Dosen & Rektor

Dosen & Rektor
Persiapan Aqiqah


__ADS_3

Sudah dua hari ini tiga keluarga besar disibukkan dengan acara akiqahan perdana cucu Abi dan besannya. Kenapa tiga keluarga? Jelas itu karena disana ada keluarga Abi, Besan, dan Ayah yang ikut andil. Ditambah dengan pihak keluarga Abi dan Umi yang dari luar kota juga hadir disini. Tak heran jika saat ini sangatlah ramai.


Anisa bertugas untuk menghandle dekorasi ruangan bersama Farhan.


“Aunti?” Panggil seorang anak perempuan kira-kira berumur delapan tahun menghampiri Anisa yang tengah membantu menghias bungan di meja.


“Iya Kak Inez?” Jawab Anisa berbalik.


“Mau bantuin dong?” Ujarnya.


“Boleh, sini Aunti ajarin nyusunnya,” Jawab Anisa.


Inez merupakan anak dari keluarga Abi. Ia baru berkunjung ke Jombang kali ini. Saat Anisa menikah tempo lalu, ia tengah ujian semester, jadi tak dapatt ikut.


“Aunti, ajak Inez jalan-jalan,” Lirihnya dengan memasang wajah memelas.


“Emmm, Inez mau jalan-jalan?” Inez mengangguk.


“Ajak Om Farhan deh, dia pasti mau,” Pinta Anisa dengan menunjuk kepada Farhan yang tengah memantau disisi lain.


“Gak berani, takut,” Lirih Inez lagi.


“Kenapa takut? Gak papa sayang. Om Farhannya baik kok. Coba deh kesana,” Bujuk Anisa.


Inez mengangguk dan mulai melangkah menghampiri Farhan. Ia tampak ragu sesekali menengok kepada Anisa. Ia telah sampai di samping Farhan. Inez yang berperawakan mungil pun tak terlintas dipenglihatan Farhan. Ia menarik sisi baju Farhan.


Farhan mulai menengok ke samping. Dilihatnya gadis mungil itu di sampingnya. Farhan tersenyum dan berjongkok menghadap Inez.


“Ada apa sayang? Kamu Anaknya tante Ratihkan?” Tanya Farhan. Inez mengangguk kemudian menghadap pada Anisa. Farhan mengikuti arah pandang Inez.


Farhan mulai paham dengan isyarat Anisa.


“Namanya siapa sayang?” Tanya Farhan.


“Inez Om,” Jawabnya.


“Inez mau apa?” Tanya Farhan lembut.


“Om Farhan mau gak jalan-jalan sama Inez?” Tanyanya dengan malu-malu.


“Oh, Inez mau jalan-jalan? Boleh, nanti sore kita jalan-jalan ya?” Ajak Farhan.


Inez tersenyum dan mengangguk dengan bahagianya.


“Inez mau sama Aunti dulu Om,” Ujar Inez. Farhan tersenyum sebagai jawabannya. Inez segera berlari menghampiri Anisa.


“Om Farham mau Aunti!” Soraknya.


“Oke! Sekarang Inez izin sama Mama dulu ya?” Jawab Anisa. Inez mengangguk dan segera mencari Mamanya.


Beruntung acara aqiqah masih esok hari. Hari ini Farhan dan Anisa hanya memastikan kesempurnaan dekorasi. Itupun tak membutuhkan waktu lama. maka dari itu Farhan menyetujui ajakan Inez. Anisa menghampiri Farhan.

__ADS_1


“Kerjaannya udah selesai? Kita bisa jalan-jalan habis acara kok Mas,” Ujar Anisa.


“Gak papa, dekorasinya udah selesai kok. Tinggal pembenahan sedikit,” Jawab Farhan.


“Kita ke taman belakang yuk!” Ajak Farhan. Anisa mengangguk dan mengukuti Farhan.


Tampak di sana keluarga besar tengah berkumpul melepas rindu satu sama lain. Para lelaki memilih untuk duduk di debuah pendopo. Sedangkan para ibu-ibu tengah duduk lesehan di sebuah tikar yang sengaja di sediakan.


