
Anisa kini sudah berada di pekarangan rumah Wardah. Tapi, tampaknya di sana tengah ada acara atau sebuah kunjungan. Baru saja sebelum mobil Farhan, ada taxi yang datang.
"Itu Cak Ibil Mas!" Ujar Anisa ketika melihat sesosok lelaki turun dari mobil.
"Semoga pertanda baik ya sayang," Jawab Farhan.
"Ammiin, ayo Mas kita masuk dari pintu samping." Ajak Anisa. Maklumi saja, banyak dari seorang sahabat mengetahui seluk beluk rumah sahabatnya. Hehehe.
Awalnya ingin membuat kejutan atas kehadirannya, eh malah dibuat penasaran sendiri gegara kedatangan Cak Ibil. Anisa dan Farhan mengendap-endap bagai maling sore ini.
"Kenapa lewat samping Non?" Tanya salah satu ART di rumah Wardah yang juga sudah kenal dengan Anisa.
"Di depan ada tamu bik, jadinya lewat samping deh,hehehe," Jawab Anisa yang kini tengah malu karena kepergok.
Akhirnya mengikuti Bik Sumi masuk ke ruang keluarga. Anisa mencoba mengintip ke ruang tamu untuk mencari Wardah. Tapi nihil, tak ada, hanya Bunda dan Kak Yusuf di sana.
__ADS_1
Klunting!
Wauuu! Anisa tak sengaja menjatuhkan sendok dari meja. Ntah ulah siapa yang meletakkan benda itu di sana. Bunda Wardah menoleh seketika. Anisa takut jika Bunda tak nyaman jika ia ada di sini. Anisa mencoba menarik lengan Farhan agar keluar dari pintu samping lagi.
"Farhan, temani Bunda dan Yusuf di depan yuk! Anisa, kamu temani Wardah di dapur ya?" Panggil Bunda. Syukurlah, akhirnya Bunda tak merasa terganggu.
Farhan tersenyum dan mengikuti Bunda ke depan. Eh! Mereka berdua membicarakan apa di balik tembok sebelum ke ruang tamu? Anisa penasaran, tapi ia bisa bertanya pada Wardah.
Cuzz ia temui Wardah yang tenyata bersama Kak Ina. Wardah langsung memberondong pertanyaan Bisa-bisanya bumil satu ini sampai di rumahnya tanpa kabar-kabar.
"Maaf bumil sayaang, aku gak megang hp memang, hehehe," Jawab Wardah.
"Cak Ibil mau jemput kamu?" Tanya Anisa penasaran.
Yang ditanya pun hanya mengendikkan bahunya tanda tak tahu.
__ADS_1
"Bunda yang ngundang Cak Ibil ke sini. Semoga aja Bunda gak nekat. Biasanya Bunda mau rencanain sesuatu, tapi gak ngomong aku Nis," Jawab Wardah. Anisa mengelus perlahan pundak Wardah.
"Bunda sedang memperjuangkan kebahagiaan untuk anaknya Wardah," Lirih Anisa.
"Kalian berdua antarkan minuman dan makanan ke depan gih. Kakak mau nyari adek kamu, belum mamdi," Ujar Kak Ina.
Anisa dan Wardah mengangguk dengan kompaknya. Anisa bertugas membawa cemilan dan Wardah yang membawa minuman untuk para tamu. Wardah tak mau Anisa membawa yang berat-berat, jadilah ia meminta agar Anisa memilih yang ringan-ringan saja. Sisanya biarlah Wardah.
Ternyata di ruang tamu itu sudah ada Cak Ibil dan kedua orang tuanya. Anisa tampak kesusahan menaruh barang bawaannya ke meja, ia tentu saja tak bisa jongkok. Farhan dengan sigap mengambil alih nampan Anisa dan meletakkan satu persatu makanan itu ke meja.
Wardah tampak gugup sepertinya. Ini kali kedua ia bertemu ibu dan bapak mertua setelah pernikahan mereka. Dengan sopan, Wardah meletakkan minuman satu persatu. Kemudian disalami satu per satu pula.
"Apa kabar nduk?" Tanya Ibu Cak Ibil sembari mengelus punggung tangan Wardah.
"Alhamdulillah baik bu," Jawab Wardah dengan senyuman yang mengembang.
__ADS_1
...Bersambung.... ...