
Tok! Tok! Tok!
Dok! Dok! Dok!
Awalnya hanya ketukan biasa, lama kelamaan seperti ketukan yang amat kencang dari pintu kamar yang ditempati Anisa. Anisa bergegas untuk bangun dari tidurnya kemudian membuka pintu kamarnya.
“Ayo ikut saya! cepat!” Haris segera menarik tangan Anisa setelah pinttu di buka.
Tak peduli dengan protes Anisa, ia tetap menarik tangan itu. Tangga demi tangga ia lewati dengan tergesa-gesa. Bukan! Lebih tepatnya berlari. Bahkan Anisa sampai terseret. Tak sabar dengan langkah Anisa yang terkesan lambat menurutnya, iapun membopong Anisa bagai karung beras di punggungnya. Ia sungguh tak mempedulikan teriakan Anisa saat ini. Ia terus berlari menaiki anak tangga yang cukup banyak itu. Ia segera membuka pintu kamarnya dan menurunkan Anisa.
“Apa maksud anda!” teriak Anisa.
“Tenanglah. Tetap disini, jangan sekali-kali keluar dari kamar ini. Saya tidak akan menyakiti kamu. Lagi pula disini ada mama, mana mungkin saya macam-macam dengan kamu,” ujarnya dan berlalu dengan menutup pintu itu.
Anisa mencoba membuka pintu itu. Sial! Ternyata di kunci dari luar.
“Tenanglah Anisa, kamu insyaallah aman disini,” ujar Ibu Haris dari arah belakang Anisa.
Terlihat Ibu Gina duduk di pinggir ranjang berukuran kingsize. Anisa berjalan ke arah beliau dan dudukdi sampingnya.
“Kenapa kita harus di kkunci disini Bu?” tanya Anisa.
“Sepertinya ada kekacauan di luar, tadi ibu sempat mendengar sebuah tembakan dari luar,” tak dapat di hindari wajah cemas dari beliau meskipun beliau juga menenangkan Anisa.
“Semoga tidak ada suatu hal yang buruk pada Pak Haris Bu,” ujar Anisa mengelus lengan Bu Gina.
“Aamiiin,” jawab beliau.
BRAK!!!
Terlihat Imah terpental ke dalam kamar ini. Pintu kamar itu pun segera di kunci kembali oleh sang empunya.
“Buk! Ibu! Bagaimana ini Bu! Astaghfirullah!” Imah bergegas menghampiri sang majikan dengan wajah super paniknya. Ia berjongkok dihadapan sang majikan.
__ADS_1
“Ada apa Imah?” tanya Bu Gina ikut panik.
“Tenanglah Imah, kemari duduk terlebih dahulu, tenang kan dirimu,” Anisa mencoba menenangkan. Di bantunya Imah agar duduk di tengah-tengah antara ia dan Bu Gina. Anisa melihat ada segelas air putih di nakas sampingnya lalu di minumkan pada Imah.
“Sudah tenang? Jelaskan pelan-pelan,” Ujar Anisa kembali.
“Ddi-di lu-luar ada or-orrang-Orrang berbaju hitam Bu, Mbak. Me-rreka se-semua memegang senjata. Mas Haris tadi berpesan, agar tidak membuka pintu balkon Bu,” ujarnya dengan terbata.
“Astaghfirullah, ada apa ini? Haris, Mama rasa kamu tidak mempunyai musuh, tapi kenapa ada kejadian seperti ini?” Bu Gina semakin cemas di buatnya.
“Sebaiknya Ibu tenang, mari saya bantu berbaring di sini. Biar saya dan Imah mencoba mencari solusi sebisa kami,” Ujar Anisa. Anisa tak ingin Bu Gina terlalu berpikir keras, Imah sempat bilang jika Bu Gina mempunyai riwayat sakit jantung.
Anisa menoleh ke arah Imah, Imahnya malah plonga-plongo bingung hendak memberi ekspresi seperti apa.
“Anisa, tterima kasih ttelah memberi kebahagiaan pada Ibu satu hari ini,” Ujar Bu Gina lirih.
“Bukan Anisa yang menciptakan kebahagiaan Bu, kita hanya memanfaatkan kesempatan yang Allah berikan pada kita untuk berbahagia,” jawab Anisa.
