Dosen & Rektor

Dosen & Rektor
Bujukan 1


__ADS_3

Derap langkah kaki yang terdengar buru-buru menggema di koridor sebuah gedung Universitas. Tak peduli dengan tatapan tiap insan yang berpapasan dengannya. Yang ia pikirkan hanya segera bertemu sang pujaan hati.


Siapa sebenarnya yang membuat desain kampus ini? Gedung tinggi banget. Lift cuma satu. Tiap ruangan juga besar banget.Memperlambat jarak langkah kaki Farhan saja.


Akhirnya, sampai juga di kelas Anisa.


"Mohon maaf Pak, kelas kami ada jam Bapak," Ujar salah satu mahasiswa menghampiri Farhan.


"Oh iya! Kalian lanjutkan presentasi mandiri ya. Nanti buat laporan untuk saya. Antarkan di ruangan saya," Jawab Farhan kemudian masuk ke kelas Anisa.


Zonk! Tak terlihat rupa ayu nan manis dari istrinya disini. Hanya para mahasiswa yang tengah fokus mengerjakan lembar soal. Pandangan mereka kini tertuju pada Pak Rektor yang tiba-tiba masuk.


"Emm, maaf mengganggu waktunya. Saya hanya ingin bertanya, Bu Anisa-nya kemana ya?" Tanya Farhan dengan sedikit ragu.


"Sudah keluar dari tadi Pak, katanya beliau sedang tidak enak badan. Jadi, hanya memberi penugasan saja," Jawab salah satu mahasiswa dari kelas itu.


"Terima kasih ya. Saya permisi," Jawab Farhan.


Ia segera keluar dan berlari turun dari gedung tinggi itu. Tak peduli jika kini ia tengah menjadi tontonan para mahasiswa, yang ia pikir hanya segera sampai mansion dan bertemu Anisa.


Meninggalkan gedung berlantai tujuh itu, ia harus melewati pedestrian yang luasnya Masyaallah, lapangan bola voli, hingga ruangan UKM untuk menyingkat waktu agar segera sampai parkiran.


Ia sadar. Sadar se-sadar sadarnya jika menjadi tontonan. Ia pun yakin sang Ayah pasti akan menyidang-nya. Biarlah nanti ia jelaskan sepanjang-panjangnya pada Ayah.


Kawasan Jombang yang kini terpantau lancar, membuat Farhan sedikit lega. Dengan begitu, ia akan cepat sampai mansion. Mobil itu membelah jalanan yang cenderung sepi dengan kecepatan extra. Farhan memilih jalur tanpa bertemu hantu lalu lintas. Siapa lagi kalau bukan Pak Polisi?


Bahkan sejatinya, bertemu polisi lebih mengerikan dibandingkan dengan Mbak-Mbak muka kasar. Gak berani nyebutin akoooh. Horornya lalu lintas itu mah.


"Cepetan buka Mang!" Teriak Farhan. Mamang penjaga gerbamg dibuat tercengang. Baru kali ini Farhan berteriak dengan amarah di ubun-ubunnya.


CKLEK!


Farhan menerobos masuk ke mansion tanpa basa-basi apapun. Ayah menghalanginya agar tak ke lantai atas.


"Nanti ya Yah? Pliiss! Farhan mohon. Farhan harus bertemu Anisa dahulu. Nanti Farhan jelasin semuanya." Ujar Farhan dengan menangkupkan kedua tangannya.


"Anisa gak ada di mansion ini," Jawab Bunda tiba-tiba.


Tanpa membalas apapun, Farhan segera keluar kembali. Menutup pintu mobil dengan kasar dan segera mengemudikan mobilnya.


Mang Tono yang bertugas segera membuka pagar besi menjulang itu. Tak ingin jika disemprot kedua kalinya.


Jarak tempuh yang sebenarnya memerlukan waktu 10 menit, kali ini di taklukan Farhan menjadi setengahnya.


"Pagi Mang Darma," Sapa Farhan.


"Pagi Den, mau jemput Si Eneng ya?" Tanya Mang Darma.


"Iya Mang,"


.

__ADS_1


.


"Assalamualaikum," Sapa Farhan memasuki rumah itu karena memang terbuka.


"Wa'alaikumussalam," Jawab Umi menghampiri Farhan.


"Anisa di kamar tuh!" Sambung Umi sembari menunjuk ke atas.


Farhan tersenyum dan segera berlari ke atas. Sepertinya Anisa tak menceritakan kegundahan hatinya. Atau Umi sengaja memberi kesempatan pada Farhan untuk menyelesaikan masalahnya? Ntah lah!


Tok! Tok! Tok!


Perlahan pintu kayu nan kokoh itu diketok oleh Farhan.


"Masuk Mi!" Teriak sang pemilik dari dalam.


Dengan ragu, ganggang besi bewarna silver itu diputar. Terlihat pemilik tubuh ramping dengan rambut tergerai indah tengah memandangi alam nan asri di balik dinding kaca itu.


Perlahan langkah kaki mendekati pemilik tubuh itu. Oh tidak! Ternyata ia meletakkan nampan berisi air putih, potongan buah, dan juz di atas nakas yang dibelakangi Anisa. Umi sempat memberikan nampan itu kepada Farhan tadi.


Grep!


