
Setelah insiden elap-mengelap, pihak Universitas mengajak tamu kerjasama mereka berkeliling di sekitar Kampus. Hampir semua mahasiswa menatap puja pada sosok ayu di samping Anisa. Tak dapat dipungkiri, pesona Ayana yang merupakan darah Thailand memang sangat memikat.
"Aku jadi bahan tontonan Nis," Ujar Ayana.
"Tak apa, baru kali ini pihak kerjasama mengajak gadis cantik seperti kamu,hahaha." Jawab Anisa.
"Kamu juga cantik banget Nis," Bela Ayana merendah.
"Setelah ini, kita ajak mereka makan siang ya sayang. Ayah sudah siapkan tempatnya," Ujar Farhan.
"Iya Mas," Jawab Anisa.
Memperlihatkan fasilitas Universitas ternyata membutuhkan waktu yang sangat panjang. Anisa menahan tangan Farhan agar tak berjalan lagi.
"Capek?" Tanya Farhan dengan memegang lengan Anisa. Mengangguk, Anisa hanya mengangguk kali ini.
"Kita ke ruangan Mas, ya... Sebentar Mas telfon Ayah," Ujar Farhan mengambil gawainya sembari menghampiri Wakil Rektor agar mengajak tamunya berkeliling lebih lanjut.
"Silahkan nona Anaya mengikuti Bapak Wakil Rektor dan yang lainnya," Ujar Farhan sopan pada wanita di samping istrinya.
Anaya membungkukkan badannya tanda hormat, kemudian berjalan mengikuti rombongannya. Sedangkan Farhan, setelah menelepon Ayah menuntun Anisa agar duduk di bangku bawah pohon yang terletak di tengah halaman salah satu gedung.
__ADS_1
Farhan jongkok di hadapan Anisa. Kalang kabut Anisa meminta agar sang suami berdiri dan duduk di sampingnya.
"Syuut, diam dulu Yaang, kaki kamu pasti capek, Mas pijit sebentar," Ujar Farhan.
Percuma Anisa menolak, pasti sang suami akan tetap melakukan hal itu. Untung saja kawasan ini jarang dilalui orang. Hanya dosen-dosen yang berkepentingan ke ruang penyimpanan berkas saja yang melewati jalur ini. Mungkin ada saja yang iseng lewat hanya sekedar jalan-jalan.
Farhan melepas sepatu flatshoes yang dikenakan Anisa. Memijit dengan lembut agar Anisa tak kesakitan. Sepertinya Farhan cocok membuka panti pijat di mansion Bunda. Hahahaha.
"Farhan! Ayahkan sudah bilang, jangan sampai putrinya Ayah capek!" Ujar Ayah yang tiba-tiba sudah di hadapan mereka.
"Ayah, Anisa yang ngeyel kok, bukan Mas Faridz," Bela Anisa.
"Sama saja itu! Farhannya nggak mau nelpon Ayah dari tadi," Tambah Ayah.
"Digendong Anisanya! Jangan di suruh jalan," Ujar Ayah.
"Siap Bos!"
Tanpa meminta persetujuan Anisa, Farhan segera membopongnya. Alamat tahan malu. Anisa pikir hanya gurauan, tak tahunya ternyata sungguhan.
"Malu Mas, nanti dikirain akunya pingsan," Lirih Anisa.
__ADS_1
"Umpetin aja mukanya sayang, biar dikirain Mas gendong anak orang sembarangan," Jawab Farhan.
"Ish! Rese!" Geram Anisa. Dipukulnya dada Farhan gemas.
Tak tahan menjadi bahan tontonan, Anisa menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Farhan. Ruang makan yang di sediakan Ayah ada di lantai yang sama dengan ruangan Farhan. Tak perlu susah-jalan jauh. Ruangan yang terlihat formal untuk meeting, sudah di sulap bak rumah makan mewah.
Ketika memasuki lift, barulah Anisa menyembulkan kepalanya. Dirangkulnya leher Farhan, agar ia bisa menyender dengan nyaman di dada Farhan.
"Berat Mas?" Tanya Anisa.
"Seberat-beratnya kamu, Mas pasti bisa gendong." Jawab Farhan disertai dengan kecupan di kening Anisa.
"Besok Wardah berangkat ke Jakarta Mas," Lirih Anisa.
"Iya, besok kita ikut ngantar dia ya," Ujar Farhan.
Anisa tahu betul, Farhan pasti akan mengajaknya. Bukan sombong yeee, apa yang membahagiakan istrinya, pasti akan ia penuhi.
Farhan membaringkan Anisa di tempat tidur, dan kembali memijit kaki istrinya. Bagaimana jika kandungan Anisa semakin besar nantinya? Kaki istrinya pasti akan bengkak seperti cerita Bunda beberapa hari lalu pada dirinya. Apalagi kali ini hamil 2 anak, sedangkan Bunda dulu hanya 1 anak, yaitu dirinya.
"Sudah mas, aku nggak papa kok, sini baring dulu, sambil nunggu jam makan siang," Ujar Anisa menarik lengan Farhan agar duduk dan berbaring di sampingnya. Farhan memeluk Anisa dan menenggelamkan wajahnya pada dada favoritnya. Kali ini makin menggembung saja ternyata. Anisa mengelus lembut rambut Farhan agar nyaman.
__ADS_1
...Bersambung.......