Dosen & Rektor

Dosen & Rektor
Mati Lampu Lokal


__ADS_3

Anisa mulai bosan memandangi tv di depannya. Farhan yang ditunggu-tunggu pun taj datang-datang. Tiba-tiba listrik rumah padam!


"MAS! MAS! MAS FARIDZ! ASTAGHFIRULLAAH". Jerit Anisa.


Farhan yang tengah memasak mie instan segera mematikan kompor dan berlari menghampiri istrinya.


Dipeluknya erat-erat Anisa. Dapat dirasakannya jika Anisa kini tengah menangis.


"Sudah, tidak apa-apa sayang, mas di sini sama kamu". Ujar Farhan menenangkan Anisa.


Anisa tak berani mengangkat kepalanya. Yang ia pikirkan hanya terus bersama Farhan.


Farhan mengambil gawainya, dihidupkannya senter dan mulai menelpon Mang Udin agar mengecek pemadaman listrik ini. Terlihat rumah tetangga masih menyala. Mana mungkin seorang Farhan lupa membayar listrik? Duuuhh! Mengejek sekali. Hahahha.


"Apa? Bagaimana bisa? Cepat benarkan sambungannya. Usut masalah ini. Pasti ada orang dalam yang sedang ikut bermain-main". Bentak Farhan pada seseorang yang menelponnya.


Tangannya masih mengusap rambut Anisa yang berada dipelukannya.


"Kita ke kamar ya?". Ajak Farhan.


Anisa menggeleng. "Di sini saja Mas, Anisa takuut". Lirih Anisa.


"Kita ke kamar. Adek percaya sama Mas kan?". Bujuk Farhan dengan memegang kedua pipi Anisa mengarahkan manik mata mereka saling memandang. Anisa mengangguk.

__ADS_1


Farhan menggendong Anisa ala bridal style agar Anisa tak takut. Anisa kini mengalungkan tangannya di leher Farhan dengan mata yang tertutup tepat di dada Farhan.


Untung saja Farhan sudah sholat, ia tak perlu meninggalkan Anisa. Di ranjang Anisa masih saja memeluk Farhan. Karena memang listriknya belum selesai dibenarkan. Anisa mulai lelap dalam pelukan Farhan. Di raihnya gawai di samping Anisa,


"Bagaimana?". Tanya Farhan dalam telepon.


"Cepat selesaikan pembenaran itu! Lima menit! Jangan lebih! Setelah itu cari kutu dalam mansion ini! Jangan lepaskan dia! Jangan coba-coba meremehkan sikapku!". Ujar Farhan dan mematikan telponnya sepihak.


Jangan pikir orang pendiam dan lembut tidak bisa marah. Farhan akan melakukan apa saja jika itu menyangkut keluarga tercintanya.


Dalam waktu lima menit mereka benar-benar menyelesaikan pekerjaannya. Kini listrik telah berfungsi kembali. Farhan mengganti lampu utama menjadi lampu tidur. Karena memang tak baik untuk kesehatan mata.


Dipandanginya wajah sang istri. Masih tersisa buliran air mata di ujung bulu mata lentik itu.


"Farhan?". Panggil Bunda yang tiba-tiba masuk.


"Belum, tadi Bunda mau menyusul kalian ke ruang tv tapi kalian malah sudah di kamar. Bagaimana keadaan Anisa?". Tanya Bunda.


"Sudah lelap. Bunda tenang saja". Jawab Farhan dengan mengusap rambut Anisa.


"Bundamu jahat banget. Padahal nanggung bentar lagi. Malah langsung ke sini". Ujar Ayah yang baru masuk ke kamar Farhan.


"Padahal sudah ada kamu. Masih saja ngotot mau nenangin Anisa". Sambung Ayah. Terlihat jelas muka kucel Ayah menahan rasa sebalnya. Sedangkan Farhan hanya tertawa melihat ekspresi Ayahnya.

__ADS_1


Bunda duduk di sisi ranjang dan mulai mengelus rambut Anisa yang tampak dari belakang. Karena memang Anisa menghadap ke dada Farhan.


"Maafkan kami yaa sayang, karena kami, kalian jadi ikut terjerembab di dalamnya". Lirih Bunda.


Ayah menghampiri Bunda dan merangkulnya. Sedangkan Farhan mengelus tangan Bunda. "Bunda jangan mikir macam-macam. Farhan akan menjaga kalian dengan sepenuh hati. Kita hadapi semuanya bersama-sama". Ujar Farhan.


Kaan, jadi melow!


"Tumben banget mati lampu?". Tanya Bunda.


"Iyaa Bun, Farhan lupa gak bayar listrik. Ini tadi baru bayar. Makanya baru hidup". Ujar Farhan. Ia tak ingin membuat Bundanya merasa sedih lagi. Cukup pecahan kaca itu. Kini jangan lagi.


"Oh iyaa, mie instanku apa kabar? Astaghgirullaah! Pasti sudah jadi anak naga besarnya". Mata Farhan bak bola yang siap mencolot. Tiba-tiba ia ingat mie instannya.


"Kenapa Han?". Tanya Bunda.


"Farhan tadi masak mie Bun, tapi lupa gak bawa ke sini". Ujar Farhan.


"Astaghfirullaah, Yah! Ambilin gih! Kasihan Farhan gak bisa pergi, tangannya dibuat bantal Anisa". Ujar Bunda.


"Siap Bunda Ratu! Laksanakan. Pasti gak ada kesempatan buat Ayah nolak". Jawab Ayah langsung bergegas ke dapur.


Sebenarnya Farhan bisa melepaskan tangannya dari Anisa. Terbukti saat ini Farhan tengan meyantap mie naganya di atas ranjang dengan kedua tangannya. Jangan tanya Ayah. Kini ia terlihat menikmati mie yang awalnya untuk Anisa di sofa kamar Farhan. Bunda? Bunda geleng-geleng kepala melihat tingkah suami dan anaknya.

__ADS_1


Mereka tak melulu memandangi wajah masing-masing. Bahkan kini mereka ditemani siaran tv di kamar Farhan. Anisa masih setia dengan tidur manisnya dengan memeluk kaki Farhan.


Bersambung....


__ADS_2