“Katanya Inez, Om Farhan mau ngajak jalan-jalan, iya ta?” Tanya Tante Ratna ketika melihat Anisa dan Farhan menghampiri mereka.


“Iya Tante, mumpung senggang,” Jawab Farhan.


“Makasih ya Han,” Ucap Tante Ratna.


“Neng, kasih makanan buat suami kamu itu lho,” Ujar Mbah Uti menawarkan beberapa cemilan yang ada di tengah-tengah mereka.


Anisa mengambil toples berisi kue bawang dan di sodorkan pada Farhan.


“Mau bakpia coklattnya Yank,” Ucap Farhan.


Anisa mengambil sekotak bakpia dan diberikan pada Farhan. Suaminya benar-benar doyan ngemil.


Mbah Uti tampak menimang Cicitnya yang cantik itu. Terukir senyum manis di wajahnya walaupun terlihat kerutan yang tak sedikit itu. Mbah Uti mendekati Anisa dan duduk di sebelahnya. Anisa dan Farhan memang tengah duduk di pinggir kolam kali ini. Memandangi bocah-bocang yang bermain dengan asiknya.


“Cantik ya Neng?” Celetuk Mbah Uti.


“Iya Mbah, cantik banget. Perpaduan antara Kak Aisy dan Kak Ical,” Jawab Anisa.


“Mbah Uti gam ingin tanyain Eneng tentang baby kan?” Lirih Anisa. Farhan mengelus pundak Anisa, mencoba menenangkan.


“Gendong ponaan kamu bentar Han,” Celettuk Mbah Uti kepada Farhan. Spontan Farhan terkaget. Bukannya tak mau, tapi ia masih takut jika menggendong bayi.


“Belajaran Farhan,” Ujar Mbah Uti lagi. mau tak mau Farhan mendekat kepada Mbah Uti dan mulai memindahkan baby imut itu ke tangannya dengan kehati-hatian yang luar biasa. Anisa hanya menahan senyumnya melihat ekspresi Farhan.


Mbah Uti mulai menatap Anisa dengan intens.


“Kok kamu tanya-nya gitu? Apa hak Mbah Uti menuntut Anisa untuk hamil? Kamu sendiri pasri juga tahu jika anak itu ya dari yang maha kuasa. Gak bisa seenaknya minta terus dikabulkan,” Ujar Mbah Uti dengan lembut. Anisa masih saja terpikir dengan ucapan Mama Kak Aisy. Bagaimana jika orang-orang diluar sana juga menanyakan hal yang sama?


“Anisa gak boleh takut. Kalau ada orang yang tanya kapan Anisa hamil, ya bilang saja sesuai kehendak hati Anisa. Tapi harus tetap sopan,” Nasehat Mbah Uti. Anisa memeluk Mbah Utinya dengan erat.


“Udah puas Han gendongnya?” Tanya Mbah Uti mengalihkan fokusnya pada Farhan yang menggendong baby kecil itu.


“Puas Mbah Uti, dag dig dug rasanya,” Jawab Farhan sambil memberikan kembali pada Mbah Uti.


“Sering-sering belajaran. Biar gak kagok kalau sudah dapat momongan,” Ujar Mbah Uti.


“Siap Mbah, Farhan bakalan sering main ke sini untuk gendong baby cute ini,” Jawab Farhan dengan mengangkat tangannya hormat.


“Sudah asar nih, sana mandi. Katanya mau ngajak Inez jalan-jalan? Tapi diajak semua anak kecilnya, nanti ada yang iri kalau yang diajak Inez aja,” Ujar Mbah Uti.


“Iya Mbah tenang, Mas Faridz biar bawa mobilnya Abi yang kayak travel itu,” Jawab Anisa.

__ADS_1


Anisa mengajak para ponakan, sepupu dan anak-anak kecil ntah apa sebutannya yang ada di sana untuk bersiap mandi. Karena memang banyak sekali. Sudah layak seperttinya membuka panti asuhan. Hahaha.


.


