
Malam setelah acara selesai Anisa masih menginap di rumah Abi. Sedangkan Bunda dan Ayah sudah kembali ke kediamannya. Tidak dengan Husna. Ia bersikeras untuk ikut bermalam di sini.
Tentu saja itu membuat Farhan begitu murka. Pasti ia akan meminta tidur dengan istrinya. Benar-benar mencari masalah itu anak. Tak ingin malu jika beradu mulut pada adiknya di tempat umum, Farhan memilih untuk kembali ke kamar. Tak bisa berbohong mata merah ini. Ia begitu lelah sekarang. Siapa tahu dengan ia tidur terlebih dahulu, Husna tak jadi tidur di kamarnya. Benar-benar cerdik kamu Han.
Tak lupa ia berpamitan dahulu pada Anisa yang tengah menyenandungkan sholawat. Anisa menoleh dan mengangguk tanda setuju. Farhan juga pamit terlebih dahulu pada keluarga Anisa yang masih berkumpul. Abi memaklumi, dari kemarin Farhan begitu sibuk ditambah harus menjemput Faiz dan Husna.
Ceklek!
Farhan membuka pintu kamarnya.
"Kak?" Panggil seorang Perempuan. Sudah bisa ditebak, itu pasti Husna.
"Ada apa?" Tanya Farhan yang sudah berbalik.
"Ikuuut" Rengeknya.
"Karepmu Dek," Jawab Farhan. Ia segera masuk. Tak peduli dengan Husna. Ia sudah lelah tingkat dewa.
Dibaringkannya tubuh Farhan di ranjang ini. Untung saja Abi sudah merombak kamar Anisa menjadi lebih besar. Sehingga menjadi lebih leluasa lagi. Sebenarnya kamar sebelum ini sudah sangat nyaman, tapi Abi tetap merubahnya.
__ADS_1
"Kecilkan suara tv-nya Dek," Lirih Farhan.
Husna tak berani membantah. Ia segera mengecilkan volume tv-nya. Sepertinya Farhan tak main-main dengan lelahnya. Sebenarnya Husna tak ingin membuat sang kakak marah, tapi ia masih ingin bersama Kak Ica.
Cklek!
Anisa masuk ke dalam kamar. Didapatinya sang adik ipar tertidur di sofa dengan tv yang masih menyala. Sedangkan sang suami telah tertidur pulas di ranjang baru itu. Bahkan sang suami tak mengganti bajunya. Pecinya pun masih tergeletak tak jauh dari kepalanya. Secapek itukah hingga tak kuat mengganti baju? Pikir Anisa.
Anisa memutuskan untuk bersih-bersih terlebih dahulu. Setelah itu, Anisa menepuk perlahan lengan Farhan,
"Mas? Mas Faridz," Panggil Anisa dengan lembut. Takut jika mengagetkan suaminya.
"Tidur bertiga ya? Kasihan Husna tuh!" Ujar Anisa.
"Huufft, iyaa. Mas bersih-bersih dulu," Farhan berlalu ke kamar mandi,
Anisa membangunkan Husna agar pindah ke ranjangnya. Kamar di rumah Abi sudah penuh semua, itulah sebabnya Husna tidur di ranjang patsuri itu.
"Adek di tengah," Ujar Farhan.
__ADS_1
Anisa menurut dan berbaring di tengah-tengah antara Farhan dan Husna.
"Anisa pijitin ya?" Anisa duduk kembali. Sepertinya Farhan tak bisa tidur kembali.
"Gak usah Yaang, kita tidur yuk!" Jawab Farhan kemudian memeluk Anisa. Untung saja Husna membelakangi mereka.
Tanpa meminta persetujuan Farhan, Anisa memijit pundak Farhan. Farhan menolaknya, tapi Anisa memaksa. Akhirnya Farhan menurut. Pijatan sang istri begitu memabukkan. Setelah beberapa saat, Farhan kembali ke alam mimpinya.
Anisa kembali berbaring. Kini ia dihimpit oleh dua manusia. Anisa membatasi dirinya dan Husna dengan guling lainnya sesuai anjuran Farhan sebelum tidur tadi.
Farhan membalikkan tubuhnya dan meminta Anisa segera tidur. Farhan terbangun lagi? Anisa menurut dan mendaratkan kepalanya di lengan Farhan. Semoga esok hari, kedua patsuri itu yang bangun terlebih dahulu. Bahaya jika Husna bangun dahulu.
Bersambung....
Maaf ya zeyeeng kuu, Lhu-Lhu up-nya sedikit kali ini. - _-
🙏🙏🙏
Besok ditambah lagi deh insyaallah!
__ADS_1