Farhan memeluk Anisa dari belakang. Dengan sangat erat. Sontak membuat si empu terkaget.


"Mas mohon, dengarkan penjelasan Mas dulu Yaang. Mas mohon," Lirih Farhan.


Tak ada sahutan sama sekali dari Anisa. Kecuali hembusan nafas berat darinya. Tunggu! Farhan mendengarkan sesuatu.


Suara dag dig dug dari Anisa. Farhan dapat merasakan. Saat ini Anisa tengah droodook. Rasanya suara Farhan ingin melonjak keluar menertawakan Anisa. Tapi tak berani. Takut nantinya akan tambah marah.


"Aahhh! Kok aku jadi deg-degan gini sih? Pengen banget meluk balik. Tapikan gengsi!" Batin Anisa.


"Yaang?" Lirih Farhan lagi. Farhan mendekatkan wajahnya pada ceruk leher Anisa.


Cup! Kecupan mendarat disana.


Plak!


Satu toyoran sebagai balasannya.


"Astaghfirullah! Kok KDRT sih Yaang?" Keluh Farhan dengan mengusap jidatnya. Otomatis pelukannya terlepas.


"Apa! Kenapa! Mau laporin ke polisi? Monggo! Silahkan!" Ketus Anisa.


"Eh, enggak gitu sayangku. Mana mungkin Mas tega laporin ke polisi," Jawab Farhan dengan selembut-lembutnya. Perlahan maju hendak mengikis jarak antaranya dan Anisa.


Yang dikikis malah pergi meninggalkan. Anisa memilih duduk di sofa.


Farhan POV


Kalau lagi PMS sensitif banget dah bini gua. Pakek cara ape lagiii ini.

__ADS_1


"Yaang, tadi Mas buatin juz pisang lhoo. Sama buah apel," Ujarku hendak mengambil nampan.


"Kenapa? Mas mau nyuruh adek diet? Gantiin nasi sama pisang? Adek gendut? Makanya Mas main sosor-sosoran sama orang," Jawabnya.


Salah lagi guaaa! Padahal ini buatan Umi. Kuletakkan lagi di atas nakas.


Kuhampiri ia dan merangkul tepat di lehernya.


Ia memalingkan wajahnya ketika wajah ku tepat di sampingnya.


Cup! Kapok! Aku cium kamu. Ha? Wajahnya merah. Hahaha, aku suka sekaliiii! Doraeeemooon!


"Kita beli es krim yuk?" Ajakku dengan terus memandanginya. Aku yakin ia gugup. Hahaha.


"Ya udah ayuk. Aku pakai jilbab dulu!". Akhirnya... Dengan segera ia melepaskan pelukanku. Dapat kurasakan detakan jantungnya berdenyut cepat.


.


.


"Mau kemana?" Tanya Mbak Aisy yang menggendong anaknya. Sepertinya akan menidurkan baby girl itu.


Aku mengambil kesempatan untuk merangkul pundak Anisa. Tampak ia hendak menepis tapi menahannya.


"Mau jalan-jalan Mbak," Jawabku. Ntah kenapa aku lebih senang jika memanggil Mbak dari pada Kakak. Meskipun Umi selalu menegurku untuk memanggil Kakak.


Begitupun pada Faisal. Ketika hanya berdua aku lebih memilih memanggil namanya saja. Takut dosa? Tentu saja! Dosa kenapa? Yaaa, karena tak sopan! Apalah aku nih, memangnya dosa? Ntah? Selagi yang dipanggil tak tersinggung, aku akan terbebas dari dosa itu. Hahaha.


Bingunglah kalian para pembaca dengan suara hatiku. Kapok! Aku senang hahahaha.


"Tadi kenapa kok cemberut?" Mbak Aisy menoel lengan Anisa.


"Minta dibeliin es krim Mbak, akunya baru mau ngajak sekarang," Lagi-lagi aku yang jawab. Dibalas plototan dari sayangku.


"Ya udah sana, malaikatku udah bobok," Ujar Mbak Aisy sembari memasuki kamarnya.


Bersambung....


Maaf ya gaesss. Lagi-lagi Lhu-Lhu ngilang. Lhu-Lhu sedang ada acara. Aqiqohan ditempat bibik. Jadinya bantu-bantu deh.....


**Lhu-Lhu memang begitu Rek, tak menentu kapan Up.


Jadi yaa maklum. Lhu-Lhu juga harus belajar, ngaji, bantu ortu, rewang. Kalian tahu rewang gak?


Rewang itu kita bantuin hajatan di rumah orang gaess.


Bukan cuma itu. Lhu-Lhu juga merangkap sebagai baby sitter kakaknya Lhu-Lhu. Gak bisa sambil pegang hp. Kalau pegang, bisa dipastikan bakal diminta tu anak. Kalau dah diminta larinya ke Youtube. Kan jadi ludes paket data Lhu-Lhu. Gak bisa jenguk kalean jugaa 😢


Kalau malam niatnya mo nulis, eh malah ngantuk. Baru dapet 6 paragraf dah tepar! Ngorok deh! 😴


Kalian buat favorit biar gak ketinggalan cerita Lhu-Lhu gaeessss! 😍😍

__ADS_1


Kaaan! Jadi curhaaaatttt**.


__ADS_2