Dosen & Rektor

Dosen & Rektor
Rekomendasi?


__ADS_3

Anisa terlihat tengah asik mengobrol dengan pak Afif dan istrinya.


“Oh iya, Bunda mau lanjutin nanam cabe dulu ya, sampai lupa kalau ditinggal”. Ujar Bunda.


“Saya ikut Bun?”. Pinta Anisa.


“Boleh, ayo... disebelah sana”. Ajak Bunda.


“Saya ikut Bunda kesana dulu yah?”. Izin Anisa.


“Iya nak, kamu jangan nyebut diri kamu saya dong. Ayah sama bunda jadi ngerasa gak akrab, kamu nyebut diri kamu “aku” aja ya”. Jawab Ayah.


“hmm, iya yah”. Ucapk Anisa. Anisa pun mengikuti Bunda kesisi taman khusus sayuran.


“Kamu gak papa kalau kotor-kotor?”. Tanya Bunda.


“Gak papa bunda, biasanya kalau dirumah juga sering bercocok tanam kok”. Jawab Anisa.


“Bunda jadi pengen lihat taman keluarga kamu sayang, Husna tadi cerita kalau ditaman keluarga kamu bagus banget”. Tutur Bunda.


“Biasa saja kok Bun, Husnanya aja yang berlebihan, hahahaha”. Jawabku. Mereka menanam berbagai sayuran di poliback. Disela-sela kegiatan terlihat obrolan hangat antara keduanya.


“Sayang, coba deh kamu foto disini”. Pinta Bunda.


“Buat apa Bun?”. Tanya Anisa.


“Biar Bunda punya foto kamu. Ayo laaah”. Pinta Bunda lagi. mau tak mau Anisa mengikuti perintah Bunda.



“Nah, sudah. Yuk lanjut kesana lagi”. ucap Bunda mengakhiri sesi memfoto Anisa.


“Kamu makan siang disini ya?”. Pinta Bunda.


“Emm, tapi..”


“Iya laah, pliss. Bunda pengen ngajak kamu masak bareng”. Potong Bunda.


“Anisa izin umi dulu ya Bun?”. Pintaku.


“Gak usah. Biar Bunda aja yang telvon. Kamu tunggu disini ya? Bunda mau nelvon Umi kamu dulu”. Ujar Bunda. Dan berlalu ke dalam mansion.


Ketika melewati Ayah,


“Bunda, kok Anisa ditinggal?”. Tanya Ayah.


“Iya sebentar, Bunda mau nelvon calon besan”. Bisik Bunda pada Ayah.


“Kenapa?”, Tanya Ayah lagi.


“Anisa Bunda ajak masak + makan siang dirumah”. Jawab Bunda.

__ADS_1


“Bagus deh. Sekalian Ayah mau lihat seberapa jago calon mantu rekomendasi Bunda ini masak?”. Ujar Ayah.


“Husna, kamu temenin kak Anisa disana sayang”. Pinta Bunda pada Husna.


“Siap Bun”. Jawab Husna dan menghampiri Anisa. Bunda berlalu kedalam mansion.


“Kak Anis?”. Panggil Husna,


“Eh, kamu ternyata. Kenapa?”. Tanya Anisa.


“Bunda nyuruh Husna bantuin kakak”. Jawab Husna.


“Baju kamu basah, ganti dulu gih. Nanti masuk angin”. Ujar Anisa.


“Ya udah kak, Anisa ganti baju dulu ya? Kakak sendiri gak papa?”. Tanya Husna.


“Gak papa”. Jawab Anisa. Husna pun memasuki Mansion. Farhan yang duduk dipinggir kolam tak henti-hentinya memandangi Anisa.


“Kamu suka ya sama Anisa?”. Tanya Ayah tiba-tiba.


“Eh, Ayah.. apa sih? Ndak kok. Biasa saja”. Jawab Farhan mengelak. Ayah ikut duduk di samping Farhan.


“Pasti tiap kali Ayah tanya kamu selalu mengelak. Ayah tau kamu nak”. Ucap Ayah.


“Ayaaah, Farhan gak gitu kok. Lagi pula Anisa adik temennya Farhan sendiri”. Jawab Farhan.


