Dosen & Rektor

Dosen & Rektor
Galau


__ADS_3

"Nggak usah yaang, nanti pasti Mas tidur sendiri. Gak mauu," Rengek Farhan yang kembali pada mood manjanya.


"Kasihan Wardah Mas, dia lagi sedih lhoo. Nanti kita videocall sepanjang malam deh... Lagian kan kita cuma beda satu lantai ajah, adek di atas Mas di bawah," Bujuk Anisa lagi. Ia tak enak jika menolak sang sahabat. Wardah membutuhkan dirinya saat ini. Tapi ia juga tak tega melihat sang suami seperti ini.


"Ya udah iya. Tapi janji lho! Nanti VC sepanjang malam." Akhirnya disetujui meskipun membutuhkan waktu yang sangat panjang. Kini Anisa dan Farhan sedang berada di taman belakang rumah Kak Yusuf.


"Iya sayangku." Jawab Anisa dengan bonus ciuman di pipi Farhan.


..........


Jika biasanya meja makan diramaikan dengan pertanyaan-pertanyaan dan perbincangan Inayah dengan Wardah, kali ini lawan bicara Inayah adalah Anisa. Sepertinya anak itu sudah sebal karena dicueki terus oleh aunty-nya.


"Berarti, di dalam perut ini ada dua baby?" Tanya Inayah sembari mengelus-elus perut buncit Anisa.


"Iya sayang..." Jawab Anisa dengan senyuman yang mengembang.


"Inayah doakan, semoga dedek bayi dan Aunty sehat selalu. Dan dedeknya jadi tiga yang satu buat Inayah," Celetuknya.


"Aammiiiin..." Jawab mereka disana.


"Eh! Kok jadi tiga?" Jawab Anisa yang baru sadar.

__ADS_1


"Gak papa dong Aunty..." Ujar Inayah.


"Ibu dokter sudah bilang kalau dedek bayinya dua sayang, gak akan nambah. Sekarang cepat dihabiskan makannya. Inayah harus belajar," Ujar Kak Ina dengan lembut. Anak itu pun menurut dan tak mengeluarkan suara lagi.


Ampuh sekali Kak Ina ini. Kak Ina yang dihormati, atau Inayah-nya yang terlalu berbakti? Hahaha.


Setelah makan malam, Wardah mengajak Anisa untuk ke kamarnya. Sebelumnya ia meminta izin pada Bunda. Melihat raut wajah Bunda sepertinya tak ingin pisah dengan Wardah. Tapi Wardah tetap kekeh meminta untuk tidur dengan Anisa. Mana mungkin Bunda mengusir tamu istimewa anaknya, jadinya ia mengalah.


"Istri kamu disekap di kamar tuh!" Celetuk Kak Yusuf yang kini tengah beradu catur dengan Farhan.


"Iya! Gitulah kalau udah ketemu. Suaminya dilupain." Jawab Farhan.


"Hahaha," Tawa Kak Yusuf pecah melihat ekspresi Farhan yang tiba-tiba bad mood.


"Coba aja kalau bisa. Tak bantu doa," Jawab Kak Yusuf.


Ditinggal Kak Yusuf, Farhan sendirian di ruang keluarga. Ia tak minat rasanya ke kamar tamu. Ia ingin bersama Anisa. Berkali-kali ia melihat ke arah kamar Wardah yang ada di atas. Berharap jika sang istri menemuinya.


"Kok belum tidur Han?" Tanya Bunda yang tiba-tiba nongol. Sepertinya beliau akan mengambil air minum.


"Belum ngantuk Bun," Jawab Farhan.

__ADS_1


"Belum ngantuk, apa gulingnya gak ada?" Ledek Bunda.


"Ya, itu juga Bun. Gulingnya diculik sama anaknya Bunda," Jawab Farhan.


"Hahaha! Ada-ada aja kamu." Tawa Bunda kemudian berlalu ke dapur.


"Bunda ke kamar dulu ya, ini tv-nya yang nonton kamu, bukan kamu yang nonton tv. Hahaha," Ujar Bunda.


"Ditonton kok Bun, hehehe," Jawab Farhan kembali menonton tv. Tapi sesekali masih melihat ke arah kamar Wardah.


Sedangkan di dalam kamar, Anisa masih setia mendengarkan Wardah curhatan. Dengan drakor yang masih terpampang di televisi kamar Wardah. Sesekali ia juga melihat jam dinding di atas televisi.


Tak dapat dipungkiri, ia juga khawatir pada Farhan. Apakah suaminya sudah tidur?


"Kita tidur yuk Dah, aku ngantuk," Ujar Anisa.


"Ya udah ayuk..." Jawab Wardah.


Wardah dan Anisa ke kamar mandi untuk bersih-bersih terlebih dahulu. Dan berganti baju tidur. Untung saja ukuran baju mereka sama. Anisa bisa meminjam baju Wardah.


"Eh! Air putihnya habis, aku ambil dulu ya?" Ujar Anisa.

__ADS_1


......Bersambung ......


__ADS_2