.


.


Kini Anisa dan Farhan sudah siap dengan baju couple mereka. Bukan Anisa dan Farhan sebenarnya. Yang tepat, kembar antara baju Anisa dengan Inez. Inez sudah menyiapkan baju kembar untuknya dan Anisa. Katanya sebagai kado pernikahan karena belum memberikan kado. Hahaha, lucu sekali.


Untung saja anak-anak yang ada di rumah tidak ikut jalan-jalan semua. Pasti akan sedikit ribet jika semuanya ikut. Mereka akan seperti Bapak dan Ibu guru yang mengajak siswanya berekreasi. Dari sekian banyaknya, hanya tiga anak yang ikut. Jadi, tak perlu repot-repot mengeluarkan mobil jumbo Abi.


Farhan mengajak anak-anak itu ke salah satu wahana permainan di Jombang. Nasib, ia harus membelikan tiket pada mereka. Bukan hanya tiket, bahkan mereka tak segan untuk meminta mainan-mainan. Tak mungkin juga jika ia tak membelikan mainan yang lainnya untuk anak-anak yang tak jadi ikut jalan-jalan. Bisa-bisa ia di cap pelit sama keluarga besar istri tercintanya.


Disamping mengawasi anak-anak yang bermain, Farhan tak melewatkan kesempatan untuk bermesraan dengan istrinya. Anggap saja mereka tengah latihan mengurus anak-anak mereka nantinya. Bahkan Farhan tak segan-segan mengajak Anisa menaiki beberapa wahana.


“Udah mau maghrib, kita ke masjid dulu ya?” Ajak Anisa pada adik-adiknya.


“Siap!” Jawab mereka serentak.


.


.


Farhan mengajak mereka makan di sebuah cafe tak jauh dari tempat mereka sholat tadi. Di hadapan mereka sudah tersedia beberapa macam makanan. Anak-anak yang ikut pada Anisa sudah sekolah semua, jadi tak repot untuk mengurus mereka. Mereka lebih dominan menurut.


Anisa dan Farhan memutuskan untuk pulang setelah makan malam. Tentunya tak ingin orang tua mereka khawatir.


Tepat sasaran. Sesampainya di rumah, anak-anak terlihat rebuttan dengan mainan-mainan. Anisa dan Farhan dibuat pusing sendiri.


“Hahaha, rasain kalian,” Ejek Kak Ical.


“Bantuin nenangin kek! Malah gitu!” Anisa mulai jengkel pada kakaknya itu.


Membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menenangkan anak-anak itu. Bahkan ibu dari masing-masing anak yang menangis sampai turun tangan.


.


.


.


“Huufftt! Capek banget yaang,” Keluh Farhan, dihempaskannya tubuh pada ranjang empuk itu.


“Seru tapi Mas, lucu, walaupun kuwalahan, hahha” Jawab Anisa. Farhan duduk tepat di depan Anisa dengan posisi membelakanginya. Anisa mulai memijat pundaknya.


“Bersih-bersih dulu yuk! Nanti Adek pijetin deh,” Bujuk Anisa. Farhan langsung berdiri dan menarik Anisa ke kamar mandi.


Bersih-bersih sudah, ganti baju sudah, sholat isya sudah. Saatnya bobok cantiiik. Anisa mulai memijat punggung Farhan. Dari pagi suaminya itu sudah sibuk membantu dan mengawasi penataan dekorasi. Pasti capek sekali. Bahkan besok pagi sang suami harus menjemput Husna dan Faiz di pesantren. Mereka berdua ngambek pagi tadi karena tidak di jemput. Akhirnya Farhan memberi janji untuk menjemput mereka di pagi-pagi buta.


Tak kuat menahan kantuk dan nikmatnya pijatan Anisa, Farhan mulai berkelana di alam mimpinya. Melihat sang suami telah terlelap, Anisa mulai berbaring di sampingnya.

__ADS_1


Sadar jika sang istri telah berbaring, Farhan mengubah posisi tidurnya dengan memeluk Anisa.


Bersambung....


__ADS_2