
*Farhan Prov
Selesai makan, kami langsung pulang. Ku antarkan Faisal dan Anisa. Biarlah aku pulang menggunakan ojol.
“Lho, kok gak ke rumah kamu Han?”. Tanya Faisal.
“Gak papa, aku nanti pulang sendiri ajah”. Jawab Farhan.
“Gak-gak, bapak amanahin kamu sama aku dan Anisa kok. Dek, anteri Farhan yaa”. Ucap Faisal.
“Kok aku?”. Jawab Anisa.
“Gak papa Sal, aku pulang sendiri aja”. Ucapku.
“Anterin dong, disini ojol gak boleh masuk lhoo. Gerbang komplek juga jauh. Masak gak kasihan sama nak Farhan?”. Ucap Umi Faisal yang sudah di depan rumah. Kami langsung bersalaman.
“Faisal ngantuk mi, nanti kalau kenapa-kenapa gimana dijalan?”. Alasan Faisal.
“Deek?”. Ucap umi kepada Anisa.
“Iya-iya, Anisa anterin. Ayo mas, mas Faridz yang nyetir ya”. Ujar Anisa. Aku mengangguk dan masuk ke mobil. Hening, itulah yang kurasakan. Tak ada percakapan sama sekali.
Uhuk-Uhuk!. Kenapa aku tiba-tiba batuk sih. Uhuk-Uhuk!
“Kenapa mas? Mau minum, bentar ya Anisa cariin. Manasih? Tadi disini kok”. Ujar Anisa bermonolog sambil mencari botol minum.
“Oh, ini dia”. Ujarnya lagi. ia bukakan tutup botol lalu disodorkan kepadaku. Ku sambut botol air darinya.
“Udah, mas nyetir aja. Aku suapin”. Ujarnya. Ku turuti sarannya.
“Udah?”. Tanyanya.
“Udah, makasih ya?”. Ujarku.
“Iya, sama-sama. Kok bisa kesedak sih? Padahal gak makan apa-apa”. Ujarnya.
“Oouhh, jangan-jangan ada yang gosipin mas Faridz lagi”. Tebaknya.
“Kamu percaya?”. Tanyaku geli.
“Kok nada tanyanya ngejek gitu sih?”. Tanyanya.
“Ya heran ajah, udah lama saya gak dengar pernyataan kayak gitu”. Jawabku dengan tawaku.
“Iya, aku percaya. Aku pernah kok buktiin”. Tuturnya.
“Oh ya?”. Tanyaku.
“Iya, beneran”. Jawabnya.
“Oke-oke, aku juga mau cari bukti nanti, hahaha”. Jawabku.
“Iiih, mas Faridz ni gak percaya. Terserah deh”. Jawabnya. Kini ia diam.
“Kok diam sih?”. Tanyaku.
“Terus?”. Tanya nya ambigu.
“Yaa, tadikan ngobrol, kok sekarang diam?”. Tanyaku.
“Gak papa”. Jawabnya. Sepertinya dia sedikit sebal aku tertawakan tadi.
“Kamu marah?”. Tanyaku.
“Enggak”. Jawabnya. Emm, aku harus cari cara biar dia mau ngobrol lagi.
“Emm, mau mampir ke kedai es cream gak?”. Tanyaku.
“Em? Dimana?”. Tanyanya. Sepertinya berhasil caraku. Ku belokkan mobilku di sebuah cafe.
“Yuk!”. Ajakku. Kulihat Anisa tersenyum dan berjalan disisiku memasuki cafe. Kami memilih tempat disamping jendela kaca.
__ADS_1
“Mau pesan yang mana kak?”. Tanya pelayan cafe.
“Saya pesan cappucino saja mbak”. Jawabku.
“Pacarnya kakak?”. Tanyanya lagi. Mendadak kikuk diri ini. Pacar? Astaga. Jantung ini...
“Emm, dia..”
“Saya pesan Pancake Es Cream aja mbak”. Potong Anisa.
“Toping buahnya kak?”. Tanya Pelayan itu lagi.
“Emm, strowbery ajah”. Jawab Anisa.
“Oke, ditunggu ya kak”. Jawab pelayan dan berlalu.
“Aku ditraktirkan?”. Tanya Anisa. Pertanyaa apa itu? Jelas-jelas aku yang ajak, kalau dia bayar sendiri jatuh martabatku sebagai rektor.
“Siapa yang bilang?”. Tanyaku bercanda kepadanya.
“Hiishh. Yang bener doong, aku gak bawa tas”. Jawabnya. Setiap kali dia cemberut kenapa lucu sekali.
“Biarin ajah, nanti palingan disuruh cuci piring kalau gak mau bayar”. Jawabku.
