengan Anisa. Masih melalui video call. Tidak hanya ngobrol, Farhan juga mempelajari berkas-berkas dan poin-poin yang akan disampaikan saat rapat nanti. Satu jam lainnya ia gunakan untuk berdiskusi dengan Pak Toni dan Bapak Wakil Rektor.
Kesan pertama memasuki ruang rapat, amazing! Tatanan ruangan yang sangat modern. Tapi tentu saja tatanan di Universitasnya tak kalah.Mereka bertiga disambut oleh beberapa pimpinan Universitas.
Sebuah manik mata tampak memandangi paras tampan seorang Farhan. Kaki jenjangnya mengikuti langkah kaki rombongannya menghampiri tiga orang yang berasal dari negara tetangganya. Uluran tangan lembutnya ia berikan sebagai tanda sambutan hangat untuk tamu di Universitas Ayahnya.
Pada dasarnya berjabat tangan dengan yang bukan makhrom itu memiliki beberapa pendapat dari para Ulama'. Ada yang memperbolehkan, dan ada yang tidak memperbolehkan sama sekali. Sedangkan Farhan memilih paham yang memperbolehkan. Toh jabat tangan disini tak menimbulkan sahwat.
Senyum manis wanita itu mengembang dikala tangannya telah bersentuhan dengan Farhan.
"Achara, are you Farhan," Ujarnya memperkenalkan diri.
"Yes, it's me," Jawab Farhan.
Mereka segera memulai konferensi agar tak memakan waktu cukup lama. Wanita berambut lurus yang tergerai khas wanita Thailand. Tak henti-hentinya memandangi sosok yang tengah berpresentasi di depan. Sepertinya sosok Farhan dapat memikat hati gadis Thailand yang sudah lama menutup hatinya untuk para lelaki.
.
.
.
__ADS_1
Siang ini Farhan memilih untuk makan siang di sebuah ruangan yang khusus disediakan untuk pihaknya. Sedangkan Pak Toni dan Pak Wakil Rektor sedang jalan-jalan keluar menikmati kuliner setempat. Berbeda dengan Farhan yang tak berselera saat ini. Jangan lupa, ia masih memiliki setok makanan buatan sang istri.
Sambungan videocall mulai tersambung. Terlihat Anisa tengah makan siang juga di kamar.
"Assalamu'alaikum suamiku," Sapa Anisa.
"Wa'alaikumussalam istriku," Jawab Farhan.
"Good afternoon sir, may I come to lunch with you?" Ujarnya tanpa basa-basi.
"Wuih! Udah dapat pengagum aja nih pak rektor! Ajak aja Mas! Adek pengen liat orangnya!" Teriak Anisa dari sambungan teleponnya. Sontak Farhan dan Achara menoleh ke arah meja Farhan. Untung saja Anisa menggunakan bahasa Indonesia.
"Sorry, it's a call from my wife. Come on in, let's have lunch together," Ajak Farhan.
Wife? Sepertinya kata itu membuat Achara terkaget-kaget. Ternyata laki-laki yang diinginkannya sudah memiliki istri. Farhan kembali ke tempatnya. Tentu saja berhadapan dengan gawainya.Farhan tak menutup pintu ruangan itu. Sengaja, takut jika terjadi fitnah.
Fokus Anisa berpusat pada wanita yang duduk tak jauh dari sang suami. Kemeja kerja dipadukan dengan blazer dan rok di atas lutut. Tak luput dari penglihatannya, wanita itu sangat cantik apalagi dengan rambut yang terurai.
__ADS_1
"Hello nice to meet you. Introduce my name is Anisa." Sapa Anisa dengan senyuman yang mengembang.
"Nice to meet you to... You are very beautiful," Jawab Achara.
"Hahaha, it's you," Tak dapat dipungkiri. Wanita itu sangat cantik. Anisa hampir minder di sini.
Farhan lebih sering berinteraksi dengan Anisa. Tapi kali ini menggunakan bahasa Inggris. Jika mereka menggunakan bahasa Indonesia, takut jika Achara tersinggung, dan merasa jika digunjingi.
Tak berselang lama, datanglah seorang pelayan membawakan beberapa makanan pesanan Achara. Ia menawarkan pada Farhan juga.
"I'm sorry, at this time I can't eat various kinds of food, I often feel nauseous. Maybe because my wife is pregnant." Ujar Farhan menolak dengan lembut.
(Maafkan saya, saat ini belum bisa memakan makanan yang macam-macam, saya sering mual. Mungkin karena istri saya sedang hamil.)
Anisa menangkap semburat kecewa di wajah wanita itu. Tapi ia juga senang jika sang suami menolak. Ia tak rela sang suami berdekatan dengan wanita lain. Tapi, jika ia mengutarakan takut jika mempengaruhi hubungan relasi bisnis nantinya.
"It's okay, I can understand that." Jawabnya memaksakan senyuman.
...Bersambung... ...
__ADS_1