
"Han? Anisa udah tidur nih! Kamu ajak ke kamar sana!" Ujar Bunda. Saking asiknya mengobrol, ia baru sadar jika yang dielusnya sedari tadi sudah terlelap.
"Biar Farhan gendong," Jawab Farhan dan mulai membopong Anisa.
"Helleh! Dasar caper!" Seru Ical.
"Punya masalah apa sih Kak Ical sama adik Farhan inii?" Goda Farhan.
"Is! Gelay gua, lo panggil Kakak," Celetuk Kak Ical.
Jreng! Jeng! Jeng!
Plak! Satu pukulan dan sentilan dari Umi dan sang istri mendarat. Ical lupa jika ada Umi! Berakhirlah ia dengan omelan Umi. Sedangkan Farhan terkikik dan beranjak ke lantai atas.
"Sudah berapa kali Umi ngomong! Kamu sudah jadi kakaknya Farhan! Jangan pakek gue elo! Gak sopan," Umi mulai berargumen.
"Udah, namanya juga anak muda... Lama temenan, ya sulit kalau mau membiasakan hal baru," Ujar Bunda yang juga terkikik menyaksikan sang ibu yang memarahi anaknya.
"Anak muda apa? Udah punya anak gitu. Harus ngasih contoh yang baik dong! Umi ngasih kamu asupan yang baik lho Cal, kok jadinya kek gini," Masih berlanjut.
__ADS_1
"Kan Abi udah bilang, kalau Umi lagi sensitif.. Jadi maklumin ajah," Celetuk Abi.
"Abi juga!" Sanggah Umi.
"Udah Mi, malu sama pengantin baru," Lirih Kak Aisy melirik kepada Wardah dan Cak Ibil yang melongo melihat pertengkaran tak bermutu itu.
.
.
Perdebatan panjang terhenti dikala malaikat kecil menangis. Sepertinya mengantuk. Kak Aisy mengambil dari gendongan Wardah dan pamit ke kamarnya.
"Mas, ada yang salah ya sama aku?" Tanya Wardah lirih. Ia duduk di sisi Cak Ibil.
"Udah ya, aku mau tidur. Ngantuk, kamu juga jangan tidur kemalaman. Besok kita berangkat pagi," Jawab Cak Ibil.
Selalu begitu, setiap malam memang selalu begitu. Tak ada obrolan yang menjurus ke arah masa depan keluarga baru itu. Setiap kali Wardah menyinggung masalah rumah tangga pasti selalu dielakkan. Ia hendak bercerita dengan Anisa seluruhnya pun tak berani. Ini salah satu aib keluarga.
Wardah POV
__ADS_1
Aku tahu betul selama di ruang keluarga tadi kang suami sering kali memperhatikan Anisa. Ketika Anisa dielus kepalanya oleh sang mertua. Sekali lagi! Sekali lagi muncul rasa iri-ku. Aku iri! Iya! Aku iri terhadap sahabatku sendiri. Tapi aku juga bahagia melihat sahabat terbaikku bahagia.
Dia yang setiap saat terlihat bahagia, dengan suami, keluarga, bahkan mertuanya. Sedangkan aku, setiap malam hanya diberi punggung bidangnya saja.
Ya Allah, bisakah aku bertahan dengan rumah tangga seperti ini? Ini belum ada sebulan, tapi aku selalu mengeluh di setiap harinya. Aku tahu Allah tak pernah bosan mendengarkan doaku. Tapi disini aku yang mulai lelah dengan kehidupanku.
Kling! Satu notiv muncul di gawai-ku .
'Bagaimana di rumah Anisa ndok?' Bunda mengirimku pesan.
"Alhamdulillah Bunda, Wardah senang disini, Umi titip salam tadi, Wardah lupa tidak memberi kabar," Jawabku.
"Alaiki wa alaihassalam. Kamu baik-baik saja kan ndok?" Tanya beliau lagi.
Naluri ibu memang selalu benar perihal anaknya. Tapi aku sama sekali tak ingin mengaku jika sedang tidak baik-baik saja. Rasanya ingin sekali aku mengetik jika 'aku tidak baik-baik saja Bunda'.
Mencurahkan seluruh uneg-uneg. Tapi tak bisa.
"Wardah baik Bunda, ya suda ya Bun, Mas Aibil menyuruh Wardah tidur cepat. Besok harus berangkat pagi-pagi". Lirih Wardah, hingga akhirnya menutup sambungan telepon.
__ADS_1
Bersambung...