“Maasss”. Panggilnya memelas. Tiba-tiba refleks tanganku hendak menyubit pipinya. Sedangkan Anisa refleks memundurkan mukanya.
“Astaghfirullah, maaf”. Ucapku. Malu sekaliiiii.
“Aku bayar sendiri?”. Tanya Anisa.
“Ya enggak laah... Yang ajak kan saya. Masak saya gak mau tanggung jawab. Jatuh nanti martabat saya sebagai rektor. hahaha”. Ucapku mencairkan suasana.
“Hisssh, kepedean sekali anda ini, hahaha”. Jawabnya sambil tertawa.
“Silakan kakak... Selamat menikmati”. Ucap sang pelayan.
“Terimakasih mbak”. Balas Anisa.
“Iya, tadikan udah makan dijalan”. Jawabku.
“Mas ngejek aku?”. Tanyanya.
“Kok ngejek? Nggak kok”. Jawabku. Sejujurnya aku bingung. Salahnya dimana ucapanku.
“Aku juga udah makan tadi”. Jawabnya.
“Iya maaf, gak bermaksud ngejek kok”. Ucapku.
“Yuk makan sama aku”. Tawarnya.
“Monggo silakan”. Jawabku.
“Aku gak suka makan sendiri”. Jawabnya.
“Lalu?”. Tanyaku.
“Ayo makan bareng”. Ucapnya. Anisa menggeser kursinya mendekat kesampingku tapi masih ada jarak sedikit.
“Eh? Ngapain?”. Tanyaku bingung.
“Shuut, diem dulu... ”. Ujarnya.
“Mbak?”. Panggilnya pada salah satu pelayan.
“Ada yang bisa dibantu kak?”. Ujar sang pelayan.
“Minta sendoknya satu lagi boleh?”. Tanyanya.
“Boleh kak, sebentar ya”. Ucap pelayan. Selang beberapa menit,
__ADS_1
“Ini kak”. Ujar sang pelayan.
“Terimakasih”.
“Kamu mau ngapain?”. Tanyaku.
“Ini buat mas, ayo makan”. Ujarnya.
“Ini beneran?”. Tanyaku.
“Udah, ayoo makan. Enak lhoo”. Ucapnya.
Akhirnya aku mengikuti apa yang minta Anisa.
“Jangan dikit-dikit dong. Yang banyaak”. Ujarnya.
“Iyaa-iyaa”. Jawabku. Tak ada percakapan sama-sekali selama kami memakan es cream pesanannya. Setelah selesai,
“Yuk, pulang”. Ajakku. Anisa mengangguk dan mengikutiku keluar dari cafe.
*Autor Prov
“Farhan?”. Panggil seseorang.
“Eh, Beni?”. Jawab Farhan.
“Wiiih, udah lama gak ketemu udah sama gandengan ajah nih. Kencan?”. Tanyanya.
“Eh, enggak kok. Cuma mampir aja”. Jawab Farhan.
“Boleh juga cewek kamu? Kirain kamu masih sama kayak dulu, alergi pacaran. Atau malah udah nikah ini? Waaah, tega kamu gak undang-undang aku”. Ujar Beni.
“Apa sih Ben? Bukan, dia rekan kerja aku kok. Udah dulu ya, kami pulang dulu”. Jawab Farhan. Farhan dan Anisapun memasuki mobil dan berlalu dari cafe.
"kok orang tadi serem sih mas?" Tanya Anisa.
"Serem gimana?". Tanya Farhan.
"Iyaa, aku takut lihat dia". Jawab Anisa.
"Itu perasaan kamu ajah, gak usah dipikirin". Jawab Farhan.
"Nah, udah sampai." Ujar Farhan.
"Makasih ya Nis". Ucap Farhan.
"Sama-sama mas, Anisa pulang dulu ya". Jawab Anisa.
"Lho, Nak Anisa mau langsung pulang? Mampir dulu". Ucap Bunda Farhan.
"Eh, terima kasih bu, tidak usah". Jawab
Anisa.
"Anterin dong Farhan". Pinta Bunda.
"Saya antar ya?". Ujar Farhan.
"Eh, tidak usah... Kan gak jauh, cuma 15 menit ajah". Jawab Anisa.
"Gak papa, Farhan anterin nak Anisa". Pinta Bunda.
"Nanti mas Faridz pulangnya gimana? Kan saya bawa mobil sendiri". Jawab Anisa.
"Tidak usah diantar bu, saya pamit". Ucap Anisa sambil menyalami Bunda.
"Ya sudah, tapi kamu gak boleh panggil ibu lagi. Panggilnya Bunda". Ujar Bunda.
"Siap Bunda, Anisa pamit. Assalamu'alaikum". Ucap Anisa lalu menaiki mobil dan berlalu dari halaman rumah Farhan.
TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA :")
__ADS_1