“Ibu merasa gagal mendidik Haris, bagaimana mungkin Haris membawa kabur istri orang lain? Maafkan Haris Nak, semoga kamu segera bertemu dengan suamimu,” sambung Bu Gina. Anisa mengamini. Imah pun terbengong mendengar ternyata wanita cantik yang ia kira pacar majikannya, ternyata sudah bersuami. Ada siratan bahagia sebenarnya dihatinya.
“Kamu tadi sempat bilang jika Bu Gina punya riwayat sakit jantung, jangan diberi berita yang mengagetkan. Kasihan, kalau nanti kambuh gimana? mending kita cari sesuatu di kamar ini untuk membantu Pak Haris,” ujar Anisa menjelaskan.
Anisa dan Imah mulai mencari-cari sesuatu yang bisa mereka gunakan untuk menyelamatkan Haris. Mulai dari ruang ganti baju, lemari pakaian, rak buku yang tidak tepat jika disebut kecil, hingga kini mereka telah berada di ruang kerja Haris. Semua mereka buka.
“Mbak Anisa!” panggil Imah. Anisa melongokkan kepalanya yang awalnya menundung di laci bawah meja.
“Aku nemuin hp-nya Ibu,” Ujarnya.
“Alhamdulillah, ayo kita kembali ke kamar,” ajak Anisa kegirangan.
Sesampainnya di kamar, ternyata Bu Gina masih setia menunggu hasil geledah kedua wanita itu. Mana mungkin seorang Ibu bisa tenang saat anaknya dalam bahaya.
“Kita hubungi polisi,” Ujar Anisa.
__ADS_1
Panjang lebar mereka menjelaskan kepada pihak berwajib, akhirnya diterima laporan mereka. Anisa tak sabar ingin menghubungi Farhan. Ia segera mengetikkan angka demi angka untuk menyambungkan kepada suaminya. Sekali, dua kali, tak di angkat. Anisa mengirimkan SMS. “Ini Anisa Mas Faridz,” telepon pun masuk dari nomor Farhan.
“Sayang? Ini benar kamukan? Sekarang dimana? Ayo jawab Mas? Kamu tidak apa-apakan?” Farhan terus saja menyerocos menanyai Anisa.
“Mas, tenang mas, Anisa alhamdulillah masih dalam lindungan Allah. Anisa ada di rumah Pak Haris Mas, Anisa tidak tahu ini dimana. Yang jelas, sekarang di luar sedang ada kekacauan,” jawab Anisa dengan panik setelah mendengar sebuah tembakan dari luar.
BRAK!!!
Pintu di buka oleh seorang perempuan.
“Bbu-bu Anggun,” Lirih Anisa dengan terbata. Hp yang dibawanya masih bertengger di telinganya.
“Anisa! Sudah lama aku menunggu saat ini. Kini adalah saatnya aku menghabisimu! Kamu harus mati! Kamu telah merebut Farhan dari aku!” Anggun berjalan dengan perlahan mendekati Anisa. Bu Gina sudah tak sadarkan diri, ternyata ia dari tadi melihat intaian CCTV ruangan luar yang bertengger di pojok dinding.Bisa-bisanya Anisa dan Imah tak menyadari itu. Haris tertembak.
Anggun terus mendekat dengan membawa sebilah pisau. Anisa mencoba menghalaunya dan berusaha menghindari Anggun yang mencoba menusuknya.
“Jangan Mbak! Sampean tidak boleh seperti ini! Berbahaya,” Imah mencoba menghalangi Anggun dengan memegangi tangan Anggun yang membawa pisau agar tak ,mengenai Anisa.
BRUK!
Anisa dan Imah terpelanting karena dorongan Anggun. Bisa-bisanya mereka berdua kalah dengan orang satu. Hahaha. Alhamdulillahnya pisau itu ikut terpental.
Anggun mengambil sebuah pistol di saku bajunya dan mengarahkan pada Anisa. Imah berusaha menghalangi tapi di cegah Anisa.
DOR!
Sebuah peluru bersarang di kulit mulus itu,
Ia terus mengaduh dan meringis kesakitan.
Bersambung.....
Mohon maaf beberapa hari ini Lhu-Lhu tidak up.
__ADS_1
Alhamdulillah hari ini sudah lumayan baikan tubuhnya... Bisa up 2 Chapters 🙏🙏