
Sore hari selepas memasak, Mama Haris mengajak Anisa untuk berkebun di belakang rumah. Haris pernah bercerita jika Anisa sering membawa salad buah hasil panennya sendiri dari rumahnya. Haris memang sering bercerita perihal Anisa ketika tengah bertukar kabar dengan mamanya.
“Ibu menanam sendiri buah-buah ini?” tanya Anisa ketika membantu memasukkan tanah ke poliback untuk menanam buah yang baru.
“Tentu saja tidak, Ibu dibantu salah satu pembantu disini. Sebenarnya Ibu tidak mahir dalam urusan tanam menananm. Setelah Haris bercerita perihal kamu yang suka berkebun, bunda meminta bantuan agar diajarkan berkebun. Sewaktu kamu berkunjung kemari, Ibu akan menunjukkan hasilnya padamu.” Jawab Mama Haris panjang lebar.
“Tapi malah belum berbuah waktu kamu kemari,” sambungnya dengan sedikit kecewa.
“Tidak apa Bu, Anisa senang melihat kebun Ibu... sejuk, asri, Anisa lebih senang jika membantu menanamnya. Nanti kalau Anisa pulang, bisa jadi kenang-kenangan,” ujar Anisa menenangkan.
“Terima kasih Nak,” Ujar Mama Haris dengan untaian senyum yang enggan terpudar.
Malam ini tampak begitu gelap dari biasanya. Gemerlap bintang dan bulan sebagai empunya enggan untuk menampakkan dirinya. Anisa masih setia memandangi gelapnya awan mendung itu. Sampai kapan ia harus berada di rumah yang sama sekali tak diinginkannya ini? Meski diperlakukan bak ratu pun ia tetap saja ingin meninggalkan rumah ini.
Tap! Tap! Tap! Langkah kaki menghampiri Anisa yang tengah melamun dipinggir jendela kaca.
“Ayo makan! Mama sudah menunggu di meja makan,” tanpa basa-basi seorang laki-laki memberi perintah.
“Astaghfirullah! Ba-baik,” jawab Anisa yang sempat terkaget.
Anisa mengikuti langkah Haris menuju ruang makan. Bisa-bisanya ia lupa tidak mengunci pintu kamar, untung saja ia mengenakan jilbab saatt itu. Tapi, tumben sekali sikap Haris tak selembut biasanya. Biasanya ia tak pernah seketus itu jika berbicara pada Anisa.
__ADS_1
“Masakan kamu enak sekali sayang,” puji Mama Haris pada Anisa setelah menyendok satu suapan ke mulutnya.
“Masakan Ibu jauh lebih nikmat,” jawab Anisa.
Selepas makan malam Anisa membereskan ruang makan. Sore tadi pembantu Mama Haris telah kembali dari kampung halaman. Awalnya ia menolak untuk dibantu Anisa, tapi Anisa tetap memaksa. Ternyata Imah sang pembantu masih muda. Dalam pikiran Anisa, ia seumuran dengan Si Mbok di rumahnya. Ia cantik sebenarnya, jika penampilannya dirubah mungkin akan lebih cantik... pikirnya,
“Sebaiknya aku bertanya pada Imah tentang Pak Haris, ia bilang jika orang tuanya telah meninggal...” battin Anisa.
“Imah, apa kita bisa berbicara sebentar?” tanya Anisa hati-hati.
“Tentu saja Mbak, tanya apa?” kini Imah mengikuti Anisa duduk di kursi meja makan.
“Mamanya Pak Haris itu, Ibu kandungnya?” tanya Anisa dengan berbisik.
“Hehehe, maaf.. kalau Ayahnya?” tttanyaku lagi.
“Kalau Papanya sih setahu saya sudah meninggal Mbak, sudah lama. Kenapa sih mbak?” jawabnya sedikit kepo kenapa Anisa menanyakan hal itu.
“Oalaah, gak papa kok.. Cuma mau tahu ajah, makasih ya,” Ujar Anisa.
.
__ADS_1
.
.
“Anisa? Ibu boleh minta pendapat?” tanya Mama Haris kepada Anisa. Kini mereka tengah menonton acara tv berdua. Setelah membersihkan dapur, Anisa diminta Mama Haris untuk menemaninya menonton.
AnisaPOV
“Iya Bu?” tanyaku. Kulihat beliau tengah melihat sebuah majalah ditangannya. Aku tak tahu fungsinya tv di depanku saat ini. Yang jelas aku pun tak menikmatinya. `aku hanya menghormati beliau saja saat ini.
“Menurut kamu, baju yang cocok buattt ibu yang mana ya?” tanya Mama Haris, Ibu Gina. Ya, aku baru tahu namanya tadi waktu bertanya pada Imah.
Aku mulai menerima majalah yang diserahkan beliau kepadaku. Kulihat beberapa baju syar’i terpampang ditiap lembarnya.
“Ibu mau memakai gamis?” tanyaku hati-hati. Takut jika menyinggung beliau. Sebab selama aku disini, beliau tidak pernah memakai gamis ataupun jilbab.
“Iya, Ibu suka melihat setelan yang kamu pakai,” jawab Bu Gina.
Aku tersenyum, dan mulailah ku bolak-balik ttiap lembarnya untuk mencari gamis yang kurasa cocok untuk beliau.
“Pilihkan gamis rumahan dan untuk pergi ataupun pesta juga ya Nak. Oh iya, ajarkan Ibu mengaji juga,” ujar beliau. Akupun mengangguk dengan senyumanku. Aku kagum dengan semangatnya merubah penampilan.
__ADS_1
“Insyaallah bu,” jawabku.
Bersambung.....