“Terus kenapa kalau adiknya Faisal?”. Tanya Ayah heran.


“Kenapa? Toh Ayah ingin tau masalah hati anaknya”. Ucap Ayah.


“Anisa tu sudah ada yang memperjuangkan yah”. Ujar Farhan akhirnya.


“Kamu juga berjuang dong. Belum tentu Anisa mau sama orang yang tengah berjuang itu”. Bela Ayah. Farhan hanya diam.


“Ting!”. Notiv hp Farhan.


“Mas, bantuin Anisa dong”.


“Farhan ke sana dulu yah ”. Pamit Farhan.


“Perjuangkan lee”. Ujar Ayah. Farhan membalas dengan senyuman.


“Ada apa? Kamu kenapa gemetar?”. Tanya Farhan setelah menghampiri Anisa.


“Emm, it.ituuu”. ucap Anisa terbata.


“Kenapa Nis?”. Tanya Farhan lagi.


“B.bu.buangin ulat”. Jawab Anisa.


“hmm, takut ulat ta ternyata, hahaha”. Ujar Farhan.

__ADS_1


“Jangan diledekin...”. Ujar Anisa.


“Iya,iyaa, nggak.. Mana ulatnya?”. Tanya Farhan.


“Itu, di bungkus bibit sawi”. Ujar Anisa. Farhan membuang ulat itu.


“Ada lagi?”. Tanya Farhan.


“Gak tau... Mas Faridz disini dulu yaa? Nanti kalau ada lagi gimana?”. Jawab Anisa.


“Udah yuk nanamnya, kita duduk dibawah pohon itu. Stowbery disampingnya lagi berbuah lho”. Ajak Farhan.


“Bentar-bentar, aku nyelesaiin yang satu ini.... Nah, selesai. yuk”. Anisa mengikuti Farhan.


“Cuci tangan dulu disitu”. Tunjuk Farhan pada wastafel mungil di depannya. Anisa menuruti Farhan. Setelah mencuci tangan, Farhan memetikkan Strowbery untuk Anisa.


“Coba deh, kemarin aku coba manis”. Pinta Farhan dengan menyodorkan buah strowbery. Anisa menyambutnya.


“Hemm, iyaa manis.. Biasanyakan asem.”. Ujar Anisa. Farhan tersenyum.


“Ehm!”. Bunda berdeham disamping Anisa dan Farhan.


“Eh Bunda? Coba deh bun, manis banget. Anisa baru nyobain strowbery semanis ini”. Ujar Anisa.


“Iyaa, kamu makan aja sayang. Ikut Bunda yuk?”. Ajak Bunda.


“Kemana Bun?”. Tanya Farhan.


“Bunda ngajak Anisa. Bukan ngajak kamu”. Ujar Bunda. Bunda menggandeng tangan Anisa agar mengikutinya.


“Kamu ganti baju Farhan”. Ucap Bunda. Dan berlalu meninggalkan Farhan sendiri.


“Iya Bun, anaknya siapa sih? Udah pindah hak asuh anak apa ya?”. Monolog Farhan.


“Kasihan deh lhoo. Dicuekin Bunda”. Tutur Husna.


“Bunda mau ngajak kak Anisa kemana?”. Tanya Farhan. Husna hanya mengedikkan bahu dan meninggalkan Farhan.


“Huft! Lama-lama dingin juga ya”. Monolog Farhan. Iapun berlalu dari taman dan masuk ke mansions. Ketika melewati sisi dapur Farhan mendengar suara canda tawa didalamnya. Iapun mengintip karena penasaran.


“Apa sih yang ketawain? Heboh banget”. Monolog Farhan.


“Hayoo! Kak Farhan ngintip”. Husna mengageti Farhan. Anisa dan Bunda pun menoleh.


“Enggak kok! Aku mau ke kamar kok”. Elak Farhan dan berlari kelantai atas menuju kamarnya.


“Hallah Farhan, biasa dia itu. Ayo kita lanjut masak lagi”. ucap Bunda.


“Iya Bun”. Jawab Anisa. Mereka berdua terlihat sangat menikmati waktu berdua untuk memasak dan bertukan cerita. Terkadang Husna juga merecoki.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2